Hilangnya Kesucian Sissy.

1267 Kata
Kini Sissy tidak dapat lagi menolak atas ancaman Kevin. Gadis itu mengikuti langkah kaki Kevin menuju mobil yang telah terparkir sebelumnya di Basement rumah bordil. Sissy juga sudah mengirimkan pesan pada Venny, jika malam ini dia libur, karena ada urusan mendesak. Selama dalam perjalanan, Sissy lebih banyak diam. Gadis itu enggan menanyakan tujuan atau berbasa basi pada lelaki di sebelahnya. Hingga mobil berhenti tepat diparkiran sebuah gedung Apartment di kawasan Elite. Ke luar dari dalam mobil. Kevin dan Sissy berjalan menuju lift. Lelaki itu menekan salah satu tombol lantai tertinggi gedung apartment tersebut. Kini mereka sudah berada di dalam unit Aparment milik Kevin. Dan saat ini, Sissy tengah berada di dalam kamar mandi. Sengaja Sissy mengulur waktu, memintanya untuk mandi terlebih dahulu sebelum berhubungan badan. Gadis itu menatap wajahnya pada pantulan kaca, kemudian memejamkan mata. Mengatur napas yang terasa menghimpit saliran pernapasannya. Sedari tadi degub jantungnya terus saja bertalu-talu. Sissy mengepalkan tangan di atas wastafel. "Sial banget aku malam ini. Kenapa bisa bertemu lelaki b******k itu?" Kesalnya lalu membuka mata, menatap pada pantulan wajahnya yang kini terlihat pucat. "Apa yang harus aku lakukan?" Dengan kata terpaksa, malam ini dia akan melayani seorang lelaki pecundang seperti Kevin. Gedoran pintu dari arah luar, membuyarkan semua lamunan Sissy. Bergegas dia kembali melanjutkan aktifitas dirinya di kamar mandi. Lalu keluar, setelah di rasa sudah selasai. Melihat pada lelaki yang kini tengah duduk di bibir ranjang dengan bertelanjang d**a menggunakan handuk yang di lilit hanya sebatas pinggang. Menampilkan tubuh Kevin yang sempurna membuat Sissy menelan selavina dengan susah payah. Degub jantungnya semakin berdebar dengan kencang. Sissy mengeratkan tali Bathrobe yang membalut tubuh telanjangnya. Sissy sama sekali tidak tahu harus bagaimana, dan jujur saja, ini semua membuat Sissy merasakan kecanggungan yang luar biasa. Karena Sissy tidak pernah berada di posisi seperti ini. Kevin beranjak berdiri saat melihat Sissy keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah pelan dan malu-malu. Lelaki itu berdecih menghampiri Sissy dengan mengejek. Jari telunjuk lelaki itu terulur, menyentuh ujung dagu Sissy, mengangkat setengahnya hingga wajah Sissy mendongak menatapnya. "Sekelas p*****r seperti lo, kenapa terlihat malu-malu? Bukankah ini keahlian lo setiap malam? Memuaskan para pelanggan berkantong tebal, yang rela memberikan banyak uang setelah mendapatkan kepuasan dari lo." Sissy meremat ujung Bathdrobe yang tengah dia kenakan, dengan tatapan benci. Apa serendah ini saat orang menilai dirinya, sebagai p*****r? Memejamkan mata saat Kevin menyatukan bibirnya, dengan Sissy yang tanpa mau membalasnya. Kevin melepas perpagutan itu saat mendapati Sissy yang hanya diam. "Balas ciuman gue! Tugas lo sangat mudah. Malam ini, puasin gue." Menepuk pipi halus Sissy dengan pelan, setelahnya dia mengelus bibir Sissy yang terlihat seksi. Decakan dengan wajah kesal Kevin terlihat di sana tanpa Sissy pedulikan. Dia juga sama sekali tidak berniat menjawab ucapan Kevin. Menatap benci wajah tampan Kevin, yang dengan tega mengancam dia demi memanfaatkan kesenangannya semata. Membuat Sissy terpaksa menuruti semua ancaman demi menjaga nama baik dia di kampusnya. Dengan sangat terpaksa Sissy membalas lumatan lelaki itu. Kevin memperdalam ciumannya yang kini terasa semakin menuntut, saling membelit lidah mereka masing-masing. Sebuah seringai Kevin terbitkan dari sudut bibirnya, saat melepas ciuman dan mendengar lenguhan dari bibir gadis yang baru saja dia lumat itu. Merasa puas saat menyaksikan bagaimana wajah Sissy menikmati permainannya. Mata Sissy melebar. Kala tangan Kevin membawa tangannya untuk menyentuh sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana. "Kenapa? Sepertinya, lo sangat menikmati itu." Bisiknya di telinga Sissy dengan suara yang menggelitik leher jenjang milik gadis itu. Sissy masih saja diam membiarkan apa yang kini tengah di lakukan oleh Kevin. Walau terlihat gugup tapi sebisa mungkin Sissy tutupi itu semua. Dia sudah pasrah atas apa yang akan terjadi selanjutnya. Kevin menggiring tubuh Sissy lalu mendorongnya hingga gadis itu jatuh terjerembab tepat di atas kasur empuk milik lelaki itu. Kevin menyeringai puas saat mendapati tubuh Sissy yang sudah siap dia nikmati. Kevin merangkak naik ke atas tubuh Sissy, dengan perlahan tangannya terulur melepas tali barhdrobe yang dikenakan Sissy tanpa basa basi. Lalu membukanya dengan lebar hingga menampilkan tubuh telanjang gadis yang ada di bawah kungkungannya itu terpampang jelas di sana. Kevin menelan ludahnya saat menatap begitu indahnya tubuh Sissy. Buah d**a dengan ukuran yang pas dan begitu menggoda untuk segera dia lahap. "Cepat lakukan, bukankah ini yang kamu inginkan." Ucapnya sembari memalingkan wajah, Sissy malu kala menatap lelaki yang ada di atasnya tengah mengamati lekuk tubuhnya. "Sepertinya, lo sudah tidak sabar!" Kevin terkekeh menatap wajah cantik Sissy. Sissy membuang muka, dia ingin segera berlalu dan pergi dari hadapan lelaki itu. Dia bersumpah tidak akan mau berurusan lagi dengan lelaki yang bernama Kevin. Kevin melumat kasar bibir Sissy. Setelah puas dia melepas ciuman itu. Tanpa menunggu lama, dia memposisikan dirinya diantara kaki Sissy bersiap penyatuan. Kevin mengernyit ketika sulit menyatukan tubuhnya dengan Sissy. Sementara gadis itu kini tengah meringis, sembari meremat sprei dengan kuat. Sissy bahkan tidak tahu jika rasanya akan seperti ini. "Ah...." Desisnya tidak tertahankan lagi. Kevin ulangi lagi posisi itu dan menembusnya dalam sekali hentakan, membuat Sissy berteriak tertahan. Hingga kini penyatuan itu berhasil sempurna. Rintihan Sissy membuat Kevin menatap Sissy dengan masih tidak percaya. "s**t! Dia masih Virgin! Bagaimana mungkin?" Kevin mendiamkan tubuhnya sejenak. Menatap pada manik mata milik gadis yang ada dibawah kungkungan itu. Kevin kecup cairan bening itu, kemudian melumat bibir Sissy dengan lembut, agar gadis itu sedikit bisa melupakan kesakitannya. Bibirnya menyapu lembut bibir Sissy, memainkan bibir manis Sissy perlahan dengan irama. Masih tetap dengan penyatuannya, ciuman itu turun ke leher membuat Sissy melenguh nikmat. Kevin menjeda ciumannya dan menatap Sissy lekat. Di bawah lampu remang kamarnya Kevin dapat melihat pantulan wajah Sissy yang sempurna karena kencantikan gadis itu yang natural. Sudah banyak p*****r yang Kevin tiduri, tapi rasanya sangat berbeda kali ini dengan Sissy. Atau kah, memang dia yang mendapatkan kesucian gadis itu? Dia merasakan malam ini sangat bersemangat. Satu hal yang pasti, bahwa dia akan melakukan seperti ini dengan Sissy di lain hari. Dia tidak akan melepaskan Sissy begitu saja. Desahan-desahan dalam kamar itu terus saja menggema dari bibir mereka masing-masing. Deru napas mereka saling bersahutan bersamaan hentakan-hentakan kuat yang Kevin berikan diantara tubuh mereka. Sissy kembali meremat kuat seprei saat merasakan jika dirinya hampir sampai mendekati puncak kenikmatan itu. Dan saat itu pula, Kevin mempercepat rinme hentakannya. Lenguhan panjang yang mereka dengungkan secara bersamaan. Melepas pelepasan mereka berdua. Saling memandang sejenak dan berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal. "Kamu sudah puaskan? Sekarang hapus foto itu. Selanjutnya kita tidak saling mengenal." Mendorong Kevin dari atas tubuhnya. Kevin berdecak sebal, lalu menarik dirinya dari tubuh Sissy untuk beranjak berdiri. Mengambil ponsel, lalu memperlihatkan itu ke depan wajah Sissy bahwa dirinya telah menghapus foto itu. Sissy meringis, merasakan nyeri pada pangkal paha, saat dia beranjak berdiri. Memakai kembali Bathrobe, kemudian melangkah dengan pelan menuju kamar mandi. Kevin berbaring kembali di atas ranjang dengan pejaman mata. Mengulas senyum saat membayangkan kembali bagaimana dia merasakan malam ini sangat puas meraup kenikmatan bersama Sissy. Dan tidak lama kemudian Sissy keluar dari dalam kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Kevin berdecak sebal kala melihat Sissy sudah rapih. Dia pikir jika kebersamaannya akan berlanjut sampai pagi. Kevin terus saja memperhatikan saat Sissy membereskan beberapa barangnya. "Aku harap, kita tidak punya urusan lagi. Seperti sebelumnya, kita tidak saling mengenal. Aku sudah menuruti keinginan kamu untuk tidur bersamamu. Jadi, tepai janjimu." Selama hampir satu tahun bekerja di rumah bordil, Sissy nyatanya masih bisa menjaga diri. Kehormatan yang selama ini dia jaga mati-matian, walau resiko pekerjaanya sangat berbahaya. Tapi malam ini, berakhir dengan sia-sia. Sissy harus merelakan itu semua, demi menyelamatkan masa depan yang sejak lama dia sudah rancang sedemikian rupa. "Hemm..." Sissy pergi dari kamar Kevin. Sementara lelaki itu hanya tersenyum penuh arti. Bagaimana mungkin dia akan melepas Sissy dengan begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN