15
Mendapati Bintang yang tidak biasa-biasanya sudah berpenampilan rapi di pagi hari, apalagi ini adalah hari Minggu, tentunya Naina bertanya dengan penuh keheranan. “Bintang kamu mau ke mana jam segini udah rapi?”
“Kepo aja Mama.”
“Yee, ditanya sama orangtua bukannya nyahut yang benar. Ajak Kejora sana kalau mau main. Kasihan, dia pasti bete di rumah terus akhir pekan begini.”
“Apaan, sih, Ma. Bintang mau pergi sama Rasi. Masa mau naik motor bertiga? Kayak terong bawa cabe-cabean aja.” Tiba-tiba Bintang bergidik ngeri membayangkannya.
“Ya sudah, kalau gitu kamu bawa mobil Mama aja. Gampang, kan? Sebentar Mama panggilkan Kejora dulu. Kamu tunggu di ruang tamu.”
“Idih, Mama apa-apaan, sih! Siapa juga yang mau ngajak―”
“Kejora!” Belum tuntas Bintang mengeluh, Naina main langsung mengambil keputusan sendiri. Memanggil Kejora yang saat itu masih belum keluar dari dalam kamar.
“Iya, Tante, ada apa?” sahut Kejora yang segera membuka pintu kamarnya.
“Kamu hari ini nggak ke mana-mana kan?”
Kejora menggeleng. “Nggak, Tan. Kenapa?”
“Nah, daripada kamu bete di rumah, mending kamu ikut main sama Rasi dan Bintang, gih, Bintang udah nunggu kamu di bawah.”
“Hah? Ta-tapi, Tan―”
“Udah jangan pakai tapi-tapi. Ikut aja sana. Jenuh, tahu, kalau di kamar terus-terusan. Enak main ke luar, cari udara segar. Iya, kan?” Kemudian tanpa basa-basi Naina memutar bahu Kejora, mengarahkannya untuk kembali masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. “Sudah, sekarang sana cepetan kamu mandi. Dandan yang cantik, siapa tahu nanti Bintang naksir kamu.”
Kejora yang tidak diberi kesempatan untuk menyahut lagi, terpaksa tidak memiliki pilihan lain selain menuruti apa yang diperintah oleh Naina.
***
Rasi agak terbengong ketika mendapati seonggok mobil yang ia kenali betul pemiliknya bukanlah Bintang, melainkan mamanya cowok itu, terparkir di pinggir ruas jalan depan rumahnya. “Kita naik mobil mama kamu?” tanya Rasi pada Bintang yang entah sejak kapan sudah menunggunya, berdiri di samping mobil tersebut, bersama dengan seseorang dengan wajah yang begitu asing baginya.
“Hm.” Bintang mengangguk. “Ras, kamu nggak masalah, kan? Kalau aku ngajak cunguk satu ini? Soalnya Mama yang―Argh!”
Melihat Bintang menunjuk dirinya saat menyebut cunguk, kontan tidak segan-segan Kejora menginjak kaki Bintang sekuat tenaga.
“Apaan, sih, pake nginjek kaki gue segala?!”
Menanggapi celotehan Bintang, Kejora hanya melempari pelototan tajam yang menusuk.
“Nggak apa-apa, kok.” Rasi berjalan mendekat. “Nama kamu siapa?”
“Gue Kejora,” ujar Kejora disertai dengan uluran tangan tepat ke arah Rasi.
Rasi tersenyum. Seraya menjabat tangan Kejora, ia membalas, “Aku Rasi.”
Selama beberapa saat Kejora diam-diam mengamati Rasi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah sekian lama mengenal Rasi hanya dari sebatas nama saja, akhirnya Kejora memiliki kesempatan juga untuk berkenalan secara langsung dengan perempuan itu, yang katanya merupakan sahabat Bintang sejak kecil.
***
“Nih, tugas lo, udah gue kelarin semua. Tinggal lo kumpulin sendiri nanti ke Pak Saroni,” ucap Leon seraya menyodorkan sejilid kertas dengan logo kampus di halaman depannya pada Biru. “Gimana kondisi lo?”
Biru mengambil jilidan tugas itu. Lalu berbalik kembali masuk ke dalam kamarnya dengan arah langkah yang diikuti oleh Leon.
“Eh, ditanya itu jawab. Kondisi lo gimana sekarang?”
“Nggak gimana-gimana. Paling lusa atau setelah tiga hari nanti, efek kemo gue mulai terasa.”
“Perlu gue kasih tahu Rasi?”
“Kasih tau aja. Tapi jangan harap setelahnya lo bisa hidup tenang.” Biru membalas datar, walaupun kata per kata yang diucapkannya berisi ancaman.
“Wadaw!” ujar Leon yang kemudian diiringi kekehan.
Selepas menaruh tugasnya di atas meja belajar, dan Leon duduk di kursi meja belajar itu, Biru duduk di sisi ranjang. “Lusa lo ada kelas?”
“Nggak ada. Kenapa?” Leon berbalik tanya.
“Temenin gue ke sekolah Rasi.”
“Mau ngapain? Bukannya lo lagi menjauh dari dia?”
***
Bintang berjalan menelusuri seluk beluk area bukit perkebunan teh, diikuti oleh Rasi dan Kejora yang mengekori langkahnya dari belakang. Sampai saat mereka tiba di puncak bukit tersebut, seketika Bintang berhenti melangkah. Dengan kepala menengadah ke atas, menatap langit yang masih cerah dan merasakan semilir angin yang begitu sejuk menyapa permukaan kulitnya, cowok itu menutur, “Akhir-akhir ini tiap kali aku lagi ngerasain beban yang berat, aku selalu dateng ke sini. Aku suka suasananya yang menenangkan, dan udaranya yang masih bersih. Nggak tercemar polusi.”
Tiba-tiba Rasi mengernyitkan dahi. “Beban? Beban apa?” Menyadari kata demi kata tuturan Bintang, membuat mulut Rasi menimpali dengan sendirinya.
“Beban sekolah, yang tugasnya kebanyakan,” bohong Bintang, yang langsung dipercayai oleh Rasi.
Karena kalau soal pelajaran atau sekolah, Rasi masih bisa mewajari. Tapi kalau soal beban lain seperti masalah, Rasi tidak bisa langsung mempercayai Bintang. Pikir Rasi, cowok cengengesan macam sahabat kecilnya yang satu itu, rasanya mustahil jika memiliki beban yang begitu berat.
“Ck! Kamu, tuh, sekolah aja dianggap beban!” decak Rasi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Bintang tidak habis pikir.
Sementara Bintang hanya membalasnya dengan cengiran.
Namun ketika Rasi kembali menoleh ke depan, mendadak sorot mata dan raut wajah Bintang berubah total. Bibirnya yang semula tersungging senyum, seketika senyum itu memudar. Matanya yang semula menyorotkan ketengilan, seketika berubah menjadi binar kesenduan.
Kamu nggak tau, Ras. Kalau pun aku kasih tahu kamu juga percuma. Kamu nggak akan peduli.
Di pihak lain, Kejora yang menjadi satu-satunya orang yang menyadari hal tersebut tanpa bicara, saat itu juga mampu membaca segalanya melalui sorot mata Bintang yang jelas terlalu mendalam untuk menggambarkan bagaimana perasaannya yang sesungguhnya, terhadap gadis sedang yang dia tatap.
Di saat pandangan Bintang masih belum berpaling dari Rasi, tiba-tiba tanpa aba-aba Rasi menoleh ke arahnya. Membuat Bintang langsung refleks membelokkan bola matanya ke arah yang berlawanan.
“Kamu kenapa liatin aku begitu?”
“Eh? Nggak apa-apa,” tanggap Bintang dengan gelengan.
“Jangan bilang kamu suka, ya, sama aku? Hm?”
“Aku? Suka sama kamu? Ya, nggak mungkinlah! Kan kamu sendiri yang bilang kalau kita akan jadi sahabat selamanya. Gimana, sih.” Bintang menandas mantap.
“Tapi kan, kamu sendiri juga yang bilang kalau di dunia ini nggak ada satu pun hal yang bersifat selamanya. Iya, kan? Bisa jadi termasuk perasaan kamu ke aku yang menjadi salah satunya. Iya, kan?” ucap Rasi, membalikkan kalimat-kalimat Bintang.
Yang seketika sukses besar membuat Bintang kehabisan kosa kata untuk mengelak semuanya. “Pede banget, sih, kamu! Udah-udah, mending sekarang kamu tutup mata kamu, terus ikutin instruksi dari aku.”
“Instruksi apa?” Rasi bertanya, sebelum akhirnya kedua tangan Bintang memaksa mata Rasi sampai benar-benar terpejam.
“Udah ikutin aja.” Bintang mengujar.
Alih-alih merasa terabaikan, tanpa bilang terlebih dahulu pada Bintang ataupun Rasi, Kejora memutuskan untuk pergi menjauh dari keduanya. Sumpah demi kerang ajaib, Kejora sangat menyesal telah ikut bersama Bintang. Menyesal tidak mengelak permintaan Naina tadi. Siapa juga yang mau jadi obat nyamuk begini?