Jhon berjalan di samping kanan Alpha, mereka meninggalkan kantin setelah hampir dua jam berbincang di sana sambil menikmati kopi dan roti bakar. Pengawal yang tadi duduk di meja dekat pintu beranjak setelah kedua pemuda itu enam meter di depannya, dia meninggalkan selembar uang pecahan lima puluh di bawah kopi yang diminumnya tadi.
“Aku enggak usah dijaga terus menerus, Jhon. Aku bisa sendiri, kamu bisa menjalankan tugas yang kuberikan tadi.”
“Aku ada feeling enggak enak, Bang. Aku harus memastikan Abang sampai ke ruangan dulu supaya ada keamanan yang bisa menggantikan aku menjaga.”
“Kamu terlalu khawatir, Jhon.”
“Mungkin iya, tapi aku selalu meyakini feeling-ku, Bang.”
“Feeling seorang ninja ya, Jhon.” Alpha menoleh ke arah sosok yang ada di samping kanannya sambil tersenyum yang disambut sebuah senyum kecil.
Seorang pemuda anggota keluarga Arkarna berjaket kulit dan berkaca mata hitam berdiri tak jauh dari lift, dia mengangguk kepada kedua orang yang kini berdiri di hadapannya.
Dia menekan tombol untuk naik, dari angka yang berada di atas lift menunjukan alat transportasi untuk naik gedung itu berada di lantai 7.
Jhon menoleh ke belakang, nampak anggota keluarga besar Arkarna yang tadi di kantin sudah bergabung bersama mereka dengan penuh kewaspadaan. Dia menahan keluarga pasien yang nampaknya ingin bergabung di lift yang sama dan mengarahkannya ke lift sebelah.
Sebuah suara berdenting menandakan lift sudah sampai lantai dasar dan membuka, beberapa orang keluar dengan tak sabar dari lift itu, raut-raut cemas dan sedih menghiasi beberapa dari wajah mereka.
Pemuda berkacamata yang tadi berdiri dekat lift itu ikut masuk, dia menekan angka 9 di tombol lift setelah menekan tombol menutup pintu. Salah satu rekannya yang tadi berada di kantin berada di sampingnya, dia menahan setiap kali ada orang yang ingin bergabung ke dalam lift. Akhirnya setelah delapan kali berhenti tibalah mereka di tujuan.
Dua orang pemuda berdiri di samping lift dan mengangguk ke arah Alpha dan Jhon. Dua orang yang tadi bersama mereka kini berjalan di belakang pewaris tunggal Arkarna itu.
Mata Jhon melirik lima orang laki-laki yang berada di kursi tunggu tak jauh dari lift, wajah mereka tidak jelas karena menunduk. Naluri ninjanya seketika bangkit, dia mencurigai mereka.
“Setahuku enggak ada pasien lain yang dirawat di koridor ini,” gumam Jhon. Dia berusaha menyembunyikan nalurinya walaupun tak pernah sekalipun perasaanya salah.
Empat orang di pintu masuk menyambut Alpha dan Jhon dengan sebuah anggukan takzim. Pewaris tunggal keluarga Arkarna itu masuk ke ruangan di mana Papanya dirawat. Pengawal pribadinya memberi kode kepada pengawal-pengawal di depan kamar itu untuk mendekat mendekat.
“s*****a kalian sudah terisi peluru semua ‘kan?”
“Aman, Bang,” jawab mereka hampir bersamaan.
“Good, pastikan kalian semua waspada, aku merasa akan ada serangan hari ini. Jangan sampai ada keluarga kita yang meregang nyawa hari ini, termasuk kalian.”
“Siap, Bang.”
Jhon menepuk satu persatu bahu mereka yang bugar, mereka baru saja bertugas menggantikan rekannya yang menjaga malam.
Terdengar suara denting lift, sepertinya baru saja ada seseorang yang keluar dari lift. Terlihat seorang laki-laki tegap berseragam dokter berjalan di depan empat orang perawat laki-laki yang mendorong tempat tidur, sepertinya ada yang baru saja meninggal dan dibawa ke lantai 9.
Kedua orang pengawal yang berdiri dekat lift memandang curiga kepada lima orang yang baru keluar lift itu. Mereka nampak tergopoh dan menuju ke arah dimana Jhon dan keempat pengawal berdiri, sebelum lorong yang menuju ke arah mereka dari lift ada lorong yang menuju ke kanan dan kiri.
“Di sini ada pasien lain yang dirawat?” tanya Jhon memastikan, keempat pengawal itu menggeleng. “Waspada, Guys.”
Dalam hitungan detik keempat laki-laki berseragam perawat itu menarik selimut yang menutupi benda yang ada di atas blankar* yang sedang mereka dorong itu. M-16 dengan silencer kini berada di tangan mereka. Laki-laki yang berseragam dokter itu mengeluarkan uzi dari balik jubah dokternya.
Tanpa mereka duga lima buah shuriken tertancap di dahi mereka masing-masing dengan cepat, darah muncrat membasahi tembok dan lantai rumah sakit. Rupanya s*****a ninja Jhon lebih cepat dari pada mereka menarik pelatuk. Belum selesai rasa kagum dari keempat pengawal di depan pintu itu, kelima orang yang tadi duduk bangkit dan menyerang mereka menggunakan revolver, namun kali ini ke empat orang pengawal itu sigap, mereka memberondongkan peluru ke arah mereka dan memberikan salam kematian. Dua orang pengawal yang dekat lift pun tidak mau ketinggalan, dengan sigap mereka menarik pelatuk pistol mereka dan menghantam bagian belakang tubuh mereka.
Dua orang pengawal yang berdiri dekat lift tadi menghampiri mayat-mayat yang bersimbah darah di lantai rumah sakit, kewaspadaan nampak tak lekang dari wajah mereka. Dua orang dari penjaga ruangan menghampiri lima mayat yang berseragam tenaga kesehatan dan memastikan mereka sudah tidak berbahaya lagi.
“Yang ini dari Naga langit, Bang,” ujar salah satu dari mereka yang menemukan tato naga di leher kanan mayat yang tadi menyerang belakangan.
“Yang ini enggak ada tanda dari mana, Bang,” kata salah satu dari mereka lagi yang sedang memeriksa mayat berseragam dokter dan perawat.
“Bisa saja dari anak buahnya Joker atau yang lainnya,” kata Jhon.
Terlihat Alpha keluar dari kamar di mana ayahnya dirawat dan terkejut melihat dengan banyaknya mayat bersimbah darah bergelimpangan di lantai rumah sakit.
“Astaga, mereka dari mana, John?” Alpha melangkah mendekati mayat-mayat yang terkapar tak jauh darinya.
“Mereka ada dua kelompok, Bang. Ada dari Naga langit dan satu lagi belum ketahuan dari mana.”
“Telepon Alex dan Hans, Jhon, Kita harus memindahkan Papa dari sini ke rumah.”
“Baik, Bang.”
Pemuda berbadan kekar itu mengeluarkan gadget-nya dari saku jaket lalu menelepon Hans dan Alex secara bersamaan, tanpa banyak kata kedua orang itu mengiyakan apa yang diucapkan oleh Jhon dari ujung sana.
“Dari mana mereka tahu Papa sedang dirawat di sini, Jhon?” Alpha menatap orang keprcayaannya itu. Sosok yang ditanya mengangkat bahunya secara bersamaan menandakan dia pun tidak mengetahui alasan mengapa kedua kelompok itu bisa sampai tahu.
“I have no idea, Bang.” Jhon melengkapi kalimatnya dengan gelengan kepala kecil. “Mungkinkah ada pengkhianat yang membocorkan keadaan Bapak sekarang?”
“Dugaanku juga begitu? Tetapi siapa yang jadi musuh dalam selimut keluarga Arkarna?”
“Bisa siapa saja, Bang. Kita akan mencari tahu itu.”
“Nanti Alex yang akan melakukannya, kamu fokus ke yang tadi aku minta.”
“Siap, setelah Alex dan hans datang aku akan berangkat.”
“Okey kalau begitu, aku ke dalam ruangan dulu, Jhon. Khawatir Papa mendengar sesuatu.” Tanpa menunggu kata iya pewaris tunggal Arkarna Company itu meninggalkan Jhon beserta anak buah yang lainnya.
Terlihat Pak Gusman sedang duduk di atas tempat tidur sambil bercakap-cakap dengan Shireen, saat melihat kedatangan Alpha laki-laki berkepala enam itu bersiap menghujaninya dengan pertanyaan. Gadis berambut sebahu itu memberikan kursi yang didudukinya untuk Alpha, sedangkan dia berdiri di belakang bangku itu.
“Ada apa di luar, Al? Sepertinya terdengar ada keributan?”
“Papa enggak usah khawatir, cuma ada gangguan kecil dari kelompok Cacing Kebun dan kelompok lainnya. Sudah diatasi oleh Jhon dan teman-teman yang lainnya, don’t worry, Pa.”
“Papa baru dengar ada kelompok Cacing Kebun, Al. Itu genk baru, bukan?”
“Enggak, Pa. Mereka musuh abadi keluarga kita.”
“Musuh abadi keluarga kita itu Naga langit? Maksud kamu Naga Langit, Al?”
“Iya, Pa. Naga Langit kan itu kuat, tetapi musuh kita itu lemah kayak cacing dan binatang itu adanya di kebun ‘kan? Jadi mereka lebih pantas disebut Cacing Kebun dari pada Naga Langit.” Alpha melengkapi kalimatnya dengan sebuah tertawa kecil yang diikuti oleh Papanya, Shireen menggelengkan kepalanya karena mendengar kalimat perumpaman yang diucapkan oleh pemuda tampan di depannya.
“Dari mana mereka tahu Papa di rawat disini, Al?” tanya laki-laki tua itu.
“Entahlah, nanti aku akan minta Alex menyelidikinya. Bagaimana jika hari ini Papa kembali ke rumah saja, dengan kondisi yang terlihat sekarang aku pikir Papa bisa rawat jalan. Di rumah pengamanan lebih mempuni dari pada di sini, Pa.”
“Papa sih okey saja, Papa enggak nyaman terlalu lama disini, bosan, Al”
“Aku akan minta Hans untuk mengurus hal ini setelah dia datang.”
“Papa senang sekali mendengarnya.” Pak Gusman mendengus bahagia.
“Pa, aku mau menceritakan sesuatu,” ujar Alpha sambil menggeserkan kursinya mendekat ke tempat tidur Papanya.
“Silahkan, Papa siap mendengarkan.”
“Viviana kemarin menelepon aku, Pa.”
“Viviana? Anak Jose?”
“Iya, anak Uncel Jose.”
“Apa yang dikatakannya, Al?”
“Dia bilang katanya mau ke sini, maksudku ... dia mau berkunjung ke Indonesia, ke rumah kita.”
“Terus? Kamu tidak menolaknya, ‘kan? Kamu enggak melarangnya ‘kan, Al?
“Ya ampun Papa, pasti enggak. Mana berani aku melakukannya, uncle Jose adalah keluarga kita dan banyak berjasa dalam besarnya keluarga Arkarna.”
“Iya, memang Jose itu walaupun saudara angkat sudah seperti saudara sendiri, walaupun Papa enggak tahu bagaimana rasanya punya saudara sendiri karena memang tidak pernah punya,” kata Pak Gusman seraya menerawang. “PR-nya adalah pengamanan nanti yang harus ditingkatkan jika Viviana akan ke sini, Al. Khawatir musuh Pamanmu itu berniat mencelakakan putri semata wayangnya.”
“Itu menjadi kekhawatiranku, Pa.”
“Itu mudah diatur, anakku. Jangan khawatir. Papa yakin sekali keluarga kita kuat untuk menghadapi serangan musuh-musuh dari luar.” Ujar Pak Gusman sambil menepuk bahu anak satu-satunya itu. Dalam hatinya Alpha mengiyakan apa yang diucapkan oleh Papanya tetapi di hatinya juga dia mempertanyakan apakah keluarganya cukup kuat jika p*********n berasal dari dalam tubuh keluarga Arkarna. Entah mengapa tiba-tiba ada keraguan seperti itu yang menyapanya, apakah mungkin karena kejadian p*********n yang baru saja terjadi di lorong rumah sakit?
Terdengar pintu kamar terbuka, nampak Alex berjalan dengan tergopoh menghampiri ketiga orang yang ada di ruangan itu. Kepala Keamanan keluarga Arkarna itu menggamit tangan laki-laki berkepala enam itu dan menciumnya dengan takzim.
“Maaf, saya datang agak lama, Pak,” ujar Alex sambil menundukkan wajahnya.
“Bukan aku yang memanggil kamu, Lex. Pasti Alpha yang melakukannya. Iya, Al?”
“Iya, Pa.”
“Kalau begitu maafkan aku jika datang agak lama, Bang.”
“Jangan sungkan seperti itu, Lex. Tunggu Hans tiba dulu ya.”
Sedetik Alpha menyelesaikan kalimatnya pintu kamar kembali terbuka dan sosok berjas putih dengan tergopoh juga datang menghampiri mereka. Dokter Hans melakukan apa yang tadi dikerjakan oleh Alex, mencium tangan orang nomor satu keluarga Arkarna itu.
“Maafkan aku datang agak lama, Bang.”
Alpha tidak menjawab kalimat yang diucapkan dokter berwajah oriental itu hanya sebuah anggukan kecil sebagai respons. Anak tunggal Gusman Arkarna itu mengajak kedua orang yang baru tiba itu untuk duduk di sofa.
“Begini, Lex, Hans ... Sebelum kalian masuk ke ruangan ini pasti sudah mengetahui apa yang terjadi beberapa menit lalu di lorong depan kamar. Tempat ini tidak aman untuk keselamatan Papa, aku khawatir walaupun pengamanan yang ada kita pertebal tidak kuat menahan serangan jika dilakukan secara bersamaan oleh musuh keluarga kita.”
Kedua pemuda di depan Alpha menunduk dengan takzim mendengarkan apa yang diucapkannya.
“Aku khawatir akan ada serangan membabi buta dari kelompok Cacing Kebun atau Mas Joko yang justru akan menimbulkan korban orang lain, pasien dan keluarganya atau malah tenaga kesehatan yang bertugas di rumah sakit.”
“Cacing kebun, Bang?” Alex mendongak sambil mengernyitkan dahinya mendengar nama musuh keluarganya.
“Mas Joko?” Alex menimpali kebingungan saudara angkatnya.
“Naga Langit dan Joker plesetannya Cacing Kebun dan Mas Joko.” Alpha menjelaskan.
“Ooh ...” Alex dan Hans membentuk paduan suara sporadis mendengar penjelasan itu, di wajah mereka nampak senyum kecil dengan dilengkapi gelengan kepala.
“Intinya adalah kita harus memindahkan Papa ke rumah hari ini juga. Hans, kamu urus kepulangan Papa dari sini. Alex, kamu persiapkan pengawalan dan keamanan.”
“Siap, Bang,” jawab kedua orang yang berada di depan Alpha hampir bersamaan.
Pojok Bahasa
Blankar : Tempat tidur dorong di rumah sakit