Kantin Rumah Sakit

1937 Kata
Setelah mandi dan berpakaian rapi Alpha mohon pamit ke Papanya untuk pergi ke kantin, salah satu anggota keluarga Arkarna telah membawakan pakaian ganti untuk pemuda yang menginap di rumah sakit itu. Sebuah celana jeans berwarna biru dan jaket kulit berwarna hitam, dia tidak lupa berpesan kepada Shireen untuk menjaga Papanya dan mengabari jika ada yang penting. Pemuda itu melihat jam tangannya yang tertutup jaket kulit, dia memastikan waktu yang dijanjikan oleh John pada jam delapan. Dia melangkahkan kakinya menuju kantin yang lumayan ramai. Untuk ukuran sebuah kantin rumah sakit tempat di depannya itu terlihat lumayan besar dan bersih. Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Shireen, ini adalah satu-satunya tempat yang bisa digunakan untuk makan dan kopi keluarga pasien dan tenaga kesehatan yang bertugas. Manajemen rumah sakit sepertinya sengaja mengambil kebijakan hanya mengizinkan satu kantin saja yang beroperasi di sana. Pewaris tunggal keluarga Arkarna itu melangkahkan kakinya masuk ke kantin, sapaan hangat dari seorang waitress yang mengucapkan selamat pagi dijawabnya dengan sebuah senyuman kecil dan anggukan. Alpha mencari meja yang kosong di tengah ramainya pengunjung kantin itu, kedua matanya menangkap sesosok wajah yang familiar sedang duduk di pojok kantin, di tangannya sebuah buku yang sedang menjadi santapan. Pemuda itu melangkah mendekati sosok berbadan kekar itu lalu duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Seorang pemuda tegap berjaket hitam yang duduk di meja dekat pintu masuk menyambutnya dengan sebuah anggukan takzim. Alpha mengenalinya sebagai anggota keluarga besar Arkarna. Nampaknya pengawal pribadinya sudah berkoordinasi dengan Kepala Keamanan Rumah Tangga Keluarga Arkarna, dia benar-benar mempersiapkan secara penuh keamanan di kantin ini. Jhon melirik siapakah yang datang dan duduk di hadapannya dan seketika dia  terkesiap saat mengetahui itu adalah sosok yang sedang dinantikannya. Pemuda berbadan kekar itu segera meletakkan buku yang sedang dibacanya itu di atas meja. “Selamat pagi, Bang.” Jhon membungkukkan badannya sambil duduk dengan takzim kepada sosok yang baru datang itu. Sebenarnya dia harus melakukan penghormatan itu sambil berdiri tetapi biasanya Alpha akan protes jika dia melakukan prosesi itu di depan umum. “Selamat pagi, Jhon. Kamu tepat waktu sekali,” Alpha melirik jam tangannya yang sekarang sudah menunjukkan jam delapan tepat. Jhon melirik jam di ponselnya karena dia tidak mengenakan jam tangan. “Sebenarnya Abang yang dibilang tepat waktu itu karena tiba tepat jam delapan, aku datang lima belas menit sebelumnya,” kata pengawal pribadi Alpha itu dengan tersenyum kecil. “Aku harus memastikan kondisi di sini aman atau enggak untuk makan, Bang.” “Thanks ya, Jhon.” “Never mind, itu memang sudah kewajibanku, Bang,” Jhon mengangkat tangannya untuk memanggil waitress yang tak jauh darinya, pelayan berpakaian biru langit dengan rok span itu melangkah mendekati mereka. “Selamat pagi, Kak. Mau pesan makan dan minum?” tanyanya dengan sebuah senyum kecil di sana. “Minta kopi hitam dua, roti bakar dua, Mbak ... “ ujar Jhon sambil melirik nama pelayan itu yang terpampang di dadanya. “Mbak Niken.” “Iya, Kak, Aku Niken. Ada lagi yang dipesan?” ujar gadis itu sambil bersiap menuliskan lagi pesanan  kedua pemuda itu. “Tambah air mineral,” ujar Alpha. “Iya, Mbak. Tambah air mineral dua ya.” Jhon menambahkan. “Mau yang dingin atau yang biasa, Kak?” “Yang biasa saja, Mbak.” Gadis itu mencatat apa yang diucapkan oleh Jhon tadi. “Baik, ditunggu ya, Kak.” Kalimat itu menjadi penutup sebelum gadis berspan hitam itu meninggalkan meja mereka. “Cantik ya, Bang?” tanya Jhon setelah memastikan gadis tadi sudah jauh darinya. Pertanyaan tadi dijawab sebuah anggukan Alpha. “Cantik, Bro, Tetapi bukan selera aku yang seperti itu,” Kalimat Alpha memantik kernyitan dahi Jhon, dia baru mengetahui bahwa majikannya itu mempunyai type tertentu terhadap perempuan. “Aku baru tahu Abang mempunyai selera tertentu terhadap gadis cantik, Bang.” Alpha tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jhon, pengawal pribadinya itu menyematkan wajah penasaran. “Enggak semua cewek cantik itu menarik, Bro,” ujar Alpha. Jhon masih memandangi pemuda di hadapannya untuk mendengarkan kelanjutan dari kalimatnya. “Sudah kalimatnya hanya begitu saja, enggak ada lanjutannya, Jhon. Enggak semua cewek cantik itu menarik.” “Ah, aku kira itu ada kalimat ada lanjutannya.” “Begini, setiap perempuan itu punya daya tarik masing-masing, kecantikannya, kecerdasannya, sifatnya, senyumannya dan setiap laki-laki punya kriteria masing-masing untuk kombinasi dari kata ‘menarik’ pada perempuan.” “Lalu apa yang membuat gadis tadi bukanlah selera Abang, wajah cantik, body bagus.” “Ini pandangan sekilas saja ya tentang gadis tadi. Pertama, jika dilihat wajahnya terlihat dia adalah cewek agresif artinya dia akan mendekati laki-laki yang disukainya lebih dulu. Kedua, cewek dengan wajah seperti itu jorok biasanya saat pacaran. Ketiga, dia berbahu lebar, aku paling enggak suka gadis yang berbahu seperti itu.” “Wah, ternyata gadis cantik itu ada kruterianya ya, harus belajar ni dari guru,” “Pastilah, Jhon. Panggil aku guru jika mau menjadi muridku.” “Baiklah, Guru,” Jhon membungkukkan badannya yang diikuti dengan tertawa mereka berdua, beberapa mata yang duduk tak jauh dari mereka nampak sedikit terganggu dengan tingkah kedua anak muda itu. Tertawa mereka agak mereda saat Alpha memberi kode ada seseorang yang mendekat, ternyata yang datang adalah Niken, di tangannya nampak baki berisi pesanan kedua pemuda itu. Gadis itu lalu meletakkannya di atas meja satu-persatu. Padahal Jhon tadi ingin menanyakan apa yang dimaksud Alpha dengan istilah ‘jorok saat pacaran’. “Silahkan dinikmati, Kak,” katanya dengan sebuah senyum manis. John secara tak sengaja melihat pemandangan itu, pemuda berbadan kekar itu menelan ludahnya saat berusaha menahan gejolak dalam dadanya. “Terima kasih, Mbak,” ujar Alpha sambil menggeserkan kopi hitam miliknya. “Aku enggak keberatan dipanggil Niken, Kak.” Gadis itu masih memajang senyum di wajahnya, kali ini Alpha yang melihat senyumannya itu namun dia terlihat biasa saja. “Aku Alpha dan ini John, Niken. Kamu juga boleh memanggil kami dengan nama saja, tidak usah menggunakan kata ‘kak’.” “Alpha dan Jhon, tetapi aku lebih nyaman jika tetap menggunakan kata Kak, Kak Alpha dan Kak John. Aku berharap Kakak berdua tidak keberatan.” Alpha memandang John sekilas, sebuah senyum tipis dan anggukan kecil menjadi tanggapan dari kalimat yang diucapkan oleh gadis berspan itu. Niken mengeluarkan sebuah kertas dari saku kemeja seragam kantin yang dikenakannya, lalu meletakkannya di atas meja. “Aku menuliskan nomor kontakku di kertas itu, Kak. Aku bahagia sekali jika dihubungi.” John meraih kertas itu dan melihat deretan dua belas angka di sana, dia mengambil ponselnya dari saku lalu mengetik nomor itu dan memberikannya nama. Pemuda berbadan kekar itu menekan tombol memanggil. “Enggak bunyi?” ujar john sambil menatap heran ke arah Niken karena tidak terdengar dering ponsel saat dia menghubungi dua belas angka itu. Pemuda itu melihat gadgetnya, terlihat teks ‘berdering’ di sana, “Ponsel aku di simpan di laci, Kak. Dilarang membawa benda itu saat bekerja.” “Pantas saja aku telepon enggak ada suara yang berbunyi,” Jhon terlihat menuliskan namanya di kolom pesan yang ditujukan ke nomor Niken. “ Sudah aku chat ya,” “Baik, Kak. Terima kasih. Aku mohon pamit untuk kembali.” Tanpa menunggu kata ‘iya’ gadis itu sudah beranjak pergi setelah mengangguk sopan kepada kedua pemuda itu. Jhon mengantar kepergian gadis itu dengan tatapan matanya. “Sudah, Jhon. Nanti copot juga tuh mata,” seloroh Alpha yang disambut senyuman pengawal pribadinya itu. “Menurut Abang dia suka siapa di antara kita?” ujar Jhon sambil memperbaiki duduknya, dia memasang wajah serius saat mengucapkannya. Alpha menyambutnya dengan sebuah tawa kecil. “Pastilah yang nge-chat dia tadi, sejak tadi ‘kan dia cuma mengajak bicara kamu, Jhon.” “Iya sih di bagian mengajak bicaranya, tapi bisa saja itu dikarenakan Abang enggak ada respons sama sekali terhadap dirinya, bisa saja aku dijadikan jembatan untuk menuju ke sisi Abang.” “Biarlah dia mau kayak gimana juga, Jhon.” Alpha mengangkat kopinya perlahan dan meniupnya beberapa kali, tetapi tiba-tiba dia teringat dengan apa yang dikatakan oleh Shireen beberapa jam lalu, ‘tidak boleh meniup air panas’. Pemuda itu segera menghentikan apa yang dilakukannya, perlahan dia meneguk kopinya yang masih bisa dibilang panas itu. “Ada apa, Bang?” “Hah?” Alpha mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh pemuda berbadan kekar di depannya. “Sepertinya Abang sedang memikirkan sesuatu.” “Enggak, Jhon. Aku hanya tiba-tiba teringat apa yang dikatakan oleh Shireen tadi.” “Ada apa dengan Shireeen? Apa yang dikatakannya? Semoga bukan sesuatu yang menyinggung Abang.” “Enggak, enggak menyinggung. Hanya saja apa yang dikatakannya sedikit membekas, Jhon. Dia bilang kita tidak boleh meniup air panas, apa coba alasannya?” Jhon mengangguk-angguk kecil, Alpha menduga pemuda di depannya itu mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Pewaris tunggal keluarga Arkarna itu tidak mempersoalkannnya, dia kembali menyeruput kopinya perlahan. Jhon mengikuti apa yang dilakukan oleh Alpha, menikmati perlahan kopi miliknya. “Aku pagi ini sudah dua kali minum kopi, Jhon,” ujar Alpha sambil menyuap roti bakar miliknya setelah meletakkan cankir kopi miliknya. “Mantap, pasti Shireen yang membuatkan kopi tadi pagi ya, Bang?” “Sudah pasti dia, gadis itu ‘kan memang selalu full preparing di mana pun dia berada. Dia bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, every detail of it.” “Begitulah Shireen, Bang.” “Kamu memperhatikan enggak, Jhon? Aku merasa sepertinya Shireen sudah berubah.” “Berubah bagaimana, Bang? Jadi apa dia?” Jhon terlihat berpikir sambil mengernyitkan dahinya. “Jadi anu kali dia,” ujar Alpha sambil tertawa kecil.  “Aku merasa dia berubah saja. Tadi aku sempat melihat dia sedang melakukan ibadah yang dilakukan orang Islam di ruangan.” “Oh, memang Shireen agak berbeda sekarang, Bang,” Jhon mengangguk-angguk kecil, dia terlihat sedang menyimpulkan sesuatu. “By the way bagaimana kabar Bapak, Bang?” “Kian membaik, mudah-mudahan sore ini Papa bisa pulang.” Alpha merasa Jhon sedang membelokkan pembicaraan mereka. Apakah ada yang ditutupi olehnya dengan apa yang sedang terjadi dengan adik angkatnya itu. “Jika ada sesuatu yang aku tidak ketahui tentang Shireen tolong  beritahu aku, Jhon.” “Ada sih memang, hanya saja aku sepertinya tidak punya hak untuk menceritakannya. Aku yakin dia akan memberitahukannya enggak lama lagi, Bang. Maaf, aku enggak bisa memberitahukannya karena akupun mengetahuinya secara enggak sengaja.” Alpha mengangguk perlahan, nampaknya dia tidak bisa memaksa Jhon untuk memberitahukan apa yang diketahuinya itu. “Baiklah, kalau begitu.” Alpa Kembali meraih roti bakar dengan garpunya dan memasukan potongan roti itu ke dalam mulut. “Ada satu hal yang ingin aku minta kamu kerjakan, Jhon.” Pemuda berbadan kekar itu menunggu lanjutan dari kalimat Alpha, dia menduga hal itu sangatlah penting. “Ini mengenai Jingga.” “Jingga? Gadis kantin kampus itu?” “Memangnya ada yang lain bernama Jingga?” “Tukang pangkas rambut langganan Abang itu?” “Jinggo, dia namanya Jinggo bukannya Jingga,” Alpha tertawa mendengar plesetan Jhon, dia baru menyadari kemiripan nama gadis bertahi lalat itu dengan langganan sebulan sekalinya memotong rambut itu. “Aku pikir Abang mau cukur rambut lagi makanya nanyain Bang Jinggo.” “Aku mau kamu cari tahu tentang Jingga, Jhon,” kata Alpha masih dengan sebuah senyum kecil di bibirnya karena guyonan Jhon. “Wow, sepertinya target sudah dibidik ‘ni, korban selanjutnya sudah diintai.” “Jangan mendahului takdir, Jhon. Bisa saja dia adalah perempuan terakhir yang akan membuat hati ini berlabuh.” “Asyik, bahasa Abang keren banget.” Jhon mengangkat kedua jempol tanganhya ke atas. “Apa yang harus aku cari tahu tentang Jingga, Bang?” “Semuanya, apapun yang terkait dia. Termasuk keluarganya.” “Siap!” Jhon membuat sikap hormat dengan tangan kanannya sambil duduk dengan dilengkapi sebuah senyum.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN