Ketagihan.

1124 Kata
Sissy tersenyum saat memasuki ruangan VVIP, dan mendapati Gabriel tengah duduk dengan santai ditemani dengan minumannya. "Tuan..." Panggil Sissy sembari menutup pintu ruangan itu dengan rapat. Dia berlari kecil menghampiri Gabriel lalu duduk di atas pangkuan lelaki itu dengan manja dengan terus menampilkan senyuman. Tanpa malu, Sissy mengecup pipi Gabriel yang jauh lebih tua darinya. Sudah hampir satu tahun dia selalu menemani Gabriel saat lelaki itu sedang berada di Indonesia. Sissy juga sangat menghormati Gabriel, karena lelaki itu tidak pernah berlaku kurang ajar padanya. Gabriel berdecih saat Sissy memanggilnya dengan sebutan Tuan. "Sudah ku bilang, panggil aku Gabriel. Bagaimana kuliahmu?" tanyanya kemudian, sembari mengelus rambut ikal sebahu milik Sissy. Gabriel turut senang saat melihat wajah ceria gadis yang kini tengah berada di atas pangkuannya. Dia juga tidak pernah mempermasalahkan apa yang dilakukan Sissy saat ini. Entah perasaan apa yang kini Gabriel rasakan saat bersama Sissy. Sissy terkekeh melihat wajah cemberut Gabriel."Lancar! Kenapa lama sekali menemuiku?" Sissy menekuk wajahnya, sembari memukul pelan d**a lelaki yang tengah memangkunya. "Pekerjaanku banyak. Yang terpenting, sekarang aku sudah kembali." Jawab Gabriel masih terus mengelus rambut Sissy. "Apa tamu-tamu di sini ada yang mengganggumu, saat aku tidak ada?" Sissy menggelengkan kepala. "Tidak ada, mereka tidak berbuat kurang ajar kepadaku. Interaksi kami masih dalam batas wajar. Kamu tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri." Menundukkan kepala mengingat malam bersama Kevin. "Bagus. Lalu, kenapa murung? Apa kamu tidak senang aku datang? Atau kamu bertindak nakal selama aku tidak ada?" Kini tangan Gabriel menarik dagu Sissy, hingga bisa menatap penuh mata gadis polos yang ada di hadapannya itu dengan senyuman hangat. "Aku tidak melakukan hal yang aneh, aku hanya fokus pada perkualiahan." Tentu saja Sissy harus berbohong tentang apa yang telah terjadi terhadap dirinya dan juga Kevin. Tidak mungkin juga dia berbicara kepada Gabriel, bahwa selama lelaki itu tidak ada dia telah tidur bersama Kevin. Jika Gabriel tahu, tentu saja Gabriel akan marah kepadanya. Gabriel hanya mengangguk dengan senyuman tipis. "Sebentar lagi, kontrakmu akan segera berakhir. Dan aku tidak akan kembali ke sini lagi. Aku akan berfokus pada perusahaanku di sana." Gabriel mengambil satu batang rokok, dengan Sissy yang sigap menyalakan korek api kemudian didekatkan pada ujung rokok tersebut. "Aku sayang kamu, Sy... entah perasaan apa yang aku rasakan saat ini. Kamu itu mengingatkan aku pada adik perempuanku yang meninggal karena kecelakaan 23 tahun yang lalu." Menghembuskan kepulan asap rokok itu, Gabriel menoleh pada Sissy karena gadis itu sudah beralih duduk disebelahnya. "Berhentilah dari pekerjaan ini. Kamu bisa bekerja diperusahaanku,-" "Jangan! Kamu tidak boleh mempertaruhkan nama baikmu demi seorang p*****r sepertiku." Setelah penolakan itu, Gabriel hanya bisa diam tanpa mau memaksa Sissy. Lelaki itu tidak melanjutkan lagi obrolannya menepuk pucuk kepala Sissy beberapa kali sebelum akhirnya Gabriel pergi meninggalkan ruangan VVIP. Sissy menghempaskan tubuhnya disandaran bangku yang tengah dia duduki. Menatap langit-langit ruangan itu dengan lampu temaram. Dia ingin mengakhiri semua yang sudah dia lakukan saat ini. Tapi, ada banyak pertimbangan yang harus dia pikirkan. Dan dia tidak bisa egois dengan menerima pekerjaan di perusahaan Gabriel. Mengingat bagaimana Track Record pekerjaan dia selama hampir satu tahun ini. *** Langkah kaki Sissy terpaksa harus terpangkas oleh tarikan tangan seseorang, hingga membuatnya terkejut luar biasa. Wajah Sissy mendongak menatap netra yang menatapnya dengan seribu pertanyaan. "Lepas!" Sentak Sissy sedikit mendorong tubuh Kevin. Walau tubuh kekar itu sama sekali tidak bergerak karena dorongan Sissy kalah kuat dengan lelaki itu yang memiliki postur tubuh tinggi besar darinya. Kevin tersenyum. Wajah cantik ini yang sejak malam itu selalu saja menari-nari di dalam otak kecilnya dan meminta dirinya untuk terus dia nikmati setiap saat. Wajah cantik ini yang sejak tadi dia perhatikan dengan berjarak, yang selalu saja menebar senyum kepada orang lain saat berpapasan dengan gadis itu. Tapi tidak saat melihatnya yang langsung merubah raut wajah cantik itu menjadi bengis dengan tatapan kebencian. Kevin terkekeh bagaimana kini dia bisa nikmati dengan jarak yang begitu intim karena Kevin menghimpit tubuh kecil Sissy ke dinding tembok dengan kedua tangan di sisi wajah gadis itu. Kevin bisa menyentuh dan susuri wajah Sissy sesuka hati dengan seringai licik. Mengeluarkan ponselnya lalu mendekatkan layar yang kini tengah menyala menampilkan tubuh telanjang mereka berdua. Namun, wajah keduanya tidak nampak terlihat terlalu jelas. Mata Sissy membulat dengan sempurna juga dengan debaran jantungnya yang kini tengah naik turun karena menyaksikan apa yang ada di depan matanya saat itu. "Kenapa, terkejut? Gue pikir, lo udah tau. Makanya lo abai dengan perintah gue untuk datang tadi malam." Kevin jauhkan ponselnya saat Sissy hendak merebutnya. "Eit.... lo mau video ini tetap aman?" Tanyanya yang langsung di anggukin oleh Sissy. "Gampang,-" "Tidur dengan aku. Ayo! Di mana? Aku siap!" Potong Sissy pada intinya, karena dia tahu apa keinginan lelaki yang ada di hadapannya itu. "Tuh kan... udah nawarin diri saja. Sekali p*****r, lo akan tetap jadi p*****r di mata gue." Menepuk pipi Sissy beberapa kali dengan gerakan pelan, yang langsung di tepis oleh gadis itu. Sehingga membuat Kevin terkekeh. "Apa sih, masalah kamu denganku. Rasanya aku tidak pernah berbuat salah padamu? Lagi pula, sebelumnya, kita tidak pernah saling mengenal...." Ucapan Sissy dengan helaan napasnya pelan. "Kesalahan lo cuma satu. Lo itu buat gue tertarik,-" "Aku akan puasin kamu malam ini. Dan hapus video itu, jangan lagi pernah mengancamku." Potong Sissy ucapan Kevin dengan delikan mata tajamnya. "Di sini gue yang buat keputusan. Gue mau lo setiap saat, di mana pun dan kapan pun gue mau." Ujar Kevin menaik turunkan alisnya masih terus menampilkan wajah menyebalkan di mata gadis itu. "Bagaimana?" tanyanya dengan seringai licik. "b******n!" Dorongan kuat pada tangan Sissy di depan d**a Kevin membuat tubuh jangkung itu bergeser hingga Sissy bisa terlepas dari himpitan Kevin. Kevin terkekeh saat mendapati perlakuan kasar dari Sissy. Mengangkat tangannya dengan seringai liciknya. Dia dekatkan bibirnya pada telinga Sissy. "Gue tunggu lo malam ini di apartment gue. Sampai lo nggak datang, besok pagi lo akan tau siapa gue." Bisik Kevin lalu meninggalkan Sissy yang diam tak bergeming. "b******k!" Maki Sissy dengan kepalan tangan di kedua sisi tubuhnya menahan emosi. Semangat yang Sissy rasakan saat datang dan menginjakkan kakinya di kampus. Kini telah hilang, berganti dengan suasana hati yang buruk, setelah percakapan dia bersama Kevin beberapa saat yang lalu. Rasanya, Sissy ingin membunuh lelaki yang sudah lancang masuk ke dalam kehidupannya, memporak porandakan mimpi serta impiannya dengan segala macam ancaman. Duduk di kelas seorang diri, menatap video yang di kirimkan oleh Kevin beberapa saat lalu. Ternyata, ancaman lelaki itu tidak pernah main-main. Sissy memutar otak, mencari bagaimana caranya agar dia bisa terlepas dari segala macam ancaman lelaki itu. Menghela napasnya dengan kasar, saat rasa putus asa itu mendera di dalam otaknya, karena tidak tahu apa yang akan dia lakukan ke depannya. Dan dengan kata terpaksa, dia akan terus menuruti semua keinginan lelaki itu, untuk tidur kembali dengannya. "Dasar begundal sialan!" rutuknya tanpa sadar di dengar seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN