Serendepity

2097 Kata
Raungan knalpot motor yang dikendarai oleh Alpha membelah jalan yang tak begitu ramai, di belakangnya nampak Jingga yang terpisahkan oleh tas berisi belanjaannya yang tadi dibelinya di mini market. Pemuda tampan itu menolehkan sedikit wajahnya ke arah kiri, hendak bicara dengan sosok di belakangnya. “Kamu sudah makan, Jingga?” tanya Alpha memecah kebisuan yang tercipta beberapa saat setelah mereka melaju. “Belum, Kak. Rencana sih aku sehabis belanja ini baru mau masak,” jelas Jingga sambil diiringi sebuah senyum tipis. Alpha mengangguk kecil sebagai pertanda dia mendengar balasan dari pertanyaan yang dilontarkannya. Matanya sejenak memicing saat mentari sepertinya terlalu silau untuk kedua indera penglihatannya itu. Benaknya menyesalkan mengapa dia tidak membawa kaca mata hitamnya yang tadi tergolek di atas meja di kamar tidurnya. Terdengar kumandang azan dengan lantang saat mereka melintasi sebuah masjid yang mulai ramai didatangi. Alpha memelankan laju kuda besinya, dia memperhatikan bagaimana antusiasnya para manusia yang berduyun-duyun menghentikan laju kendaraannya dan parkir di lokasi parkir area masjid yang lumayan luas. Sejenak batinnya seperti terketuk untuk ikut menghentikan kendaraannya dan bergabung bersama mereka, tetapi sebagian hatinya tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang tidak bisa segera dia temukan jawabannya, Apa yang akan dia lakukan di tempat itu? Seorang pemuda berusia belasan menghentikan laju kendaraannya untuk memberikan jalan kepada kendaraan roda empat yang dari lawan arah yang akan memarkirkan kendaraanya di halaman masjid. Dia memberikan kode untuk kendaraan-kendaran yang tadi ditahannya untuk melaju kembali setelah sedan mewah tadi berhasil menyeberang dengan aman. Alpha menghentikan motornya sekitar lima meter dari bangunan masjid tadi, lalu men-standarkan kendaraannya di pinggir jalan di bawah pohon rindang. Batinnya mulai bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan, mengapa azan dan berduyun-duyunnya manusia menuju masjid menyita perhatiannya. Mengapa sepertinya dia ingin bergabung bersama mereka? Tetapi apa yang akan dilakukannya di sana? Dia sama sekali tidak punya pengetahuan tentang apa yang mereka sebut ‘beribadah’ itu. “Ada apa berhenti, Kak?” Sebuah suara dari belakang tubuhnya membuyarkan dialog imajinernya. Oh, my god, what I have to say to her? Alpha menoleh sedikit ke kiri arah belakang, sambil berusaha mencari  alasan yang tepat untuk dia berikan kepada Jingga. “Kamu enggak sedang buru-buru ‘kan, Jingga?” “Enggak sih, Kak. Aku free hari ini.” “That’s good. Bagaimana jika kita makan siang dulu.” Beruntung secara tak sengaja Alpha menemukan alasan saat melihat sebuah restaurant di seberang jalan. “Mau, ‘kan?” “Jika enggak merepotkan, Kak Alpha.” “Aku sih enggak repot, Jingga. ‘kan yang menyiapkan makan siang bukan aku.” Kalimat itu dilengkapi dengan sebuah senyum kecil pemuda itu yang lalu memutarkan kendaraannya. Jingga menggelengkan kepalanya dan ikut menyematkan sebuah senyuman. Motor Alpha disambut sebuah tiupan peluit sesaat ban kendaraan roda duanya menapaki halaman parkir restoran yang lumayan ramai. Pemuda itu mengikuti arahan sang peniup peluit untuk menuju ke sisi yang sudah ada beberapa motor lainnya. Anak tunggal keluarga Arkarna itu melepaskan helmnya yang sejak tadi menghuni lengan kirinya, benda pengaman kepala itu kini berpindah ke atas tangki bensin. “Aku berharap kamu tidak apa-apa makan siang di tempat seperti ini,” ujar Alpha sesaat Jingga menyusulnya berdiri di samping kendaran roda dua berwarna biru. “Enggak apa-apa bagaimana, Kak? Aku justru suprise banget diajak ke sini. Terima kasih ya, Kak Alpha.” Alpha menggamit tangan Jingga dan mengajaknya menuju restoran, gadis itu nampak tak percaya saat pemuda tampan itu memegang tangannya. Sejenak ada rasa aneh menyelusup ke hatinya yang juga dirasakan oleh Alpha. Pemuda itu bertanya-tanya ke hatinya, mengapa ada rasa bahagia yang menghampirinya saat tangannya memegang tangan Jingga? Apakah ini namanya jatuh cinta? Sudah lama dia tidak merasakan hal itu terjadi dengan dirinya saat dekat dengan gadis-gadis lain. Seorang gadis cantik manyambutnya di pintu masuk dengan mengucapkan ‘selamat datang di restoran kami’, kedua telapak tangannya menyatu di depan d**a dengan jemari menuju ke atas. Alpha mengangguk kecil dengan dilengkapi sebuah senyum kecil sambil terus memegang tangan Jingga. Sebuah meja yang berada di tepi kolam ikan terlihat sedang dibersihkan oleh pelayan restoran, nampaknya tempat itu baru saja ditinggalkan oleh customer. Alpha mengajak Jingga ke meja itu karena meja lain yang kosong kurang menarik untuknya. Seorang waitress datang menghampiri beberapa detik setelah mereka duduk, gadis berseragam dengan nama restoran itu memberikan kertas menu dengan dilengkapi kalimat mempersilahkan. “Kamu yang pilih menunya, Jingga,” ujar Alpha sambil menatap gadis cantik di depannya itu. “Aku, Kak? Aku khawatir nanti pesananku bukan selera, Kak Alpha.” “Aku ini Omnivora, Jingga. Jangan khawatir.” “Omnivora? Itu ‘kan artinya pemakan segala? Maksudnya bagaimana, Kak Alpha?” “Maksudnya aku ini makan apapun, semua makanan aku suka.” “Oh, begitu.” Jingga mengangguk-angguk memahami kalimat yang diucapkan oleh pemuda dengan jaket cokelat dengan zipper terbuka itu. “Silahkan, kamu yang pilih menunya,” ujar Alpha yang disambut anggukan kecil Jingga. Mata gadis berambut pendek itu menyisir nama-nama masakan yang ada di kertas menu dengan matanya, dia menimang apa yang akan dipilihnya untuk makan siang. Sebuah nama masakan menyita matanya, air liur rasanya membersit. “Aku mau pesan ini, Kak Alpha.” Jingga menunjukkan nama masakan yang akan dipesannya kepada Alpha. Pemuda itu mengangguk setuju. “Pesan gurame asam manisnya dua porsi, Mbak.” ujar Jingga sambil menoleh ke arah waitress yang berdiri di samping mereka dengan sabar. “Baik, gurame asam manis dua. Mau pesan minumnya juga, Mbak?” ujar waitress itu sambil menuliskan pesanan di notes yang ada di tangannya sejak tadi. Mata Jingga liar menyusuri nama-nama  jenis minuman yang akan dipesan untuk melengkapi pesanannya. “Jus alpukat, Kak?” tanya Jingga memastikan dulu kepada sosok di depannya. Walaupun pemuda tampan di depannya menyerahkan kepadanya untuk memesan menu, tetapi rasanya tidak elok jika tidak bertanya terlebih dahulu. Ini adalah kali pertamanya makan berdua dengannya, Gadis itu tidak mau memberikan kesan negatif. Alpha mengangguk setuju dengan nama minuman yang akan dipesan oleh Jingga. “Jus alpukat dua ya, Mbak,” ujar Jingga kembali kepada pelayan itu. “Baik, gurame asam manis dua, jus alpukat dua. Ada lagi?” “Tambah air mineralnya dua, Mbak.” Jingga menambahkan lagi pesanannya, waitress itu menambahkan kembali catatannya. “Baik, ada lagi?” tanya pelayan itu. Jingga menggelengkan kepalanya menandakan tidak ada lagi yang diinginkannya. “Kak Alpha ada yang mau ditambahkan pesanannya?” Pertanyaan Jingga direspons dengan gelengan kepala dan senyuman kecil Alpha. “Cukup itu saja, Mbak.” Jingga menoleh ke arah waitress itu yang disambut dengan anggukannya. “Baik, ditunggu ya pesanannya, Mas, Mbak.”  Pelayan itu meninggalkan mereka tanpa menunggu respon dari Alpha dan Jingga. “Terima kasih ya, Kak Alpha,” ujar Jingga beberapa detik mereka membisu. “Terima kasih? Untuk apa?” Alpha mengangkat alis kanannya mendengar kalimat yang diucapkan gadis berambut pendek di depannya. “Terima kasih untuk mengajakku makan di sini.” “Sudahlah, Jingga. Ini bukanlah hal besar. Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu.” “Lho? Untuk apa, Kak Alpha?” “Untuk bersedia makan denganku di sini. Sesuatu hal yang besar sekali saat seorang bidadari mau makan siang bersama seorang manusia.” “Bidadari? Siapa?” “Yang akan makan siang denganku ‘kan kamu, Jingga. Kamu adalah bidadari itu.” Jingga menunduk, dia berusaha menyembuyikan wajahnya yang bersemu merah. Sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya. “Aduh, aku jadi salah tingkah ni, Kak Alpha. Jangan keterlaluan seperti itu memujinya.” “Lho? Yang keterlaluan itu kamu, Jingga.” “Aku? Keterlaluan? Tolong dijelaskan di bagian mana aku keterlaluannya, Kak Alpha? Mohon maaf jika aku enggak sopan terhadap Kakak.” “Iya, kamu keterlaluan, Jingga. Keterlaluan manisnya.” Kalimat Alpha lagi-lagi dilengkapi dengan sebuah senyuman kecil. “Ya ampun, Kak. Aku malu dipuji-puji seperti itu.”  Jingga menyembunyikan kembali wajahnya yang kian bersemu merah. Hatinya merasa senang sekali dalam hitungan belum satu menit dua pujian diterimanya, sosok di depannya benar-benar pandai merangkai kalimat. Tebersit dalam benak Jingga akan berapa banyak gadis yang sudah dirayunya dengan kalimat itu tetapi dia tidak memerdulikannya, pokoknya dia senang sekali hari ini. Percakapan mereka terjeda saat dua orang waitress menghampiri mereka sambil membawakan pesanan. Gadis pelayan pertama meletakkan dua porsi gurame asam manis dan sebakul nasi, rekan kerjanya meletakkan pesanan minuman Alpha dan Jingga. Sebuah kalimat mempersilahkan menjadi penutup sebelum kedua pelayan itu meninggalkan sepasang manusia yang tadi terjeda pembicaraannya. Jingga mendekatkan gurame asam manis milik Alpha kepadanya juga jus alpukat dan air mineral milik pemuda itu. “Silahkan, Kak Alpha.” “Ayo kita makan, Jingga.” Jingga mencelupkan tangannya ke mangkuk yang berisi air pencuci tangan sebelum memulai makan, Alpha pun  mengikuti apa yang dilakukannya. “Aku suka makan menggunakan tangan dari pada sendok, Kak. Aku harap Kakak enggak keberatan dengan ke-kampungan-ku ini.” “It’s okey, aku enggak keberatan.” “Terima kasih, Kak Alpha.” Jingga mulai mendekatkan nasi miliknya dan menyobek daging gurame asam manis miliknya menggunakan tangan, mulutnya mulai mengunyah sesaat nasi mulai mengisi rongga mulutnya. Alpha mengikuti apa yang dilakukan gadis di depannnya, dia menyingkirkan sendok dari piringnya dan menggunakan tangan untuk memasukan nasi ke mulutnya. “Ini namanya serendepity, Kak.” “Serendepity?” Alpha mengernyitkan dahinya mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jingga. “Iya, kebetulan yang menyenangkan. Aku senang bertemu Kak Alpha hari ini disaat yang tepat, diboncengi pulang lalu diajak makan di sini.” “Ini juga kebetulan yang menyenangkan juga untukku, Jingga. Kebetulan kita bertemu dan berkenalan di kantin, aku senang sekali bisa mengenal bidadari seperti kamu.” “Please deh, Kak. jangan bilang aku bidadari lagi, aku rasanya mau terbang ini.” “Jika kamu terbang, itu malah menambah kuat kesimpulan bahwa kamu memang bidadari, Jingga.” “Ah, Kakak.” Jingga menunduk kembali, menyembunyikan wajahnya. “Aku ‘kan malu, Kak.” “Jujur aku senang sekali bisa mengenal kamu, Jingga. Aku berharap tidak ada laki-laki lain yang ada di sisi kamu.” Kalimat Alpha membuat Jingga menatap wajah pemuda di depannya itu. “Yaah, bagaimana dong, Kak? Sudah ada laki-laki lain yang ada di hidup aku,” ucap Jingga dengan wajah serius. Apa yang diucapkan oleh gadis di depannya itu membuat Alpha agak terkejut dan menelan ludah, dia sudah menduga bahwa tidak akan mudah untuk mendapatkan gadis secantik dan semanis Jingga, pasti akan ada duri, aral melintang atau apapun yang akan menjadi penghalang mulus jalannya. Sebuah helaan napas melengkapi gulana yang menyapanya tiba-tiba. “Siapapun itu yang ada di samping kamu, semoga bukan seorang suami atau yang levelnya sudah berada di jenjang serius, Jingga.” Suara Alpha agak berubah, jelas sekali ada sedikit rasa kecewa yang dirasakannya. “Bukan kok, Kak. Bukan seseorang yang levelnya di jenjang serius apalagi suami, aku belum menikah, Kak.” Jingga menjelaskan. Wajah Alpha kembali terlihat cerah dengan kalimat yang diucapkan oleh gadis itu, sebuah penjelasan yang melegakan sekali dirasakan oleh anak tunggal Gusman Arkarna itu. “Ada seorang laki-laki yang memang sudah aku kenal sejak kecil dan selalu memperhatikan aku. Namanya adalah Arung, Abang aku,” lanjut Jingga menjelaskan. Sebuah senyuman terlihat di wajah Alpha mendengar penjelasan Jingga yang kedua kalinya, ternyata laki-laki yang dimaksudnya itu bukanlah seseorang dikhawatirkan akan menjadi kerikil untuk Alpha mendapatkan cinta Jingga. Pemuda itu berprinsip semenarik apapun gadis yang diincarnya jika sudah berstatus ‘seseorang dalam seseorang’  tidak akan pernah dia mengejarnya. Ada sebuah kata yang sedikit menyapa benaknya untuk berpikir, nama Abangnya Jingga adalah Arung. Nama itu terdengar seperti tidak asing di telinganya, itu adalah nama musuh keluarganya ketua Geng Naga Langit yang sering diplesetkan menjadi Cacing Kebun olehnya. Apakah mungkin Arung kakaknya jingga alah yang juga Arung musuhnya? Bisa saja, tetapi bisa juga bukan karena nama Arung pasti banyak di Indonesia ini. Bisa sepuluh, seribu, ratus ribu mungkin juga jutaan. Who know? “Yang justru aku khawtirkan adalah seseorang yang ada di hidup Kak Alpha.” “Seseorang yang di hidup aku? Siapa maksud kamu?” “Ya mana kutempe, Kak. Siapa aja orang yang di dekat Kakak dan akan cemburu jika Kak Alpha terlihat bersamaku di sini.” Jingga melengkapi kalimatnya dengan senyum, Alpha tertawa dengan penggunaan kata tempe sebagai ganti ‘mana kutahu’. “Oh ... Jangan khawatir, Jingga. Aku masih jomblo.” “Kok aku enggak percaya ya, Kak.” “Itu hak kamu jika enggak percaya.” “Laki-laki dengan wajah ganteng seperti Kakak, dengan motor gede yang Kakak bawa masa tidak ada satupun cewek yang mendekati,” ujar Jingga dengan sebuah tertawa kecil. Gadis itu menyuap nasi yang dicampur dengan daging ikan gurame setelahnya. “Aku ini laki-laki tipe pemilih, Jingga. Dan aku memilih kamu untuk mewarnai hari-hari aku selanjutnya.” Jingga kembali menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah, sosok tampan di depannya benar-benar membuat dadanya berbunga-bunga dengan berkali-kali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN