“Bang Biru, Bang Biru, lihat deh! Jingga baru habis dibelikan boneka sama Bunda.” Dengan membawa sebuah boneka berbulu di antara apitan kedua tangannya, seorang gadis cilik berambut panjang tiba-tiba berlari riang menghampiri Biru yang sedang berhadapan dengan laptop di kursi meja belajar dalam kamarnya.
Tak lama datang lagi gadis cilik lainnya yang memiliki postur tubuh lebih kecil, berponi, dan panjang rambutnya hanya seleher―persis seperti karakter kartun Dora, menyusul dengan membawa sebuah boneka yang berbeda juga. Ikut menghampiri Biru sembari berseru, “Nila juga dibelikan, Bang Biru!”
Jingga Raskala dan Putih Vanila. Mereka adalah adik-adik Biru, yang saat ini keduanya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Usia mereka tidak terpaut jauh, hanya berselisih angka 2. Jingga 10 tahun, sementara Nila 8 tahun. Walau mereka memiliki ayah yang berbeda dengan Biru, akan tetapi Biru sangat menyayangi mereka layaknya adik kandung.
“Tapi lebih lucu punya Jingga kan, Bang?” sahut Jingga, meyakinkan Biru dengan cara menyodorkan bonekanya agar Biru dapat melihat lebih dekat.
“Ih, ngarang! Lebih lucu punya Nila, kali!” Kali ini Nila menandas, tidak mau kalah dengan kakaknya. “Punya Kak Jingga, mah, bentuknya nggak jelas. Kayak monster, serem, iihhh.” Nila bergidik sambil menjauh dari boneka yang dipegang oleh kakaknya.
“Ini emang monster, tau. Tapi monster baik. Lucu, lagi.” Sesaat Jingga memeluk bonekanya. Sebelum kemudian tatapannya kembali sinis ke arah Nila, adiknya. “Kamu norak, sih, nggak pernah nonton monster inc, ya?”
“Coba aja, kita tanya langsung sama Bang Biru.” Dari Jingga, Nila langsung beralih pada Biru. “Bang, menurut Bang Biru bonekanya lebih bagus mana? Yang punya Nila, atau yang punya Kak Jingga?”
Biru yang sejak tadi memilih diam terlebih dahulu, memerhatikan tingkah lucu nan menggemaskan kedua adiknya, seketika tersenyum seraya mengambil dua boneka itu dari tangan Nila dan Jingga.
“Coba tunggu sebentar, Abang bandingkan dulu, ya,” ucap Biru dengan nada lembut pada dua gadis cilik yang berdiri di hadapannya sekarang.
Sejenak Biru mengamati detil boneka moster inc dan boneka teddy bear itu dengan seksama. Berlaku seolah-olah ia memang sedang meneliti mana yang lebih bagus, sesuai dengan permintaan Jingga dan Nila.
“Yang mana, ya, yang lebih bagus. Kayaknya yang...” gumam Biru yang sengaja menggantungkan kalimatnya bertujuan untuk menggoda Nila dan Jingga.
Namun bukannya memedulikan hal tersebut, Nila dan Jingga tiba-tiba malah saling melempar tatap satu sama lain, ketika mereka menyadari sesuatu yang justru Biru tidak sadari itu.
“Bang Biru, hidung Bang Biru keluar darah,” seruak Nila dengan segala kepolosannya, yang kemudian Jingga menanggapi dengan anggukan kecil.
Setelah memberikan kembali kedua boneka itu pada Nila dan Jingga, dengan cepat Biru mengambil berlembar-lembar tisu yang tersedia di atas meja belajarnya, untuk menutupi bagian bawah lubang hidungnya. Terutama lubang hidung yang baru saja mengeluarkan cairan merah dari dalamnya.
“Bang Biru kenapa? Bang Biru sakit? Jingga kasih tahu Bunda, ya?”
“Jangan!” Secepat mungkin Biru menahan Jingga yang hendak berlalu. “Abang nggak apa-apa. Lagi pula Bunda kan baru tidur. Kasihan kalau dibangunin sekarang. Jingga emangnya nggak kasihan sama Bunda?”
“Kasihan, Bang.” Jingga menutur dengan suara pelan.
“Nila juga kasihan kan sama Bunda?” Kali ini Biru bertanya pada Nila.
Nila mengangguk, iya.
“Makanya, kalau kalian kasihan sama Bunda, kalian nggak boleh ganggu tidur Bunda. Kita biarin aja Bunda istirahat dulu, untuk melepas lelahnya. Karena kayaknya Bunda kecapean, tuh, seharian bersih-bersih rumah. Oke?”
“Oke, Bang!” ujar Jingga dan Nila serempak.
Biru tersenyum. Salah satu tangannya terangkat, mengusap puncak kepala kedua adiknya satu persatu. “Sekarang kalian mainnya di luar dulu, ya. Abang mau bersihkan hidung Abang,” katanya, seraya bangkit untuk bergegas menuju toilet.
Sedangkan Nila dan Jingga berlari keluar dari kamarnya, mematuhi apa yang diminta abangnya.
***
Sambil memandangi jendela kamar Rasi yang seperti biasa selalu tertutup rapat dan dibentangi oleh gorden, Bintang berdiri di balkon kamarnya dengan kedua lengan bertengger di atas besi pembatas. Menikmati embusan angin, juga langit malam yang bertabur bintang-bintang.
“Iya, Tan, aku baik-baik aja, kok, di sini. Tante sendiri kabarnya gimana di sana?” Sambil menerima telepon dari tantenya yang sedang berada di negeri orang di luar sana, Kejora berjalan menuju balkon kamarnya.
Kamar Bintang dan Kejora yang bersebelahan, tentu saja membuat balkon kamar mereka juga bersebelahan. Sehingga pendengaran Bintang yang sudah pasti masih berfungsi tajam, mampu menangkap suara Kejora dengan jelas sejelas-jelasnya.
“Alhamdulillah, Tante juga baik. Kerjaan Tante juga lancar jaya. Tapi Kejora...” Milka diam memberi jeda. “maaf, ya, untuk sekarang Tante masih belum tau, nih, kapan bisa kembali ke Jakarta. Masih banyak yang mesti diurus di sini. Padahal Tante udah kangen banget sama kamu, lho.”
“Nggak apa-apa, Tan. Tante fokus aja sama kerjaan Tante dulu. Aku di sini juga sama Tante Naina, kan. Nggak sendiri,” ujar Kejora, tanpa tahu keberadaan Bintang, yang ternyata diam-diam mendengarkannya.
“Uh, iya, untung saja Tante titipkan kamu ke Naina. Coba kalau Tante tinggal kamu sendiri di rumah? Wah, tidak kebayang deh seberapa khawatirnya Tante sama kamu, di sini. Yang ada kerjaan Tante bukannya benar, malah berantakan, saking tidak fokusnya.”
Sama seperti Bintang, Kejora juga menenggerkan lengannya pada besi pembatas balkon, sambil terus mendengarkan apa yang tantenya sampaikan. “Tante jangan khawatir, Ayah juga nggak akan mungkin tau keberadaanku sekarang.”
“Iya, juga, sih,” pikir Milka sembari iseng menggerak-gerakkan mouse komputer di hadapannya. “Ya sudah, Tante lanjut bekerja lagi, ya. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan yang banyak, istirahat yang cukup, belajar yang rajin, jadi anak baik di rumah teman Tante. Jangan buat ulah apa-apa, ya. Awas kalau sampai Tante nerima aduan yang macam-macam dari Naina tentang kamu. Siap-siap uang jajanmu Tante―”
“Ehhh, iya-iya, Tan!” potong Kejora, antisipasi, sebelum Naina mengucapkan ancamannya dengan sempurna. “Tante tenang aja, deh, pokoknya. Percaya aja sama keponakan Tante yang cantik, lucu, dan imut ini.”
“Jiahahahaha,”
Kejora menoleh cepat, ketika tiba-tiba ia mendengar bahak tawa seseorang yang ia kenali betul suaranya.
“Elo?!” pekik Kejora dengan sepasang bola mata yang hampir melompat keluar dari rongga matanya. “Tan, aku matiin dulu, ya. Kita sambung lagi besok. Bye, Tan.”
Usai mematikan sambungan ponselnya dan menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celananya, Kejora langsung beralih lagi pada Bintang yang ternyata masih saja menertawainya.
“Eh, sejak kapan lo di situ? Lo nguping, ya?!”
“Cantik, lucu, imut?” Bintang bertanya, sekaligus meledek. Lantaran tak lama bahak tawa cowok itu lolos lagi dari tenggorokannya. “Iya, sih, lo cantik, lucu, imut. Tapi...”
“Tapi apa?!”
“Tapi cuma kalau dilihatnya dari lubang sedotan, dan gue dirinya di atas gunung Averest. Nah, baru, tuh, lo kelihatan cantik, lucu, imut!” Lagi-lagi Bintang tertawa geli, meski kali ini ia tertawa sembari memegangi perutnya.
“s****n!” umpat Kejora. “Terus kalau gue jelek, lo merasa diri lo ganteng gitu? Cih!” Kejora berdecih, jijik, dengan kedua tangan terlipat di depan d**a.
“Gue nggak bilang lo jelek, ya. Tapi alhamdulillah kalau emang lo sendiri yang nyadar diri. Dan soal kegantengan gue,” Dengan kesadaran pesona yang optimal, menggunakan kelima jarinya, Bintang menyisir rambutnya ke belakang. “gue rasa hal itu udah nggak perlu dipertanyakan lagi. Iya, kan?”
Sesaat Kejora malah terbengong melihat Bintang yang terus-terusan menebar pesona padanya. Tanpa sadar mulutnya berucap, “Iya, sih.”
“Eh, apa lo bilang?” kejut Bintang yang seketika meragukan pendengarannya.
“Hah?” Detik itu juga lamunan Kejora pecah. Cepat-cepat ia menahan bibirnya dengan salah satu tangannya. Bicara apa, sih, gue!
“Lo bilang apa barusan?”
“Barusan?”
“Iya, barusan. Lo bilang apa?”
Kejora mengigiti kukunya. Bingung ingin menjawab apa. Karena tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. “Gue bilang...”