Persetan Dengan Rasa Malu

1078 Kata
"Kamu bilang apa tadi?"Ucap Giffany yang baru saja datang, dan langsung duduk di bangku yang berdekatan dengan Sissy. Sissy elus d**a karena terkejut, tanpa menjawab pertanyaan Giffany. Sissy kembali larut dalam keputusasaan. Dia tenggelamkan wajahnya pada kedua tangan yang saling bertumpu di atas meja. "Hei..." Panggilnya sembari menghampiri Sissy yang gelagatnya semakin membuat Giffany penasaran. "Kamu kenapa, sih? Aneh banget." Setelah perasaannya sedikit lebih tenang, Sissy angkat wajahnya. Helaan napas terdengar bersamaan dengan dengusan kasar yang keluar dari bibirnya. Sissy telisik wajah sahabatnya itu, seolah-olah meminta pertolongan. Namun, sulit untuk mengatakan dan berterus terang. "Aku ingin bunuh orang!" Ujar Sissy dengan gumaman pelan. "Hah... apa?" Sepanjang mata perkuliahan, Sissy tidak dapat berkonsentasi lagi. Otak dan pikirannya kini berperang penuh dengan rencana. Tapi... dia sendiri pun, tidak tahu, apa rencana yang akan dia lakukan. Ajakan Giffany ke sebuah Cafe karena merasa khawatir dengan dirinya, di tolak secara halus oleh Sissy. Dengan alasan, dia tidak bisa meninggalkan sang bunda seorang diri dirumah, dikarenakan Art yang bekerja sedang tidak masuk. Dan tentunya itu semua hanya sebuah kebohongan sebagai alasan Sissy untuk menghindar ajakan Giffany. Masuk ke dalam kamarnya, Sissy taruh tas juga barang yang dia bawa di atas meja. Dia butuh istrirahat untuk sekadar melepas penatnya beberapa hari ini selama menghadapi orang seperti Kevin. Ponsel yang berada di dalam kantong celananya bergetar seiring bunyi pesan masuk. Sissy merogohnya kemudian membaca. Seketika mata gadis itu terbuka lebar kala menerima pesan dari seseorang. Gue tunggu lo di hotel xxx 30 menit dari sekarang. Kalau lo abai pesan gue lagi. Lo bisa lihat di group chat kampus. Video itu akan gue kirim tanpa blur dan semua orang bisa lihat wajah lo. "Sialan! Dasar gila!!" Maki Sissy menatap jengkel pada ponsel yang tengah berada di dalam genggamannya seolah-olah telepon genggam itu adalah Kevin *** Kevin menyeringai saat mendapati pesan yang dia kirim telah terbaca oleh Sissy tanpa ada balasan. Dia sangat yakin dalam waktu 30 menit dari sekarang gadis itu akan datang untuk menemuinya. Jika Sissy tidak juga datang, maka Kevin benar-benar akan menyebarkan video tersebut. *** Bagaimana ini! Dia tatapi nomor yang tertera pada pintu kamar hotel dengan gugup. Menghela napas beberapa kali sebelum dia ulurkan tangan itu untuk menekan bel. "Akhirnya lo datang juga, buruan gue udah nggak tahan." "Lepas!" Tarikan tangan Kevin pada lengannya, Sissy hempaskan begitu saja dengan amarah yang membuncah. Sungguh dia sangat lelah berjalan dengan tergesa-gesa demi mengejar waktu. Rasanya dia ingin mencakar wajah menyebalkan lelaki yang kini tengah menyeringai puas melihat dirinya yang berantakan. Dia sudah berusaha secepat mungkin untuk datang menggunakan ojek online. Belum lagi saat sampai di lobby hotel dia harus meminta kunci kamar terlebih dahulu pada resepsionis. Sedangkan Kevin hanya memberikan waktu pada dirinya 30 menit. "Sok jual mahal." Cibir Kevin merasa senang melihat wajah berantakan Sissy dengan napas yang masih tersengal-sengal. "Aku ingin buat kesepakatan." Sissy tidak menanggapi ucapan Kevin yang mencibirnya. Persetan dengan rasa malu. Dirinya membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan sang bunda. Kini penyakit yang menggerogoti tubuh bundanya sudah di tahap akhir. Entah kapan penyakit itu akan sembuh. Saat ini dia hanya ingin uang yang banyak untuk kesembuhan sang bunda. "Aku akan menuruti semua keinginan kamu. Tapi aku ingin meminta bayaran,-" "Sudah gue duga. p*****r seperti lo, nggak akan jauh dari uang." Potong Kevin dengan cibiran. Sissy tidak menjawab dan memilih untuk diam, membuang pandangan ke sembarang arah, dia muak melihat wajah Kevin yang menyebalkan. Kevin mendekat mencengkram dagu Sissy hingga wajahnya kini bersitatap dengan mata yang saling mengunci. "Lo hanya perlu menjadikan gue sebagai tamu VIP. Dan lo harus siap kapan pun setiap kali gue menginginkan lo. Setelahnya gue akan memberikan uang yang lo inginkan." Kevin berbisik ditelinga Sissy sembari menjilatinya membuat mata gadis itu terpejam. "Posisi lo di kampus tetap aman. Menjadi wanita baik-baik di mata orang lain, dan menjadi p*****r panggilan buat gue, bagaimana?" Sissy masih tidak menjawab, gadis itu malah semakin keras mendesah saat tangan kekar itu menjalar seseluruh tubuh di sebalik kaos yang dikenakan oleh Sissy. "Lo itu nikmat?" Bisiknya memberikan kecupan-kecupan kecil di seputar leher jenjang milik gadis itu. Yang pasti, saat ini Kevin sudah tidak tahan ingin melahap habis Sissy hingga dia puas. Mereka saling berciuman, bibir mereka bertaut satu sama lain. Baik Kevin maupun Sissy, keduanya larut terbawa oleh suasana. Sissy menikmati itu semua, seolah tidak merasa bahwa dirinya dipaksa untuk tidur bersama dengan Kevin. Kevin angkat tubuh ramping Sissy kemudian dia rebahkan di atas ranjang dalam keadaan bibir mereka yang masih saling bertautan. Sedangkan Sissy mengalungkan tangannya di leher Kevin, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah memadu kasih mereguk kenikmatan saat bercinta dengan penuh hasrat. Persetan dengan rasa malu yang kini mendera Sissy. Dia sungguh sudah benar-benar menjadi seorang p*****r yang kapan saja siap untuk memuaskan lelaki yang sedang melucuti pakaiannya. Sissy semakin di buat gugup, saat di tatap oleh Kevin sedemikian rupa. Di mana kini, lelaki itu tengah memuja tubuh yang tanpa terhalang oleh apapun. Mata berkabut gairah. Kevin kerahkan senjatanya yang sudah siap berperang menyibak hutan belantara. Rasanya masih sama seperti saat pertama kali dia mengambil mahkota gadis itu Sissy merintih, tanganya mencengkram kuat sprei. Sesuatu yang keras di bawah sana melesak, napasnya tersendat. d**a terasa penuh menahan senjata yang mulai gencar menyerangnya. Dalam ruangan pencahayaan yang temaram, Kevin masih bisa melihat wajah cantik Sissy dengan ekspresi yang sangat sulit untuk dia cerna. Begitu menarik, masuk ke dalam jiwanya. Jantungnya kian berdebar, tatkala mata mereka saling beradu pandang dalam tubuh keduanya beradu peluh menjadi satu. Lenguh kenikmatan, erang kepuasan, saling bersahutan bersamaan dengan hentakan demi hentakan yang Kevin tanamkan di atas tubuh Sissy. Yang sudah sangat pasrah menerima kegagahannya. **** "Nggak usah liatin aku kayak gitu, nanti kamu lama-lama bisa jatuh cinta sama aku." Kevin berdecih, memalingkan wajahnya karena malu tertangkap oleh Sissy sedang memperhatikan gadis itu. "Mana mungkin! Seorang Kevin bisa jatuh cinta dengan p*****r seperti lo." Sissy mengedikkan bahu, tanda tak peduli dengan ucapan menyakitkan dari bibir Kevin. Kini dia ingin segera berlalu pergi meninggalkan lelaki b******k itu. Memunguti pakaian miliknya untuk dia kenakan di dalam kamar mandi. "Kita lihat saja nanti. Aku pastikan kamu akan memohon dan mengemis cinta dariku. Uh... rasanya aku sudah tidak sabar, ingin melihat wajah sombong dan angkuhmu,-" "Pergi sana... dasar p*****r!" Maki Kevin, melempar asal baju yang akan dia kenakan tepat mengenai wajah Sissy yang tengah meledeknya. Menghempaskan baju itu ke atas lantai. Sissy menatap horor wajah Kevin. "Tugasku adalah membuat pelanggan bertekuk lutut meminta kembali aku layani. Kita lihat saja nanti." "Terlalu percaya diri kalau lo bisa menaklukkan seorang Kevin."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN