Bab 7

1308 Kata
Narasya saling pandang dengan Galen saat mendengar perkataan Emma. Narasya menarik tangan Emma untuk di ajaknya bicara lebih jauh tentang Ethan. Selama ini, Ethan selalu tertutup dengan kehidupannya. Apalagi jika sekarang mereka harus memaksa Ethan untuk bicara siapa gadis yang dia sukai. "Jadi, jelaskan sama kami, kenapa kau bisa langsung tahu jika Ethan tengah jatuh cinta?" Emma menggaruk pelipisnya, dia tadi asal bicara tanpa mencari tahu dulu kebenarannya. "Itu, ma, ayah..... sebelumnya aku ingin bertanya pada kalian. Tapi ini sedikit serius." Emma bahkan menatap orang tuanya takut jika pertanyaan nya malah membuat orang tuanya marah pada Ethan. "Katakan!" "Apa ayah dan mama akan setuju jika Ethan mempunyai kekasih yang umurnya lebih tua?" Di akhir kalimatnya suara Emma lebih kecil dari pada sebelumnya dan itu membuat Galen menatap Emma curiga. Belum sempat Galen menjawab, ternyata Narasya yang lebih dahulu mewakilinya untuk bicara. "Kau tahu bukan jika hidup Ethan tak mudah dari dulu. Dan kau tahu siapa Ethan, untuk mama kebahagiaan Ethan yang terpenting. Mau perempuan itu lebih tua atau muda tak masalah. Yang penting Ethan bahagia. Benar kan ayah?" Galen mengangguk cepat, tak pernah membatasi apa yang ingin anak anaknya lakukan. Emma yang melihat itu bernapas lega. Sekarang tinggal memastikan jika apa yang ada dalam pikiran Emma benar. Emma lalu menceritakan semua yang terjadi pada Ethan yang tiba tiba seperti itu. Termasuk kejadian soal Agatha. Galen sampai menggebrak meja di depannya karena marah. "Ternyata, apa yang ayah takutkan benar. Laki laki itu benar tak baik untuk Agatha." Narasya dan Emma mengangguk setuju. "Jadi sekarang Agatha tinggal dimana?" "Apartemen ma, sepertinya dia juga akan kembali ke kantor pengacara." # Ethan tak langsung pulang ke bengkel. Melainkan dia pergi ke arena balap dimana malam ini dia ada taruhan balapan liar. Uang yang akan di dapat cukup besar, tapi jika dia kalah dia juga akan kehilangan nyawanya. "Ethan, kali ini kau harus hati hati. Mereka tak segan mengincar nyawamu karena taruhannya cukup besar!" Ethan yang tengah menghisap rokoknya tak menyahut. Dia mengamati sekitar yang memang sedikit berbeda dari pada biasanya. "Kau bawa mobil yang lain?" Kenzo melempar kunci mobil miliknya pada Ethan. "Kenapa? Kau merasa ada yang salah?" Kenzo menghadiahi beberapa pertanyaan pada Ethan yang langsung di angguki sebagai jawaban. "Mobilku di sabotase, aku tak mungkin memakainya. Kendalikan mobil itu dari jauh. Aku akan pakai mobil milikmu. Uang lima ratus juta itu simpan untuk saat ini." Kenzo mengangguk, dia tak pernah meragukan Ethan yang selalu penuh perhitungan. Ethan melangkah dengan santai menaiki kendaraannya. Tapi dia menutupi wajahnya dengan masker dan juga mengenakan topi. Mobil Kenzo yang di pakainya ada di urutan paling belakang, tapi itu tak membuat Ethan khawatir dia akan kalah. Persiapan selesai, pertandingan balap liar itu dimulai. Musuh Ethan, yang merasa jika Ethan akan kalah dan tewas sudah tersenyum pongah. Terlebih uang lima ratus juta itu akan jadi miliknya. Ethan yang melihat dia cukup tertinggal pun hanya tersenyum tipis. Dia masih tenang di belakang mengemudikan mobilnya santai. Sementara itu timnya berkali kali memeriksa musuh musuh mereka. Tak lama terdengar sebuah instruksi yang membuat Kenzo dan timnya tercengang. "Kenzo, kau bisa membuat mobilku jatuh. Setelah itu aku akan ambil alih balapan ini!" Semua orang di tim Ethan saling pandang tapi Kenzo tahu jika dia tak melakukan itu bukan tak mungkin jika akan ada korban lain dan mungkin lebih banyak. "Aku tahu, aku lakukan sekarang. Kau berhati hatilah, jika kau sampai terluka kau tak akan bertemu lagi dengan wanita itu." Di akhir kalimatnya Kenzo masih sempat menggoda Ethan mengingat kan tentang wanita yang di incar oleh Ethan. Sementara Ethan sudah tersenyum tipis. Dia meraba sebuah kalung yang tak pernah lepas dari lehernya. Lalu dengan gerakan cepat, dia merubah kecepatan mobil yang di kendarainya, dan memacunya lebih dari yang sebelumnya. Brum..... Suara keras mobil Ethan terdengar menggema membelah malam sunyi itu. Dan tepat saat Ethan melewati mobil miliknya sendiri mobil itu menabrak pembatas jalan dan meledak. Brak.... Duar.... Terdengar tabrakan yang keras si jago merah membumbung tinggi di udara. Beruntung di belakang Ethan tak ada lagi yang