"s**t!!" Umpat Kevin saat telah selesai mencapai puncaknya. Apa kata orang, jika melihat apa yang tengah dia lakukan saat ini. Kevin baru saja selesai bersolo karir di dalam kamar mandi. "Sialan!" maki Kevin pada dirinya sendiri setelahnya.
Dia baru saja melihat video m***m yang sengaja dia rekam diam-diam saat bersama Sissy. Lelaki itu ingin memastikan hasil rekaman dia bagus dan jelas atau tidak. Memasang alat pendengar pada telinganya, Kevin mulai terpancing gairahnya sendiri saat dia melihat video itu. Napas lelaki itu memburu, kala mendengar desahan nan seksi milik Sissy. Gairah dia memuncak bersamaan batang tegak miliknya yang kini mulai mengeras dengan sempurna di bawah sana.
****
Sissy memperhatikan bagunan kampus yang ada di hadapannya. Universitas ini tidak perlu diragukan lagi untuk kualitas dan fasilitasnya. Lulusan yang dihasilkan juga tidak bisa diabaikan begitu saja, banyak instansi pemerintahan dan perusahaan swasta mengincar lulusan kampus tersebut. Dan dengan bangganya Sissy mengenalkan jika dia adalah salah satu mahasiswa terbaik di kampus yang luar biasa tersebut kepada sang bunda, saat pertama kali dia bisa masuk di tempat ini. Tentu saja dia bisa memasuki kampus ini dengan jalur beasiswa yang memang sudah dia dapatkan semenjak dia masuk SMP. Tanpa adanya beasiswa, Sissy tidak akan mungkin bisa menginjakkkan kakinya di kampus impian banyak orang. Kampus yang kebanyakan di isi oleh orang-orang berada.
Melangkah memasuki kawasan kampusnya, banyak pasang mata yang memuji dirinya. Tapi semua itu tidak membuat Sissy menjadi gadis yang sombong. Ada beberapa orang yang memang masih saja memandangnya dengan tatapan tidak suka, karena kasta yang berbeda untuk sebagian orang. Sissy di kenal sebagai gadis dengan paras yang cantik dan pintar.
Dengan mengenakan pakaian sederhana, juga tas ransel yang selalu dia cangklokkan pada bahu sebelah kanan. Mendekap beberapa buku tebal di depan d**a. Sissy melangkah memasuki kelas, dengan senyum seperti biasa. Jika di kampus, Sissy di kenal sebagai gadis pendiam dan kutu buku. Karena memang Sissy merasa tugas dia hanya ingin belajar dan segera menyelesaikan pendidikannya dengan hasil yang membanggakan. Yang akan dia persembahkan hanya untuk sang bunda.
Sudah hampir sepekan dia menjalani rutinitas seperti biasa. Kuliah di pagi atau siang hari, lalu berlanjut bekerja di rumah bordil pada malam hari. Bebarapa hari yang lalu Kevin sempat menghubunginya. Namun, Sissy abaikan. Karena Sissy merasa dirinya sudah tidak ada lagi urusan dengan lelaki itu.
"Sy! Pulang nanti anter gue dong, ke toko buku." Kata Giffany yang kini sudah mendaratkan bokongnya duduk di depan Sissy dengan wajah memelas.
Persahabatan mereka berawal saat pertama kali masuk di kampus itu. Giffany adalah anak seorang pengusaha tekstil berasal dari keluarga Broken Home.
"Nggak bisa, aku kerja, Gif."
"Kerja terus... sekali-sekali Refresh otak, Sy! Jangan cuma belajar, belajar, kerja..." Protes gadis berwajah bule itu dengan mencebikkan bibir, yang di respon kekehan oleh Sissy.
"Tapi aku memang harus bekerja,-"
"Heh! Minggir lo!" Sentak seorang lelaki yang tak lain adalah Kevin, ke arah Giffany dengan tatapan tajam.
Gadis itu mengerutkan keningnya, merasa heran dengan lelaki yang ada dihadapannya itu. Dia beraih menoleh pada Sissy seperti memberikan pertanyaan. "Kamu kenal?" merasa bingung dan aneh jika sahabatnya itu dekat dengan lelaki yang ada di hadapannya itu.
Sissy memberikan jawaban dengan mengedikkan bahu, seperti mengetahui tatapan kebingungan sahabatnya itu.
"Budek lo! Minggir sana... gue ada perlu sama temen lo!" Sentak Kevin lagi karena Giffany sama sekali tidak memberikan reaksi apapun padanya.
Tidak mau membuat keributan di dalam kelas. Giffany beringsut beranjak berdiri pergi meninggalkan Sissy dan Kevin dengan gerutuan dan kekesalan. "Mentang-mentang anak yang punya kampus, seenaknya saja mengusir orang. Dasar begundal!"
"Ikut gue!" Ucap Kevin mencekal pergelangan tangan Sissy dengan sedikit tarikan kecil.
"Apa'an sih... sebentar lagi aku ada kelas." Menarik kembali tangannya yang dicekal oleh Kevin, dengan tatapan menantang. Seolah-olah dia tidak takut pada Kevin. Karena Sissy merasa urusan dia dengan Kevin sudah selesai pada malam itu.
"Kenapa pesan gue nggak lo balas,-"
"Kerena aku udah nggak ada urusan lagi sama kamu!" Menatap Kevin dengan nyalang, Sissy memotong ucapan Kevin.
"Lo nantang gue?" Bisik Kevin mencondongkan kepalanya menelisik wajah Sissy. "Mau gue sebar apa yang gue punya saat ini." Kevin ingin tahu, apakah gadis itu takut dengan ancamannya atau tidak?
Mata Sissy terbuka lebar, menatap begis pada wajah tampan Kevin yang kini tengah tersenyum meledek dirinya. "Jadi kamu nggak hapus foto itu. b******k kamu!!"
"Kata siapa gue nggak hapus foto itu? Tapi kali ini ada yang lebih menarik lagi. Dan tentunya, lo akan menuruti semua keinginan gue. Termasuk saat ini." Seringai licik Kevin terbitkan kala menatap wajah Sissy yang kini terlihat semakin panik. "Gue mau lo malam ini layani gue!" Bisiknya lagi sembari memberikan kecupan kecil di daun telinga Sissy.
Mata Sissy semakin di buat melotot akan aksi Kevin yang seenaknya di dalam kelas. Menatap sekeliling ruangan hanya ada tiga teman kelasnya yang tampak tidak peduli akan keberadaan Kevin dan dirinya.
"Aku nggak mau!" Tegas Sissy menantang, "Apa lagi yang kamu punya? Apa kamu punya foto aku lagi dalam pose yang lain?" tanyanya dengan suara pelan. Sissy mengedikkan bahunya, lalu mengeluarkan buku kecil dari dalam tas dan lanjut menyibukkan dirinya dengan benda yang sudah ada di atas meja. Dia mengabaikan keberadaan Kevin juga ancaman lelaki itu.
"Jadi lo nggak takut, kalau sampai gue menyebarnya?"
"Terserah kamu, aku nggak akan peduli."
"Oh... oke, jadi lo nantang gue! Gue tunggu lo di apartment. Sampai lo nggak datang juga! Kita lihat saja nanti, apa yang akan gue lakukan! Biar seluruh mahasiswa di sini tahu siapa lo sebenarnya!" Bisiknya sembari beranjak berdiri meninggalkan Sissy.
Kevin menendang bangku yang ada didekatnya. Mengabaikan tatapan beberapa mahasiswa lain yang tengah memperhatikan dia karena terkejut akan aksi Kevin. Lelaki itu marah, merasa dirinya diabaikan oleh Sissy. Dia merasa harus berbuat sesuatu yang bisa membuat gadis itu takut dan menuruti keinginannya.
Sissy hanya bisa mengelus d**a, sesaat setelah dia berjingjit kaget atas aksi yang dilakukan oleh Kevin. Menghela napas beberapa kali, lalu menggelengkan kepala. Sissy mulai memfokuskan dirinya pada buku. Dia tidak mempedulikan ancaman Kevin.
Sudah berhari-hari Sissy tidak bertemu dengan Kevin. Dia berpikir bahwa ancaman itu hanya bualan semata, karena beberapa hari ini tidak terjadi apapun di kampusnya. Awalnya Sissy merasakan ketakutan. Namun semua dia tepisnya. Menjalani rutinitasnya seperti biasa, kini Sissy tengah duduk seorang diri, setelah tamunya pergi beberapa saat lalu karena mabuk berat.
Tuan Gebriel Is Calling...