Kegilaan Kevin.

1042 Kata
Sissy tatapi ponsel yang ada digenggamannya saat ini. Melihat pada salah satu notifikasi pesan, dana yang baru saja masuk beberapa saat lalu ke dalam Mobile Bangking miliknya. Jumlah yang tidak sedikit. Lelaki itu menepati apa yang dia ucapkan tadi sore, membayarnya setelah dia merasakan kepuasan. Satu cairan bening menetes begitu saja. Lihatlah, kini dia sudah benar-benar menjadi p*****r seperti apa yang orang lain sangkakan tentang pekerjaannya. Kalau sebelumnya dia bisa membantah profesi pekerjaan saat berada di rumah bordil. Tapi tidak saat ini, bahwa dia benar seorang p*****r yang siap kapan saja memuskan seorang pelanggan. Bedanya, pelanggan dia hanya Kevin seorang. "Maafin Sissy, Bun. Hanya ini yang bisa Sissy lakukan untuk kesembuhan bunda." Udara dingin tidak menyurutkan seorang gadis yang kini tengah berdiri di atas balkon. Menatap cahaya bintang di langit malam, sembari meratapi takdir dan masa depannya. Berharap agar pendidikannya cepat selesai dan sang bunda sehat seperti sebelumnya. *** Buruan ke atap gedung, gue lagi mau lo sekarang juga. Mata Sissy membulat dengan sempurna. Menatap ponselnya tanpa berkedip dengan pesan yang baru saja masuk dan dia baca. "Apa sudah gila dia," Gumam Sissy, hanya dia dengungkan di dalam hatinya saja. Saat ini Sissy sedang berada di dalam kelas. Dan Dosen yang berada di depan sana tengah memberikan beberapa materi pelajaran. Mana mungkin Sissy meminta ijin untuk keluar pada Dosen Killer yang tidak pernah main-main memberikan nilai yang buruk untuknya. Pikir Sissy saat ini Kevin sudah benar-benar gila. Entah apa yang ada di dalam otak lelaki itu. Menyuruhnya untuk datang ke atap gedung kampus demi memuaskan nafsu setan lelaki itu. Padahal, jelas-jelas bahwa kampus ini adalah milik kedua orang tuanya. Jika sampai ketahuan dia berbuat m***m di atas gedung itu. Maka, tamat lah mereka berdua. "Kamu gila ya, Vin." Sissy berteriak kesal, Seolah-olah dia tidak takut atau pun bersalah telah mengatakan sesuatu hal yang buruk kepada lelaki itu. Kevin tidak menanggapi umpatan yang keluar dari bibi Sissy. Dia justru dengan santai duduk bersandar pada sandaran bangku yang ada di sana. Atap gedung adalah tempat biasa Kevin melepas penat, di sana dia bisa bersantai sesuka hatinya. Sudah sedari tadi Kevin di buat kesal menunggu kedatangan gadis itu seorang diri. Hingga satu jam lamanya Kevin terpaksa menyuruh seseorang untuk menyeret Sissy hingga gadis itu mau menemuinya di atap gedung. Kevin hanya menatap Sissy dengan wajah datar dan dingin. "Apa lo lupa, kesepakatan kita? Lo harus menuruti semua kemauan gue. Kalau lo mau rahasia itu tetap aman ditanganku." Kevin tidak sama sekali menghiraukan tatapan kesal dari gadis yang ada dihadapannya itu. Dia menepuk-nepuk pahanya berulang kali, agar gadis itu mau mendekat dan duduk dipangkuannnya. "Aku nggak mau! Jangan gila kamu ya, Vin. Ini kampus, bagaimana nanti kalau ada orang yang melihat. Kalau kita ketahuan, bukan hanya nama aku yang tercoreng. Tapi, nama kamu juga kampus ini!" Geram Sissy menatap horor Kevin. Terdengar decakan sebal dari bibir Kevin. "Berisik! Lama-lama lo itu jadi bawel. Kalau lo dari tadi menurut dan mengikuti kemauan gue, kita sudah selesai. Nggak akan ada orang lain yang datang ke sini dan melihat kita. Cepatan duduk!" Bentak dia kembali, sembari menepuk pahanya beberapa kali. Terpaksa Sissy hanya bisa menurut, sembari menggerutu kesal. Percuma melawan Kevin, lelaki itu terus saja mengancamnya. Kalau bukan karena takut rahasianya terbongkar, dia tidak akan sudi mengikuti segala kamauan lelaki b******k yang ada dihadapannya itu. "Buruan, turunin celana lo." Titah sang penguasa, menarik pergelangan tangan Sissy dengan cara paksa, agar segera duduk di atas pangkuannya. "Gue udah nggak tahan." Bisiknya dengan serak. "Sabar dong," Kalau sudah begitu, Sissy bisa apa selain pasrah dan menyerahkan diri sembari membuka kakinya lebar-lebar lalu duduk dipangkuan lelaki itu, yang kini tengah sibuk membuka resleting celana dan mengeluarkan miliknya. Sungguh gila apa yang dilakukan mereka saat ini, berbuat m***m di atap gedung kampus. Kevin tersenyum tipis saat tubuh keduanya telah menyatu. "Sok jual mahal, menganggap diri lo seperti wanita baik-baik. Berpura-pura nggak mau, padahal lo itu menikmati setiap sentuhan gue. Akui lah... kalau lo juga menikmati itu." Remasan tangan Kevin pada dua gundukan itu membuat Sissy mendesah dengan mata terpejam. Kevin berbisik kembali, "Perasaan takut ketahuan orang lain, justru membuat gairah lo semakin liar." Lelaki itu semakin menyeringai puas saat melihat wajah Sissy yang memerah. "Tadi sok menolak, lihat sekarang, justru lo yang semakin bersemangat. Sekali p*****r lo akan tetap jadi p*****r di mata gue." Ejekan Kevin sama sekali tidak di gubris oleh Sissy. Dia hanya ingin secepatnya selesai. Untuk itu, dia semakin bergerak dengan cepat di atas pangkuan Kevin. Mereka berdua sama-sama mencari kepuasan, saling menggerakkan tubuh, mendesah secara bersamaan saat gelombang kenikmatan sudah mencapai puncaknya. Ponsel yang berada di kantong celana Kevin berdering bersamaan dengan Sissy yang menyerukan wajah lelahnya ke leher lelaki itu. Napas keduanya saling memburu, berlomba meraup oksigen untuk masuk ke dalam paru-paru. Kevin mengadahkan kepalanya menikmati sensasi sisa-sisa pelepasannya dengan mata terpejam. Dia juga masih bisa merasakan d**a Sissy yang bergerak turun naik dengan hembusan napas gadis itu yang menerpa lehernya. "Hape kamu bunyi itu..." Bisik Sissy masih menyandarkan kepalanya di bahu Kevin. "Biarin aja." "Angkat aja dulu, siapa tau penting." "Gimana mau angkat, kalau lo masih ada di atas gue kayak gini." Posisi Sissy saat ini menempel di atas pangkuan Kevin seperti seekor anak koala. "Nanti dulu dong. Aku capek." Keluhnya. Sebetulnya, Kevin tidak ingin berbuat gila m***m di atas gedung kampus yang notabennya adalah milik keluarganya. Tapi, saat dia bosan bermain game pada ponselnya. Iseng-iseng dia membuka kembali video saat dia berhubungan dengan Sissy. Jadilah tiba-tiba gairahnya memuncak. Belum lagi otak liarnya berkelana saat mengingat bagaiman pergumulan panas mereka sore kemarin. Ponsel Kevin tidak berhenti berdering sejak tadi. Kevin tahu bahwa yang menghubunginya saat ini adalah Dicky. "Sy... minggir dulu dong lo." Panggil Kevin, yang langsung membuat Sissy duduk tegap menatap wajah Kevin dengan senyuman. Tumben sekali lelaki itu memanggilnya dengan suara lembut. Tidak seperti biasanya ketus, dingin dan semena-mena juga kasar. Sampai di mana kening gadis itu di sentil oleh Kevin yang membuat gadis itu mengaduh, kemudian mengelus dahinya. Dengan cebikan di bibir. "Sakit," "Minggir, lo." Dengus Kevin sedikit kesal. Lelaki itu lantas memegang pinggul Sissy, mendorong dengan pelan agar gadis itu sedikit menjauh. "Iya, iya..." Sissy bergerak, walau badan terasa remuk dan lelah. Dia membenahi pakaiannnya. "b*****t!! Ngapain kalian di sini?" Seruan seseorang dari arah pintu masuk atap gedung membuat Sissy dan Kevin menoleh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN