Mimpi buruk.

1031 Kata
Langkah kaki kecil tanpa alas berlarian ke segala arah menembus ilalang di tengah hutan. Rasa takut kian dia rasakan saat suara tembakan beberapa kali terdengar menggema di tempat sepi itu. Dia hanya mampu berlari sejauh mungkin untuk menghindari kejaran orang-orang yang akan membunuhnya. Pijakan terakhirnya membuat tubuh kecil itu terjerembab masuk ke dalam jurang, bersamaan suara tembakan mengenai tubuh kecilnya. Bunda.... Teriakan gadis itu mampu menyadarkan dia dari mimpi buruknya dengan napas terengah. Bulir keringat membanjiri seluruh wajah dan juga leher. Menutup wajah menggunakan ke dua tangan, dirinya lalu menangis. Kenapa mimpi itu datang lagi setelah hampir satu minggu hilang. Mengelus bahu, yang entah itu bekas luka apa? Dia sendiri tidak dapat mengingatnya. Gadis itu terdiam beberapa saat, mencoba mengingat kejadian di masa lalu. Tapi semua itu seakan sia-siam bersamaan dengan terdengarnya suara pintu yang di buka dari arah luar kamar, membuyarkan lamunannya. Seorang perempuan paruh baya menyembul masuk lalu menghampiri dia. "Kenapa? Mimpi lagi?" Tanyanya, sembari mengelus rambut halus Sissy lalu duduk di tepian kasur. Yang di respon dengan anggukan samar bersamaan sisa-sisa air mata di pipi Sissy. "Rasanya sangat nyata, Bun." "Sudah jangan dipikirkan, itu hanya bunga tidur." "Kenapa mimpi itu selalu datang setiap hari, Bun?" "Suatu saat nanti, kamu pasti akan mengingatnya. Kalau bisa, kamu tidak perlu mengingatnya!" "Kenapa begitu?" "Sudah, jangan dipertanyakan lagi. Nanti kamu terlambat datang ke kantor." Ingatkan sang bunda kepada sissy, lalu beranjak berdiri meninggalkan Sissy, yang masih saja diam tak bergeming menatap kepergian bundanya. **** Selimut tebal, kasur empuk, fasilitas mewah. Kini bisa Sissy dan sang bunda rasakan. Hidup gadis itu sudah lebih baik dari sebelumnya. Mereka sekarang tidak lagi tinggal di rumah petakan dan lingkungan yang kumuh. Sissy sudah bisa menyewa satu unit Apartment lengkap dengan seisinya. Sissy juga mempekerjakan salah satu asisten rumah tangga untuk menemani sang bunda saat dirinya bekerja dan kuliah. Gemerlapnya ibukota sama sekali tidak membuat Sissy berubah di mata sang bunda. Sissy tetaplah gadis kecil periang, penurut dan pintar. Sissy berkilah, kalau saat ini dia bekerja di salah satu perusahaan besar di bilangan ibukota Jakarta. Sampai kapan Sissy akan terus berbohong pada sang bunda? Mungkin dia akan menjawab, "Sampai kuliahnya lulus dan bisa bekerja diperusahaan besar dengan gaji yang besar." Sesekali Sissy akan menerima kontrak dari seorang lelaki kaya raya yang berasal dari Negara Italia. Namanya Gabriel Fillareal pengusaha kaya raya di negara asalnya. Dia akan datang ke Indonesia saat mengunjungi beberapa bisnisnya. Madam G sudah sangat mengenal Gabriel. Oleh karena itu, dia memperkenalkan Sissy pada Gabriel. Madam G tahu, jika Gabriel selalu memperlakukan anak didiknya dengan baik. Sissy hanya di minta menemaninya untuk minum, bersenang-senang, tanpa melayani Gabriel di atas ranjang. Gabriel juga selalu memberikan tips yang sangat besar di luar tarif Sissy selama terkontrak. Untuk itu, Sissy dengan senang hati akan selalu menemani Gabriel. "Sissy..." Panggil Venny saat melihat temannya itu baru saja datang. "Ngapain lo di sini?" tanyanya sembari menatap Sissy dengan tatapan bingung. "Jualan cabe!" Celetuk Sissy mencebikkan bibir, sembari mendaratkan bokongnya di atas sofa bersebelahan dengan Venny. Venny tergelak dengan pertanyaan bodohnya. "Kemarin lo bilang mau libur!" Menghisap batang nikotin yang tengah dia apit diantara jari tengah dengan telunjuknya. Melihat wajah Sissy yang ditekuk. Venny paham mengapa temannya itu terlihat kesal malam ini. "Pasti, Tuan Gabriel yang meminta lo datang untuk menemaninya. Iya kan?" Tanya Venny seraya mengelus bahu Sissy, yang diangguki kepalanya oleh gadis itu. Dia tahu keberadaan Sissy hampir selama satu tahun di tempat yang sama sepertinya karena sebuah keterpaksaan. "Lagi ada di sini selama sepekan. Yang artinya, aku harus Standbay di Apartment dia." Menenguk jus berwarna putih hingga menyisakan setengahnya, lalu menatap seorang lelaki yang baru saja datang melangkah mendekatinya. "Lo harusnya bersyukur, bisa terikat kontrak dengan dia tanpa harus tidur dengannya." Ucap Venny, seraya menekan puntung rokok pada kotak kecil berbentuk kristal yang ada di atas meja. Kemudian dia beranjak berdiri meninggalkan Sissy. Venny tersenyum saat berpapasan dengan lelaki yang datang menghampiri sahabatnya itu. Bukan itu yang menjadi masalah Sissy. Gadis itu hanya bingung, bagaimana dia akan menjelaskan pada sang bunda. *** Saat pertama kali Sissy masuk ke dalam lingkaran gemerlapnya dunia Malam. Sissy langsung diperkenalkan dengan pelanggan baru, seorang lelaki blasteran Prancis bernama Gabriel Fillareal. Lelaki dengan perawakan tinggi tegap, rambut klimis, pipi mulus, hidung mancung. Lelaki yang tampan teramat sempurna, walau usianya sudah terlihat matang. Tiga botol minuman beralkohol yang harganya selangit, Sissy tuangkan ke dalam empat gelas yang sudah berjejer untuk tamu-tamunya malam ini. "Silahkan, Tuan!" Selentur mungkin Sissy melayani ke empat tamu itu. Tetap saja membuat degub jantung Sissy bertalu-talu dengan gugup nya. Ini kali pertama dia memakai pakaian minim di depan para lelaki yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan lapar. "Kamu baru di sini?" Seperti sudah di ajarkan temannya yang senior, Sissy tersenyum semanis mungkin. "Sudah tiga bulan, Tuan." "Pantas, aku baru lihat kamu." Sejak malam itu Sissy sudah terbiasa dengan aktifitasnya saat menemani para tamu juga lelaki yang kerap kali di sapa dengan panggilan Tuan Gabriel. Colekan di dagu, pipi dan juga paha, sebisa mungkin Sissy hindari. Walaupun kadang kala itu akan menjadi pancingan Sissy yang harus dia korbankan untuk mendapatkan uang tips yang cukup besar. Madam G tidak pernah mempermasalahkan saat tamunya tidak merasa puas dengan Sissy, karena gadis itu akan menolak mentah-mentah untuk berhubungan yang lebih intim. Madam G juga tidak pernah memaksa apa yang menjadi prinsip Sissy yang tidak akan memberikan service lain. Sudah kali ke empat Sissy menemani Gabriel untuk minum. Kali ini Gabriel datang sendiri dengan sudah setengah mabuk. Tangan Sissy di tarik hingga tubuhnya duduk di pangkuan Gabriel. "Aku tertarik padamu. Aku mau kamu menemani aku, saat aku merasakan kesepian." "Maaf, Tuan. Saya tidak bisa dan Tuan bisa mencari yang lain." Tolak Sissy dengan halus. "Saya maunya kamu!" tegasnya dengan mata merah karena pengaruh alkohol. Gabriel adalah pengusaha sukses yang memiliki banyak anak buah di seluruh penjuru Kota. Bukan perkara sulit mencari jati diri seorang Sissy. Gadis yang berasal dari pinggiran Ibukota datang merantau ke Jakarta, demi pendidikan untuk mengejar cita-citanya. Lalu berakhir terpaksa menerima pekerjaan di rumah bordil, menemani para hidung belang dari kalangan lelaki kaya raya, untuk mendapatkan uang banyak demi pengobatan orang tuanya. "Aku akan mengontrak kamu saat aku berada di Indonesia. Aku akan menjamin hidupmu akan jauh lebih baik dari sekarang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN