Alpha dan Jingga keluar dari restoran kurang dari sejam kemudian, mereka berjalan bersisian dengan sang pemuda di samping kanan. Seorang gadis yang berdiri di pintu restoran mengucapkan terima kasih dan sedikit merendahkan badannya dengan dilengkapi sebuah senyum kecil sebagai pemanis, mereka mengangguk kecil untuk menjawab kalimat yang diucapkannya.
Suasana parkiran masih lumayan ramai, mungkin karena disebabkan masih jam makan siang. Seorang tukang parkir nampak sibuk sekali mengatur kendaraan yang keluar dan masuk ke halaman. Alpha menghampiri kendaraannya yang terparkir bersisian dengan kendaraan lain, motor tersebut sepertinya agak susah keluar karena ada dua motor matic yang ada di sisi kanan dan kirinya. Pemuda itu menoleh mencari-cari tukang parkir lain yang mungkin bisa membantunya.
Seorang pemuda berambut gondrong sebahu tergopoh menghampirinya lalu dengan sigap dia menggeserkan motor-motor yang ada di sisi kanan dan kirinya. Motor Ninja berwarna biru itu lalu ditarik mundur olehnya.
“Silahkan, Bang,” ujar pemuda itu sambil sedikit membungkukkan badannya. Alpha mengamati pemuda itu, dari kata ‘Bang’ yang digunakannya dia curiga sosok di depannya adalah bagian dari Arkarna namun dia tidak mengenalnya.
Anak tunggal pak Gusman itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dan memberikannya kepada pemuda itu, namun dia menggelengkan kepalanya.
“Enggak usah, Bang,” katanya dengan kalimat santun namun tetap tak mengangkat wajahnya.
“Ambil aja, it’s okey.” Alpha terus memaksa.
“Maaf, Bang. Enggak usah.” Pemuda itu masih berusaha menolaknya, Alpha kian kuat keyakinannya bahwa memang sosok di depannya adalah bagian keluarga Arkarna.
“Ambil saja, jika kamu tidak mau mengambilnya berikan kepada temanmu itu. Mungkin bisa untuk membeli sekadar rokok dan gorengan.” Pemuda di depannya mematung sambil menundukkan wajahnya, Jingga yang menyaksikan dialog itu merasa janggal dengan apa yang disaksikan oleh kedua matanya itu.
Alpha akhirnya memberikan uang itu dengan menyelipkannya ke tangan pemuda itu yang disambut dengan anggukan takzim sosok itu dan ucapan terima kasih. Pemuda tampan itu naik ke atas kuda besinya dan menghidupkan mesinnya.
“Nama kamu siapa?” tanya Alpha setelah Jingga duduk di jok belakangnya.
“Rocky, Bang,” jawab pemuda itu dengan wajah yang masih menunduk.
“Okey, Rocky. Terima kasih.”
“Baik, Bang. Jangan lupa untuk kembali lagi.”
Sebuah senyum tersungging di ujung bibir Alpha mendengar kalimat yang diucapkan oleh sosok gondrong di depannya. Mungkin dia akan berkunjung lagi ke restoran ini jika kebetulan melintas karena bisa saja setelah ini dia akan sering lewat saat ke rumah Jingga, gumamnya dalam hati.
Kendaran roda dua sudah berada di pinggir jalan dan bersiap bergabung dengan kendaran lain yang relatif ramai. Seorang laki-laki berseragam satuan pengamanan membantu dengan menahan kendaran lain yang melaju, sebuah peluit menjadi pertanda untuk Alpa untuk melaju. CEO muda itu membunyikan sebuah klaskson sebagai pertanda terima kasih.
“Rumah kamu jauhkah dari sini, Jingga?” tanya Alpha yang dijawab gelengan kepala gadis itu sebagai pembuka dari jawabannnya.
“Enggak jauh kok, Kak. Setelah tikungan itu nanti ambil kiri lalu masuk ke g**g yang ada di samping toko fotokopi.”
Alpha mengangguk kecil menandakan dia mengerti apa yang diucapkan sosok di belakangnya itu, lalu berkonsentrasi lagi terhadap jalan raya yang dilaluinya.
Pemuda berjaket kulit warna cokelat itu membelokkan stang motornya ke arah kiri setelah tikungan tanpa lampu merah itu, dia memelankan laju kendaraan roda duanya. Kedua matanya memerhatikan deretan toko-toko yang ada di sebelah kiri hingga akhirnya ada g**g yang ada di samping toko photokopi Samudera Cinta.
“Nah, masuk di situ, Kak. Kontrakanku ada di sana.” Terdengar suara dari belakang pemuda itu memberikan arahan. Sebenarnya Alpha memang akan belok ke sana walau tanpa aba-aba tambahan itu juga.
Jalan masuk yang akan menuju tempat tinggal Jingga itu mempunyai lebar sekitar tiga meter, pasti akan repot sekali jika ada dua mobil berpapasan di jalan ini.
“Setelah toko ini ada deretan kontrakan, Kak. Kontrakanku ada di paling ujungnya,” ujar Jingga menjelaskan walau tanpa diminta saat motor yang dikendarai mereka melintasi sebuah toko kelontong. Benak Alpha tersita oleh penampakan tukang es buah yang lumayan ramai di samping toko itu.
Motor melaju perlahan meninggalkan tatapan-tatapan manusia yang kebetulan sedang ada di depan kontrakan mereka.
“Nah, paling ujung itu, Kak.” Tangan Jingga menyembul dari belakang di atas bahu Alpha. “Eh, itu motor aku sudah sampai duluan.”
Alpha melintasi sekelompok pemuda yang sedang mengobrol di teras kontrakan mereka, mereka terlihat seram dengan badan dipenuhi tato. Bersama mereka nampak Jhon sedang ikut tertawa. Dalam hatinya Alpha berkata bahwa pengawal pribadinya ini memang full preparing terhadap detail keamanan, pasti dia sengaja sampai duluan ke kontrakan ini untuk mengkondisikan semua.
Jhon menghampiri Alpha dan Jingga yang baru saja turun dari kuda besi dengan sebuah senyum kecil di wajahnya.
“Kakak bagaimana tahu kontrakan ku di sini?” Belum genap pengawal pribadi itu sampai ke dekat mereka sebuah pertanyaan langsung menyambutnya. Alpha menatap Jhon ingin tahu apa yang akan diucapkannya.
“Emm, aku enggak tahu sih kamu rumahnya di sini. Kebetulan teman-temanku lagi kumpul dan aku dikabari untuk bergabung dan dari pada menunggu sherlock yang tak kunjung tiba lebih baik aku bergabung dulu.” Jhon beralasan, Alpha tahu itu hanyalah akting yang dibuatnya untuk Jingga.
Jingga terkesiap karena menyadari kesalahannya yang lupa memberikan navigasi lokasi rumahnya. Alpha tersenyum kecil karena Jhon berhasil membelokkan sebuah jawaban yang tepat, jika saja dia tidak bersiasat dengan jawabannya Jingga pasti curiga bagaimana dia bisa mengetahui tempat tinggal gadis itu.
“Aduh, maafkan aku, Kak. Kebetulan tadi aku dan kak Alpha ...”
“Its’ okey, Jingga. Tanpa sharelock-pun aku bisa tiba ya ... walau secara kebetulan.” Jhon melengkapi kalimatnya dengan sebuah senyum kecil.
“Maaf ya, Kak. Aku enggak sengaja melakukannya”
“Sudahlah, enggak apa-apa.”
Alpha memperhatikan tingkah gadis di depannya itu, jelas sekali terlihat rasa bersalahnya saat tak sengaja melakukan kesalahan yang notabene adalah dia yang menyebabkan karena mengajaknya makan siang dulu.
“Kalau begitu ayo kita masuk, Kak Jhon, Kak Alpha.” Jingga mengajak kedua pemuda yang berdiri di hadapannya untuk mengikutinya. Alpha menepuk bahu pengawal pribadinya itu menjadi pertanda salut atas apa yang dilakuakannya tadi.
“Aku enggak masuk ya Jingga, mau kumpul dengan teman-temanku dulu,” ujar Jhon kepada gadis yang sedang membuka kunci pintu rumahnya. Kalimat itu direspons dengan sebuah anggukan walau nampaknya gadis itu menyisakan pertanyaan di benaknya.
“Ayo, Kak Alpha masuk,” ajak Jingga setelah dia berhasil membuka kunci. Pemuda itu melangkah menuju kontrakan Jingga dan melepas sepatunya sebelum masuk. Sebuah kalimat mempersilahkan duduk diberikan untuk Alpha yang dijawab sebuah anggukan kecilnya.
“Kak Alpha sukanya minum apa? Dingin atau panas atau panas dingin?” ujar Jingga sambil memamerkan senyumnya yang tiada tara. Alpha menimpalinya dengan ikut tertawa, kalimat itu memang kadang masih suka memicu tertawa walau receh.
“Aku sih inginnya kopi, Jingga, tetapi itu jika kamu punya kopi, kalau enggak ya enggak usah.”
“Ada sih kopi, tapi kopi giling, Kak. Bukan kopi sachet-an.”
“Justru itu yang aku suka.”
“Baik, ditunggu ya, Kak,” ujar gadis berleher jenjang itu sambil berlalu meninggalkan Alpha sendirian.
Sepeninggal Jingga, Alpha menyandarkan tubuhnya di sofa berwarna hijau langit itu. Kedua mata pemuda itu menerawang memerhatikan tembok di ruang tamu yang tak ada satupun foto atau hiasan dinding lain. Sofa yang didudukinya juga masih terlihat baru. Apakah gadis itu baru saja pindah? Tebersit pertanyaan dalam benak Alpha kala itu.
Dua cangkir kopi panas nampak masih mengepul di baki yang sedang dibawa oleh Jingga ke ruang tamu, di sampingnya nampak sepiring biskuit yang akan disajikan sebagai teman saat menikmati caffein itu. Gadis berleher jenjang itu meletakkan satu persatu kopi di atas meja yang ada di hadapan Alpha.
“Silahkan, Kak Alpha,” ujar gadis itu mempersilahkan lalu dia duduk di sofa yang ada di samping Alpha.
“Terima kasih, Jingga,” ujar pemuda itu sambil menggeserkan cangkir kopi miliknya mendekat. “By the way, kamu penikmat kopi juga?”
“Iya, Kak,” kata Jingga yang juga menggeserkan kopi miliknya mendekat. “Itulah mengapa aku mempunyai stok kopi di rumah.”
Alpha mengangguk kecil, dia merasa sudah menemukan gadis yang berselera sama dengannya. Pemuda itu mengangkat kopinya yang masih mengeluarkan uap di atasnya, hidungnya dengan liar mencium aroma khas kopi yang keluar dari sana. Bayangan Shireen mucul tiba-tiba di benaknya, ‘tidak boleh meniup air panas’ katanya kala itu. Pemuda itu menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan wajah Shireen dari benaknya.
Entah mengapa setiap Alpha hendak minum yang panas-panas selalu teringat dengan adik angkatnya itu. Mudah-mudahan dia tidak jatuh cinta dengannya, harapnya. Walau bagaimanapun tidaklah pantas jika dia jatuh cinta kepada gadis itu karena dia adalah adiknya walau hanya adik angkat. Lagi pula kini di hadapannya ada Jingga yang sedang dia kejar untuk mendapatkan cintanya.
Anak tunggal Guzman Arkarna itu menyesap perlahan kopi yang ada di tangan kanannya dan menikmati cairan berwarna hitam itu mengalir menjelajahi tenggorokannya.
“Bagaimana, Kak? Enakkah kopinya?” ujar Jingga sambil menunggu reaksi dari pemuda yang ada di samping kanannya untuk berkomentar.
“Luar biasa, Jingga. Aku enggak menyangka lho kamu bisa membuat kopi senikmat ini.”
Jingga tertawa mendengar pujian Alpha, dia lalu ikut menyesap kopi miliknya yang sejak tadi menjadi penghuni meja di depannya.
“Aku hanya meletakkan kopi dan sedikit gula ke gelas dan menuangkan air panas setelahnya, bukan aku yang membuat kopinya, Kak Alpha.” Kalimat itu dilengkapi dengan sebuah senyuman. Alpha menatap gadis di depannya, dia mengharapkan penjelasan lebih lanjut dari apa yang diucapkan oleh Jingga.
“Yang membuat kopi senikmat ini adalah Sang pencipta, Kak. Bukan aku.” Sebuah senyuman kecil menjadi penghias lagi. Alpha mengangguk-angguk kecil, nampaknya dia akan lebih susah untuk menaklukan jingga dari yang dia bayangkan.
“By the way, kamu baru pindah kontrakan ya?”
“Lho, kok Kakak tahu?” Kalimat yang diucapkan oleh Jingga itu sedikit menggelitik karena dia mengucapkannya ‘tahu’ bukan ‘tau’.
“Enggak, aku tempe.” Alpha tertawa, Jingga menatapnya tidak mengerti.
“Maksudnya, Kak?”
“Aku tempe bukannya tahu, Jingga. Kamu bilangkan tadi aku tahu.” Alpha masih tertawa memamerkan gigi-giginya yang bersih.
“Iya, ya ... ” Jingga ikut tertawa setelah memahami apa yang menyebabkan sedikit kebingungannya. “Aku akan ulang pertanyaannya ya, Kak. Kok Kakak tau aku baru pindah kontrakan?”
“Aku menduga-duga saja sih, Jingga. Aku lihat dinding-dinding yang ada di sini masih polos, enggak ada satupun foto atau hiasan yang ditempel. Makanya aku menduga seperti itu.”
“Dugaan yang luar biasa, kak. Aku memang baru pindah sekitar seminggu lalu ke sini. Ketika baru pindah aku langsung diminta bantu-bantu di kantin kampus oleh saudara almarhum Ayah. Saat kita bertemu kemarin itu adalah hari keduaku bekerja di sana.”
“Oh, maaf. Kamu yatim?”
“Yatim-piatu sebenarnya, Kak. Kedua orang tuaku sudah meninggal di sebuah kecelakaan mobil, saudara yang aku punya hanya Abangku.”
“Maafkan aku sudah mengingatkanmu, Jingga.” Alpha merasa tidak enak dengan kalimat yang diucapkannya tadi.
“Enggak apa-apa, Kak. Aku sudah mengikhlaskan mereka walaupun sebenarnya tak pernah bisa lekang semua ingatan tentang mereka.”
Alpha terdiam, dia kian menyesali kalimat yang ditanyakannya untuk memperjelas. Dia menyusuri wajah dari sosok yang ada di samping kirinya, nampak ada genangan air di matanya. Pemuda itu menelan ludah.
“Aku asli Bandung, Kak. Lahir dan besar di Bumi Parahyangan itu,” sambung Jingga sambil menyematkan sebuah senyum kecil untuk mengusir kesedihan yang menyapanya sesaat tadi.
“Sebelum kamu tinggal di Bandung kamu tinggal di mana?”
“Enggak, Kak. Aku lahir dan besar di sana.”
“Masa sih? Bukannya sebelum tinggal di Bandung kamu tinggal di khayangan?”
“Khayangan? Itu ...” Jingga nampak tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Alpha. “Ya ampun, aku tidak pernah tinggal di sana, Kak.” Jingga beberapa detik kemudian berhasil memahami kalimat yang diucapkan oleh sosok tampan yang ada di samping kanannya.
“Bukankah bidadari itu tinggal di khayangan, Jingga? Aku yakin sekali sebelum tinggal di bumi kamu pasti ber-KTP sana.”
“Sudahlah, Kak. Aku bukan bidadari, aku hanya Jingga pelayan kantin kampus yang tinggal di kontrakan di pinggiran Jakarta,” Jingga menggelengkan kepalanya dengan senyuman kecil tersemat. “Aku khawatir jadi besar kepala ‘ni jika terus-terusan disebut sebagai bidadari.”
“Aku merasa beruntung sekali kita dipertemukan di kantin kemarin itu.” Kalimat Alpha di respon dengan sebuah senyuman, pemuda itu berusaha menebak apa yang ada di benak gadis yang telah membuatnya terpesona itu.
“Kadang aku masih menggunakan kata dalam bahasa Sunda sesekali dalam percakapan,” ujar Jingga, sepertinya dia berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Memangnya kamu tinggal daerah mana di Bandung, Jingga?”
“Dago, Kak. Aku tinggal di Dago. Kak Alpha punya kenalan atau mungkin saudara di Bandung?”
“Enggak juga sih. Aku hanya menghilangkan penasaran saja.”
“Oh, begitu. Aku kira Kakak ada seseorang yang dikenal di sana,” kata Jingga sambil tersenyum kecil. Alpha menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala.
“Abang kamu tinggal di sini juga, Jingga?”
“Enggak, Kak. Abang tinggal dengan anak dan istrinya, tadinya sih Abang memaksa aku untuk tinggal bersamanya, tetapi aku menolaknya karena khawatir akan mengganggu mereka. Aku memilih untuk mengontrak sendiri saja, sekalian berusaha untuk mandiri berdiri di atas kaki-kiku sendiri.”