17Setelah beberapa menit Biru menunggu, tak lama sebuah voice note terkirim dari Rasi.
“Hati ini... bukan tuk sementara.... Bukan tuk selingan hatimu... bukan begitu seharusnya....”
“Cinta ini... bukan tentang dirimu saja.... Bukan datang dan pergi... sesuka hati....”
Biru tahu maksud di balik Rasi menyanyikan lagu itu. Biru tahu lagu itu ditujukan untuknya. Karena Biru juga tahu kalau selama ini Rasi terluka karena dirinya. Biru pun sadar akan perlakuannya yang selama ini mengecewakan Rasi. Yang telah menyia-nyiakan Rasi, bahkan menyakiti gadis itu.
Tapi Biru berani bersumpah demi apapun, sejujurnya bukan itu yang ia inginkan. Biru melakukan semua itu karena ia tidak ingin Rasi merasakan yang lebih menyakitkan dari ini nanti, ketika gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Biru tidak ingin Rasi menaruh perasaan padanya terlalu dalam, di saat dirinya bahkan tidak bisa berada di sisi gadis itu lebih lama lagi.
Biru merasa takdir memang jahat padanya. Sampai-sampai saat ini, Biru sendiri pun tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ketika dirinya sedang benar-benar merindukan Rasi. Biru ingin sekali melihat tawa gadis itu, mendengar suaranya. Sehingga yang Biru bisa lakukan hanyalah memandangi foto-foto Rasi di ponselnya, dan memutar voice note gadis itu berulang-ulang.
Walaupun sejujurnya itu saja tidak cukup untuk mengobati rasa rindunya.
***
“Berapa kali lemparan?” tanya Kejora.
“Tiga.”
“Gue dulu atau lo dulu?”
“Sori, karena gue penganut ladies first, jadi gue belakangan aja.”
“Oke.” Kejora mengambil tiga buah batu yang terdekat di sekelilingnya. “Satu, dua...” Pada hitungan ketiga Kejora langsung melempar sejauh mungkin salah satu kerikil di tangannya.
Batu kerikil itu melambung cukup jauh, menciptakan riak, sebelum akhirnya tenggelam di tengah danau.
“Ahahahaha!” Tiba-tiba gelak tawa Bintang pecah. “Segitu doang lemparan lo?”
“Coba gue mau tau, sejauh mana lemparan lo?” kesal Kejora.
Setelah memilih tiga batu paling ringan di antara batu-batu kerikil yang lain, Bintang mengumpulkan semuanya di dalam lengkungan salah satu telapak tangannya.
“Nih, liat. Perhatiin. Amati baik-baik.” Bintang mulai mengeker satu batu kecil pilihannya. Entah apa yang dikeker, tetapi tak lama lemparan Bintang berhasil membuat kerikil kecil itu melambung begitu jauh, lalu tenggelam pada jarak yang bahkan dua kali lebih jauh dari hasil jangkauan Kejora sebelumnya, setelah sempat memantul tiga kali di atas permukaan air.
Bintang tersenyum miring. “Sebenernya itu belum seberapa. Gue bisa berkali-kali lipat lebih jauh dari ini.”
Kejora berdecih sambil melirik Bintang yang begitu bangga dengan keangkuhannya. Kejora akui, ia pun heran bisa-bisanya suka pada orang sejenis Bintang.
Pada lemparan kedua dan ketiga, baik Bintang maupun Kejora hasilnya hampir sama persis dengan hasil lemparan mereka yang pertama. Sehingga suka tidak suka, Kejora harus mengakui kekalahannya, dan mau tidak mau ia juga harus menuruti ingin Bintang sesuai dengan yang sudah mereka sepakati sebelum bermain.
Kalau soal lempar melempar kerikil seperti ini kemampuan Bintang sudah tidak perlu diragukan lagi tingkatannya. Bahkan jika hal seperti ini dapat dilombakan, sudah pasti Bintang akan selalu menjadi juara bertahan karena tidak ada yang bisa mengalahkannya. Maka dari itu ia berani mengajak Kejora untuk bertaruh dengan cara ini, karena ia yakin kalau dirinya pasti akan menang. Apalagi lawannya sekelas Kejora. Makin percaya diri saja Bintang dari awal permainan dimulai.
“Ayo, cepet!” Bintang bangkit duluan. Kemudian disusul dengan Kejora yang memaksakan seluruh persendiannya dengan malas-malasan.
“Iya, iya,” balas Kejora, cemberut.
Bintang juga berjalan duluan. Sedangkan Kejora cukup jauh beberapa langkah di belakangnya. Hal itu membuat Bintang mengoceh lagi, “Lo bisa buruan nggak, sih, jalannya? Kasian Rasi nunggu sendiri di mobil!”
“Sabar, Kek! Ini, tuh, tanah basah. Kalau nggak pelan-pelan bisa kepleset, jatoh, bahaya,” sentak Kejora, berbalik marah. “Rasi lagi-Rasi lagi! Rasi melulu, gue kapan dipeduliinnya―Ehh!” Terus-terusan menggerutu sampai luput memerhatikan langkah, menyebabkan apa yang diucapkannya justru kejadian pada dirinya sendiri.
Kejora tiba-tiba saja terperosok ke dalam jurang, walau syukurnya jurang tersebut tidak curam. Membuat Bintang kontan saja menoleh, dan segera berjalan berbalik arah sambil berdecak.
“Bintang tolongin,” Kejora merengek sambil mengulurkan salah satu tangannya, sementara satunya yang lain berupaya berpegangan pada batu guna menahan diri.
Bintang meraih tangan Kejora yang terulur, membantu gadis itu untuk naik kembali. Sebetulnya mau Kejora merengek atau pun tidak, Bintang akan tetap membantu. Tidak mungkin tidak. Karena membiarkan gadis menyusahkan itu dalam keadaan susah, akan membuat dirinya semakin susah, bahkan nelangsa. Dibuat menderita oleh mamanya sendiri.
“Lo itu kayaknya emang diutus buat bikin hidup gue susah, deh.”
Bintang marah-marah, akan tetapi untuk kali ini Kejora tidak emosi karena itu. Kejora malah nyengir sembari membersihkan dirinya dari hinggapan tanah. “Makasih, ya, Tang!” serunya.
“Tang, Tang, nama gue Bintang. Bukan Tatang!” Bintang mengomel. Menoyor kening Kejora dengan ujung jari telunjuknya, yang kemudian kembali berjalan duluan.
***
Drt drt drt
Biru incoming call...
Sepasang mata Rasi membulat saat melihat sederet tulisan yang tertera pada ponselnya yang sedang bergetar. Tanpa diperintah, tangannya segera bergerak mengangkat.
“Halo, Biru?”
“...” Tidak ada suara.
Rasi mengecek layar ponselnya apakah sambungan telepon itu masih terhubung, dan ternyata masih. Mengetahui itu, ia tempelkan kembali ponselnya pada daun telinganya.
“Halo?” ulang Rasi.
“...” Tetap hening. Sungguh benar-benar tidak ada suara sama sekali yang terdengar dari seberang sana.
Untuk memastikan, Rasi melihat lagi layar ponselnya yang menyala, yang nyatanya masih menunjukkan detik sambungan yang terus berlanjut. Apakah kesalahan terletak pada ponselnya?
Tanpa bosan Rasi kembali menempelkan ponselnya pada daun telinganya. “Halo, Biru? Kamu bisa denger suaraku?”
“Halo?”
“Halo?”
Rasi terus mengucap halo. Melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Sementara seseorang yang menghubunginya justru hanya diam membungkam suara, membiarkannya berbicara sendiri, tanpa tahu apa yang sebetulnya terjadi.
Biru sengaja mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Tidak menyahut sepatah kata pun meski sesungguhnya suara Rasi dapat ia dengar dengan jelas. Sangat jelas. Karena sejujurnya Biru hanya merindukan suara Rasi, akan tetapi ia merasa tidak ada hal lain yang bisa dirinya lakukan selain ini.
Selain menghubungi Rasi dengan cara seperti ini. Karena Biru juga tidak ingin jika dirinya bersuara nanti, gadis itu malah akan semakin sulit untuk melupakan dirinya.
“Halo, Biru? Kamu di sana?”
“Biru jawab aku kalau kamu bisa denger suaraku, Biru!”
“Biru kamu ke mana aja? Aku kangen sama kamu.”
Dengan kesesakan yang tertahan, Biru harus terpaksa memutuskan sambungan teleponnya, sekaligus langsung mematikan ponselnya supaya Rasi tidak bisa menghubunginya balik saat ini. d**a Biru memang terasa sesak. Tetapi tetap saja Biru tidak bisa menangis. Air matanya tidak bisa keluar, pasal dirinya yang lagi-lagi menekankan kalau semua ia lakukan demi kebaikan gadis itu sendiri.
Sama seperti Biru, Rasi pun merasakan kesesakan yang serupa. Gadis itu menggenggam kuat ponselnya, penuh emosi yang tidak terungkapkan dengan kata-kata.
Entah ini sudah kali yang ke berapa Biru kembali tidak ada kabar. Dan untuk pertama kalinya Rasi lelah akan hal tersebut. Ternyata Biru tidak pernah berubah. Masih menjadi sosok Biru yang seperti dulu. Datang dan pergi membawa harapan, tapi tanpa pernah mewujudkannya. Menghilang begitu saja, seperti terbawa hempasan angin di tanah yang gersang.
Ke mana Biru akan beralasan kali ini?
***