19

1274 Kata
19“Kamu makan, habisin. Terus jangan lupa minum obat, ya, Nak.” Biru mengangguk. “Iya, Bun.” “Jingga dan Nila bilang, kemarin kamu sempat mimisan lagi?” Aliya bertanya, kemudian. “Cuma sedikit darahnya,” jawab Biru yang enggan membuat khawatir, tanpa berani menatap langsung mata bundanya. Usai meletakkan nampan yang membawa segelas air putih dan obat-obatan di atas meja belajar Biru, Aliya mengusap puncak kepala putra sulungnya yang saat itu tengah duduk di kursi meja belajar yang sama, menghadap layar laptop yang menyala. Namun beberapa saat Aliya sempat terkejut dalam diam, ketika banyak helaian rambut Biru yang meluruh di tangannya. Sebagai ibu, tentulah Aliya tidak mungkin memberitahu itu pada Biru. Aliya memilih menyembunyikan rontokan rambut Biru di tangannya, ke dalam saku kardigan yang ia kenakan saat itu. Aliya tidak ingin semangat Biru untuk tetap hidup memudar lagi dan lagi dengan mengetahui keadaan ini. Sambil berupaya menutupi matanya yang mulai menggenangkan air, Aliya mengangguk seakan percaya. “Ya sudah, kalau gitu kamu jangan terlalu lelah, ya. Kalau bisa jam 7 nanti, Bunda mau kamu langsung istirahat.” Sehingga ketika dirinya sudah benar-benar berada di depan pintu kamar Biru, barulah tetes demi tetes air mata yang sejak tadi ia tahan-tahan berjatuhan menapaki kedua pipinya. Aliya menangis dengan kedua kaki yang tetap berjalan gontai menuju kamarnya. Menahan sesak dan isakan tangisnya secara bersamaan agar tidak terdengar oleh Biru. Aliya mungkin bisa terlihat tegar di depan Biru. Menguatkan dengan berbagai macam cara. Tetapi sungguh Aliya tidak mungkin bisa mempertahankan ketegaran itu saat Biru tidak melihatnya. Bagaimana bisa Aliya tetap bertahan untuk terlihat tegar, di saat dirinya sama sekali tidak bisa membuat keadaan menjadi lebih baik? Ini bukan pertama kalinya. Aliya tidak bisa lagi menggantungkan harapannya hanya pada sebuah mindset yang seolah mengatakan semua baik-baik saja, sedangkan kenyataannya tidak. Dulu saat ayahnya Biru mengidap penyakit yang sama, Aliya percaya pada mindset-nya. Aliya yakin semua akan baik-baik saja. Tapi keyakinan itu luntur ketika kenyataannya hal tersebut tidaklah berguna. Terlebih ketika pada akhirnya beliau tetap pergi meninggalkannya dan Biru sendirian. Mendapati istrinya menangis saat masuk kamar, seketika Erland, ayah tiri Biru yang juga merupakan ayah kandung Jingga dan Nila, terheran-heran karenanya. “Al, kamu kenapa nangis, sayang?” “Biru, Yah... Bunda nggak mau kehilangan Biru,” lirih Aliya. Membuat Erland yang saat itu sedang duduk berselonjor di atas ranjang, langsung beranjak dan memeluknya. “Tadi rambut Biru rontok di tangan Bunda.” “Efek kemo memang seperti itu, Al. Kita doakan saja yang terbaik untuk kesembuhan Biru, ya.” Erland menutur pelan. Namun tiba-tiba tangisan Aliya malah semakin menjadi-jadi teredam dalam pelukannya. “Bunda nggak mau kehilangan Biru....” Hanya kalimat itu yang terulang secara terus menerus di sela-sela tangisan Aliya. Sepertinya kalimat itu saja sudah lebih dari cukup untuk mewakilkan segala yang dirasakan Aliya saat ini. *** Selesai mandi, Kejora duduk di kursi meja riasnya. Berhadapan dengan cermin, memerhatikan pantulan dirinya sendiri. “Wajar juga, sih, si Bintang suka sama Rasi. Cantik gitu!” Sebelum mengambil pengering rambut, sempat-sempatnya Kejora menggerutu sendiri, ketika wajah Rasi yang baru pertama kali ia lihat tadi pagi secara langsung, kembali terbayang di kepalanya. Yang membuat Kejora tanpa sadar malah membanding-bandingkan dirinya dengan gadis itu. Tok tok tok! Kejora yang sedang mengeringkan rambut, mendadak membeku. Sepertinya ada yang mengetuk pintu? Tok tok tok! “Kejora, buka!” Oh, seseorang yang suka berbicara menggunakan intonasi tinggi di waktu-waktu tertentu yang Kejora sendiri tidak mengerti. Siapa lagi kalau bukan Bintang Andromeda! Tabiat Bintang yang suka marah-marah tidak jelas, mendadak dingin-mendadak pecicilan. Emosinya memang tidak bisa ditebak. Persis seperti saat ini, tanpa Kejora mengerti tiba-tiba saja cowok itu mengetuk pintu kamar Kejora persis seperti preman atau debt collector yang ingin menagih hutang triliyunan. Lantas membuat Kejora mau tidak mau harus menghentikan sejenak proses mengeringkan rambutnya, kemudian beranjak untuk membukakan pintu. “Ada ap―” Seruan Kejora seketika tertahan. Dengan sorot mata yang berbinar-binar, mulut Kejora terbuka lebar. Sungguh pemandangan yang luar biasa bagi Kejora. Nikmat mana lagi yang bisa Kejora dustakan, di saat sosok Bintang dalam keadaan bertelanjang d**a, dan hanya terbalut oleh lilitan handuk sebagai bawahan saat ini benar-benar memanjakan penglihatannya. Memukau. Memesona. Bintang, maha karya Tuhan yang paling sempurna yang pernah Kejora lihat. “Lo seksi banget,” gumam Kejora dengan menggigit bibir bawahnya, kemudian. Alih-alih memedulikan Kejora, Bintang yang sama sekali tidak menyadari raut wajah Kejora, justru sibuk saja memikirkan diri sendiri yang tidak betah ketika badannya masih terasa licin, lantaran tadi belum sampai semenit ia membilas, tiba-tiba saja showernya mati dan tidak mengeluarkan air barang setetes pun. “Awas! Gue mau numpang lanjut mandi di toilet lo.” Bintang langsung menyingkirkan tubuh Kejora yang malahan bengong, berdiri menghalau jalannya di depan pintu. Ini terpaksa. Hanya toilet di kamar Kejora satu-satunya toilet yang paling dekat dengan kamarnya. Karena tidak mungkin Bintang turun ke bawah untuk memakai toilet di kamar mamanya atau toilet tamu dalam keadaan yang mana matanya mulai terasa perih terkena air sabun. *** Segar. Satu kata yang bisa menggambarkan apa yang dirasakan Bintang saat ini. Di saat akhirnya ia bisa menuntaskan mandinya yang sempat tertunda tadi. Bintang berdiri di hadapan cermin toilet di kamar Kejora, sambil menyisir rambutnya menggunakan sisir yang tersedia di sana. Warnanya merah muda. Ada bintang-bintangnya. Kalau motif bintangnya, sih, bagus. Tapi tidak dengan warnanya. Bintang tidak suka. Geli. Jijik. Bahkan tubuh Bintang sampai bergidik melihatnya, meskipun tetap saja saat ini ia memakainya untuk merapikan rambutnya. Usai rambutnya tertata rapi, Bintang yang hendak kembali meletakkan sisir merah muda itu, seketika sesuatu lain yang juga berwarna merah muda berhasil menarik perhatiannya. Tangan Bintang perlahan mulai terjulur mendekati benda yang entah apa namanya itu, Bintang tidak tahu. Kemudian mulai meraihnya. Namun saat Bintang angkat dan melihatnya dari jarak lebih dekat, detik itu juga Bintang segera kembali menaruhnya di tempat semula. s**l! Ternyata benda asing itu tidak lain adalah b*a! Jelas saja Bintang tidak bisa memegangnya lama-lama. “Jorok banget, sih! Bukannya langsung dicuci,” kesal Bintang. Setelah itu barulah ia benar-benar keluar dari toilet. Akan tetapi tetap saja. Belum selesai sampai situ, mendapati keberadaan Kejora yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu toilet, sukses besar membuat Bintang terkesiap karenanya. Ditambah lagi melihat tatapan gadis itu yang genit, juga senyum yang menurut Bintang, malah membuatnya terlihat persis seperti orang kerasukan. “Lo ngapain di situ?! Jangan bilang lo ngintipin gue mandi?!” Masih dengan senyumnya yang tidak mampu lagi Bintang mengerti, Kejora menggeleng. “Nggak, kok. Gue cuma nungguin lo mandi,” ucapnya, polos. “Mau apa nungguin gue mandi? Bukannya lo udah mandi?” Tidak perlu Kejora mengatakannya, Bintang sudah tahu dari rambut gadis itu yang masih sedikit basah. Kejora menggeleng lagi. Namun tidak tahu kenapa, firasat Bintang mulai tidak enak ketika gadis itu mulai memberinya cengiran tiada arti. Cengiran yang membuat Bintang jijik sekaligus curiga melihatnya. “Kenapa nyengar-nyengir gitu?” “Hm... Tang, gue boleh pegang roti sobek lo nggak?” tutur Kejora yang nampak tersenyum malu-malu, sembari menunjuk tubuh abs Bintang. Bintang mendelik tak percaya. Dengan cekatan kedua tangannya langsung menyilang menutupi setengah bagian atas badannya. “Dasar cewek m***m!” “Oiya,” Saat ingin berlalu, tiba-tiba Bintang berbalik lagi. “tolong, ya, tolong. Lo itu di rumah gue numpang. Jadi jangan pernah naruh barang-barang yang nggak pernah gue pake seenaknya!” Setelah itu Bintang langsung mengambil langkah terburu-buru agar dirinya bisa sesegera mungkin keluar dari kamar si m***m Kejora. Bahaya! Bintang tidak ingin keperjakaannya hilang di saat usianya masih terlalu dini. Sedangkan Kejora masih berdiam diri di pijakannya. Mencoba untuk mencerna perkataan Bintang berulang-ulang. “Barang yang nggak pernah gue pake?” tanya Kejora, mengutip kata-kata Bintang sambil terus berpikir. “Astaga, b*a gue!” jeritnya setelah paham. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN