Alpha memastikan fasilitas kesehatan yang dibutuhkan oleh Papanya di rumah sudah maksimal, dia menanyakannya langsung ke adik angkatnya, Dokter Hans. Pewaris tunggal keluarga Arkarna itu juga memastikan pengamanan sudah maksimal di rumah tinggal yang juga berfungsi sebagai markas utama. Setelah serangan yang dilakukan oleh musuh-musuh keluarga Arkarna di rumah sakit kemarin, dia tidak mau ada serangan selanjutnya yang mungkin bisa saja lebih besar.
“Jangan khawatir, semuanya sudah aman, Bang. Aku pastikan serangan sebesar apapun akan berhasil kita tangkal. Dengan pengamanan berlapis Bapak akan aman,” ujar Alex dengan yakin.
“Senang mendengarnya, Lex. Apakah ada penambahan lapisan keamanankah?”
“Ada di beberapa spot, Bang. Aku sedikit memodifikasi keamanan dengan ditemukannya robot penjaga oleh Profesor Tanaka beberapa bulan lalu. Ada empat lapis penjagaan dengan ketebalan variatif di setiap penjuru, lapisan pertama yang mengamankan bagian depan adalah pasukan dengan AK 47 dan M16 dengan 10 robot penjaga bersenjatakan Minigun yang bisa memuntahkan 6000 peluru tiap menitnya. Lapisan ini selain dilengkapi oleh pasukan sniper DSR 50 juga DSRKV untuk jaga-jaga musuh menggunakan helikopter. Di setiap gedung tinggi ada penambahan KORD jika mereka menggunakan kendaraan lapis baja. Aku pikir di lapisan pertama juga tidak akan mereka berhasil tembus,” ujar Alex sambil tersenyum kecil.
“Keamanan lapisan kedua adalah pasukan berlapis dua dari yang sebelumnya, bedanya adalah pasukan sniper digantikan dengan pasukan Shotgun semi automatic M1014 ditambah dengan pasukan berpistol terlatih. Pada lapisan ketiga murni adalah pasukan robot bersenjata berat Minigun dan lapisan keempat adalah pasukan pengamanan super. Setelah lapisan-lapisan tersebut masih ada pengamanan pamungkas yang tidak perlu diragukan lagi.” Alex menyudahi pemaparannya.
Alpha mendengarkan apa yang diucapkan oleh Kepala Keamanan Keluarga Arkarna itu dengan seksama, dia mengangguk-angguk pelan sambil mencerna perlahan dan menyusuri detail pengamanan yang disusun oleh Alex.
“Aku yakin sekali, serangan sebesar apapun tidak akan berhasil menembus pengamanan lapisan pertama, Bang,” ujar Alex mengulangi kalimat yang sudah diucapkannya tadi untuk meyakinkan Alpha.
“Oh iya , jika ada musuh yang menyerang lewat udara mereka akan disambut dengan anti aircraft, serta pasukan RPG. Tidak ada modifikasi di bagian ini hanya ada penambahan jumlah pasukan saja, Bang.”
“That’s nice. Aku pikir itu sudah cukup, Lex.”
“Mudah-mudahan itu cukup untuk pengamanan markas utama, Bang. Pasukan yang tersebar di beberapa negara aku tarik sementara waktu dan nanti akan digantikan oleh pasukan yang baru direkrut.” Alpha mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan oleh Kepala Keamananan itu.
Terdengar ada sebuah pesan masuk ke ponsel milik Alpha, dia menduga yang mengirim pesan itu adalah Jhon karena nomor miliknya hanya diketahui adik-adik angkatnya saja dan yang paling mungkin mengirimkan pesan untuknya adalah pengawal pribadinya itu.
Pemuda dengan rambut bersisiran rapi itu meraih ponsel yang ada di saku celana kirinya dan melihat nama sang pengirim pesan. Benar saja dugaannya, nama Jhon tertulis di sana. Alpha membaca pesan yang tertulis di sana, nampak sebuah gmaps dijadikan sebagai lampiran disertai dengan keterangan lokasi rumah Jingga.
“Aku akan keluar sebentar, Lex. Keamanan di markas utama adalah tanggung jawabmu, pastikan tidak ada yang miss sedikitpun.”
“Baik, Bang.” Alex mengangguk takzim.
Alpha menepuk bahu kiri adik angkatnya itu sebelum berlalu meninggalkannya, Alex merendahkan kepalanya dengan takzim.
Anak tunggal Gusman Arkarna itu menekan tombol hijau untuk memanggil Shireen, dalam hitungan detik sebuah suara terdengar di ujung sana.
“Iya, Bang?”
“Shireen, aku mau keluar sebentar. Kamu bisa pastikan keadaan Papa baik-baik saja sementara aku tidak di rumah?”
“Baik, Bang. Enggak perlu khawatir. Aku akan mengabari jika ada sesuatu yang penting.”
“Thank’s ya, Reen.”
“No big deal, Bang. My pleasure.” Panggilan telepon itu pun diakhiri oleh Alpha sedetik Shireen menggenapkan kalimatnya itu.
Pemuda itu melangkah menuju kamarnya dan meraih jaket kulit berwarna cokelat terang untuk menutupi t-shirt hitam polos yang dikenakannya. Dia melangkah menuju teras di mana ada dua orang pemuda berbadan tegap berdiri, mereka mengangguk takzim saat secara tak sengaja bertatapan dengan anak tunggal dari Gusman Arkarna itu.
“Apakah perlu pengawalan, Bang?” terdengar suara Alex dari belakang Alpha yang sedang merapatkan zipper jaketnya. Pemuda itu menoleh dan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Kepala Keamanan keluarga Arkarna.
“It’s okey, pastikan saja aku membawa kendaraan yang tak dikenali oleh musuh kita, Lex.”
“Abang mau bawa motor atau mobil?”
“Motor aja, Lex. Lebih cepat.” Kalimat yang diucapkan oleh Alpha dijawab oleh anggukan Alex yang lalu langsung mengangkat gadget-nya dan menelepon anak buahnya yang bertanggung jawab di bagian garasi. Kepala Keamanan itu menyebutkan sebuah merek kendaraan untuk dibawakannya segera ke lobi.
Tidak sampai semenit kendaraan roda dua yang disebutkan oleh Alex tiba, motor besar bertenaga 350 cc berwarna biru itu distandarkan oleh anak buah Alex di lobi, dia lalu mengangguk takzim ke arah kedua orang yang ada di hadapannya sambil menyematkan sebuah senyum tipis. Alpha melangkah mendekati motor dengan sebuah helm di atas tangki bensinnya. Anak tunggal Gusman Arkarna itu menatap pemuda yang tadi membawa kendaraannya itu dengan dalam.
“Sepertinya kamu anggota keluarga baru ya?” ujar Alpha. Pertanyaan itu dijawab dengan sebuah anggukan gugup pemuda itu.
“I-iya, Tuan,” jawabnya dengan tergagap.
“Terdengar jelas sekali kamu memang anggota keluarga baru. Siapa namamu?” Kalimat Alpha dilengkapi dengan sebuah senyuman kecil.
“Nama saya Rohman, Tuan. Abdul Rohman lengkapnya.”
“Abdul Rohman, Panggilan kamu siapa? Abdul atau Rohman?”
“Biasanya sih Rohmen, Tuan.”
“Okey, Rohmen. Selamat datang di Keluarga Arkarna.”
“Terima kasih, Tuan. Saya sangat bangga sekali bisa menjadi bagian dari keluarga Arkarna.”
Alex berdiri di samping Alpha sambil tersenyum kecil ke arah pemuda berusia dua puluh lima tahun yang sedang diajak bicara oleh pewaris tunggal kerajaan Arkarna itu, dia membisikkan sesuatu ke telinga Alpha.
“Dia teman dekatnya Shireen, Bang.” Alpha menoleh ke Alex mendengar apa yang diucapkannya sambil mengangguk kecil, sepertinya dia mulai menerka-nerka dengan apa yang terjadi dengan adik angkat perempuannya itu dengan pemuda anggota keluarga baru di depannya ini.
“Ada satu hal yang harus kamu ubah jika ingin terus menjadi anggota keluarga Arkarna, Men.” Pemuda yang diajak bicara itu tidak berani mengangkat wajahnya, dia merasa ada yang salah dengan apa yang dilakukannya barusan.
“Maaf jika tidak berkenan, Tuan.” Kalimat Rohmen terdengar gugup sekali dan ada tekanan rasa takut di sana.
“Mulai sekarang jangan memanggil aku Tuan, Men. Di keluarga kita bukan tentang siapa yang menjadi Tuan dan anak buah, kita ini adalah keluarga besar. Panggil aku Abang saja, seperti keluarga besar yang lain memanggil.”
“Ba-baik, Bang. Maafkan saya baru tahu.”
Alpha menepuk bahu kiri anggota keluarga baru itu dua kali. Dia lalu meraih helm yang ada di atas tangki bensin dan mengenakannya, pemuda itu mulai menyamankan dirinya yang duduk di atas jok. Alex berdiri di samping kendaraan ber-cc besar itu lalu memberikan sebuah revolver yang selalu menemani pemuda itu keluar jika sendirian. s*****a berjenis Smith and Wesson Magnum 500 itu diraih dan diselipkan di pinggang bagian belakangnya.
Sebuah tarikan gas di stang membuat suara knalpot meraung dan menambah kegagahan kuda besi itu. Tarikan gas selanjutnya membuat kendaraan ber-cc besar itu meninggalkan lobi dan meluncur menyusuri jalan menuju gerbang utama yang berjarak 500m dari lobi.
Kedua mata Alpha menyempatkan melihat sistem keamanan sepanjang jalan yang tadi telah dipaparkan oleh Alex, terlihat beberapa kelompok pasukan pengamanan di setiap sudut yang ditambahkan oleh robot penjaga yang berdiri gagah dengan s*****a mesin miniguns di tangan kanannya. Sempat terlintas di benak pemuda itu akan bujet yang dibutuhkan untuk pengamanan lapis pertama ini, walaupun uang bukanlah sebuah masalah untuk keluarganya. Benaknya kadang iseng memikirkan hal-hal baru yang melintas di otaknya. Malah dia pernah berpikir jangan-jangan sistem persenjataan milik keluarganya cukup untuk membuat sebuah negara baru, namun keinginan nakal itu ditelannya segera.
Google maps yang disambungkan ke headset wireless Alpha memberitahukan bahwa dia sebentar lagi sampai ke lokasi yang telah di-shareloc oleh Jhon. Beruntung sekali dia menggunakan motor sehingga lebih cepat sampai dibandingkan dengan kendaraan roda empat yang pasti sekali akan terjebak kemacetan Jakarta.
“Tujuan anda ada di sebelah kiri,” ucap suara perempuan dari google maps itu. Sebuah plang cafe dengan huruf yang besar menyambutnya, dia memarkirkan motornya bersanding dengan motor pengunjung lain. Sebuah peluit memberi aba-aba pemuda itu bahwa ada penjaga parkir di tempat itu.
Alpha berjalan meninggalkan kendaraannya setelah sebelumnya menanggalkan helmnya di atas tanki bensin. Beberapa tatapan gadis-gadis ABG yang duduk di meja dekat pintu masuk menyambutnya, nampak sebuah senyum ditujukan untuknya oleh salah satu gadis berambut sebahu itu, pemuda itu menyempatkan dengan membalasnya dengan senyuman kecil. Dugaannya sosok belasan tahun itu masih bersekolah di SMA kelas 12.
Sebuah tangan terlihat memberi tanda kepadanya yang sedang mencari-cari sosok yang mengajaknya bertemu di cafe ini. Pemuda itu melangkah ke meja yang terletak paling ujung dari pintu masuk, dia langsung duduk di kursi yang ada di hadapan pengawal pribadinya. Jhon menggeserkan air mineral yang ada di hadapannya ke depan Alpha yang lalu langsung dibuka dan diminumnya beberapa kali tegukan.
“Ada kabar apa, Jhon?” Alpha membuka pembicaraan setelah membuka zipper jaketnya.
“Sesuai yang Abang perintahkan aku mencari informasi tentang Jingga.”
“And ...?”
“Dia sekarang ada di mini market depan itu, baru tiba sekitar sepuluh menit lalu.” Jhon menunjuk ke arah mini market dengan nuansa merah yang ada di depan cafe terpisahkan oleh jalan raya yang relatif ramai.
Alpha mengangguk-angguk pelan sambil memperhatikan tempat yang ditunjukkan oleh pengawal pribadinya itu, di sana terlihat banyak customer yang sedang berbelanja itu. Nampaknya dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Jingga. Dia juga mengagumi kegesitan dari adik angkatnya itu yang serba cepat jika urusan memata-matai, mungkin itu dipicu oleh kemampuan spionase ninjanya yang mempuni.
“Aku sudah mengatur sebuah rencana, Bang. Barangkali bisa digunakan.”
“Seperti apa rencananya, Jhon?” Alpha menatap serius adik angkatnya.
“Jadi aku tadi sudah minta tukang parkir yang jaga di sana untuk mengempeskan motor milik Jingga, dia pasti akan menduga kendaraannya bocor. Setelah dia menyadari motornya demikian nanti Abang datang menawarkan untuk mengantarnya pulang dan motor miliknya aku yang bawa ke tambal ban dan mengantarkannya pulang. Nanti sengaja aku ulur waktu supaya Abang punya waktu banyak dengannya.”
“Ide yang bagus, Jhon. Bisa kita eksekusi.” Kalimat itu dilengkapi dengan senyuman puas Alpha.
“Itu Jingganya sudah keluar, Bang. Yuk kita segera meluncur ke sana, sebelum Jingga mendorong motornya.”
Tanpa mengulur waktu lagi Alpha langsung bangkit dari kursinya, Jhon mengikutinya setelah menyelipkan sebuah uang lima puluh ribuan di bawah botol air mineral miliknya. Dengan sedikit tergopoh mereka menuju tempat di mana kendaraan mereka diparkir.
Dengan sigap Alpha mengenakan helmnya dan menghidupkan motornya setelah memutar arah bagian depan kendaraannya.
“Gue nitip motor ya, Bro,” ujar Jhon kepada tukang parkir yang menghampirinya tanpa diminta, dia memberikan uang berwarna biru kepada laki-laki berjenggot panjang itu. “Ini uang parkir buat dua motor ya, sisanya ambil aja.”
Tukang parkir itu melongo tak percaya dengan uang lima puluh ribuan yang diberikan oleh Jhon itu hingga dia speechless sampai pemuda berbadan kekar itu meninggalkan tempat parkir untuk menuju mini market yang terletak di seberang jalan.
Belum genap semenit mereka sudah tiba di mini market itu dan memarkirkan kendaraannya di samping Jingga yang sedang jongkok menekan ban motornya yang kempes. Jingga menyempatkan melirik siapa yang parkir tepat di samping motornya, spontan mulutnya memanggil kedua sosok yang baru tiba itu.
“Kak Alpha, Kak Jhon ...” Kedua sosok yang dipanggil itu menoleh ke arah sumber suara itu.
“Jingga, kamu ada di sini?” tanya Alpha dengan akting yang meyakinkan.
“Iya, aku habis belanja, Kak. Malangnya aku ban motor kempes, padahal tadi saat berangkat baik-baik saja,” ujar Jingga dengan raut bete.
“Mungkin kena paku atau benda lain atau mungkin juga kurang angin jadi kempes.”
“Entahlah, Kak. Tambal ban lumayan jauh lagi dari sini,” ujar gadis berleher jenjang itu masih dengan nada kesal.
“Kamu mau ke mana, Jingga?”
“Aku mau pulang sih, Kak.”
“Bagaimana jika aku antar saja?”
“Tapi ... Bagaimana nanti Kak Jhon?”
“Nanti motor kamu Jhon yang antar ke rumah setelah dibawa ke tambal ban.”
Jingga nampak berpikir sejenak dengan ide yang dipaparkan oleh Alpha Panca Arkarna itu.
“Aku khawatir merepotkan Kak Alpha dan Kak Jhon.”
“Aku sih enggak apa-apa mengantar kamu pulang, jarang-jarang ‘kan bidadari naik motor enggak menggunakan sayapnya untuk terbang. Aku yakin sekali Jhon juga mau menolong kamu, Jingga. Benar enggak Jhon?”
“Pastinya dong, Bang.” Jhon mengacungkan kedua jempolnya untuk meyakinkan Jingga.
“Tuh, kamu dengar sendiri ‘kan?”
“Iya, Terima kasih ya sudah mau menolongku, Kak Jhon.”
“Denganku enggak berterima kasih?”
“Pasti dong, Kak Alpha malah double terima kasihnya karena bersedia mengantarkanku pulang,” kata Jingga sambil memamerkan senyumnya yang manis. Alpha menelan ludah untuk mengendalikan kecamuk perasaannya akibat senyuman bidadari bertahi lalat di hadapannya itu.