27“Biru...” Belum habis Leon bicara, Rasi memotong dengan tarikan napas kasar. Memalingkan pandangannya sekilas. “Kalau soal dia aku udah nggak mau denger lagi!” tandasnya. “Tapi, Ras, lo harus tau hal ini.” “Aku udah nggak mau tau apa-apa soal dia.” Rasi berdiri, namun Leon segera menahannya. “Biru butuh lo.” “Terus?” “Biru butuh lo untuk ada di sisinya.” Rasi tersenyum miring. “Aku nggak peduli.” Dengan kasar, Rasi menghempas tangan Leon. Lalu mengambil langkah pergi meninggalkannya. Rasi tahu yang dilakukannya saat ini memang jahat, akan tetapi tetaplah Biru lebih jahat. “Gue mohon jangan tinggalin Biru walaupun dia minta lo pergi dari hidupnya,” ujar Leon yang secepat mungkin menyusul langkah Rasi, membuat Rasi seketika terhenti tepat beberapa pijakan di depan pintu kafe. Ga

