10

2370 Kata
  “Kanker nasofaring yang diidap oleh Biru, sudah memasuki stadium dua. Hal itu disebabkan karena jaringan sel kanker dalam dirimu sudah menyebar ke satu kelenjar getah bening yang ada di balik faring-mu. Yang artinya kamu, saya, dan rekan-rekan saya yang selama ini ikut membantu dalam menangani Radioterapi dan Kemoterapi-mu, kita semua harus berusaha lebih keras lagi,” terang seorang pria berjas putih, dengan tag nama Fajar Samudera, SpPD, KHOM., mencoba menjelaskan pada Biru dan Aliya.   Dengan nada bicara yang datar dan terdengar tanpa emosi, Biru bertanya, “Jadi maksud Dokter, udah nggak ada harapan lagi bagi saya untuk hidup lebih lama?”   “Biru, kamu bicara apa, sih!” sentak Aliya, menyela. Aliya memang paling tidak suka kalau Biru sudah berkata yang aneh-aneh pasal penyakitnya. Namun sayang Biru tetap mengabaikan sang Bunda. Fokus Biru saat ini hanya tertuju pada Dokter Fajar. Tatapan Biru seakan menuntut Dokter Fajar untuk menjelaskan padanya lebih detil, tanpa ada satu informasi pun yang ditutup-tutupi atau disembunyikan darinya. Terhitung sudah dua tahun semenjak Biru divonis mengidap kanker nasofaring. Kanker nasofaring merupakan jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Penyakit kanker nasofaring sejauh ini hanya dijumpai di beberapa negara, dan salah satunya adalah Indonesia. Selain itu, kanker nasofaring juga merupakan jenis kanker yang dapat diturunkan secara genetik. Seperti Biru yang mengidap penyakit tersebut karena faktor keturunan dari ayahnya. “Tidak, Biru. Maksud saya bukan seperti itu,” ralat Dokter Fajar, cepat-cepat. “Harapan hidup akan selalu ada untuk kamu. Bahkan untuk yang sudah stadium empat pun tetap masih memiliki harapan untuk hidup.” Sejenak Aliya menatap sendu putranya dari samping. Hingga sesaat kemudian ia berupaya untuk tersenyum. “Tuh, Biru, kamu dengar sendiri, kan, apa kata Dokter Fajar? Bunda juga yakin kamu pasti akan sembuh.”  “Tapi percuma aja, Bun. Ujung-ujungnya penyakit ini juga akan tetap membuat Biru mati, sama halnya seperti Ayah dulu. Tugas Biru sekarang tinggal menunggu kematian.” “Harus berapa kali Bunda bilang ke Biru? Kalau umur bukan ditentukan oleh penyakit. Umur cuma ada di tangan Tuhan. Nggak ada satu pun manusia yang mampu menerka-nerka.” Biru menunduk, tidak menjawab. Tak lama air matanya terjatuh sampai ke lantai, bersamaan dengan kedua matanya yang berkedip. Bukannya Biru tidak percaya akan apa yang dikatakan bundanya, Biru hanya tidak ingin menaruh harapan pada hal yang sifatnya sia-sia. Kini Biru tidak bisa mengelakkan keadaannya lagi. Terlebih di saat rasa sakitnya semakin nyata ia rasakan. *** “Kenapa Yuni harus meninggal, sih? Kan kasihan Putra jadi ngurus Yura sendirian. Kasihan juga Rosi, soalnya Aris jadi depresi gitu ditinggal Yuni. Kenapa sinetronnya jadi sedih begini, sih. Ah, Tante sebel nontonnya, Kejora!” Sepanjang sinetron Orang Ketiga berlangsung, sepanjang itu pula telinga Kejora terus mendengung mendengar ocehan Naina tidak berhenti-berhenti, saking terbawa dengan suasana alur sinetron tersebut. “Iya, Tan, nyebelin juga, ya lama-lama,” Kejora, yang memang pada dasarnya hanya ikut-ikutan menonton saja, berusaha untuk menanggapi sedikit-sedikit. Karena jujur, ini pertama kalinya Kejora menonton sinetron. Kalau di rumah malah Kejora nyaris jarang sekali menonton televisi. Saking jarangnya dapat dihitung jari, mungkin. Kejora yang lebih sering sendirian di rumah, lantaran tantenya sibuk bekerja, lebih suka mendengarkan instrumental musik piano yang tersimpan di ponselnya, alih-alih menonton televisi tanpa ada yang menemani. “Nah, kan, kita sama, Kejora!” timpal Naina lagi, merasa sependapat. “Tante juga sebenarnya begitu. Tapi mau gimana lagi, Tante udah terlanjur nonton dari episode satu. Jadi khusus sinetron ini, kalau kelewat satu episode aja, tuh, Tante langsung penasaran.” “Nonton sinetron aja kebawa emosi. Norak!” sembari lewat menuju dapur, tiba-tiba Bintang menyela ketus. Walau kenyataannya dia tidak sedang diajak bicara sama sekali. Membuat Kejora dan Naina kompal menoleh sinis ke arahnya. “Apa, sih, kamu, Bintang. Tau-tau nyeletuk aja kayak burung beo,” sewot  Naina. “Udah, Tante. Dia mah laki-laki. Mana ngerti tentang perasaan perempuan.” Ini bukan kode. Sumpah demi apapun Kejora bicara seperti itu karena memang sebuah fakta tentang laki-laki yang lebih menggunakan pikirannya ketimbang perasaannya. Tidak mengerti sama sekali soal emosi perempuan. Sekian menit berselang, Bintang kembali lagi dengan segelas air tergenggam di tangannya, dan sebuah ponsel di tangan satunya yang lain. Bintang memang biasa membawa ponsel ke mana-mana, bahkan ke toilet sekalipun. “Sok tahu lo,” sela Bintang lagi, namun kali ini ditujukan pada Kejora. “Bukan masalah laki-laki atau perempuan, dasar aja emang lo yang alay. Terlalu berlebihan. Temen gue banyak yang perempuan, tapi nggak ada, tuh, yang kayak lo. Alay, norak!” “Bintang, kamu mencibir Kejora seperti itu, berarti kamu juga mencibir Mama, lho? Mau jadi anak durhaka?” tanya Naina seakan-akan mengancam. Sayangnya Bintang yang sudah kebal dengan segala bentuk ancaman mamanya malah nampak menahan tawa. “Bintang nggak ada sebut-sebut Mama, masa langsung jadi anak durhaka? Emangnya―” Drt drt drt Berterima kasihlah pada getaran ponsel Bintang yang berhasil membuat perhatian Bintang teralihkan dan akhirnya berhenti marah-marah. Bintang segera mengangkatnya. “Halo?” Tetapi tak lama raut wajah Bintang berubah serius, saat hal yang pertama kali ia dengar adalah isak tangis seseorang. “Kamu nangis, ya?” Tidak ada sahutan. Seseorang di seberang sana hanya terus menangis tanpa mau mengucap satu kata pun untuk Bintang. Sehingga tanpa pikir panjang, Bintang menaruh gelas di tangannya. Lalu cepat-cepat bergegas. Menyadari hal tersebut, tentunya memancing Naina untuk bertanya, “Bintang, kamu mau ke mana? Ini udah malam!” “Ke rumah Rasi, sebentar,” jawab Bintang setengah berteriak, lantaran posisinya yang sudah di ambang pintu. Dengan gelengan pelan, Naina berdecak melihat kelakuan putra satu-satunya itu. “Tuh, anak, kalau udah soal Rasi pasti, deh, geraknya langsung cepet.” “Rasi?” tanya Kejora, yang diam-diam mengamati tiap gerak-gerik Bintang, seraya melihat ke arah Naina. *** “Dari dulu kamu tidak pernah berubah, Ranti! Selalu saja merasa paling benar! Apa karena penghasilanmu lebih besar, jadi kamu merasa tinggi dan sombong?!” Januar, pria gagah yang masih mengenakan setelan jas itu, menyentak seorang wanita yang merupakan istrinya sendiri. “Aku berlaku seperti itu bukan karena merasa paling benar ataupun karena penghasilanku!” Ranti menyanggah. “Ini tidak ada hubungannya dengan itu semua. Tapi memang karena kamunya saja yang tidak pernah mau mengakui kesalahanmu, kalau kamu memang pernah ada main dengan rekanmu yang bernama Hani itu! Iya, kan?!” “Cukup!” Bola mata Januar menatap nanar, penuh amarah. Jarinya terangkat, menunjuk lurus ke arah wajah Ranti. “Sekali lagi kamu bicara mengenai hal itu, saya tidak akan segan-segan untuk menceraikan kamu!” akhir Januar dengan sentakan tegas, tidak main-main. Suara pertengkaran yang diciptakan oleh kedua orangtuanya kali ini sungguh tidak hanya membuat jiwa dalam diri Rasi tertekan, tetapi juga benar-benar terguncang hebat. Rasi tidak tahu lagi apa yang dapat ia lakukan selain meluapkan emosinya dalam tangis. Dan menghubungi Bintang. Walau sejujurnya yang Rasi harap adalah keberadaan Biru. Namun Rasi tahu, harapannya yang itu adalah suatu kemustahilan. Di balik pintu kamarnya, Rasi menangis sambil terus menutup kedua telinga rapat-rapat. Tubuhnya yang semula berdiri, perlahan jatuh terduduk di atas lantai. Memeluk kedua lutut kakinya yang tertekuk. Kepalanya menunduk dalam, sedangkan air matanya menetes semakin deras. Tok tok tok “Ras, ini aku,” Menghafali suara Bintang, Rasi buru-buru bangkit. Membukakan pintu yang langsung menampakkan sosok Bintang, berdiri di hadapannya. “Bintang...” Tanpa ragu Rasi memeluk pinggang Bintang begitu erat. Menangis kembali dengan suara isak yang teredam di d**a Bintang. Bintang mengusap puncak kepala Rasi. Sampai ketika gadis itu mulai melonggarkan pelukannya, tanpa bertanya Bintang mengusap kedua pipi Rasi secara bergantian. Menyingkirkan air mata yang membekas di sana. Melakukan apa yang biasanya ia lakukan sejak kecil, tiap kali mendapati Rasi menangis. “Jangan nangis lagi, ya,” ucap Bintang dengan senyuman tipis seraya menyelipkan rambut Rasi di balik telinga gadis itu. “Om Januar dan Tante Maya pasti bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jadi kamu nggak perlu mengkhawatirkan mereka. Kamu juga nggak perlu takut akan apapun, karena sampai kapan pun, aku akan terus memegang janji kecil kita. Aku akan selalu ada untuk menemani kamu kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apapun.” Bintang tidak suka melihat air mata Rasi, karena Bintang tidak suka Rasi menangis. Meskipun Bintang tahu, selain Biru, pertengkaran orangtua Rasi yang sudah lama tiada ujung itu memang biasa menjadi alasan Rasi menangis. *** Naina mengangguk. “Iya, Rasi. Anak sahabat Tante dari SMA. Rumahnya di seberang rumah ini, makanya kami dekat sampai sekarang. Malahan kami nikah di tahun yang sama, punya anak di tahun yang sama juga. Cuma bedanya, dia udah anak kedua, karena Tante memang sempat kesulitan untuk memiliki keturunan sekitar dua sampai tiga tahun paska menikah. Tapi karena kebetulan itu, dari semenjak Rasi dan Bintang masih dalam perut, kami sudah berandai-andai, memikirkan mau memberi anak kami nama yang kedengarannya senada.” “Senada?” tanya Kejora yang masih belum menangkap betul apa maksudnya. “Iya, senada. Kalau anak kami sama-sama perempuan, kami sepakat mau menamai mereka Cahaya dan Mentari. Kalau laki-laki, kami sepakat untuk menamai mereka Surya dan Kencana,” tutur Naina dengan pandangan ke atas, seakan sedang membayangkan saat kejadian yang diceritakannya itu sedang berlangsung. “Tapi ketika tahu kalau yang keluar ternyata laki-laki dan perempuan, jadi Tante kasih usul untuk nama mereka Rasi dan Bintang. Dan usulan Tante itu langsung diterima sama sahabat SMA Tante itu, mamanya Rasi.” “Eh, iya, aku baru sadar nama mereka bagus, ya, kalau disatukan, Tan. Lucu, deh.” Kejora berujar, mengekspresikan ketertarikannya akan nama tersebut. “Rasi sama Bintang itu dari kecil udah deket banget. Walaupun sering berantem, tapi mereka selalu bisa saling mengerti satu sama lain,” ujar Naina dengan senyuman. Senyum itu menular di bibir Kejora, meski tidak untuk hatinya. *** Detik jam terus bergerak. Memutar hingga kini tak terasa sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Yang artinya, tinggal beberapa menit lagi hari akan berganti. Namun dengan tubuh merebah di atas ranjang, kedua mata Bintang masih terbuka sempurna. Ini kebiasaan Bintang yang sudah tidak asing lagi. Tap kali habis mendapati Rasi menangis, malamnya pasti ia tidak bisa tidur. Mau sekuat apapun ia memaksakan matanya untuk terpejam, kepalanya tetap tidak bisa berhenti memikirkan Rasi. Walau pun sebelum pulang tadi, Bintang sempat memastikan, kalau Rasi sudah dalam keadaan tenang. Akan tetapi tetap saja Bintang cemas kalau-kalau orangtua Rasi kembali bertengkar, sehingga membuat gadis itu menangis lagi. Jangan tanya kenapa Bintang sering secemas ini pada Rasi, karena ia sendiri pun tidak tahu apa alasannya. Ini semua terjadi semenjak dirinya dan Rasi mulai beranjak remaja. Atau tepatnya, semenjak perasaan sayang Bintang pada Rasi sebagai sahabat, berkembang menjadi lebih dari itu. “Ck!” Dengan decakan, kesal, akhirnya Bintang beranjak dari posisinya. Keluar, meninggalkan kamarnya dengan pintu terbuka, lalu ke dapur untuk sekedar mengambil minum. Namun saat kembali, tiba-tiba Bintang sungguh diherankan oleh keberadaan Kejora di dalam kamarnya. Berdiri di samping ranjang Bintang, membelakangi Bintang. “Mau ngapain lo di kamar gue?!” Kejora nampak tidak bergerak dari pijakannya. Tidak pula merespon dengan kata-kata. Suasana yang hening hanya diisi dengan detak jarum jam. Sampai kemudian Bintang mengambil langkah tegas, mendekat. “Eh, lo lupa, ya, soal perjanjian kita?! Berani-beraninya lo ada di kamar gue sekarang!” Melihat sikap Kejora yang persis seperti orang tuli, tak merespon sepatah kata pun, seketika Bintang menjadi kian diburu emosi. “Eh!” gertak Bintang, kesal, sambil memutar paksa salah satu bahu Kejora agar segera menghadapnya. Namun seketika saat tubuh Kejora berbalik, Bintang dikejutkan oleh Kejora yang tiba-tiba menjatuhkan diri tanpa daya di dadanya. “Eh, eh, lo kenapa?” Saat itu juga Bintang refleks bergerak cepat menahan tubuh gadis itu dengan salah satu tangannya agar tidak sampai benar-benar terjatuh di lantai―sementara tangannya yang lain masih memegang gelas berisikan air. Bintang menyempatkan untuk menaruh gelasnya terlebih dulu, sebelum kemudian pelan-pelan merebahkan tubuh Kejora di atas ranjangnya. “Kejora, bangun!” Bintang menepuk-nepuk pipi Kejora. Mencoba membangunkan, namun sayang Kejora tidak kunjung membuka matanya. “Eh, lo pingsan atau tidur, sih?” desis Bintang tidak mengerti. Kedua mata Kejora yang benar-benar terpejam rapat betul-betul menumbuhkan banyak tanya di kepala Bintang. Sebenarnya gadis aneh itu tidur atau pingsan? Hanya berpura-pura atau memang sungguhan? Kalau emang pura-pura, tidak mungkin acting-nya bisa senatural ini. Tapi kalau memang sungguhan? Tidak mungkin juga Bintang membangunkan mamanya untuk memberitahu tentang ini. Karena sudah jelas, mamanya pasti akan melemparkan tuduhan yang tidak-tidak pada dirinya mengenai ini. Kalaupun Bintang menceritakan semuanya sejujur-jujurnya, Bintang yakin, mamanya tetap tidak akan percaya padanya. Karena Bintang tahu persis seperti apa karakter mamanya. Tidak akan pernah mempercayai sesuatu dalam bentuk apapun, sebelum ia benar-benar menyaksikannya secara langsung. Lagi pula gadis aneh ini, mau apa dia berada di dalam kamarnya tadi? Menyusahkan saja! “Huft!” Bintang membuang napas kasar, lalu kemudian meneguk habis segelas air yang diambilnya. “Sekarang gimana caranya gue pindahin dia ke kamarnya sendiri? Masa iya gue ngebiarin dia tidur di kamar gue?” Sesaat Bintang membayangkan. “Ah, nggak-nggak! Nggak mungkin!” tegas Bintang keras-keras pada dirinya sendiri. Sampai sesaat setelahnya ia berpikir kembali. “Tapi kan lebih nggak mungkin kalau gue tidur di sofa ataupun di kamarnya.” “Argh!” Bintang mengacak rambutnya, frustrasi. Mau tak mau Bintang akhirnya putuskan untuk mengangkat tubuh Kejora dari ranjangnya. Memindahkannya ke ke kamar gadis itu sendiri. Yang kemudian Bintang letakkan di tengah-tengah ranjang. Sesaat sebelum beranjak, tanpa sengaja bola mata Bintang bergerak tertuju pada Kejora yang masih belum bangun-bangun juga. Tanpa sadar alam bawah sadar Bintang mengamati wajah Kejora begitu lamat. Sampai-sampai sorot matanya berubah menjadi lebih mendalam selama memerhatikan tiap detil pahatan wajah Kejora. Kalau dilihat dari dekat begini, Bintang baru tahu kalau ternyata Kejora memiliki bulu mata yang panjang dan lentik. Bentuk bibir yang biasanya Bintang lihat selalu mengatakan hal-hal yang membuat Bintang kesal, entah mengapa saat ini terlihat indah ketika tidak sedang diam, terkatup rapat. Untuk pertama kalinya Bintang merasa dirinya harus mengakui, bahwa gadis itu memang benar-benar cantik, terlebih karena ia juga menyukai wajah tenang gadis itu, yang seolah mampu menularkan ketenangan dalam dirinya. Meskipun di sisi lain tetap ada hal yang disayangkan olehnya. Sayang, wajah tenang Kejora yang seperti ini, hanya dapat ia lihat ketika gadis itu sedang tidak sadarkan diri. Sembari menyingkirkan beberapa helai rambut yang menghalangi wajah Kejora, Bintang bergumam dengan sendirinya, “Coba aja lo selalu menunjukkan sisi tenang lo yang kayak gini. Mungkin lo bisa bikin gue lupa sama perasaan gue ke Rasi.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN