Mentari bersinar tidak terlalu panas, awan sesekali menghalangi sinar Sang Surya yang berusaha menembus ketebalannya dengan panas namun tidak berhasil. Terlihat waktu menunjukkan 12.15 WIB di jam yang ada di dinding kantin yang ada di depan kedua pemuda itu.
Kantin terlihat ramai oleh mahasiswa yang sedang mengisi tenaga dan semangat dengan makan siang, hampir di semua kantin terlihat penuh dengan para penimba ilmu itu. Alpha dan Jhon duduk di bangku yang ada di bawah pohon besar di depan kantin, mereka melihat-lihat siapa tahu ada meja yang kosong untuk mereka tempati. Beruntung sekali lingkungan kantin kampus memang dipenuhi pepohonan besar di sekelilingnya, bayu bertiup sesekali menerpa wajah memberikan kesejukan.
“Sepertinya agak lama supaya kita bisa mendapatkan meja yang kosong, Bang. Bagaimana jika kita mencari kantin lain yang ada meja kosongnya,” kata Jhon memberi ide kepada sosok yang sedang duduk di sebelah kanannya. Alpha menoleh ke arah pengawal pribadinya itu dan memberikan sebuah senyum.
“Itu sebuah ide yang bagus, Jhon. Tetapi aku kira di saat jam makan siang seperti ini agak susah untuk menemukan meja kosong.”
“Sepertinya memang seperti itu. Baru kali ini kita enggak kebagian meja ya, Bang?”
“Iya, karena memang kita baru hari ini ke kantin pada jam makan siang. Biasanya kita ke sini sebelum jam itu atau sesudahnya.”
Jhon nampak berpikir sejenak, dia mengingat-ingat apa yang selalu mereka lakukan di kantin saat ke kampus.
“Sepertinya memang iya, Bang. Kita selalu datang di atas jam makan siang sesekali datang sebelumnya. Jadi bagaimana baiknya sekarang? Apakah kita menunggu ada meja yang kosong atau bagaimana?”
“Aku kira kita tidak membutuhkan meja kosong juga, Jhon.” Kalimat Alpha membuahkan kernyitan di dahi pengawal pribadinya itu.
“Maksudnya bagaimana, Bang?”
“Kita kemari ‘kan mau pesan kopi bukan mau makan siang. Jadi aku kira it’s fine jika sementara kita duduk di sini, kan?”
John mengangguk-angguk mengiyakan. “Ada satu lagi yang akan kita lakukan di sini, Bang.”
“Apa itu?” Alpha menoleh ke arah sosok yang duduk di sampingnya dengan sebuah senyum kecil.
“Kita ke sini selain mau pesan kopi juga mau bertemu dengan Jingga. Eh maaf, bukannya ‘kita’ tapi Abang yang mau bertemu dengan Jingga.” John kini melengkapi kalimatnya dengan sebuah tertawa kecil.
Alpha memandang sosok di sampingnya dengan sebuah senyum kecil, tanpa diberitahukan juga pastilah John mengetahui apa yang sesungguhnya mendasari kedatangan mereka ke kantin. Jika hanya sekedar pesan kopi mereka bisa melakukannya di manapun selain di kantin yang sedang penuh sesak di depan mereka itu.
“Maaf, Bang. Punya korek?” Terdengar suara dari belakang mereka yang sedang seru bercakap-cakap. Jhon menoleh ke arah yang telah membuyarkan percakapan mereka, terlihat seorang mahasiswa berambut gondrong dengan sebatang rokok terselip di pojok bibirnya.
“Sorry, Men. Kami enggak merokok, jadi pastinya enggak punya korek,” jawab Jhon dengan wajah serius yang disambut gelak tawa pemuda itu beserta kedua teman yang ada di belakangnya.
“Buset, tampang boleh keren tapi kere. Merokok saja enggak,” celetuk pemuda berambut gondrong itu sambil memutarkan langkahnya. Jhon melangkah menghampirinya dan menepuk bahu kanan pemuda itu dengan keras.
“Kalau ngomong yang jelas, Men. Jangan sambil jalan pergi begitu.” Suara Jhon terdengar meninggi intonasinya. Pemuda berambut sebahu itu merasa tidak senang langkahnya dihentikan oleh manusia yang baru saja diejeknya.
“Buset, anak komplek songong amat,” celetuk pemuda gondrong itu lagi yang disambut gelak tawa lagi teman-temannya yang berdiri satu meter darinya.
