18
Selagi berjalan menuju tempat di mana mobil Bintang terparkir, Kejora menyejajarkan langkahnya dengan langkah Bintang, kemudian bertanya, “Tang, lo kan suka main piano, ya?”
“Terus?” Bintang berbalik tanya dengan sebelah alis terangkat.
“Lagu favorite lo apa?”
Sesaat Bintang terdiam. Mengingat lagu favorite-nya sama saja seperti mengingat sesuatu yang tidak akan pernah mungkin terjadi, meskipun itu adalah harapan terbesarnya. “The Days That Will Never Come.”
“Oh, pantes aja gue perhatiin lo sering banget mainin lagu itu di ruang musik.”
“Lo sering merhatiin gue?”
“Eh, nggak!” ralat Kejora, cepat. “Maksudnya, gue sering banget liat lo mainin lagu itu tiap kali gue lewatin ruang musik.”
“Ruang musik kan kedap suara?” Bintang menembak, enteng. Tanpa sadar ia malah membuat lawan bicaranya gelagapan sendiri.
Kejora menggaruk kepalanya bingung mesti jawab apa, di saat kenyataannya bisa dibilang ia memang sempat beberapa kali menguntit Bintang di ruang musik. “Iya, emang kedap suara. Tapi, tetep kedengeran kok samar-samar,” alibinya yang sejauh ini masih bisa diterima oleh Bintang.
“Gitu? Oh....” Bintang memanggut-manggutkan kepala. “Lo sendiri? Kayaknya tertarik banget sama piano? Ada lagu favorite?”
“Kalau lagu favorite gue Spring Time.”
“Oh, tahu-tahu!” respon Bintang agak antusias. “Bisa maininnya?”
“Gue nggak bisa main piano, ehehe,” kekeh Kejora. “Tapi walau begitu gue tetep interested banget sama alat musik yang satu itu. Gue suka sama semua bunyi yang dihasilkan oleh setiap tuts-nya. Yang kalau dipadu-padankan itu melodinya bisa kayak sihir yang mampu menghipnotis orang-orang dengan ketenangan yang tercipta.”
Mendengar gaya bicara dan penggunaan kata yang keluar dari mulut Kejora barusan jelas saja membuat Bintang tiba-tiba menahan tawa. “Omongan lo langsung beda, ya, kalau udah bahas ginian. Emangnya apa yang bikin lo tertarik sama piano pertama kali?”
“Pertanyaan lo salah. Bukan apa, tapi siapa.”
Seketika dahi Bintang mengernyit akan pembetulan Kejora.
“Yang bikin gue tertarik sama piano pertama kali itu ibu gue. Nggak tau apa alasannya, yang pasti beliau selalu bisa buat gue tenang dengan permainan pianonya.”
Ah, iya, Bintang baru ingat, kalau hubungan Milka dan Kejora bukanlah ibu dan anak. Melainkan tante dan ponakan.
“Nyokap lo bisa main piano, terus kenapa lo nggak bisa? Kenapa juga lo nggak minta ajarin sama beliau? Karena menurut gue seharusnya, kalau lo suka sama suatu alat musik, apapun itu, lo pasti bisa maininnya.” Sikap Bintang yang banyak bertanya, pertanda bahwa secara tidak sadar dirinya mulai tertarik ingin tahu lebih mengenai Kejora. Ya, secara tidak sadar.
Sesaat Kejora menarik napas cukup dalam, dan menghelanya panjang. “Nggak sesederhana itu kejadiannya,” sungutnya pelan disertai gelengan kecil. “Mungkin kalau dulu ayah gue nggak pernah ngelarang ibu gue buat main piano dan ngelarang gue buat belajar piano, sekarang gue udah bisa mainin alat musik itu.”
“Alasan bokap lo ngelarang?”
Kejora tidak menjawab. Gadis itu menelan kembali suaranya, karena menurutnya percuma. Kalau diberitahu pun Bintang tidak akan mengerti masalah keluarganya, yang bahkan sampai detik ini ia sendiri pun tidak tahu bagaimana ujungnya.
Daripada menjawab, tiba-tiba Kejora malah tertawa getir memalingkan pandangannya. Membuat Bintang kembali dibingungkan. Yang kemudian gadis itu malah bercerita dalam upaya untuk mengalihkan topik. “Lucu, deh. Dulu itu, ya, tiap kali ibu gue liat gue nangis, sedih, atau tahu kalau suasana hati gue lagi buruk, nggak kayak ibu-ibu lainnya, ibu gue pasti selalu punya cara yang beda buat menenangkan anaknya. Nggak pakai ngomong apa-apa lagi, ibu gue langsung aja buka piano dan mainin lagu Spring Time. Selesai. Karena emang nggak ada lagi selain ibu gue, yang tahu betul kalau cuma instrumental lagu itu satu-satunya cara yang bisa buat gue tenang.”
Kejora bercerita. Sehingga saking asyiknya mereka mengobrol, tidak terasa mobil Bintang sudah berada di depan mata mereka.
“Berarti sekarang gue orang kedua yang tahu ini, setelah nyokap lo?” tanya Bintang, sebelum ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya.
“Eh?” Seketika Kejora salah tingkah sendiri di kursi belakang.
“Kan lo bilang tadi cuma nyokap lo satu-satunya yang tau. Terus sekarang gue juga tau. Berarti gue orang yang kedua, iya kan?” terang Bintang kembali, sembari memasang sabuk pengamannya.
Kejora bengong. Tapi tiba-tiba ia menggeleng cepat, memungkiri segala yang ada di kepalanya. “Ah, tau, ah. Udah, buruan jalan!”
Melihat reaksi Kejora melalui kaca spion depan, entah hal itu malah membuat Bintang tertawa. Setelah itu barulah mobilnya melaju, bersamaan dengan kakinya yang menginjak pedal gas.
Namun selang sekian detik tawa Bintang memudar. Ketika tanpa sengaja matanya melirik dan mendapati sepasang mata Rasi yang memerah menghadap kaca mobil, melalui kaca spion yang sama.
Sampai tiba-tiba Bintang menghentikan mobilnya.
“Kenapa berhenti?” sambar Kejora, meskipun diabaikan oleh Bintang. Karena yang Kejora lihat, Bintang malah diam memerhatikan Rasi yang juga diam, tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Rasi diam dengan tatapan kosong. Memandangi objek apapun yang terlihat di balik jendela mobil sana, dengan kepala bersandar.
“Ras?” panggil Bintang.
“Hm?” Rasi menoleh.
“Pasang seat belt kamu.”
Menyadari apa yang barusan disadarkan Bintang, Rasi segera memasangnya. “Maaf, ya, aku lupa.”
Lagi-lagi Bintang harus merasa gagal menghibur Rasi. Rasanya mau sekeras apapun ia berusaha, dirinya tidak akan bisa menghilangkan kesedihan Rasi, semudah Biru melakukannya.
“Habis ini kita mau ke mana?” Mengalihkan pikirannya, Rasi memilih untuk membangun obrolan dengan Bintang dan Kejora. “Main timezone, yuk?” ajaknya, kemudian.
“Gue nggak ikut, ya, soalnya PR gue banyak,” tolak Kejora. Bukannya alasan, tetapi memang benar ia sedang memiliki banyak PR yang ia yakini harus diselesaikan hari ini juga. Tadi saja sebetulnya Kejora mau menolak untuk ikut. Tetapi di sisi lain ia lebih tidak bisa menolak suruhan Naina. “Hm... atau gini, kalian pergi aja berdua. Nah, gue nggak apa-apa turun di sini, biar nanti naik taksi atau ojek online.”
“Eh, jangan! Kamu jangan turun di sini, Kejora.” Dengan cepat Rasi melarang.
“Biarin aja, sih, Ras. Kalau dilarang-larang dia mah malah jadi besar kepala itu,” sela Bintang, menimpali. Yang setelahnya langsung saling mendelik sinis dengan Kejora melalui pantulan kaca spion depannya. “Kita jalan berdua aja juga nggak masalah.”
“Tapi bosen juga, sih, main timezone mulu. Gimana kalau kita belajar bareng aja?” putus Rasi lagi yang tiba-tiba berubah haluan, menjadi sependapat dengan Kejora.
”Aduh, belajar mulu. Berasep ntar otak gue.” Masih sambil tetap menyetir, Biru mengusap wajahnya frustrasi. “Weekend gini, tuh, harusnya santai-santai. Ke mall aja kita, Ras. Main timezone, nonton, makan, ya, ngapain ajalah asal jangan ngehadap buku dan megang pulpen. Soalnya takut iritasi gue.”
“Belajar Bintang, biar Bintang pinter. Nggak nyontek mulu sama Rasi. Tapi kalau Bintang nggak mau ikut belajar bareng nggak apa-apa. Tapi Rasi nggak bakal mau kerjain PR Bintang lagi. Bintang mau?” ancam Rasi.
“Mati gue!” umpat Bintang. “Yaudah, iya-iya.”
Bintang pasrah. Bersamaan dengan itu, mereka semua tiba di depan rumah Rasi yang bersebrangan dengan rumah Bintang.
“Jangan lupa, ya, jam tiga nanti kita belajar di rumah Rasi. Oke? Bye-bye!” ucap Rasi yang seraya melambaikan tangan, sebelum ia benar-benar turun dari mobil.
***