"Suntuk betul muka lo!" Sentak seorang lelaki dengan wajah timur tengah, namun memiliki kulit yang putih. "Baru putus? Ya cari lagi... wajah tampan, sekali kedip dapat sepuluh wanita..." Lelaki yang kerap di sapa Dicky itu tergelak duduk di sisi sahabatnya itu. "Tinggal tunjuk, tuh... banyak gadis-gadis dengan suka rela menanggalkan pakaiannya demi kepuasan dan uang." Menunjuk beberapa wanita yang berlalu lalang dihadapannya dengan pakaian minim dan kurang bahan.
Kevin tak menggubris ucapan sahabatnya itu. Hari ini dia dipusingkan dengan rengekan kedua orang tuanya untuk segera memegang salah satu perusahaan. Sedangkan dirinya masih ingin bebas, menikmati hidup, tanpa terbebani dengan segudang pekerjaan. Menenguk satu gelas minuman berwarna hitam pekat, kembali menaruh gelas tersebut setelah kosong ke atas meja. Kevin beranjak berdiri, meninggalkan sahabatnya berlalu menuju toilet.
Tanpa sengaja, Kevin melihat siluet wajah gadis yang dia kenali. Namun dia abaikan, karena keinginan buang air kecil lebih mendominasi dirinya dari pada memperhatikan gadis yang dia lihat tadi. Masuk ke dalam toilet menuntaskan semua. Setelah selesai, dia keluar dari sana, lalu kembali ke tempat semula bersama sahabatnya itu.
Berdecak sebal kala dia mengecek ponselnya. Aada beberapa panggilan dan pesan masuk dari sang kekasih. Kevin masukkan kembali benda pipih itu ke dalam kantong celananya. Netra hitam itu tanpa sengaja kembali melihat pada seorang gadis yang baru saja lewat di hadapannya itu menuju lorong sepi. Beranjak berdiri, Kevin ingin mengikuti ke mana langkah kaki gadis itu pergi. Tapi urung dia lakukan kala tangan Kevin di cekal oleh sahabatnya itu.
"Mau ke mana lo?"
Kevin berdecak sebal, saat sudah kehilangan gadis yang akan dia ikuti. Lelaki itu duduk kembali di sofa, menuangkan minuman ke dalam gelas lalu meneguknya. Kevin terus saja menerka-nerka apa yang tengah di lakukan oleh gadis itu di rumah bordil ini.
Gadis yang selalu mendapatkan segala pujian dan juga idaman para lelaki di kampusnya itu, apa tengah menjual diri? Kevin menggelengkan kepala, sembari terus saja berpikir. Ini bukan Club malam tempat orang bersenang-senang melepas penat. Tapi ini adalah rumah bordil tempat orang mencari kepuasan dan kenikmatan.
Kini Kevin bisa menangkap beberapa para gadis di ujung sana tengah berbicara dan tertawa dengan pakaian minim. Kevin sangat yakin bahwa dia tidak salah melihat. Kevin tentu saja tahu siapa Gadis dengan rambut hitam ikal sebahu itu. Dan gadis itu belum menyadari, jika sedari tadi Kevin terus saja menatap dan memperhatikannya. Gadis dengan pakaian minim dengan kulit putih bersih, hidung mancung, terlihat lebih menonjol diantara teman-temannya yang sedang berkumpul.
Rasa penasaran terus saja menyeruak di dalam otaknya, hingga dia bertanya kepada sahabatnya yang memang sudah menjadi pelanggan tetap di tempat itu.
"Dicky, lo kenal dengan gadis di ujung sana?"
"Yang mana?" tanyanya, karena memang di ujung sana ada empat gadis tengah tertawa berkumpul.
"Yang pakai baju putih!"
"Ah... itu, dia primadona di sini. p*****r juga, tapi agak susah buat di sewa. Katanya sih, dia pemilih."
"Lo yakin?"
"Hemm... gue tinggal!" Dicky pamit menepuk bahu Kevin saat gadis yang telah disewanya sudah datang, lalu meninggalkan Kevin seorang diri.
Kevin berdecak sebal saat melihat Dicky malah merangkul gadisnya dan berlalu pergi begitu saja. Belum selesai Kevin mengorek informasi yang ingin dia dapatkan dari Dicky. Menenggak satu gelas minuman yang telah dia tuang tadi. Kevin lalu beranjak berdiri meninggalkan meja tersebut. Dengan langkah tegap dia menghampiri Sissy.
"Hai..." Sapa Kevin pada empat gadis yang kini telah ada dihadapannya itu. "Boleh kenalan?"
"Boleh dong!"
Sahut salah satu gadis yang langsung saja mendekati Kevin, dengan senyuman menggoda sebagai ciri khas saat menyapa pelanggan.
Sedangkan Sissy, terkejut dengan mata melebar. Dia tentu saja mengenal siapa sosok lelaki yang kini tengah menatapnya. Siapa yang tidak mengenal Kevin Aprilio. Lelaki dengan perawakan tinggi, wajah yang sangat tampan blasteran Eropa, hidung lancip, juga mata kecoklatan. Anak dari pemilik kampus tempat dia menuntut ilmu. Hampir semua para mahasiswi di kampusnya berebut untuk bisa berkencan dengan lelaki itu.
Sissy berusaha untuk membuat ekspresi wajahnya terlihat biasa saja. Dia tidak ingin menampilkan wajah takut, yang akan membuat Kevin melakukan apa saja di kampusnya nanti. Dia sangat takut jika dirinya di bully.
Kevin menampilkan senyum licik, sembari terus menatap Sissy tanpa berkedip. "Hai..." Sapaan itu diperuntukkan pada Sissy, dan gadis itu pun menyadarinya. "Bisa kita berbicara sebentar."
"Udah, Si.. embat aja, ganteng banget. Ugh... pasti lo ketagihan, tebel tuh dompetnya." Bisik salah satu teman Sissy, yang langsung mendapat pelototan tajam dari Sissy, yang di balas dengan kekehan oleh temannya itu.
Dengan tidak sabaran, Kevin langsung menarik pelan pergelangan tangan Sissy untuk mengikutinya menjauh dari teman-teman Sissy..
"Jangan sok jual malah lo. Gue nggak nyangka, bisa ketemu sama lo di sini. Di kampus terkenal sebagai mahasiswi teladan. Nyatanya di sini, lo melacur." Ucap Kevin saat mereka sudah menjauh dari teman-teman Sissy.
Kini hanya ada mereka berdua, berdiri di lorong yang sepi. Kevin tersenyum lebar, yang membuat Sissy menatapnya dengan tatapan waspada. Seolah-olah lelaki yang ada dihadapan dia itu akan berbuat jahat kepadanya.
"Bukan urusan kamu."
Seringai licik Kevin tampilkan sembari mendorong kuat Sissy hingga tubuh gadis itu terbentur dinding yang ada dibelakang Sissy.
"Gue mau lo malam ini, berapa tarif lo semalam?" Kevin menepuk salah satu pipi Sissy dengan gerakan halus dan di akhiri elusan di sana.
Mendadak Sissy jadi gelagapan, dirinya terlihat gugup berhadapan dengan lelaki itu. Tapi sebisa mungkin dia dapat menguasainya dan berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?" Sissy menepis tangan Kevin.
"Jangan banyak drama. Gue bisa saja menyebarkan informasi yang membuat reputasi lo sebagai mahasiswi teladan menjadi hancur. Foto ini akan gue taruh di mading kampus. Semua orang bisa melihatnya."
Kevin mengeluarkan ponselnya, yang menampilkan gambar Sissy dengan latar belakang yang membuat siapa saja berpikiran negatif tentangnya dengan pakaian minim.
"Bagaimana?" tanyanya dengan seringai licik, mengangkat salah satu alisnya ke arah Sissy yang kini sudah terlihat pucat pasi.
"Sebenarnya, apa maumu? Aku tidak pernah berurusan atau berbuat salah sama kamu. Aku akan mengabulkan apa saja keinginanmu. Tapi kamu harus hapus foto itu!"
"Gampang, bisa di atur itu. Asal lo bisa puasin gue malam ini. Foto itu, akan gue hapus."
Tangan Sissy yang berada di sisi tubuhnya terkepal kuat. Sesuai dengan pemikirannya, jika pembicaraan Kevin akan mengarah ke arah itu. Sissy hanya bisa mengiyakan apa yang diinginkan oleh Kevin. Dengan kata terpaksa, dia akan menuruti apa yang menjadi keinginan lelaki b******k seperti Kevin.