“Lu ngomong apa tadi?” Jhon menatap mahasiswa berjas almet kampus itu tajam yang disambut tertawa yang penuh ejekannya.
“Kalau lu penaran gue kasih tahu aja, gue bilang tampang boleh keren tapi kere. Terus lu ada masalah memangnya?” Mahasiswa gondrong itu memperjelas kalimatnya.
Jhon mengangkat alis kanannya ke atas, ketiga sosok mahasiswa di depannya menunggu apa yang dilakukan pengawal pribadi itu dengan waspada. Dalam gerakan yang tak dapat dilihat oleh mata mereka, dia memukul sosok di depannya hingga jatuh terlentang. Kedua sahabat mahasiswa berambut gondrong itu ternganga karena mata mereka tak melihat apa yang dilakuan oleh Jhon hingga sahabat baik mereka tiba-tiba terkapar seperti itu. Mereka menghampiri sahabatnya yang mengeluarkan darah dari hidungnya, lalu kedua mahasiswa yang juga beralmet itu membopong sosok yang terkulai di atas paving blok.
“Maafkan kita, Bang. Mohon maaf jika apa yang diucapkan teman saya menyinggung perasaan,” kata salah satu dari mereka dengan muka memelas dan perlahan berlalu.
Jhon duduk kembali di bangku di bawah pohon rindang di samping Alpha sambil tersenyum puas. Anak tunggal Guzman Arkarna itu meliriknya sebentar dan memberi kode kepada sosok berbadan kekar di sampingnya.
“Jangan terlalu mencolok di tempat umum, Jhon. Bisa-bisa nanti jadi viral.”
“Dalam gerakan itu aku pikir tidak akan ada yang melihat, Bang.”
“Yakin, Jhon?” ujar Alpha sambil menyematkan sebuah senyuman kecil tersemat di wajahnya. Anggukan kepala Jhon yang ragu terlihat dibuat untuk jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Abang angkatnya itu. “Coba lihat sekeliling.”
Pemuda berbadan kekar itu mengikuti apa yang diucapkan oleh Alpha, melihat sekelilingnya yang lumayan ramai. Dalam pandangan matanya dia menyimpulkan tidak masalah, sepertinya tidak ada yang bisa melihat gerakan ninjanya yang cepat. Kedua indera penglihatannya menyapu terus sekelilingnya dan ternyata ada sepasang muda-mudi yang ternganga heran kepadanya.
“See what I mean, Jhon?”
“Iya, Bang.” Jhon tersenyum, dia merasa tidak enak dengan apa yang baru saja dilakukannya.
“Never mind. Sekarang bagaimana jika pesan kopi, Jhon? Supaya bisa sedikit menghilangkan risau hati.”
“Boleh, Bang. Aku pesan sekarang. Kopi biasa ‘kan?”
“Yup, sekalian air mineralnya, Jhon.”
“Siap!” Jhon melakukan posisi penghormatan kepada sosok yang ada di dekatnya. Alpha menggelengkan kepalanya karena pengawal pribadinya itu selalu melakukan penghormatan seperti itu.
Alpha menatap punggung Jhon yang menjauh darinya, pemuda itu kini bercampur dengan pengunjung lain yang ada di kantin di mana Jingga bekerja. Pewaris tunggal keluarga Arkarna itu berusaha mencari kesibukan dengan gadget-nya.
Dia membuka aplikasi pesan w******p, barangkali ada hal penting yang dia lewatkan saat perjalanan dari rumahnya ke kampus. Terlihat ada sebuah notifikasi panggilan telepon di sana, tertulis nama Shireen di sana. Nampaknya adik angkatnya itu tadi menelepon namun tidak terangkat olehnya.
Pemuda itu memeriksa settingan gadget miliknya, ternyata memang diatur senyap, sehingga jika ada panggilan telepon atau pesan masuk tidak ada notifikasi berupa getar atau bunyi. Alpha merubahnya kembali.
Tangan kanan pemuda itu menekan panggilan video call ke Shireen. Sekali tidak diangkat, dua kali tidak diangkat juga. Dengan penasaran dia mencoba panggilan yang ketiga kalinya, namun tetap saja tidak diangkat. Ke manakah Shireen? Batinnya mulai bertanya-tanya. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Papanya di rumah? Tiba-tiba Alpha merasa was-was dengan pertanyaan yang dibuatnya sendiri dan menggelayutinya.
“Jangan dipikirkan, Bang. Dia memang kayak begitu.” Terdengar suara Jhon membuyarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Alpha menoleh ke arah sumber suara itu.
“What? Apa maksud kamu, Jhon?” tanya Alpha yang disambut senyum adik angkatnya itu.
“Enggak, Bang. Habisnya Abang sepertinya kesepian di tengah keramaian seperti ini, tiba-tiba bengong.”
“Enggak bengong, John. Hanya saja ada sesuatu yang tiba-tiba menjadi pertanyaan. Tadi Shireen menelpon tapi enggak terangkat, saat ditelepon balik dia tidak mau respons, enggak mau diangkat. Aku hanya khawatir dia ingin mengabarkan sesuatu terkait Papa.”
“Mungkin Shireen sedang jauh dari ponselnya, Bang. Mungkin juga dia sedang melakukan sesuatu di mana dia tidak bisa memegang benda itu,” ujar Jhon. Mata pemuda berbadan kekar itu melihat kembali jam dinding yang ada di kantin. “Mari kita berdoa saja supaya tidak terjadi apa-apa dengan Bapak.”
“Aamiin.” Suara Alpha menimpali. “By the way, mana pesanan kopinya, Jhon?”
“Nanti dibawakan katanya, Bang.” Jhon menjelaskan yang disambut anggukan anak tunggal Guzman Arkarna itu. Dia kini bergabung kembali dengan Alpha duduk di kursi kayu di bawah pohon rindang.
Mata anak tunggal Gusman Arkarna nampak berbinar, saat dia tak sengaja menangkap seorang gadis sedang berjalan ke arah mereka. Pelayan kantin itu membawa baki berisikan dua cangkir kopi dan dua buah air mineral, dilengkapi sepiring goreng pisang.
“Ehm ....” sebuah deheman lumayan keras terdengar dari samping Alpha. Tanpa menolehpun dia tahu itu adalah kelakuan dari adik angkatnya. “Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga.”
Gadis pelayan kantin itu meletakkan pesanan mereka di kursi kayu di tengah-tengah antara Alpha dan Jhon, sebuah kalimat mempersilahkan terdengar setelahnya. Gadis itu beranjak berlalu.
“Begitu saja, Jingga?” ujar Alpha yang otomatis menghentikan langkah gadis berambut pendek itu. Dia menoleh sambil tersenyum.
“Aku masih jam kerja, Kak Alpha. Sedang ramai pula, nanti setelahnya aku akan menemui Kakak. Maafkan aku,” katanya sambil berdiri menghadap Alpha dengan sebuah senyuman yang nampaknya sengaja dia sematkan sebagai pemanis. Sepertinya gadis itu mengetahui jika Alpha benar-benar menyukai senyumnya.
Alpha menghela napas panjang, berusaha menelan kenyataan yang diluar ekspetasinya. Sebuah anggukan kecil akhirnya dia berikan untuk menanggapi kalimat gadis yang selalu menghiasi tidurnya. Jingga berlalu meninggalkan kedua pemuda itu setelah mengangguk kecil ke arah mereka sebagai pertanda pamit.
“Aku enggak suka ditelantarkan seperti ini, Jhon. Sejak dari rumah hati rasanya ingin sekali bertemu dengan gadia pujaan hati, setelah bertemu dia sepertinya cuek sekali. Menyebalkan sekali.”
“Aku menyimpulkan dia memang sedang tidak bisa berlama-lama bertemu kita, Bang. Aku yakin dia juga memaksakan untuk mengantarkan kopi setelah mengetahui pesanan itu adalah milik Abang.”
Sebuah helaan napas menjadi respons dari kalimat pemuda berbadan kekar di sampingnya. Alpha merasa kecewa. Baru kali ini dia merasa diabaikan oleh seorang gadis, biasanya dia selalu dikejar mereka bukan mengejar seperti ini.
Pemuda itu teringat sebuah kalimat, ‘lebih baik dicintai dari pada mencintai, jika dicintai kita seperti raja tetapi jika mencintai akan terasa menjadi b***k’. Sebuah helaan napas lagi menjadi pelengkap renungan sesaatnya lagi.
“Sederhana sebenarnya, Bang. Jika mau Jingga tidak mengabaikan Abang karena kerjaan seperti ini, bagaimana jika ditawarkan saja untuk bekerja di kantor?” Jhon memberikan usul.
Alpha menoleh ke arahnya sambil mencerna apa yang diucapkannya, sebuah ide yang masuk akal sekali. Dia meraih kopinya yang terlihat masih mengepul lalu menempelkan bibirnya di bibir cangkir berwarna putih itu. Jhon mengikuti apa yang dilakukan oleh majikannya itu.
Saat cairan kopi hangat itu menyelusup memasuki rongga tenggorokannya, Alpha mulai berkutat dengan benaknya. Jika dia meminta Jingga untuk bekerja di perusahaan yang akan menjadi tanggung jawabnya pasti dia akan sering bertemu dengan gadis pujaannya itu, sebuah ide yang bagus sekali.
Posisi apa yang akan diberikannya untuk Jingga? Haruslah sebuah posisi yang memungkinkan dia untuk bisa bertemu all the time? Sekretaris? Sudah ada Mey. Asisten? Bisa saja, sebenarnya dia bisa memberikan kebijakan untuk Jingga bisa bekerja sebagai apapun di Arkarna Company, bukankah dia sekarang adalah seorang CEO di sana?
Sebuah panggilan telepon di gadget milik Alpha membuyarkan lamunannya, nama Shireen terpampang di sana. Dengan cepat pemuda itu menekan tombol menerima panggilan, dia menempelkan ponselnya di telinga kiri.
“Ada apa, Reen? Papa baik-baik saja ‘kan?”
“Bapak baik-baik saja, Bang,” jawab Shireen. Alpha menghela napas lega mendengar apa yang diucapkan gadis itu dari ujung sana. “Aku mau mengabarkan hal yang lain, Bang.”
“Ada apa?” Alpha berusaha menebak-nebak apa yang akan disampaikan oleh Kepala Rumah Tangga Arkarna itu. Sebenarnya dia lebih menyukai video call saat menelepon namun kali ini dia meninggalkan wireless headset-nya di rumah, tidak mungkin dia melakukan panggilan video tanpa menggunakan benda itu karena akan menjadi perhatian mahasiswa yang sedang lalu lalang dekat mereka di kampus.
“Aku dapat informasi A1 dari keluarga kita di lapangan akan keamanan Abang di kampus, katanya posisi Abang sudah diketahui oleh musuh keluarga kita. Kampus sudah tidak aman lagi, Bang.”
“Musuh yang mana yang sudah tahu, Reen? Mas Joko, Cacing Kebun?” tanya Alpha yang disambut dengan ketidak mengertian Shireen. Namun beberapa detik kemudian dia mengerti apa yang diucapkan oleh Abang angkatnya itu.
“Maksudnya Mas Joko itu Joker dan Cacing kebun itu Naga lagit ya, Bang?” tanya Shireen menyakinkan dirinya sendiri.
“Iya, sepertinya aku sudah memberitahumu tetang itu.”
“Masa sih? Aku lupa, Bang.”
“Iya. Jadi siapa yang sudah mengetahuinya, Reen. Apakah Mas Joko atau Cacing Kebun atau geng yang lain?”
“Berdasarkan informasi yang kuterima, Mas Joko sudah menanam mata-matanya di kampus, Bang. Cacing Kebun juga sudah bersiap melakukan p*********n ke kampus.”
“Okey, terima kasih atas informasinya, Reen. Jaga Papa di rumah, jangan lupa berkabar jika terjadi sesuatu.”
“Baik, Bang. Aku tutup teleponnya ya.”
Alpha mengangguk mengiyakan, walaupun Shireen tak bisa melihat apa yang dilakukannya itu. Sedetik kemudian panggilan itu berakhir.
“Ada apa, Bang?” tanya Jhon sambil menyeruput kopinya perlahan.
“Shireen mengabarkan posisi kita di kampus sudah tidak aman lagi, Jhon. Mas Joko dan Cacing Kebun bisa saja melakukan p*********n sewaktu-waktu kepada kita di sini,” ujar Alpha kepada sosok di sampingnya. Jhon menanggapinya dengan santai.
“Apakah perlu lapisan pengamanan saat di kampus, Bang? Nanti aku akan minta Alex untuk melakukannya.”
“Aku sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan itu, Jhon. Aku yakin dengan skill yang kita miliki bisa menangkal serangan mereka.”
“Untuk jaga-jaga saja, Bang. Walau bagaimanapun tidak boleh terjadi sesuatu dengan Abang.”