14

1139 Kata
14  Kejora mengigiti kukunya. Bingung ingin menjawab apa. Karena tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya. “Gue bilang...” “Bilang apa, cepetan!” desak Bintang, penasaran. Apakah telinganya salah dengar atau bagaimana. “Gue bilang―” Tok tok tok “Bintang, ada Om Januar cari kamu. Beliau menunggu kamu di bawah.” Tak lama terdengar seruan Naina dari balik sana. “Om Januar?” Pasti ini berkaitan dengan Rasi! Tanpa banyak bicara, langsung melipir dari kamarnya. Mengabaikan Kejora begitu saja, melupakan rasa penasarannya akan apa yang Kejora katakan tadi. Sampai-sampai seketika Kejora tidak tahu, apakah ia harus merasa senang atau kecewa akan suara ketuka pintu itu. Di satu sisi Kejora senang, karena ketukan pintu itu telah berhasil membuatnya menghindar dari cecaran Bintang. Namun di sisi lain Kejora juga kecewa, karena ketukan pintu itu telah berhasil membuat Bintang mengabaikannya dalam waktu kurang dari sekian detik. Saat Bintang sudah keluar dari kamar dan turun ke bawah, Kejora diam-diam menyusul turun, meskipun ia tidak ikut bergabung di ruang tamu. Kejora hanya ingin mengetahui isi pembicaraan mereka. “Ada apa, Om?” tanya Bintang. Januar yang semula duduk menunggu di sofa, berdiri sejenak. “Begini Bintang, seharian ini Rasi mogok makan. Kamu bisa, kan, bantu membujuknya supaya dia mau makan, dan mau membicarakan apa yang membuatnya tiba-tiba menghindari Om dan Tante belakangan ini? Karena Om khawatir dia kenapa-kenapa kalau seperti ini terus-menerus.” “Ayo, Om, biar Bintang coba bantu,” ajak Bintang yang menyertakan anggukan. Naina mengusap bahu Bintang. “Iya, sayang, coba kamu bantu Om Januar dan Tante Maya. Biasanya kan Rasi luluh terus kalau sama kamu,” balas Naina, memberi dukungan. “Terima kasih, ya, Nai,” tutur Januar pada Naina. Lalu beralih lagi pada Bintang. “Ayo Bintang, kita ke rumah Om.” Cukup jauh dari posisi Januar, Bintang, dan Naina berdiri, Kejora bergeming memerhatikan sekaligus mendengarkan obrolan mereka bertiga mengenai Rasi, tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadari keberadaannya saat itu. Lagi-lagi Rasi. Sepenting itukah gadis itu bagi Bintang? Dengan d**a yang mulai terasa sesak, batin Kejora bertanya, boleh tidak dirinya cemburu pada Rasi? Rasi yang tidak pernah gagal membuat Bintang agar selalu ada untuknya, tiap kali ia membutuhkan Bintang kapan pun dan dalam situasi apapun. Bukannya Kejora tidak suka akan hal itu. Bukan pula Kejora berniat ingin merebut. Hanya saja setidaknya, Kejora juga ingin memiliki kesempatan untuk bisa mengisi ruang hati Bintang. Andai saja Kejora bisa menjadi seperti Rasi bagi Bintang, mungkin segalanya akan membahagiakan. Ya, Kejora tahu gadis itu memang sudah bersahabat sejak kecil dengan seseorang yang disukainya saat ini. Namun, apa salah, kalau dirinya juga mengharapkan posisi yang sama dalam hidup Bintang? *** “Rasi, makan dulu, Nak. Ini Mama bawakan makanan kesukaan kamu, sayang.” Tok tok tok “Rasi―” Ujaran Maya terpotong, saat Januar tiba-tiba menyentuh salah satu bahunya. Sehingga membuatnya menoleh. “Kita sudah berusaha. Kini biar Bintang yang mencobanya,” tukas Januar. Sesaat bola mata Maya bergeser, menatap Bintang. Sampai ketika Bintang mengangguk, barulah ia memberi nampan yang di atasnya terdapat segelas air dan sepiring makan malam untuk Rasi, kepada Bintang. Setelah itu membiarkan Bintang mengambil alih semuanya. “Ras,” panggil Bintang dengan nada lembut. Tok tok tok “Aku boleh masuk nggak?” Tidak perlu menunggu lama, tiba-tiba terdengar suara kunci berputar. Enggan menamppakkan diri, Rasi hanya memberi celah untuk Bintang masuk. “Kata Mama kamu, kamu belum makan,” ucap Bintang. Rasi diam, tidak menanggapi. Gadis itu hanya duduk di pinggir ranjang, setelah mengunci kembali pintu kamarnya. “Nih, makan dulu.” Bintang menyodorkan sesuap nasi dan potongan lauk. “Aku nggak napsu makan, Bi,” tolak Rasi dengan cara mendorong tangan Bintang agar menjauh dari mulutnya. “Belagak nggak napsu-nggak napsu. Seharian nggak makan, aku tau kamu pasti laper, kan? Hayo, ngaku aja sama aku,” cibir Bintang. “Nih, buruan. Aku suapin.” Tangan Bintang yang memegang sendok terangkat kembali mendekati mulut Rasi. Rasi tidak menyambutnya. “Ayo, cepet dimakan. Tanganku pegel, nih,” keluh Bintang. “Kalau kamu beneran nggak mau makan, berarti kamu emang niat banget buat nyiksa aku.” “Ih, enggak! Siapa yang nyiksa mau kamu, coba!” sanggah Rasi, tidak membenarkan tudingan Bintang yang ditujukan untuknya. “Yaudah, kalau kamu nggak mau nyiksa aku, kamu makan sekarang.” Setelah diam beberapa saat, dengan gerakan niat tidak niat, Rasi akhirnya mau membuka mulutnya. Sehingga Bintang bisa langsung menyuapkan nasi ke dalamnya. “Emangnya kenapa, sih, kalau aku nggak makan?” Rasi bertanya setelah kunyahannya selesai. “Kalau kamu nggak makan, aku yang sakit.” “Kok, kamu?” Seketika dahi Rasi berkerut. “Akulah yang sakit. Kan badan aku yang nggak menerima asupan.” “Aku ikut sakit kalau ngeliat kamu sakit, Rasi!” terang Bintang, memperjelas. Lantaran terlalu gemas melihat Rasi yang selalu bersikap kebal hati, alias tidak pernah peka terhadap apapun yang dikatakannya. Meskipun ia juga tahu, kalau gadis itu pasti tidak akan mungkin menangkap maksud yang tersirat dalam ucapannya. “Yaudah, kalau gitu selama aku sakit, kamu jangan ngeliatin aku.” Mendengar tuturan Rasi barusan, Bintang langsung membuang napas kasar. Mau sampai kapan, sih, kamu nggak menyadari perasaan aku, Ras? Kita bersahabat sejak kecil, dekat sejak kecil, seharusnya kamu bisa lebih peka terhadap hal itu. “Mata kamu bengkak, kamu habis nangis?” “Eh?” Seketika Rasi terkejut, dan langsung menyembunyikan wajahnya dari Bintang, bersamaan dengan pandangannya yang ikut berpaling. “Nggak. Ini cuma habis kelilipan tadi sebelum kamu dateng,” elak gadis itu. “Kamu mungkin bisa bohong sama semua orang, tapi kamu nggak akan pernah bisa bohong sama aku, Rasi. Aku tau tabiat kamu sejak kecil kalau lagi bohong kayak gini.” “Sok tahu!” Rasi mengetus, sewot. Bintang menipiskan bibirnya, seraya berucap, “Sejak kecil kamu, tuh, nggak pernah berani natap mata aku kalau lagi bohong.” Perlahan bola mata Rasi bergerak mengarah membalas tatapan Bintang. Dalam hitungan detik, mata gadis itu kembali memerah. Air matanya kembali mengembang cepat. Dadanya yang terasa sesak seketika sungguh memberatkan tiap tarikan napasnya. “Aku benci sama Mama Papaku, Bintang,” lantun Rasi, akhirnya. Dengan isak tangis yang mendadak memecah keheningan. Salah satu tangan Bintang sesaat terangkat mengusap kedua pipi Rasi secara bergantian. Lalu kemudian dengan tangan yang sama, Bintang meraih tubuh mungil Rasi ke dalam dekapannya. Sehingga tak lama setelahnya, Rasi memilih untuk menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Bintang. Meluapkan seluruh emosi yang teredam dan menyiksa dalam benaknya sejak kemarin-kemarin. Semakin isak tangis Rasi terdengar jelas, semakin erat pula Bintang memeluk tubuh Rasi. Karena Bintang tahu, hanya itulah yang Rasi butuhkan saat ini darinya. Sampai saat tangisan gadis itu mulai mereda, pelan-pelan Bintang melonggarkan dekapannya. “Baju kamu basah kena air mata aku.” Di saat seperti ini sempat-sempatnya Rasi memperkarakan hal yang tidak penting. “Nggak apa-apa.” Bintang menukas, enteng. “Besok kamu mau ikut aku ke suatu tempat?” ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN