7

2192 Kata
“Ras, gue duluan, ya!” seru Aurel, satu di antara sekian banyak teman sekelas Rasi. “Iya, Rel. Kamu hati-hati di jalan.” Rasi melambaikan tangannya dengan senyuman pada Aurel. Sesaat setelah Aurel berlalu, perhatian Rasi kembali tertuju pada benda pipih berukuran 5 inch di tangannya. “Bintang ke mana, sih? Kok, nggak jemput-jemput aku, ih, sebel!” Rasi Aquilla: P Rasi Aquilla: P Rasi Aquilla: P Rasi Aquilla: P Rasi Aquilla: Bintang, kamu di mana? Rasi Aquilla: Aku udah mau kering, nih, nungguin kamu! Rasi Aquilla: Bintang Karena di dalam sudah mulai sepi, Rasi berdiri di samping gerbang sekolahnya yang masih terbuka lebar, menunggu kedatangan Bintang. Satu menit-dua menit telah terlewat. Sampai sekitar hampir tiga puluh menit berlalu lagi, Rasi putuskan untuk menelepon Bintang. Karena di-chat pun percuma. Chat Rasi sebelumnya saja tidak terbalas. Calling Bintang... Tuutt tuutt Sambil terus mencoba menghubungi Bintang, Rasi menengok ke kanan dan ke kiri. Karena memang lokasi sekolah Rasi yang terbilang strategis, dapat ditempuh melalui banyak jalan. Maka dari itu Bintang terkadang datang dari arah kanan, tapi tidak jarang juga cowok itu datang dari arah kiri. Maaf, nomor yang anda tuju― Belum habis sang operator berbicara, Rasi langsung mematikannya. Kemudian ia segera menghubungi Bintang kembali. Sampai panggilan yang ke sekian kalinya pun, Bintang masih belum mengangkat. Namun tidak lama berselang, sebuah mobil yang sangat Rasi kenali pemiliknya tiba-tiba melaju mendekat ke arahnya, lalu berhenti benar-benar di hadapannya. Seseorang yang menjadi pemilik sekaligus pengemudi mobil itu keluar. “Biru? Kamu ngapain ke sekolahku?” tanya Rasi terheran-heran. Rasi masih sungguh tidak menyangka akan keberadaan Biru di hadapannya saat itu. Tidak biasanya Biru tiba-tiba mendatangi Rasi sampai ke sekolah seperti ini, tanpa memberitahu Rasi lebih dahulu. Apalagi seingat Rasi, Rasi merasa dirinya tidak memiliki janji apa-apa dengan Biru. Jadi untuk apa Biru menjemputnya hari ini? *** Tiiiin Tiiinn Bintang menekan klakson si Cinta kuat-kuat. Bersahut-sahutan dengan klakson kendaraan lainnya. Bukan hanya Bintang, pengendara lain pun merasakan hal yang sama seperti yang Bintang rasakan. Tidak sabar. Mereka semua saling berlomba-lomba ingin mendapat jalan lebih dulu. Terjebak macet di saat matahari sore sedang terik-teriknya bukanlah hal yang mudah untuk dilewati. Sesaat Bintang menengok arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Ah, s**l! Rasi pasti udah nunggu gue daritadi,” umpat Bintang, ketika yang ia lihat waktu sudah berlalu hampir satu jam setelah bel pulang berdering. Tiiin Tiiinn Bintang kian gusar menekan klakson motornya. Selain karena kepanasa, Bintang juga tidak suka membuat Rasi menunggu. Karena Bintang tahu, seberapa sulitnya bertahan untuk menunggu akan sesuatu yang tak kunjung datang. Ngiuw Ngiuw Ngiuw Tak lama setelah suara sirine ambulans terdengar, barulah sedikit demi sedikit ruas jalan raya yang Bintang lalui itu mulai terbuka untuk kendaraan-kendaraan yang lewat. Ternyata yang menyebabkan kemacetan yang tidak biasa-biasanya sore itu adalah adanya kecelakaan tunggal yang dialami oleh sebuah mobil menabrak tiang listrik karena pengemudinya yang didapati menyetir dalam keadaan mabuk berat. Tidak menghiraukan kecelakaan tersebut, Bintang melaju kembali bersama Cinta, motor kesayangannya. Setelah melewati jalan yang menjadi area kecelakaan itu, Bintang segera berbelok memasuki area perumahan di mana sekolah Rasi berada, SMA Laguna. Meski belum benar-benar sampai di depan SMA Laguna, Bintang sudah bisa melihat Rasi dari kejauhan. Namun di saat yang bersamaan, tiba-tiba Bintang malah berhenti ketika ternyata Rasi tidak sendiri. Ia juga mendapati Biru di sana yang telah membukakan pintu mobil untuk Rasi. Bintang mengusap wajahnya disertai dengan helaan napas panjang. Menyesali apa yang terlihat di depan matanya sekarang. Bukan, Bintang bukan menyesali Rasi yang akhirnya memutuskan untuk meminta Biru menjemputnya. Bintang sama sekali tidak menyalahkan Rasi dalam hal ini. Bintang mengerti, mungkin Rasi seperti itu karena merasa terlalu lama menunggu dirinya. Wajar. Akan tetapi satu hal yang sangat Bintang sesali adalah, lagi-lagi untuk yang ke sekian kalinya ia melakukan kesalahan yang justru membuat Rasi menjadi lebih dekat dengan Biru. Kali ini Bintang akui, bahwa kebodohan berada pada dirinya. Kalau saja ia tidak melewati jalan tadi, mungkin ia tidak akan terlambat menjemput Rasi. *** Kejora menjatuhkan ujung dagunya, pasrah, di atas meja belajarnya. Mata Kejora memandang kosong sementara ingatannya menerawang kembali saat-saat di mana Bintang melemparkan tuduhan tanpa jeda padanya. Dan dengan bodohnya, karena tidak tahu ingin mengelak apa atas tuduhan Bintang itu, Kejora malah memilih kabur tak beralaskan. Tanpa memberi jawaban apa-apa. Kejora terbirit persis seperti anak kecil yang menghindari ibunya lantaran takut ketahuan berbohong. Membuat Bintang yang semula dilanda penasaran, mendadak rasa penasarannya hilang dan malah melihat Kejora dengan tatapan aneh, karena kelakuan gadis itu yang memanglah sangat aneh. Alhasil, berkat kebodohannya yang memalukan tadi, Kejora kini tidak tahu lagi harus menaruh mukanya di mana kalau sampai bertemu Bintang lagi di sekolah. “Ah, b**o, b**o, b**o!” sesal Kejora sembari menjedut-jedutkan keningnya pada permukaan meja. “Kejora!” Cklek Hingga tak lama suara pintu terbuka yang berbarengan dengan seruan Milka berhasil membuat Kejora berhenti menjedutkan kepalanya dan langsung menoleh ke sumber suara. “Ya, Tante?” Kejora beranjak dari kursinya, menghampiri Milka seraya mencium punggung tangan Milka. “Tante tumben jam segini udah di rumah?” “Iya, soalnya Tante mau ada dinas Luar Kota.” “Oh, gitu. Berapa lama, Tan?” “Tiga bulan. Makanya Tante mau bilang sama kamu, kalau selama tiga bulan Tante dinas, kamu akan Tante titipkan di rumah rekanan kerja Tante. Kamu nggak keberatan, kan? Soalnya Tante nggak berani kalau membiarkan kamu tinggal di sini sendirian tanpa ada Tante. Tante takut kalau-kalau ayahmu datang dan memaksa kamu untuk ikut dengannya,” jelas Milka. Melihat Kejora yang terdiam, nampak sedang menimbang-nimbang keputusan, Milka menambahkan lagi, “Kamu jangan khawatir, rekanan Tante itu orang baik, kok. Dia juga sahabat terdekat Tante di kantor.” Setelah berpikir sejenak, selang sekian detik Kejora mengangguk. “Iya, Tante. Nggak apa-apa. Tapi nanti Tante terus berkabar, ya, sama Kejora?” “Pasti dong!” Milka tersenyum tenang, seraya mengusap puncak kepala keponakan tersayangnya. “Oiya, kamu mulai beres-beres dari sekarang, ya. Kemasi barang-barang kamu. Karena jam 7 nanti kita langsung ke rumah rekanan tante itu.” Seketika Kejora melotot. “Lho, hari ini juga, Tan?!” keget Kejora. “Iyalah, Sayang. Besok Tante berangkat pagi soalnya. Kamu juga sekolah pagi, kan? Jadi biar nggak repot, Tante anter kamu malam ini aja. Oke?” “Iya, oke.” Kejora menyahut lesu. “Tante tinggal dulu, ya. Tante juga harus packing, nih, buat besok,” keluh Milka sebelum akhirnya ia kembali keluar dari kamar Kejora. *** Setelah memesan makanan di sebuah restoran cepat saji, sambil menunggu makanan itu datang tiba-tiba Rasi menyentuh kening Biru dengan punggung tangannya. Nampak sedang mengecek suhu tubuh cowok itu. “Nggak panas,” ucap Rasi. “Ya, emangnya siapa yang bilang gue sakit?” Biru bertanya bingung. “Emang nggak ada yang bilang, sih. Tapi sikap kamu yang nggak biasa-biasanya hari ini, yang bikin aku mikir kalau kamu itu lagi sakit.” Biru mengernyit, di saat yang sama ia menahan senyumnya. “Maksud lo gimana?” “Jemput aku di sekolah tanpa bilang dulu, ngajak jalan, nonton, terus makan. Kan nggak biasa-biasanya perlakuan kamu semanis itu ke aku.” “Emang biasanya gue kayak gimana?” tanya Biru seakan memancing Rasi untuk menjelaskan lebih tentang dirinya. Ingin tahu bagaimana pandangan gadis itu mengenai dirinya selama ini. “Biasanya kamu itu cuek. Jangankan jemput tanpa bilang dulu kayak tadi, aku minta jemput kalau Bintang lagi nggak bisa jemput aku aja kamu jarang banget mau. Pasti ada aja alesannya. Terus juga biasanya kamu itu kalau sama aku paling minta temenin buat menuhin memori kamera kamu aja. Ke taman, ke bukit, ke tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang. Makanya sekarang kamu ngajak jalan, nonton, dan makan kayak gini, aku pikir semua ini nggak akan pernah terjadi di antara kita. Apalagi aku tau banget kalau kamu itu anti sama tempat-tempat ramai semacam mal ini. Impossible.” Sesaat Biru tersenyum. Rasi memang begitu mudah dipancing untuk berbicara panjang. Tidak heran, hobi gadis itu memang bicara. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya. “Impossible is nothing. Nothing is impossible,” timpal Biru kemudian. “Lagian lo itu, ya, kalau gue cuek, salah. Gue manis, salah. Ternyata emang bener apa kata orang-orang, cowok itu selalu serba salah di mata ceweknya.” Dalam sedetik Rasi melotot, terkejut mendengarnya. “Apa? Kamu bilang apa?” “Nggak, gue nggak bilang apa-apa,” singkat Biru. “Serius. Kamu bilang serba salah di mata siapa tadi?” desak Rasi yang masih penasaran. Ingin memastikan kembali apa yang didengarnya barusan dari mulut Biru. “Gue cuma bilang serba salah di mata cewek.” “Nggak. Tadi kamu nggak bilang begitu!” Rasi menggeleng cepat. “Hayo ngaku, tadi kamu bilang apa?” “Iya, gue bilang begitu. Lo-nya aja kali yang budi. b***k dikit,” goda Biru, yang berusaha untuk memasang raut serius. “Ih, Biru! Aku siram, nih!” “Eh, jangan-jangan!” tahan Biru sambil tertawa memegangi tangan Rasi yang sudah memegang gelas minuman, seakan bersiap untuk menyiramnya. Untuk pertama kalinya, Rasi akhirnya bisa melihat Biru tertawa. Benar-benar tertawa bersamanya. *** Mesin mobil Milka berhenti berdesing, bersamaan dengan empat roda yang berhenti berputar. “Sudah sampai. Ayo, turun.” Usai melepas sabuk pengamannya, Milka turun dari mobil, disusul oleh Kejora. “Ini rumah rekanan Tante?” tanya Kejora seraya mengeluarkan koper besarnya. “Iya, ini rumah―” “Milkaaa!” Pekikan heboh seseorang yang memotong pembicaraannya, seketika membuat Milka merasa terpanggil dan menoleh. “Malam sekali kamu. Aku tunggu-tunggu dari tadi,” ujar seseorang itu lagi, yang Kejora pastikan dia pasti rekanan kerja terdekat yang dimaksud tantenya, di kantor. Sembari membukakan gerbang untuk dua tamunya, Milka dan Kejora. “Iya, tadi ada kendala gitu. Aku lupa naruh kunci mobil,” tanggap Milka. Wanita itu memutar bola matanya. “Kebiasaan kamu, tuh. Nggak di kantor, nggak di rumah, kerjaannya nyari kunci mobil melulu. Mari masuk,” ajaknya kemudian. Setelah gerbang rumahnya terbuka. “Ini keponakan kamu?” Ketiganya berjalan bersama memasuki rumah rekanan kerja Milka yang belum Kejora ketahui namanya itu. “Iya, ini Kejora. Keponakanku yang mau aku titipkan di rumah kamu untuk sementara waktu.” Bibir Kejora menipis, mengangkat senyum. “Kejora, Tante,” tutur Kejora memperkenalkan diri, seraya mencium punggung tangan rekanan kerja tantenya. “Cantik,” puji wanita itu pada Kejora. Sambil menyelipkan rambutnya ke balik telinga, Kejora mengangkat senyumnya lagi. “Makasih, Tante.” “Kenalin Kejora, ini Tante Naina, satu-satunya orang yang selalu ngebantuin Tante, tiap kali Tante lupa naruh kunci mobil Tante di mana,” gurau Milka, yang membuat rekanan kerjanya yang bernama Naina itu ikut tertawa. “Kalian duduk dulu, ya. Milka, kamu santai dulu aja. Aku mau ambilkan minum untuk kamu dan keponakan kamu.” “Nai, nggak usah repot-repot. Aku cuma anter Kejora aja.” “Udah, diam. Aku tahu kamu pasti haus, kan,” ujar Naina, yang setelahnya ia langsung bergegas ke dapur sebelum Milka menahannya lagi. “Gimana, Kejora? Bener kan apa kata Tante? Rekanan kerja Tante itu baik.” “Iya, Tante. Baik banget!” seru Kejora, senang. Karena tidak tahunya, yang ada dalam bayangannya sejak tadi mengenai rekanan kerja tantenya itu sungguhlah salah. “Tante tahu, pasti kamu tadi mikirnya yang macem-macem, ya? Kamu pasti mikir Tante Naina itu galak. Bakal menjadikan kamu sebagai pesuruh selama kamu tinggal di rumahnya? Iya, kan?” “Ehehehe,” Kejora memaparkan cengiran yang membenarkan pernyataan Milka barusan. “Naina itu baiknya minta ampun. Saking baiknya, di kantor banyak banget yang suka sama dia walau statusnya sudah menjanda punya anak satu.” “Dia cerai sama suaminya, Tan?” Kebiasaan Kejora jika sudah bertukar obrolan dengan tantenya, pasti ujung-ujungnya bergosip. “Bukan cerai, tapi suaminya meninggal,” desis Milka. Sesaat matanya berkeliling. “Nah, itu foto suaminya, tuh.” Kejora mengikuti ke mana telunjuk tantenya mengarah. Di sana ia melihat salah satu figura yang memajang potret seorang pria paruh baya berpenampilan rapi mengenakan jas hitam, sedang duduk tersenyum menghadap kamera, yang di sebelahnya terdapat sebuah piano besar berwarna sama seperti jasnya. “Nah, kalau yang di sebelahnya itu foto anaknya.” Mata Kejora bergeser sedikit mengikuti arah jari telunjuk tantenya lagi. Namun tiba-tiba mulut dan sepasang mata Kejora terbuka lebar saat ia mempertegas wajah seseorang yang terpajang pada figura itu. “Beneran itu anaknya, Tan?!” tanya Kejora terkejut, tidak percaya. “Iya, itu anaknya Naina.” “Maaf, ya, udah nunggu lama.” Seruakan Naina yang sudah kembali lagi membawa sebuah nampan dengan dua gelas es jeruk di atasnya seketika menjadi sebuah kebetulan di waktu yang tepat bagi Milka. “Kalau nggak percaya kamu tanya aja sama Tante Nainanya langsung,” ujar Milka seraya meminum apa yang disuguhkan Naina untuknya. “Ada apa, nih? Kejora mau tanya apa?” Naina langsung menyambung, ikut nimbrung. “Gini, lho, Nai, si Kejora ini daritadi nggak percaya kalau yang di foto itu anak kamu.” “Ooh,” Naina membulatkan mulutnya. “Kenapa? Kamu mau kenal sama anak Tante?” “Eh?” Mampus! “Nggak Tante, nggak usah. Nanti aja kenalannya,” tolak Kejora, cepat-cepat. Naina tersenyum. “Udah nggak apa-apa sekarang aja. Lebih cepat, lebih baik. Lagian kayaknya kamu sepantaran, deh, sama anak Tante. Sebentar, ya, Tante panggilkan dia dulu. Bintaaang!” Mati gue mati! rutuk Kejora yang rasanya ingin menenggelamkan diri saja di lautan luas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN