Alpha menggeliat dan matanya membuka perlahan, hal pertama yang ditangkap indera penglihatannya adalah langit-langit putih di atasnya. Pemuda itu bangkit dan duduk di sofa yang dijadikannya tempat tidur itu, pandangannya tertuju ke arah Papanya yang sedang tertidur.
Dia terkejut saat melihat sesosok putih sedang duduk membelakanginya di atas lantai yang beralaskan benda yang panjangnya sekitar setengah kali satu meter. Setelah Alpha memperhatikan dengan jelas sepertinya itu bukan hantu bungkus yang bermuka seram karena tidak mungkin makhluk seperti itu berada di rumah sakit mewah di ruang VVIP pula.
Alpha sepertinya pernah melihat adegan seperti yang ada dihadapannya itu, itu adalah posisi beribadah orang Islam. Benda putih yang menyelubunginya itu menandakan jika adalah seorang perempuan. Tetapi siapakah yang sedang melakukan ritual itu? Seingatnya orang yang berada di lingkungan keluarganya jauh dari dunia itu. Mereka kebanyakan agnostik dan menolak dibilang sekuler walaupun tidak pernah melakukan ibadah agama apapun.
Sosok itu menoleh ke arah kanan dengan suara yang terdengar setengah berbisik, lalu menoleh lagi ke arah kiri. Tidak jelas siapakah yang sedang melakukan ibadah di depannya itu, mungkinkah Shireen? Hanya gadis itulah yang menemaninya di rumah sakit malam tadi.
Pewaris tunggal keluar Arkarna itu masih memperhatikan sosok putih yang masih duduk di atas permadani, dia masih bermain dengan imajinasinya sendiri berusahasa menduga siapakah sebenarnya sosok perempuan itu.
Terdengar Papanya batuk beberapa kali, Alpha beranjak dari tempat duduknya bergegas menghampiri orang yang paling dihormatinya itu. Tetapi apa yang dilakukanya masih kalah cepat dengan sosok yang membelakanginya itu, dia dengan gesit menghampiri Papanya Alpha dan menuangkan air putih untuk diminumnya.
Laki-laki berkepala enam itu mengangkat badanya sedikit supaya mudah untuk meneguk isi gelas itu, sosok putih itu membantunya dengan menyematkan sebuah senyum di ujung bibirnya.
Kedua mata dari sosok di tempat tidur itu merambati perempuan yang masih dibalut busana putih yang membantunya.
“Reen ...? Ini kamu?”
“Iya, Pak. Ini Shireen, Maaf kalau saya mengejutkan Bapak dengan pakaian ini.” Gadis itu agak menundukkan wajahnya karena merasa tidak enak karena lupa melepaskan benda yang digunakannya. “Maaf, saya lupa melepas mukena, habis sholat Subuh tadi.”
Laki-laki itu terbatuk kembali sehingga Shireen memberikannya kembali minum, lalu meletakkan kembali gelas yang masih berisi air itu di meja samping tempat tidur.
“Bantu aku duduk, Reen?” kata laki-laki berkepala enam itu, dia menggeserkan pantatnya mendekat ke dinding. Shireen membantunya dengan memberikan bantal sebagai sandaran di sisi tempat tidur yang menempel ke tembok.
“Sudah nyaman, Pak?”
“Iya, cukup. Tolong ambilkan ponselku, Reen.” Gadis muda itu menarik laci yang ada di bawah meja samping tempat tidur dan memberikan gadget milik Papanya Alpha.
Shireen memastikan tidak ada lagi yang diminta oleh orang tua angkatnya itu yang mulai membuka pesan -pesan di ponsel miliknya. Gadis itu membuka mukena yang dikenakannya dimulai dari penutup bagian atas lalu bawahnya, dia terkejut saat secara tak sengaja kedua matanya melihat Alpha yang sedang duduk di atas sofa sambil memandanginya. Dia menunduk sungkan karena khawatir apa yang dilakukannya menggganggu pewaris tunggal keluarga Arkarna itu, tetapi sepertinya pemuda itu tidak mempermasalahkan pemandangan yang ada di depannya walau pada awalnya terlihat seperti ada sorot aneh.
Gadis berambut sebahu itu melipat mukenanya lalu meletakkan di dalam lemari yang ada di pojok, dia meraih sweater berwarna pink dan mengenakannya. Alpha membasuh mukanya beberapa kali dan menggosok giginya di wastafel, dia lalu duduk di bangku yang berada di samping Papanya.
Pemuda itu menyematkan senyum di wajahnya saat Papanya menoleh ke arahnya, “Bagaimana tidurnya, Pa? Nyenyak?”
“Lumayan, Al.” Laki-laki itu membalas senyum anaknya sambil meletakkan gadget-nya di atas tempat tidur. “Bagaimana dengan kamu, Al? Nyenyak?”
“Papa ‘kan tahu aku biasa tidur di mana saja, sudah pasti nyenyak.”
“Iya ya, kamu ‘kan mata kuyup,” guyon laki-laki itu.
“Itu istilah yang selalu digunakan ya, Pa?” Alpha tertawa. “Cuma belum jelas asal-muasal istilah itu, apakah kuyup selalu bisa tidur di mana saja?”
“Bisa saja, ‘kan, Al. Makanya ada istilah itu, istilah itu dibuat oleh mereka yang telah hidup jauh sebelum kita dan pasti ada dasarnya.” Laki-laki itu nampak berpikir sejenak. “Seharusnya kamu lah yang mencari tahu, kuliah S2 masa enggak tahu kuyup bisa tidur di mana saja.”
“Aku S2 Hukum, Pa. Bukan S2 perkuyupan” Mereka berdua tertawa membahas hal yang mungkin saja hanya dimengerti oleh Papa dan anaknya saja itu. Shireen mengernyitkan dahinya mendengar guyonan receh yang sudah lama sekali tidak menyapa telinganya.
Mendadak harum kopi menyapa kedua hidung bapak dan anak yang sedang berhadapan itu, Alpha yang duduk membelakanginya menoleh ke belakang.
“Hmm, harum sekali,” ujar pemuda itu sambil menghampiri kopi yang sudah berada di atas meja depan sofa di mana tadi Alpha tidur. “Ini untukku ‘kan, Reen?”
“Untuk siapa lagi, ‘kan cuma Abang di sini yang merindukan kopi di pagi hari, Bapak ‘kan enggak.” Shireen melengkapi kalimatnya dengan senyum. Alpha terpana melihat hal yang berlangsung di hadapannya itu, baru kali ini dia memperhatikan senyum Shireen yang luar biasa itu.
“Hush, jangan halu. Aku ini Shireen, adikmu, Bang. Bukan deretan calon perempuan yang akan menjadi santapanmu.” Alpha berusaha menyadarkan dirinya saat tangan kanan gadis di hadapannya itu mengusap wajahnya.
“Maaf.” Alpha tersipu malu saat menyadari apa yang terjadi dengan dirinya barusan. Sebuah senyuman lagi dihadiahkan oleh Shireen karena kelakuan Alpha. Gadis itu nampak sedang menyiapkan s**u hangat untuk Papa pemuda itu.
“Reen, Papa memangnya boleh minum s**u? Nanti makan obatnya bagaimana?”
“Minum obatnya mungkin setengah delapan setelah sarapan, sekarang baru jam lima jadi pengaruh susunya sudah hilang.”
“Oh begitu, Reen. Berapa lama pengaruh s**u sebenarnya di dalam tubuh?”
“Aku baca sih maksimal dua jam, lagi pula belum ada penelitian yang menyebutkan bagaimana pengaruh s**u terhadap efek obat yang diminum.”
“Aku baru sadar kamu pintar, Reen,” kata Alpha sambil menyematkan senyum.
“Yang pintar bukan aku, Bang, Tapi yang menulisnya di google, aku membaca artikel dia di sana.” Shireen tertawa kecil.
Shireen melangkah mendekat dengan takzim ke arah Papanya Alpha yang sedang membaca sesuatu di gadget-nya. Gadis itu berdiri di samping tempat tidur sambil memegang gelas bening berisi s**u hangat yang beralaskan piring keramik.
Gusman Arkarna meraih gelas itu dan meneguk isinya beberapa kali secara perlahan, laki-laki itu lalu memberikannya ke Shireen setelah selesai.
“Terima kasih, Reen,” ujar laki-laki itu yang dijawab dengan anggukan takzim gadis berambut sebahu itu.
“Ada yang bisa aku lakukan lagi untuk Bapak?”
Gusman menatap gadis yang berdiri di samping kanannya itu sambil berpikir, tetapi sepertinya dia tidak menemukan apa yang diinginkannya lagi, lalu sebuah gelengan kepala menjadi jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Kepala Rumah Tangga Keluarga Arkarna itu.
“Baiklah, saya mohon pamit sebentar,” ujar Shireen dan kembali sebuah anggukan dijadikan sebagai tanggapan atas kalimatnya.
Gadis itu melangkah menuju sofa di mana Alpha duduk sambil membuka ponsel pintarnya, nampaknya dia sedang menuliskan sesuatu di benda itu.
“Jam delapan kita ketemu di kantin rumah sakit ya, Jhon,” tulis Alpha di ponselnya.
Dalam hitungan detik, sebuah sticker menjadi jawaban atas chat yang dikirimkan itu, sebuah pesan bergambar setengah badan dari pengawal pribadinya yang sedang membuat posisi hormat. Tertulis kata ‘siaap!’ dalam gelembung dialognya.
Shireen meraih kopinya yang bersanding dengan kopi milik Alpha di atas meja, dia menempelkan bibirnya di gelas keramik kopi itu lalu meneguknya perlahan. Alpha mendengar sebuah bisikan keluar dari mulut gadis itu namun dia tidak mengetahui kalimat apa yang diucapkannya itu.
Melihat sosok di hadapannya menyesap kopi hitam, tebersit keinginan Alpha untuk meneguk kopi miliknya yang belum disentuh semenjak dibuatkan oleh satu-satunya gadis di ruangan VVIP dimana Papanya dirawat. Tangan kanannya meraih cangkir keramik yang masih mengepulkan uap, pemuda itu meniup bagian atas kopi itu supaya tidak terlalu panas.
“Enggak boleh lho meniup air panas, Bang,” ujar Shireen saat melihat apa yang dilakukan pemuda yang duduk di hadapannya itu. Alpha tertegun mendengar kalimat yang diucapkan gadis berambut sebahu itu,
“Mengapa? Kata siapa, Reen?”
Kali ini Shireen yang tertegun mendengar pertanyaan Alpha, sebenarnya dia tahu siapa yang melarang untuk meniup air panas itu namun tidak berani mengatakannya di hadapan pemuda itu karena dia merasa belum waktunya.
“Kata siapa, Reen?” Alpha mengulang lagi pertanyaan yang dilontarkannya tadi.
“Forget it, Bang.” Shireen menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil, dia menyibak rambutnya yang tergerai menutupi wajahnya. Alpha menggelengkan kepalanya karena tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya, dugaan pemuda itu yang mengucapkan kalimat tidak boleh meniup air panas adalah orang tuanya yang berasal dari orang tuanya dan orang tuanya lagi, memang kadang Shireen suka menceritakan kenangan masa kecilnya yang masih tersisa di benaknya.
Alpha melupakan kalimat yang mereka bahas sekilas itu lalu menyesap kopi pahit yang masih menyisakan uap di atasnya, perlahan cairan hitam itu menyelusup masuk lewat sela bibir pemuda itu. Dia mengulangi lagi apa yang dilakukannya itu sekali lagi dan meletakkan cangkir putih itu di meja setelahnya.
“Kopi kamu pakai gula, Reen?” Pertanyaan itu dijawab sebuah kernyitan dahi Shireen karena sepertinya itu sebuah dialog yang sangat standar juntuk memulai pembicaraan.
Sebuah anggukan kepala dijadikan jawaban oleh gadis itu setelah dia meneguk perlahan kopinya.
“Pakai gula sedikit,” ujar Shireen sambil meletakkan cangkir kopinya. “Aku ‘kan harus tetap melestarikan kemanisanku dalam tubuh, jika aku tidak menyertakan gula di kopiku nanti bisa-bisa zat manis di dalam tubuhku terkikis.”
Sebuah senyum kecil menjadi penggenap untaian kata yang diucapkan oleh Shireen, Alpha menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
“Aku enggak tahu kamu seperti ini, Reen?” Alpha masih mengelengkan kepalanya.
“Seperti apa? Seperti ini?” Shireen menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya, Alpha tersenyum lagi sambil menggelengkan kepalanya.
Terdengar suara batuk ayahnya Alpha, suara itu membuyarkan dialog yang terjadi antara muda-mudi itu. Shireen bergegas beranjak meninggalkan Alpha, dia menuju laki-laki berkepala enam yang berada di tempat tidur, gadis itu meraih gelas yang berisi air putih dan memberikannya kepada pemilik Arkarna Company itu. Lelaki yang dipanggil Bapak itu menggeleng.
“Panggil Alpha ke sini, Reen,” ujar Gusman Arkarna.
“Baik, Pak.” Shireen mengangguk, gadis itu membalikkan badannya. Ternyata pemuda yang dimaksudkan itu mendengar apa yang diucapkan Papanya dan menghampiri.
Shireen menggeserkan kursi untuk putra mahkota keluarga Arkarna itu duduk, sebuah kalimat terima kasih meluncur dari mulutnya untuk gadis itu. Alpha menunggu apa yang akan dikatakan oleh Papanya itu.
“Alpha ... “ Laki-laki berkepala enam itu menatap serius ke arah anaknya. “ Umur Papa sepertinya sudah tidak lama lagi,”
“Jangan membahas itu lagi, Pa. Aku belum siap kehilangan Papa.”
“Kematian itu bukan tentang siap atau tidak siap, kematian adalah sesuatu yang pasti namun tidak tahu kapan akan diberikan kepada setiap manusia. Papa ingat kalimat yang diucapkan Kakekmu sewaktu kami bersembunyi dari pengejaran musuh di sebuah pulau, beliau bilang ‘Gus, coba kamu perhatikan buah kelapa yang ada di bawah pohon itu. Perhatikan buah yang masih menempel di atas pohon, buah yang muda dan yang tua. Umur manusia seperti itu, ada yang masih cengkir sudah jatuh, ada yang muda rontok ada yang tua baru jatuh dari pohon. Itulah umur manusia tidak ada yang pasti, anak kecil, anak muda, dewasa atau tua bisa saja meninggal namun tidak tahu kapan waktunya.” Mata laki-laki itu menatap langit-langit, nampaknya dia sedang mengenang masa lalu yang dilaluinya itu. Dia menelan ludahnya beberapa kali, nampak ada hal yang sengaja tidak diceritakannya dan menelannya kembali.
“Tetapi apa yang Papa ceritakan itu bukan hanya tentang umur semata anakku, Papa ingin sekali sebelum Papa meninggal bisa melihat kamu menikah dan mempunyai cucu, Al. Ajaklah menikah salah satu gadismu untuk menikah, jangan hanya dipacari dan dicampakkan.”
Alpha menunduk sambil mendengarkan apa yang diucapkan oleh Papanya, ada kalimat yang menggelitiknya dari untaian kata yang sampai di telinganya. Pacari dan campakkan, kata-kata itu mirip dengan kalimat yag diucapkan John kemarin di kampus, dekati, pacari, campakkan.
“Bisakah kamu melakukan itu, Al?” Kalimat itu rasanya menusuk batin Alpha, belum pernah Papanya mempertanyakan kalimat yang tak bisa dijawabnya, ‘menikah’ Alpha menelan ludah.
“Entahlah, Pa. Aku ... “