Di lestoran Xiantian
Nyamm.. nyam.. nyam suara kecap pan Ranran yang terlihat sangat menikmati makanan nya itu.
"Aiss... lihat bocah ini, bisa kah kau makan dengan anggun dan rapih?" ujar Zuzu.
"Memang nya ada apa? toh cara makan memang begini kan? jika makan saja harus anggun kapan kenyang nya?" saut cepat Ranran langsung menjawab Zuzu yang membuat Zuzu terdiam tak berkutik.
Zuzu "Dengar ya! aku sudah susah payah membuat mu menjadi berbi namun lihat ini yang kuluhat di depan ku adalah seeokar beruang kelaparan!" ujar nya.
Ranran "Aaaa.. cukup setidak nya kita sudah keluar dan bermain bersama sesorean ini aku akan membayar nya dan mari pulang tubuh ku sangat lelah." ujar nya sengaja mengalih kan pembicaraan nya langsung bergegas pergi ke kasir.
Beberapa menit kemudian setelah Ranran membayar pesanan nya.
"Permisih, bisa tolong beri kan ini kepada pria di sana i.. ibu saya meninggal karena kecelakaan tiba tiba dan saya harus." ujar seseorang pelayan lestoran itu.
Dheg! setelah Ranran mendengar tentang kecelakaan hati nya akan merasa sesak tiba tiba dan serontak membuat nya gemetar namun ia tak mungkin tak menolong wanita itu dan ia mengingat bahwa orang tua nya meninggal karena kecelakaan juga, ia pun tak tega dan mau mengganti kan pelayan itu.
"Tak.. apa Ranran, tenang kan diri mu ini ayo antar kan ini dan segera pulang." fikiran Ranran langsung berjalan ke arah meja yang memesan dua gelas Wine.
Tak.. tak.. tak suara hentak kan langkah kaki Ranran yang sedang memakai sepatu tinggi itu.
"Wiewww.. bidadari, apa ada pelayan secantik di restoran ini? kalau begitu aku akan sering sering kemari." fikiran salah satu pria yang berada di meja itu.
Ranran "Permisi tuan.. ini dua gelas Wine yang telah anda pesan, selamat menikmati." ucap nya langsung menaruh dua cangkir wine itu dan ingin bergegas pergi.
Greb! tiba tiba langkah Ranran di henti kan karena pegangan dari pria itu.
"Nona.. bagaimana jika kau menemani ku semalam? kan ku bayar sesuai stamina mu nanti, hehehe.." ucap pria itu menatap Ranran dengan tatapn m***m nya.
Tak! tepissan tangan Ranran yang terdengar sangat nyaring itu yang membuat semua yang berada di lestoran mengarah ke arah nya.
"Jaga ucap pan mu! apa kau pikir aku mau bermalam dengan mu hah? dasar pelayan wanita itu! lihat lah berani berani nya ia memegang dan mencoba merayu ku!" ujar pria m***m itu dengan lantang yang mencoba memutar balik kan fakta.
"A.. aku bukan! tapi tuan lah yang duluan." ujar Ranran.
"Dasar murah han berani sekali menuduh ku! lihat apa yang akan ku laku kan pada mu!" ujar pria itu langsung bangun dan mengambil secangkir Wine berniat untuk menyiram Ranran.
"Ibuu.. Ayah.. Ranran takut!" fikiran Ranran yang hanya bisa mengejam kan mata nya karena dari kecil sudah di biasa kan hanya untuk kalah dan menerima walau pun ia tak salah.
Duakk!.. tiba tiba terlihat sebuah kaki panjang langsung menendang d**a pria itu yanf membuat nya terlempar di meja sampai membuat meja itu berantak kan.
Ranran yang melihat itu pun hanya bisa terkejut dan memandang pria yang sedang berada di samping nya itu.
"Apa.. apaan ini! kau berani menendang teman ku! mati saja kau!" ujar marah teman pria m***m itu langsung ingin memukul pria yang berada di samping Ranran.
Taps suara tangkisan pria itu yang langsung memelintir tangan dari teman pria m***m yang menganggu Ranran.
"Telat.. gerak kan mu bahkan di bawah minus! jika tak ingin tangan mu patah maka cepat bawa teman mu! seperti nya ia akan segera mati jika tidak kau bawa pergi." bisik kan seringai pria yang membantu Ranran.
"Oh tidak.. pala mu ketusuk pecah han gelas!" ujar teman pria m***m itu bergegas membawa pria yang terlempar ke meja.
"Tu.. tuan Lion Zing, maaf atas sesuatu yang membuat anda tidak nyaman." ujar pemilik lestoran itu.
"Tak apa.. ini seratus persen salah pria itu! oh ya nona? loh kemana wanita itu?" ujar Lion yang baru membalik kan badan nya namun Ranran sudah hilang begitu saja.
"Sudah pergi? sayang sekali." gumaman Lion.
"Tuan.. kita harus ke Amerika sekarang." ujar sekretaris Lion.
Lion "Sekarang.. Ahh, sayang sekali bukan hilang dengan cepat seperti asap." gumaman nya sembari berjalan pergi yang membuat sekretaris nya terbingung dengan kata kata yang baru saja ia ucap kan.
Di latin tempat.
Dheg!.. deg!.. deg! suara detak jantung Ranran yang terus berdetak dengan sangat hebat.
"Hei.. ada apa? bisa kah kita kita jalan nya pelan pelan? kau bisa saja merusak sepatu yang baru ku beli." ujar Zuzu yang sedari tadi tiba tiba di tarik Ranran.
Ranran "Dia keren bukan?" ujar tiba tiba nya yang membuat Zuzu terbingung.
"Siapa?" tanya Zuzu.
"Kaki panjang itu! kyaaa.. andai kaki ini tak membawa ku pergi, tapi aku sangat malu dan takut akan mengganti rugi kerusak kan lestoran mahal ini!" ujar nya seketika membuat Zuzu penasaran dengan apa yang terjadi dan mengapa Ranran takut membayar ganti rugi.
"Sebentar.. apa yang telah terjadi? apa kau di tindas lagi dengan Luo Tang? apa dia berada. Sana juga? dasar si bidur itu! ia selalu berkeliaraan dimana aja seakaan kota ini adalah satu rumah nya, cih aku akan membunuh sekarang walau aku akan di hukum nanti!" ujar kesal Zuzu.
"Tunggu.. bukan Luo Tang, tadi ada seorang pria yang mengganggu ku dan aku membuat pria itu marah lalu ada seorang pria berkaki panjang datang dan menendang pria m***m itu sampai membuat kepala nya tersusuk pecahan gelas, karena takut di suruh membayar rugi, aku pergi begitu saja." ujar Ranran.
Pukk.. puk.. puk suara tepuk kan Zuzu ke pundak Ranran.
"Haha.. ternyata kau pintar juga, tentu kau harus kabur cara terbaik mengatasi ganti rugi adalah kabur, huft.. terkadang kau pintar juga." ujar Zuzu.
"Hehe.. aku pintar bukan?" saut riang Ranran.
"Suangaatt pintar!.. ayo pulang, ini hampir malam saat nya aku berangkat kerja." ujar Zuzu langsunv merangkul Ranran dengan wajah bangga nya.
Sesampai di rumah Li Zuzu.
"Kaka.. bisa kah kaka tidak bekerja beberapa hari? uang ku cukup untuk 2 bulan jika hanya kaka dan aku." ujar Ranran yang sangat sedih karena ia mengetahui tugas seorang pelayan yang pernah ia alami.
"Kau pikir rumah ini tak perlu ku bayar? aku baru membayar nya 13 kali kurang kurang 15 kali lagi, sudah lah tak perlu menunggu ku tuk pulang, kau tidur saja sana, selamat malam aku pergi dulu." ujar Zuzu langsung mencium hening Ranran dan bergegas pergi.
Beberapa menit kemudian di kamar Ranran.
"Cukup 2 bulan? tanpa sengaha aku sudah niat untuk tinggal bersama kak Zuzu selama nya, kapan paman akan menyuruh ku pulang? jelas ini sudah beberapa hari tak mungkin jika paman membuang ku bukan." ujar Ranran sembari tiduran di kasur nya.
Tringg.. tring.. suara dering telepone Ranran tiba tiba berbunyi dan betapa senang nya ia saat mendapat telephone dari paman nya itu.
"Paman? akhir nya paman menelephone ku, paman aku sangat merindu kan paman, aku akan pulang sekarang juga." ujar riang Ranran.
"Berhenti, 3 hari lagi sepupu mu akan bertunangan datang lah dengan wajah senang kau tau jika sesuati rumor jelek akan muncul itu bisa saja membuat perusahaan Ayah mu bangkrut." ucap tegas Huo tang.
"I.. iyaa, aku akan datang sendiri saat itu paman berikan alamat nya saja dan waktu nya." ujar gagap Ranran.
Huo "Bagus.. tentu saja kau tidak sendirian, bawa lah pasangan entah itu sungguhan atau bohongan kau harus membawa nya, kau tak mau membuat repotasi supupu nya satu satu nya hancur bukan? jelas jelas Dion nya saja yang beralih dari mu, sudah lah itu saja, sampai jumpa di 3 hari yang akan mendatang keponak kan ku." ucap nya langsung memati kan telephone itu.
Grttt.. remassan tangan Ranran yang menggenggam erat hanphone nya.
"Sampai jumpa? apa maksud paman ia tak berharap aku pulang? ia hanya memperduli kan Luo tang saja, memang benar anak lebih berharga dari pada orang lain." ujar Ranran sembari menangis di bawah selimut kasur nya itu.
Keesok kan hari nya.
"Dia menangis lagi? aiss.. benar saja paman b******k nya itu menelephone nya semalam! berani sekali ia membuat baby cat ku menangis!" ujar Zuzu yang baru saja pulang bekerja langsung ke kamar Ranran dan melihat panggilan trakhir di hanphone Ranran.
Ranran "Tunggu di situ jika kau tak ingin melihat ku akan terus menangis!" ujar tiba tiba nya masih tertutup selimut tebal nya itu.
"Sialan.. ku kira tidur!" fikiran terkejut Zuzu.
Zuzu "Huft.. sudah cukup, bagaimana aku bisa diam jika kau selalu di buat menangis oleh mereka! Ranran dengar lah air mata mu sangat mahal maka jangan lah mencoba coba menangis!" ujar nya sembari membelai wajah Ranran.
"Kak maaf, hiks.. hiks.. aku yang sangat bodoh selama ini! aku telah di buta kan oleh identitas keluarga! maaf, maaf saat itu aku pernah membentak mu." ujar Ranran sembari memeluk Zuzu.
"Tak.. apa seorang adik tentu saja akan melaku kan kesalahan dan tugas seorang kaka adalah menerima lalu memperbaiki kesalahan nya, sekarang bisa cerita kan apa itu?" ujar Zuzu langaung ke inti nya.
Beberapa menit kemudian setelah Ranran mencerita kan apa yang terjadi.
Greb! tiba tiba tangan Zuzu mencengkram pundak Ranran.
"Tenang lah Ranran! kau tau kaka mu ini bandar pria? aku akan mencari kan satu untuk mu." ujar semangat Zuzu.
"Aku bukan nya bermaksud menolak yang kaka beri, aku kali ini sungguh sungguh ingin menemu kan cinta sejati ku, dan jika aku terus di bantu kaka seperti ini kapan aku akan memiliki kemampuan toh bukan kah aku harus bangkit dari dunia goa yang kaka kata kan?" ujar Ranran.
"Umur nya memang sama seperti ku namun ia masih memiliki sifat anak kecil dan kini siapa Ranran yang berada di depan ku? senang nya bisa melihat mu yang ingin bangkit Ranran." fikiran Zuzu dengan senyum kecil nya.
Ranran "Kenapa malah tersenyum seperti itu? apa kaka tidak akan percaya pada ku?" ujar nya.
Zuzu "Apa maksud mu! aku malah senang, kalau begitu aku akan menanti kan pria yang kau temui nanti dan pasti kan untuk memasang wajah bahagia mu agar Dion si pria b******k dan si Luo tang bidur itu menyesal!" ujar nya yang mencoba memberi kan semangat pada Ranran.