Bab 8

1314 Kata
Agatha hari ini sudah bersiap pergi ke pengadilan untuk membatalkan pernikahannya dengan Frangky, tapi dia memilih untuk pergi ke bank terlebih dahulu mengurusi semua kartu kartu miliknya termasuk memindahkan semua tabungan yang dia punya ke kartu yang baru. "Agatha...." Emma ternyata sudah tiba disana dengan senyum sumringahnya. "Tiba tiba sekali kau disini?" "CK, aku ingin menemanimu mengurusi semuanya. Juga merayakan kebebasan mu nanti." goda Emma pada Agatha Agatha menggelengkan kepalanya melihat tingkah Emma. Lalu dia melempar kunci mobilnya pada Emma. "Kalau begitu, kau yang menyetir. Aku ingin sarapan dengan tenang." Emma menerima kunci mobil milik Agatha dengan kagum. Belum apa apa, mobil Agatha sudah baru. "Wah, mau pamer atau mau bikin orang jantungan?" ledek Emma lagi. Agatha tertawa, dia tak ada niatan seperti itu. Emma yang melihat Agatha tertawa lepas pun heran. Agatha baru di selingkuhi, di bohongi dan semua tabungan serta usahanya di ambil semua oleh Frangky dan keluarganya. Tapi Agatha terlihat santai saat ini. "Kau bahkan tak terlihat sakit hati, nyesel aku khawatir dari kemarin." gerutu Emma. Agatha terkekeh, dia mencubit gemas pipi Emma. "Rugi kalau sampai aku menangisi mereka. Meskipun aku sama Frangky berjalan dua tahun tapi kau tahu sendiri aku sibuk bekerja. Hanya sesekali saja aku bertemu dengan nya." "Dan dia yang menghabiskan uangmu!" ejek Emma sambil tertawa. Wajah Agatha menjadi masam, rasanya mengingat jika dia pernah bodoh terlalu percaya pada orang pun mendadak kesal saat ini. "Tak usah mengingatkan ku soal itu. Kau membuatku kesal Emma." Emma terkekeh, tapi selanjutnya dia melajukan mobilnya meninggalkan apartemen Agatha. Terlihat Agatha menikmati sandwich yang dia bawa. Entah kenapa saat dalam perjalanan, tiba tiba Agatha kepikiran soal Ethan. "Emma, aku ingin bertanya sesuatu." Emma melirik sekilas dan kembali fokus pada jalanan di depannya. "Kau ingin bertanya apa?" "Ehm, laki laki kemarin, maksud ku Ethan, dia?" Agatha tak melanjutkan perkataannya, dia menggigit bibir bawah nya karena takut jika Emma akan berpikir macam macam tentangnya. Emma awalnya bingung kenapa tiba tiba Agatha penasaran dengan Ethan. Padahal mereka baru pertama kali bertemu. Tanpa Emma tahu jika Ethan dan Agatha bertemu lagi tanpa Emma tahu. "Kau ingin tahu untuk apa? Penasaran atau ingin mencari tahu yang lainnya?" Pertanyaan Emma setengah menggoda Agatha meskipun tak niat seperti itu. Tapi melihat Agatha tiba tiba salah tingkah membuat Emma mengulum bibirnya. "Mereka ini sepertinya ada yang aku tak tahu? Semalam Ethan tiba tiba pulang ke rumah? Lalu ini, Agatha tiba tiba saja bertanya seperti itu? Membuatku curiga. Tak biasanya Agatha penasaran sama laki laki." Emma tak langsung menjawab dan itu semakin membuat Agatha menjadi salah tingkah. Emma tak ingin membuat Agatha semakin berpikir yang aneh aneh. "Dia adik angkat ku, tapi sudah seperti adik kandungku. Dia anak yang di bawa Ayah saat dia masih remaja. Yang aku tahu, ibunya sudah meninggal lama. Tapi papa kandungnya tak mau lagi menerimanya. Itu yang ayah ceritakan dulu. Dan sekarang Ethan menjalankan usaha bengkel milik Ayah dulu. Bisa di bilang dia berhasil mengembangkan bengkel ayah." Agatha mengangguk mengerti, sedikit kasihan dengan Ethan. Tapi melihat Ethan kemarin sepertinya Ethan terlihat biasa saja. Tapi Agatha tak berani mengatakan pada Emma jika dia pernah bertemu lagi dengan Ethan. "Kenapa kau tiba tiba penasaran dengan Ethan? Kau suka padanya?" Uhuk.... Agatha tersedak makanannya, dia langsung menenggak minumannya sampai habis. "Bukan, aku hanya penasaran. Selama ini aku tak pernah tahu kalau kau punya adik. Dan kemarin, tiba tiba saja bertemu dengan nya. Rasanya aneh," sanggah Agatha cepat. Emma tak lagi menanggapi Agatha karena mobil mereka sudah memasuki area Bank yang mereka tuju. Emma dan Agatha langsung masuk ke kantor kepala Bank untuk mengurusi semua kartu miliknya. Agatha sudah menghubungi kepala Bank sebelumnya. Proses pemblokiran dan penggantian kartu milik Agatha terhitung cepat karena berkasnya juga sudah Agatha siapkan sejak kemarin. Beruntung beberapa berkas yang penting sudah dia simpan di bank itu sendiri. Jadi di rumah yang dia tinggali tak ada barang berharga apapun kecuali mobil. Agatha juga tak pernah menyimpan perhiasan nya di rumah. Saat masih dalam proses penggantian kartu, ada notifikasi gagal yang masuk ke dalam data pihak Bank. Petugas bank yang melihat itu tersenyum geli, dia juga sudah tahu alasan Agatha melajukan penutupan rekening lama juga pemblokiran semua kartu miliknya. "Lihat nyonya, ada lagi transaksi yang di tolak dari kartu nyonya. Sepertinya mereka sedang berusaha menggunakan kartu itu untuk berbelanja." Agatha menggelengkan kepalanya saat melihat itu, rasanya ingin tertawa saja. "Biarkan saja, itu hukuman buat mereka." Proses di bank itu masih memakan waktu sedikit lebih lama karena banyaknya kartu milik Agatha termasuk semua pemasukan butik miliknya ada disana. Bodohnya Frangky dan keluarganya jika kunci toko dan berkas yang mereka ambil adalah berkas toko yang pemasukannya tak seberapa dan termasuk toko cabang. Tak hanya proses peralihan semua rekening Agatha, tapi pembatalan pernikahannya juga sudah di setujui. Semua itu berkat koneksi yang Agatha punya. "Emma, rasanya kenapa malah lega ya?" Emma yang berjalan di sebelahnya menghela napas panjang. "Kau tak sadar jika selama ini mereka menjadi benalu di hidupmu?" Agatha terlihat berpikir tapi belum sempat dia menjawab tubuhnya di tarik seseorang. Plak.... Mata Emma membola begitu juga Agatha yang tiba tiba di tampar di depan orang banyak. Pelakunya tak lain tak bukan adalah ibunya Frangky. Dia datang bersama Kamila juga Frangky yang menatap geram pada Agatha. Saat Agatha sadar siapa yang baru saja menamparnya, dia lalu berbalik menampar balik Sarah. Terdengar bunyinya lebih keras dari pada tamparan Sarah pada Agatha. Plak Plak... Sarah sampai terjatuh di tanah. "Gila kau Agatha, kau menampar ibu mertuamu sendiri!" teriak Kamila keras. Dia sengaja berteriak untuk memancing simpati orang orang yang ada di parkiran bank itu. "Kalian yang gila, tiba tiba datang dan nampar aku. Aku bakal laporin kalian bertiga, dengan pasal penyerangan!" Mata Kamila melotot, Frangky terlihat semakin marah begitu juga dengan Sarah. "Heh, dia ibuku, dan dia mertuamu. Bisa bisanya kau mau laporin. Otakmu dimana?" Banyak bisik bisik terdengar disana mencemooh Agatha. Emma yang kesal ingin menghajar Frangky tapi Agatha menahannya. "Jangan Emma, kau bukan lawan laki laki lemah seperti dia. Sabuk hitam mu bisa membuat dia langsung beda alam." Emma berdecak kesal, tapi dia menurut pada Agatha. "Kau lupa, atau pura pura hah? Aku tak punya suami, apalagi mertua seperti kalian. Atau aku harus ingatkan? Di malam pesta pernikahan kau selingkuh dengan wanita sialan itu, membawnya tidur di kamar pengantin kita. Dan kau juga merebut semua yang ku punya. Tak hanya itu, kau dan keluargamu mengusirku tengah malam tanpa perasaan." Kicep, Frangky gelapan saat ini karena Agatha berani membantahnya. Semua orang berbalik arah menyerang keluarga Frangky. "Heh, itu kesalahan mu karena kau jadi wanita sangat kampungan. Kau belagak suci tak pernah mau di sentuh. Dan lagi wajar bukan jika laki laki banyak uang seperti ku punya wanita lebih dari satu?" Mata Agatha dan Emma melotot mendengar rasa percaya diri Frangky saat ini. "Kau? Banyak uang?" "Hahah, uang yang kau pakai semua adalah milikku. Dan coba ku tebak, kau mencariku karena semua kartuku tak bisa lagi kalian pakai?" Agatha menyeringai ke arah keluarga Frangky yang semakin gelagapan. "Uang mu juga uang ku Agatha kalau kau lupa. Kita masih sah suami istri!" Agatha yang mendengar itu semakin muak, lalu dia mengambil ponselnya. Kamila yang melihat ponsel Agatha adalah keluaran terbaru pun kaget. Agatha yang sudah di usir dan di ambil semua hartanya masih mampu membeli ponsel mahal itu. "Pembatalan pernikahan kita sudah selesai, aku sudah menerima suratnya. Dan harusnya kau juga sudah menerimanya!" Agatha menunjukan sebuah berkas pada ponselnya. Dan benar saja, detik berikutnya ponsel Frangky berbunyi. Saat melihat isi pesan itu, mata Frangky membelalak. Dia melihat Agatha tak percaya jika Agatha bisa melakukan itu dengan mudah. "Kau pasti memalsukan semua ini kan? Kau tak mungkin bisa melakukan ini hanya dalam waktu dua hari saja?" "Aku tak butuh dua hari untuk melakukan itu, aku hanya butuh waktu semalam. Jika aku mau, aku juga bisa menjebloskan kalian ke penjara saat ini juga. Tapi aku masih enggan, jadi ku pikir semua yang kalian ambil itu aku anggap sedang sedekah ke orang miskin!" to be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN