Seketika bola mata Kejora terangkat menatap Bintang yang lebih tinggi darinya.
“Kenapa lo liatin gue begitu?” bingung Bintang, tidak kalah dengan kebingungan yang dirasakan Kejora sebelumnya.
“Gue masuk ke kamar lo pasti secara nggak sadar.”
“Hah?” Bintang terpelongo.
“Lo tau sleep walking, kan?” tanya Kejora.
“Terus?”
“Ya, gue ke kamar lo semalem bukan karena kemauan gue. Tapi karena gue mengalami sleep walking. Gue emang suka begitu kalau ada sesuatu yang benar-benar gue pikirin sebelum tidur. Kalau nggak ngigau, ya sleep walking,” cerita Kejora, ragu-ragu. Bukan ragu, tapi lebih tepatnya malu! Karena ia tahu, sleep walking sebetulnya adalah suatu kebiasaan buruk. “Jadi mulai sekarang, kalau lo ngeliat gue kayak gitu lagi, jalan-jalan atau ngomong nggak jelas tengah malem, jangan heran, ya?”
Tanpa menceritakan hal apa yang ia pikirkan semalam sebelum tertidur, Kejora mau tak mau, suka tak suka, akhirnya menjelaskan pada Bintang, mengenai dirinya yang memang sering mengigau dan berjalan sembari tidur, tiap kali sebelum tidur ia memikirkan sesuatu terlebih dahulu.
Bintang berpikir sesaat. “Kalau gitu berarti semalem itu lo mikirin gue dong sebelum tidur?”
Dalam sedetik Kejora melotot. “Nggaklah!” elaknya, mantap.
“Terus?”
“Gue...” Sembari menggantung kalimat, Kejora memutar otaknya. “Gue mikirin surat perjanjian kita yang sama sekali nggak adil buat gue, tau nggak! Pake segala ditanya lagi!” sentak Kejora, berpura-pura kesal.
“Tapi gimana pun juga, perjanjian tetaplah perjanjian. Hal yang harus ditepati. Karena lo udah melanggar aturan yang udah kita sepakati bersama, jadi gue berhak untuk memberi lo hukuman!” tandas Bintang, sangar. Jauh berbanding terbalik dibanding perlakuannya terhadap Rasi. Yang kontan saja membuat Kejora ternganga; tidak percaya akan apa yang terdengar ditelinganya dari mulut Bintang.
***