melintas. Semua orang yang menyaksikan mobil Ethan meledak mulai syok sayh persatu. Pertandingan itu di tampilkan di monitor yang lebar sehingga banyak penonton yang melihatnya. Sedangkan musuh Ethan yang tahu mobil Ethan meledak tertawa puas tanpa dia sadari jika Ethan sudah berada di belakangnya. Melewati beberapa mobil yang sudah lebih dahulu ada di depan Ethan. "Akhirnya, mati juga dia. Hahaha, aku yang sekarang menjadi raja jalanan!" Brummmm..... Orang itu tersentak kaget ketika sebuah mobil melewatinya dengan cepat dan melesat jauh di depan. Sesaat dia terbengong tapi ketika dia sadar dia sudah tertinggal jauh dari mobil milik Ethan. Ethan yang melihat itu tersenyum sinis. "Dasar bodoh!" Ethan melesat jauh sampai garis finish. Ethan tak langsung keluar dari dalam mobil. Dia menunggu Kenzo memeriksa mobilnya yang terbakar. "Tak ada korban, tapi ya, mobil milikmu hancur dan tak bisa di perbaiki lagi!" Ethan tak menjawab, dia keluar dari dalam mobil lalu tersenyum puas saat melihat musuhnya yang sudah menyabotase mobilnya kaget. "E-than? Bagaimana bisa kau selamat?" Ethan tersenyum puas melihat wajah pucat itu. "Kau berharap aku tewas bersama mobilku tadi?" Kenzo dan timnya datang sambil membawa sebuah kartu yang berisi uang taruhan tadi. "Ku simpan, kalau kau butuh bilang." Ethan mengangguk, dia mengembalikan kunci mobil Kenzo kepadanya pemiliknya. "Morgan, kau berharap apa setelah membuat ku kehilangan mobil kesayanganku? Apa kau bisa menggantinya?" Morgan yang geram ingin memukul Ethan, tapi anak buah Ethan sudah menghalanginya. "Kau menuduhku menyabotase mobil milikmu, padahal jelas mobilmu yang bermasalah!" balas Morgan sengit. Ethan menjentikkan jarinya, lalu di dalam layar yang besar itu muncul sebuah video dimana Morgan menyuruh beberapa orang untuk merusak mobil Ethan. Tak hanya mereka yang bekerja tapi Morgan juga ikut andil. Bruk.... Tubuh Ethan terjatuh ke tanah, dia tak tahu jika ada yang merekamnya. "I-itu palsu, video itu palsu. Kah pasti sengaja memfitnahku!" Ethan yang sejak tadi bersandar dengan tenang, melangkah perlahan ke depan Morgan. "Kau lupa siapa pemilik wilayah ini? Ah, tapi mungkin kau tak tahu, meskipun area ini sering di pakai untuk balap liar, tapi setiap titik buta juga ada CCTV nya. Dan hanya orang tertentu yang bisa mengakses CCTV itu!" Morgan diam seribu bahasa setelah mendengar penuturan Ethan. Semua rencana nya gagal total. Dia mengincar uang itu untuk bersenang senang. Morgan juga menjanjikan kekasihnya sebuah Villa di pinggir kota. "Aku tak kalah, harusnya uang itu menjadi milik kekasih ku!" gumam Morgan lirih. Kali ini bukan Ethan yang bersuara, tapi Kenzo. "Lihat dengan jelas, siapa yang ada di video itu!" Kenzo menunjuk sebuah video yang disiarkan disana. Mata Morgan membelalak saat melihat kekasihnya ternyata berselingkuh ketika dia balapan tadi. Ethan turut prihatin dengan itu. "Morgan, kau putra seorang elite tapi masih di bohongi wanita seperti dia? Wah, kau bodoh ternyata!" ejek Ethan. Tubuh Ethan masih membeku di tempatnya, sedangkan kekasih Ethan yang sudah tertangkap basah diseret dan di lempar ke depan Morgan. "Karena kau dan aku pernah menjadi partner, aku bantu kau tangkap mereka. Tapi setelah ini, aku tak akan ikut campur urusanmu!" Wanita itu ketakutan saat di seret oleh anak buah Kenzo. Sedangkan Ethan masih terus memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Morgan. "Hitungan ketiga, itu wanita pasti wajahnya akan hancur!" Brak..... Benar saja, belum sampai Ethan selesai menghitung sampai ketiga, Morgan menarik wajah kekasihnya dan membenturkanya pada Kap mobil miliknya. "Argh, Morgan..... maafkan aku....tolong lepaskan!" Tak hanya sekali, tapi beberapa kali sampai semua wajah gadis itu berlumuran darah. "Kasar sekali ternyata!" celetuk Kenzo. Ethan yang baru saja menghabiskan rokoknya mengedikkan bahunya acuh. Dia berbalik dan masuk ke mobil Kenzo. "Antar pulang ke bengkel, besok pagi aku ada urusan dan sekarang harus segera istirahat." ucap Ethan sedikit keras. Kenzo melihat jam tangannya, dan baru tengah malam. Melihat Ethan dengan wajah yang bingung karena tak biasa Ethan tidur cepat. Dia bahkan jarang sekali tidur. Dan memilih menghabiskan waktunya untuk memperbaiki mobil yang masuk ke dalam bengkel. "Otaknya terbentur apa? Tiba tiba sekali jadi anak rumahan!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN