6

1508 Kata
                                              06  “Ru, libur semester ini anak-anak seangkatan di jurusan kita ngajakin ke Bali. Lo mau join nggak?” “Nggak,” sahut Biru, sambil memasukkan kameranya ke dalam tempat, pada Leon. Leonardo Morallez, seseorang yang merupakan teman sekelasnya, yang mengajaknya bicara saat ini. Jangan heran, Biru memang selalu bersikap tak acuh pada siapapun. Ketus, tidak pernah mau membuang-buang suaranya untuk mengucapkan hal-hal yang berbau tidak penting. Ketika Bintang beranggapan Biru terlalu ketus pada Rasi, justru yang terjadi sebaliknya. Sikap Biru pada orang-orang selain Rasi dapat dibilang jauh lebih ketus dibanding sikapnya pada Rasi. Hanya pada Rasi, Biru mau menceritakan hasil potret di kameranya walau hanya sesekali. Hanya pada Rasi, Biru mau menjelaskan kenapa ia lebih suka memotret pemandangan daripada objek makhluk hidup. Seperti saat ini, Biru bahkan enggan membuka mulutnya lebih lebar untuk sekedar pamit beranjak duluan pada Leon. Biru melengos begitu saja keluar kelas melewati Leon, dengan membawa tas dan tas kameranya. Sampai-sampai Biru tidak menyadari, bahwa ada selembar kertas kecil benda miliknya yang terjatuh dari dalam tasnya. Leon yang tidak sengaja melihat, segera mengambilnya. “Eh, Ru, ada yang jatoh, nih!” seru Leon, namun sayang Biru sudah keburu menghilang dari balik pintu kelas. Leon mengejar. “Woi, Ru!” Mendengar itu, Biru berbalik. Tak lama Leon mendekat dengan napas terengah, lalu memberikan selembar foto yang mencetak potret seorang gadis yang jelas sangat ia ketahui tentangnya. Sebagai sepupu Biru, tentu saja Leon tahu segalanya tentang Biru meski Biru tidak pernah mau bercerita padanya. Leon tahu tentang Rasi. Hubungan Biru dengan Rasi. Bahkan Leon tahu bagaimana perasaan Biru sesungguhnya pada Rasi. Satu lagi, Leon juga tahu apa yang membuat Biru seringkali tega menyakiti Rasi. “Sejak kapan lo suka foto orang? Bukannya lo sukanya cuma motret pemandangan aja?” sindir Leon, bercanda. Tanpa ada niat untuk menanggapi, Biru langsung merampas foto Rasi yang sengaja ia cetak sudah lama sekali, dari tangan Leon. “Ru, kenapa, sih, lo nggak pernah mau jujur aja sama Rasi soal kondisi lo? Biar dia ngerti dan nggak salah paham lagi sama lo. Dan dengan begitu lo juga bisa kasih kejelasan soal hubungan lo sama dia, kan?” “Lo ngomong apa, sih!” tandas Biru cuek. Kemudian kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda sebelumnya. Leon mengiringi langkah abang sepupunya. “Ru, gue kasih tahu, ya, sama lo. Perempuan itu nggak suka digantung. Nggak suka sama hubungan yang nggak ada kejelasannya. Sekai-dua kali mungkin dia bisa maafin lo. Tiga kali, atau berkali-kali mungkin. Tapi ada satu hal yang mesti lo inget, Ru. Lo nggak akan pernah tahu, pada kali ke berapa lo nyakitin dia, dan dia memutuskan buat pergi ninggalin lo tanpa pernah ingin kembali.” Leon tahu Biru pasti akan bersikap tak acuh, Leon juga tidak bermaksud untuk mencampuri urusan Biru. Tapi Leon tidak peduli. Leon merasa niatnya baik. Leon hanya berusaha mencoba mengingatkan hal-hal pahit yang kemungkinan akan terjadi pada Biru, agar Biru dapat menghindari itu semua sebelum semuanya terlambat. “Oke, lo mungkin boleh besar kepala, karena punya kata maaf yang cukup banyak buat dia tiap kali lo melakukan kesalahan sama dia. Tapi kesempatan lo buat dimaafin sama dia belum tentu sebanyak atau lebih banyak dari kata maaf yang lo punya, Ru,” tutur Leon. “Intinya, kalau lo nggak mau kehilangan Rasi, seenggaknya lo kasih kejelasan tentang hubungan lo ke dia.” Saat Biru bergeming, kalimat-kalimat Leon tanpa izin memasuki kepala Biru, dan berputar-putar dalam pikirannya. *** Bintang menyelesaikan permainan pianonya dalam memainkan lagu kesukaannya dengan sangat lembut sehingga terdengar begitu memanjakan telinga. Sejenak Bintang menarik napas berat lalu membuangnya secara perlahan. Bermain piano adalah satu-satunya cara termudah yang paling ampuh bagi Bintang untuk meluapkan segala perasaannya. Segala keluh kesahnya. Terutama perasaannya pada Rasi selama ini. Yang sudah lama terpendam dalam jauh di lubuk hati Bintang. Perasaan yang tidak bisa Bintang ungkapkan pada Rasi secara langsung. Perasaan yang selalu menyiksa d**a dan pikiran Bintang setiap malam, sebelum ia tertidur. Bintang tidak tahu sampai kapan ia harus menyimpan perasaannya pada Rasi. Bintang tidak tahu apa memang adanya cinta yang terjalin di antara dua orang yang sudah bersahabat sejak kecil seperti Rasi dan dirinya adalah sebuah kemustahilan? Bintang sungguh tidak tahu. Tapi yang Bintang tahu, kenyataannya Rasi memang tidak pernah memiliki perasaan apa-apa pada dirinya yang bersifat lebih dari sekedar sahabat. Sejak dulu Rasi hanya mencintai Biru. Perasaan Rasi hanya untuk Biru, bukan untuk dirinya. Rasi bahkan rela tersakiti berulang-kali, lagi dan lagi, tanpa ada kata maaf yang terucap oleh Biru. Jika sudah seperti itu adanya, seharusnya sudah jelas, bukan? Kalau dirinya jauh lebih baik untuk Rasi daripada Biru? Tapi kenapa Rasi masih tetap lebih memilih Biru untuk menjadi seseorang yang dicintainya? The Days That’ll Never Come. Salah satu lagu yang paling Bintang sukai. Yang menjadi satu-satunya lagu yang selalu Bintang mainkan ketika dirinya sedang memiliki momen berdua dengan Rasi. Alasannya sederhana. Sesederhana ribuan hari yang telah Bintang lewati bersama Rasi, namun tidak ada satu hari pun yang mengizinkannya untuk memiliki Rasi seutuhnya. Ya Bintang mengerti, sampai kapan pun juga hari itu memang tidak akan pernah datang dalam hidupnya. Ia tidak akan pernah bisa memiliki kesempatan untuk memiliki Rasi seutuhnya. Brak! “Woi, kurang asem lo! Balikin nggak sepatu gue!” Seruan seseorang yang terdengar nyaring dari luar seketika mampu memancing Bintang untuk memalingkan bola matanya. Yang membuatnya tiba-tiba melihat seorang perempuan yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu. Bintang tahu, pasti bukan gadis itu yang barusan ia dengar teriakannya. Karena jelas ia dengar, yang berteriak adalah suara ngebass laki-laki. Bukan suara cempreng yang menjadi ciri khas suara perempuan. “s**l! Siapa, sih, tuh, yang teriak, Nom?” Bukan cuma Bintang, Kejora pun bereaksi sama seperti Bintang. Sambil bertanya kepala Kejora refleks berputar ke belakang. Tapi saat menoleh, keberadaan Naomi yang tidak berhasil Kejora dapati membuat perhatian Kejora teralihkan jadi pada Naomi. “Naomi?” Kejora menengok ke sana ke mari berusaha mencari sosok Naomi, namun ia tidak berhasil menemukannya. Terakhir yang ia tahu sebelumnya, Naomi berdiri tepat di sampingnya. Bagaimana sekarang bisa tiba-tiba menghilang? “Lo ngapain berdiri di situ?” Ujaran seseorang yang Kejora kenali betul suaranya seketika membuat Kejora terhenyak di pijakannya. Perlahan tubuh Kejora berbalik menghadap lawan bicaranya. Namun detik itu juga, Kejora sungguh amat sangat terkejut ketika melihat Bintang yang tahu-tahu sudah berdiri di belakangnya dengan jarak yang begitu dekat. Apalagi ketika sepasang bola matanya benar-benar bertemu dan saling terpaku melempar tatap satu sama lain dengan Bintang. “Eh? Gu―gue?” tanya Kejora, gelagapan, menunjuk dirinya sendiri. Di saat Kejora sedang kebingungan, berusaha keras memutar otaknya agar segera menghasilkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Bintang, secara tidak sadar Bintang malah memerhatikan wajah gadis itu yang entah kenapa tiba-tiba ia merasa wajah gadis itu terlalu familiar di matanya. “Tunggu, kayaknya gue pernah liat lo.” Demi mempertegas penglihatannya dalam mengenali wajah Kejora, lagi-lagi secara tidak sadar, Bintang mendekatkan wajahnya dengan wajah Kejora. Bintang tidak tahu, kalau diam-diam Kejora sudah keringat dingin berupaya menahan debar dadanya, sekaligus menyelamatkan jantungnya agar tidak sampai loncat keluar dari kurungan rusuknya. “Lo mau apa?” tanya Kejora was-was. Menduga kalau Bintang ingin menciumnya. Bintang tidak menanggapi. Matanya yang serius memerhatikan wajah Kejora dari dekat benar-benar murni karena dirinya sedang mencoba mengingat-ingat di mana ia pernah melihat gadis aneh dengan poni yang menghiasi keningnya itu. Melihat gadis yang berwajah familiar itu tiba-tiba pergi, sambil mengelap keringat, Bintang mencoba-mengingat-ingat. Apakah ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya? Keheningan menyesap di kepala Bintang. Hingga akhirnya ia putuskan untuk menyerah. Ah, entahlah. Bintang lupa. Dengan tak acuh, Bintang tidak mau ambil pusing. Lebih baik ia sekarang segera ganti baju agar tidak telat menjemput Rasi. Di lapangan, ketika dirinya sedang berlatih futsal. Ya, Bintang ingat betul ketika gadis itu pergi dengan tergesa-gesa ketika ia tidak sengaja mendengar seseorang menyerukan namanya. Bahkan Bintang juga baru ingat, kalau sebelum di lapangan ia juga pernah melihat gadis itu di depan ruang serba guna. Bintang ingat jelas ketika tatapan gadis itu benar-benar menyorot ke arahnya pada saat malam pensi waktu lalu setelah ia tampil. Di saat Kejora sedang berbicara dengan Naomi, tiba-tiba Kejora menangkap sosok seorang gadis yang ia lihat di dalam bersama dengan Bintang melewatinya. Selang sekian detik, Bintang juga keluar dari ruangan itu. Langkah Bintang sempat terhenti lantaran heran, ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan sepasang mata Kejora, seseorang yang asing bagi Bintang, memerhatikannya begitu lekat. Sampai-sampai Bintang tidak mampu mengerti apa maksud tatapan itu. Setelah Bintang berlalu, dan memastikan bahwa sudah tidak ada siapa-siapa lagi di dalam ruangan itu, Kejora buru-buru mengambil langkah masuk ke dalamnya. “Oh, gue inget sekarang! Lo yang ngeliatin gue di depan ruang serba guna pas pensi waktu itu, kan?” tanya Bintang dengan jari telunjuk yang menunjuk lurus ke arah Kejora dan sorotan mata yang penuh selidik. “Ngeliatin lo? Waktu pensi?” Saking paniknya lantaran tidak bisa menjawab, Kejora malah balik bertanya. “Atau jangan-jangan, lo yang nulis di sticky notes malam itu buat gue? Lo yang teriak nyemangatin gue waktu gue latihan futsal minggu lalu? Lo juga yang naruh air minum sekaligus sticky note lagi di dalem loker gue?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN