12

433 Kata
12  Sepulang kerja tepatnya setelah tiba di rumah, Maya duduk sejenak di sofa cuma untuk sekedar merehatkan diri. Hari ini Maya merasa tidak hanya tubuhnya saja yang kelelahan. Tetapi otak dan pikirannya juga. Rutinitasnya yang harus bekerja tiap pagi sampai malam menjelang, ditambah kelakuan suaminya yang tidak pernah mau mengerti dirinya, ditambah lagi putri bungsunya yang tiba-tiba tidak ingin berbicara padanya tanpa sebab yang ia tahu, semuanya benar-benar membuat kepala Maya terasa sakit. Bahkan seharian ini otak Maya terasa seolah-olah tidak bisa berhenti berputar untuk tidak memikirkan itu semua, demi mendapatkan jalan keluarnya. “Rasi, ada apa sama kamu, Nak?” gumam Maya, cemas. Kalau bertengkar dengan suaminya mungkin Maya sudah terbiasa. Tetapi tidak untuk bertengkar dengan anak perempuan satu-satunya itu. Dengan mata tertutup, Maya memijat keningnya yang berdenyut hebat. Sampai ketika tiba-tiba terdengar suara pintu masuk rumahnya terbuka, secara otomatis mata Maya terbuka. Bola matanya berputar ke arah sumber suara. “Rasi, anak Mama, kamu pasti baru pulang les, ya?” tegur Maya seraya mengurai senyum. “Pasti lelah kan? Sini duduk dulu sama Mama.” Maya menepuk celah kosong di sebelahnya. Rasi berhenti sebentar, melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan langkahnya, tanpa minat untuk menggubris ataupun membalas senyuman tulus di wajah lelah mamanya saat itu. “Rasi, tunggu, Rasi.” Maya segera mengejar. Namun Rasi malah semakin mempercepat langkahnya menuju kamar. Brak! Rasi menutup pintu kamarnya dengan sekali gebrak, yang tak lama disusul dengan suara kunci berputar. Maya mencoba untuk mengetuk. “Rasi, buka pintunya, sayang. Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini ke Mama dan Papa, Nak? Ada apa sama kamu, sayang?” Dengan kesabaran yang melimpah ruah, Maya berupaya keras mengatur emosinya dalam menghadapi Rasi. “Rasi,” panggil Maya lagi, sambil terus mengetuk. “Kalau memang ada sesuatu, kita bisa bicarakan baik-baik, sayang. Jangan diamkan Mama seperti ini, Nak.” “Nggak ada yang perlu dibicarain. Pokoknya Rasi benci Mama sama Papa!” jerit Rasi, penuh amarahnya. Bukan, Rasi bukan marah pada kenyataan. Tetapi Rasi marah pada dirinya yang selalu gagal meraih kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Rasi sudah tidak bahagia ketika tiba-tiba Biru menghilang tanpa kabar untuk yang ke sekian kalinya. Namun ternyata ia lebih tidak bahagia lagi ketika kedua orangtuanya hanya terus memikirkan perasaan mereka masing-masing, memikirkan ego masing-masing, tanpa pernah memedulikan perasaannya. Di balik pintu, Rasi berdiri menempelkan punggungnya. Dadanya yang terasa sesak dan semakin sesak membuatnya sungguh tidak bisa lagi untuk menahan tangis lama-lama. Sehingga tak lama kemudian tetes demi tetes air matanya lolos berjatuhan menapaki jejak di kedua sisi pipinya. Ada satu pertanyaan dalam benak Rasi yang tidak pernah ia tahu jawabannya. Kapan semua ini berakhir? ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN