Bapak

1844 Kata
Dengan tergopoh Alpha keluar dari mobilnya, kendaraan roda empat itu ditinggalkan saat John sedang memarkirkannya. Pemuda itu di sambut laki-laki berstelan jas hitam di lobi rumah sakit, dia adalah kepala keamanan keluarga Arkarna, Alex. Pengawal pribadi Alpha yang berbadan kekar itu sudah ada di samping majikannya beberapa saat setelah pewaris tunggal itu berada di lobi. Dia terlihat menyeka  peluh di dahinya akibat berlari kecil mengejar Alpha. “Bagaimana keadaan Papa, Lex?” tanya Alpha dengan nada serius yang bercampur dengan kecemasan. “Sekarang kondisi Bapak sudah membaik, Bang. Tadi sempat anfal di rumah, beruntung masih ada dokter Hans di rumah jadi bisa gerak cepat menanganinya lalu segera di bawa ke sini.” Alex memberikan penjelasan. “Syukurlah, sekarang di mana Papa?” Nampak raut cemas mulai memudar dari wajah Alpha setelah sebuah senyum kecil tersemat di ujung bibirnya. “Mari aku tunjukkan, Bang.” Alex berjalan lebih dulu setelah diberikan kode oleh John untuk menunjukkan jalan. Mereka berjalan menuju lift, John berjalan di samping kanan Alpha dan di samping kirinya ada Alex. Tiga orang berjas hitam di belakang mereka mengikuti, wajah mereka terlihat waspada dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Kepala keamanan keluarga Arkarna itu menekan tombol lift untuk naik, selang beberapa menit terdengar sebuah bunyi nyaring, beberapa orang keluar dari sana dengan wajah kusut. Antrian di belakang rombongan Alpha terlihat menahan diri untuk masuk ke dalam lift, salah satu dari tiga orang di belakang memberikan kode mereka memilih lift lain. Beberapa kali lift berhenti di setiap lantai karena ada yang akan ikut ke lantai atas, namun urung saat melihat sosok-sosok serius berkaca mata hitam yang berjajar saat pintu lift terbuka. Sebuah angka 9 terlihat di atas pintu lift, disusul sebuah bunyi  yang menandakan mereka telah tiba di tujuan. “Lantai 9 Ruang VVIP 10.” Terdengar suara Alex sesaat kakinya melangkah keluar lift. Dua orang bersetelan yang sama dengan tiga orang di belakang Alpha menyambut mereka di depan lift. Sebuah senyum kecil namun tegas tersemat di wajah mereka, menyusul membungkuknya badan mereka. Pewaris tunggal keluar Arkarna itu tidak sempat merespons apa yang mereka lakukan, dia masih disibukkan dengan kecamuk pikirannya sendiri akan keadaan satu-satunya orang tuanya. Lima meter di depan mereka yang merupakan persimpangan lorong nampak dua orang berjaga, lima meter selanjutnya terlihat dua orang berjaga tepat di depan pintu kamar. Mereka mengenakan pakaian yang sama juga dengan yang lain. Sepertinya Alex sangat berhati-hati sekali dengan keadaan di rumah sakit ini, dia tidak mau kecolongan dengan lemahnya keamanan yang merupakan tanggung jawabnya. “Bang Alpha!” Terdengar suara memanggil nama pewaris tunggal Arkarna Company itu. Bukan hanya dia yang menoleh namun semua orang yang bersamanya ikut melihat siapa yang memanggil. Pemuda berambut rapi itu menghentikan langkahnya. “Hans.” Terlihat secercah kebahagiaan saat melihat laki-laki berwajah oriental dengan seragam dokternya. Laki-laki yang dipanggil Hans itu melangkah mendekati mereka, sebuah senyum kecil tersemat di wajahnya. Melihat senyumnya itu hati Alpha tenang karena itu berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari Papanya. “Jangan khawatir, Bang. Bapak baik-baik saja,” ujar Hans berusaha menebak perasaan sosok di tengah pengawalan ini. “Syukurlah,” ujar Alpha sambil menghela napas lega. “Aku lega kau ada di sini juga, Hans.” “Sudah pasti, Bang. Ini memang sudah tanggung jawabku sebagai bagian dari keluarga Arkarna. Walau bagaimanapun Bapak adalah Papaku juga, banyak yang sudah beliau berikan untuk aku dan keluargaku.” “Aku dengar tadi Papa sempat anfal di rumah, Hans?” “Iya, benar. Kondisinya sudah ditangani dan sudah membaik, Bang. Jangan khawatir.” “Aku mau lihat Papa dulu, Hans. Masih belum tenang hati rasanya jika belum melihat kondisinya langsung,” ujar Alpha yang disambut anggukan laki-laki berbaju dokter itu. Pewaris tunggal keluarga Arkarna itu menuju kamar yang berada di ujung lorong sebelah kiri, Hans mengikuti langkah Alpha, dia berjalan di sebelah kanannya tepat di samping John. Dua orang pengawal di depan pintu membungkuk takzim kepada sosok yang baru tiba itu lalu salah satu dari mereka membukakan pintu kamar yang sedang mereka jaga itu. Alpha melangkah masuk ke kamar itu, nampak Papanya terbaring dengan mata terpejam di tempat tidur, seorang perempuan berambut sebahu yang tadi sedang menjaga orang nomor satu keluarga Arkarna itu berdiri menyambut kedatangan Alpha. Hanya pemuda itu dan Dokter Hans yang masuk ke ruangan itu. “Syukurlah kau datang, Tuan muda. Bapak sejak tadi menanyakanmu,” ujar gadis itu. “Aku tadi sedang di kampus, Shireen. Terima kasih kamu sudah menjaga Papa.” “Sudah tugasku sebagai Kepala Rumah Tangga, Tuan muda.” “Bukankah sudah aku bilang jangan panggil Tuan muda lagi, Shireen. Panggil Abang saja, seperti saudara yang lain.” Kalimat Alpha membuat Shireen menunduk, dia merasa tidak enak karena diingatkan lagi.  Mata gadis cantik itu melirik ke arah pemuda berseragam dokter di samping pewaris tunggal Arkarna itu. “Hans itu bagian dari keluarga kita, dia mulai terbiasa memanggil aku ‘Abang’, masa kamu harus diingatkan terus.”  Dokter yang disebutkan namanya itu menoleh sambil tersenyum ke  arah Shireen sebagai respons terhadap kalimat Alpha, dia lalu menempelkan stateskop memeriksa detak jantung orang yang disebutnya ‘Bapak’ itu. Hans memegang tangan laki-laki yang masih terpejam itu, dia memeriksa detak nadinya. “Apa yang diucapkan Papa tadi, Shireen?” tanya Alpha setelah gadis itu berhasil keluar dari rasa kikuknya. “Bapak menanyakan nama Abang terus, dan meminta aku menelepon. Aku lupa bawa ponsel tadi karena buru-buru ke rumah sakit karena panik, jadi aku minta Alex yang menelpon John untuk memberikan kabar ke Abang.” Sebuah anggukan kecil menjadi respons kalimat yang diucapkan oleh Shireen. Alpha duduk di kursi yang ada di samping kanan tempat tidur rumah sakit itu. Pemuda itu meraih tangan orang yang sangat dihormatinya itu lalu menciumnya. “Jangan lama-lama sakitnya, Pa,” lirih pemuda itu dalam, dia mencium lagi tangan Papanya. Laki-laki berkepala enam itu bergerak perlahan, nampaknya dia terbangun. Matanya membuka perlahan. “Alpha ...” katanya lirih sambil memandangi anak tungggalnya. Pemuda itu melihat Papanya, dia menyematkan senyum di wajahnya, rasa khawarir mulai sirna dari benaknya. “Jangan khawatir, Papa baik-baik saja, Al.” “Syukurlah, aku risau jika Papa sakit, Pa.” Ada sedikit air bening di pojok mata pemuda itu. “Jangan khawatir, Papa baik-baik saja.” Tangan laki-laki itu mengusap kepala anaknya. “Ada satu hal yang Papa ingat di saat terbaring sakit seperti ini, Al.” Alpha menunggu kelanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh Papanya, orang yang paling berjasa dalam hidupnya itu berusaha bangkit dari berbaringnya. Pemuda itu bangkit dari duduknya lalu membantunya untuk duduk, laki-laki itu nampak masih merasakan nyeri di dadanya. Laki-laki berkepala enam itu duduk bersandar di atas tempat tidurnya, matanya memandangi perlahan sosok-sosok yang ada di ruangan bersamanya, Alpha, Shireen dan Dokter Hans. “Apakah John, Alex dan Mey ada di sini juga, Al?” tanya Papanya Alpha. “Ada, Pa. Mereka ada di luar, di depan ruangan ini,” jelas Alpha. “Bisa tolong panggilkan mereka, aku ingin ada yang disampaikan.” Alpha beranjak dari kursinya, namun ditahan oleh Shireen sambil memberi kode supaya dia saja yang memanggil John, Alex dan Mey. Tidak sampai semenit ketiga orang itu sudah masuk ke ruangan, mereka menyematkan sebuah senyum kecil dan mengangguk takzim ke sosok yang duduk di atas tempat tidur. “Kalian semua mendekatlah.” Kalimat yang diucapkannya langsung di sambut anggukan semua orang yang berada di ruangan. Mereka berdiri di samping kanan dan kiri pemuda yang menjadi pewaris satu-satunya keluarga Arkarna itu. “Hans, Shireen, John, Alex juga Mey.” Mata laki-laki itu menatap wajah nama-nama yang disebutkannya satu persatu. “Walaupun kalian bukan anak kandungku tetapi kalian sudah kuanggap sebagai bagian dari keluarga Arkarna. Kalian adalah saudara-saudaranya Alpha, jangan pernah kalian beranggapan bahwa kalian  berbeda dari Alpha, kalian adalah anak-anakku juga.” Sosok-sosok di hadapannya itu mendengarkan kalimat yang diucapkan itu sambil menundukkan wajah, adalah sebuah kelancangan untuk mereka jika menatap orang yang mereka sebut Bapak itu saat berbicara. “Umurku sepertinya sudah tidak lama lagi, Alpha. ” Lelaki di tempat tidur itu menghela napas sebagai pelengkap kalimatnya. Sosok-sosok di belakang anaknya menunduk saat mendengar ucapannya, wajah mereka berbias kesedihan. Alpha menatap Papanya dengan mata berkaca-kaca. “Papa, tolong jangan bicara seperti itu, aku belum siap kehilangan Papa, bahkan aku tak pernah siap untuk itu.” Alpha meraih tangan Papanya lalu menempelkan punggung tangan laki-laki itu ke pipinya. “Dalam waktu yang dekat aku sudah dua kali terkena serangan jantung, itu adalah pertanda bahwa usia Papa tidak akan lama lagi, Al. Kematian adalah sesuatu yang pasti untuk manusia anakku. Aku tidak merisaukan kematian itu, aku hanya takut satu hal yaitu kehidupan setelah mati. Akan ke manakah Papa setelah meninggal, neraka atau syurga. Dengan banyaknya dosa yang ada, Papa yakin sekali tidak akan ada kenikmatan yang akan Papa rasakan setelah kematian nanti. Setelah aku nanti meninggal Papa berharap kalian meninggalkan bisnis haram keluarga kita, fokuslah ke bisnis property dan ciptakan bisnis yang bisa bermanfaat untuk orang lain.” Laki-laki itu terbatuk kecil, dia memegang dadanya. Alpha bangkit dan menuangkan air untuk diminum Papanya. “Setelah nanti aku tidak bersama kalian lagi ingatlah hal-hal ini. Pertama, kalian adalah saudaranya Alpha, bantulah dia semampu yang kalian bisa karena dia tidak mempunyai saudara lain karena pertalian darah. Kedua, tinggalkan bisnis haram keluarga Arkarna karena akan menciptakan dosa-dosa yang tidak akan bisa diprediksi sudah sebanyak apa. Sudah banyak manusia-manusia yang rusak karena ulah keluarga kita, jadi segera tinggalkan. Mengerti?” Alpha mengangguk diikuti oleh satu persatu dari mereka. “Aku bersyukur, Allah masih memberikanku sakit ini. Aku teringat sebuah kalimat, entah itu sebuah ayat Alquran ataukah hadits bahwa ‘sakit itu menggugurkan dosa’. Mudah-mudahan sakit yang mendera ini menjadi penggugur dari dosa-dosa yang pernah kuperbuat. Bukan sebagai hukuman dari dosa-dosa yang seperti pasir pantai.” Laki-laki itu menghela napas panjang. Selain dosa-dosa yang pernah diperbuatnya dia teringat tidak pernah mengajarkan anak kandung dan anak-anak angkatnya itu ilmu agama. Akankah mereka mengerti apa yang diucapkannya tadi? Allah, Alquran dan hadits? Dia tidak pernah menyebutkan kalimat-kalimat itu di hadapan mereka. Dia terlalu sibuk membangun kerajaannya sendiri demi dunia yang semu. “Alpha, setelah ini tolong carikan aku seorang Ustadz, aku ingin dibimbing ilmu agama,” lanjut laki-laki itu sambil memandangi anaknya yang dijawab sebuah anggukan. Sebenarnya Alpha tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Papanya itu. Ustadz? Siapakah itu? Memang sesekali pernah dia mendengar kata itu namun tidak mengerti maksudnya. “Kalian boleh pergi, aku ingin istirahat.” Laki-laki itu kembali merebahkan tubuhnya dibantu oleh Alpha dan Hans. John, Alex dan Mey mengangguk takzim lalu menyempatkan menggamit tangan laki-laki berkepala enam itu lalu menciumnya. Mereka lalu keluar dari ruangan itu satu persatu. “Kamu juga boleh pulang, Alpha.” “Aku ingin menemani Papa di rumah sakit.” “Tidak perlu, disini ‘kan ada Hans dan Shireen. Kamu pulang saja.” “Maaf, Pa. Kali ini aku tidak akan mengikuti kalimat Papa, aku tidak akan pulang.” “Dasar anak keras kepala kamu, Alpha.” “Siapa dulu dong Papanya.” Pemuda itu menyematkan senyum di ujung kalimatnya yang disambut dengan gelengan kepala Papanya. Memang Apel itu jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, gumam hati laki-laki berkepala enam itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN