"TOK TOK TOK." Suara ketukan jamak di pintu kantor jaksa Emily Rose Carter terdengar nyaring.
"Masuk saja," sahut Emily santai. Dia sedang menekuri berkas kasus kriminal yang sudah mengantre untuk disidangkan dalam waktu dekat, sebuah kasus pembunuhan berencana yang berkaitan dengan perebutan harta warisan.
Dia telah menarik kesimpulan praktis ketika membaca data mentah dari catatan saksi dan bukti. Tugasnya adalah mengajukan tuntutan hukum pidana serta denda kepada terdakwa, bukan menyelidiki sekalipun terkadang kasus yang pelik pun membutuhkan campur tangannya secara tidak langsung bekerja sama dengan pihak kepolisian Chicago.
Seorang pria muda bertampang keturunan Timur Tengah memasuki ruang kantornya bersama Brendan Nieson, asisten Emily. Kedua pria berbeda generasi itu duduk bersebelahan di seberang meja kerja Emily.
Ingatan Emily tentang wajah pria muda bercambang dan berkumis tipis itu masih hangat dalam benaknya, dini hari tadi mereka bertemu di lift Baltimore Eclat Tower. Namun, ia memilih tidak mengatakan apa pun mengenai pertemuan mereka sebelumnya.
"Ya, Bren. Ada yang bisa kubantu?" tanya Emily dengan nada biasa sekalipun ia penasaran menatap pria muda di samping Brendan Nieson.
"Em, kenalkan ini Mr. Murat Yildirim Bey. Dia berasal dari Turki, tapi lulusan Yale Law School bidang pidana dan mengambil gelar Master of Law di Harvard," ujar Brendan Nieson dengan nada terkesan tentang latar belakang pendidikan pemuda Turki itu.
Bagi Emily yang juga lulusan dari HLS (Harvard Law School), pendidikan Murat juga sangat mengesankan. Dia pun mengukir senyum ramah di wajahnya sembari berkata, "Senang berkenalan dengan Anda, apa saya bisa memanggil nama saja, Sir? Murat atau Yildirim?"
Pria itu membalas senyuman Emily. "Murat saja, Nona Emily, jangan sungkan. Saya rasa sepak terjang Anda di pengadilan Chicago jauh lebih mengesankan," jawab Murat seraya melontarkan pujian tulusnya untuk jaksa cantik yang legendaris di usia mudanya itu.
Sekalipun tidak mengungkapkan pertemuan mereka beberapa jam lalu, Murat juga mengenali sosok Emily yang bertengkar dengan seorang pria di lift tadi. Namun, dia ingin menjaga profesionalisme pekerjaan mereka saja di luar kehidupan pribadi sang jaksa itu sendiri.
"Jadi apakah Murat akan magang atau bekerja penuh waktu di kantorku, Bren?" tanya Emily tak ingin berbasa-basi di jam kerjanya yang berharga.
Brendan Nieson mengulurkan sebuah amplop putih kepada Emily. "Ini surat penugasan resmi Mr. Murat Yildirim Bey sebagai asisten jaksa wilayah Chicago menggantikanku, Em. Kau pasti cocok bekerja dengan darah muda dan lebih gesit dibanding aku yang sudah melambat. Masa pensiunku akan dimulai minggu depan. Akan kujelaskan kepada Mr. Murat mengenai tugas-tugasnya di kantor kejaksaan," tutur pria berumur dengan wajah seperti Basset Hound itu.
"Ohh, tidak, Bren. Pekerjaanmu selama ini luar biasa baik saat bersama ayahku maupun bersamaku. Aku sangat menghargaimu!" balas Emily menggenggam tangan kanan Brendan Nieson, asistennya.
Usai berbincang mengenai pengaturan perpindahan jabatan itu bersama Emily, kedua pria itu pun pamit meninggalkan ruangan Emily.
Wanita berambut panjang warna coklat madu itu menyesap kopi di cangkir yang tersaji di mejanya lalu kembali membuka berkas kasus selanjutnya. Kriminalitas masih menjadi dominator kasus yang mampir di mejanya.
Emily mengamati foto calon terdakwanya, Jared Detroit. Seorang pria pembunuh berantai kulit putih yang telah membunuh 5 orang wanita di kota Chicago, Emily tidak ingin memberikan keringanan dengan alasan gangguan mental serta kejiwaan. Mungkin pemicu dari tindak kejahatan yang dilakukan Jared memang benar gangguan psikologis, tetapi pria itu harus diberi hukuman setimpal. Penjara seumur hidup di sel kriminal sudah sesuai untuk pria itu.
Dia menaruh berkas kasus itu lalu berpindah ke berkas kasus selanjutnya. Dalam satu hari, Emily bisa mendapat jadwal persidangan hingga 3 kali karena memang tidak setiap hari hakim melayani persidangan dan jaksa menyesuaikan saja.
Jaksa seperti dirinya memutuskan tuntutan pidana apa yang akan diajukan, kapan dan di mana seseorang akan menjawab dakwaan tersebut. Dalam menjalankan tugasnya, jaksa memiliki wewenang untuk menyelidiki orang, memberikan kekebalan kepada saksi dan tersangka pelaku kejahatan, serta melakukan sesi wawancara dengan terdakwa di persidangan serta penjara sementara.
Telepon di meja kerjanya berdering, dengan segera Emily menjawabnya, "Halo, dengan Jaksa Emily Rosalyn Carter di sini."
"Halo, Em. Ini Henry Crawford, apa kau bisa makan siang bersamaku sekitar satu jam lagi?" ujar peneleponnya.
Emily menggigit bibir bawahnya, dia enggan mengiyakan ajakan itu karena pembicaraan mereka berdua tadi malam. Baginya menikah bukan opsi nyaman untuk diambil, dengan siapa pun itu. Katakanlah ia liar menjalani banyak hubungan panas bersama beberapa pria tanpa ikatan. Namun, itu jauh lebih baik dibanding terjebak dalam sebuah pernikahan politis.
"Henry, maafkan aku, siang ini aku sudah memiliki janji dengan penyidik dari kepolisian yang sedang mengusut kasus pembunuhan," dalih Emily dengan cerdik. Namun, memang ada kasus pelik yang sedang diselidiki oleh Kapten Ryan Falderson. Pria itu sempat memintanya secepat mungkin menemuinya di kantor kepolisian Chicago.
"Apa kau menghindariku, Em?" tuduh Henry yang tak suka diabaikan ajakannya.
Wanita itu menghela napas lelah. Dia lalu balas bertanya, "Kenapa harus menghindarimu, Henry? Apa alasannya?"
"Tentang semalam, mungkin kau merasa tak nyaman, Em—"
"Dengar Henry, aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat ini dengan calon mempelai pria mana pun. Karierku masih jadi prioritas hidupku dari hari ke hari ...," jawab Emily tegas.
Namun, Henry Crawford sepertinya lebih senang keinginannya didengarkan oleh Emily. "Menikah itu tidak sulit, Em. Apa kau ingin melajang hingga tua? Beberapa tahun lagi kulit wajah dan tubuhmu akan berkerut-kerut tak menarik lagi—"
Emily memotong ucapan Henry yang bernada satire itu, "Itu pun bukan urusanmu sama sekali. Bila aku menua sendirian dan membenamkan diriku dalam tumpukan berkas kasus hukum di kantorku, itu mutlak pilihan hidupku, Henry! Selamat siang." Wanita itu meletakkan kembali gagang telepon itu di tempatnya di atas meja kerjanya.
Dia sekilas melirik jam di pergelangan tangan kirinya lalu merapikan barang pribadinya ke tas tangannya sebelum keluar dari kantor Jaksa Wilayah Chicago. Kali ini dia ingin mengunjungi Kapten Ryan Falderson. Pria itu sekalipun temperamennya serius, tapi memiliki wajah rupawan dengan selera humor yang bagus.
Ketika keluar dari ruangan kerjanya, dua ajudannya mengikuti di belakang Emily hingga ke parkiran mobil. Memang profesinya rentan terhadap serangan pelaku kejahatan yang memiliki dendam akibat tuntutan hukum yang ia ajukan ke hakim.
"Ron, kita ke kantor kepolisian Chicago. Aku ada janji dengan Kapten Falderson siang ini," ujar Emily saat menaiki mobil dinasnya yang dikendarai Ronald Banning.
"Oke, Em. Kau ingin melewatkan makan siangmu?" sahut Ronald.
Emily hanya tertawa ringan lalu menjawab, "Aku baru sarapan pukul 08.00 tadi, mungkin sepulang dari kantor kepolisian aku akan mampir ke gerai MacD. Tinggalkan saja aku bila kita sudah sampai di sana nanti. Kau dan Thomas boleh makan siang sesuai jam sewajarnya."