Kian Terpana

2093 Kata
Mentari mulai turun perlahan, cuaca tidak lagi terlalu menyengat seperti tadi tengah hari. Satu persatu mahasiswa meninggalkan kantin, kini tempat-tempat makan dan istirahat para penimba ilmu itu mulai sepi, menyisakan beberapa pasangan yang nampak masih betah dalam kebersamaan. Azan asar mengalun merdu dari masjid yang ada di sebelah barat area kampus, nampak beberapa mahasiswa dan pekerja kantin menuju ke arah suara panggilan sholat umat Muslim itu. Alpha dan Jhon masih duduk di kursi kayu yang ada di depan kantin di bawah pohon rindang, sudah dua jam lebih mereka berada di sana. Sebenarnya bisa saja untuk menggeser ke dalam kantin namun tidak dilakukan oleh mereka. Terlihat Jingga melangkah menghampiri mereka, di wajahnya nampak sebuah senyum yang ditujukan untuk kedua pemuda itu. Alpha melihat gadis pujaannya yang datang mendekat dengan hati berdebar, baru kali ini dia merasakan benar-benar jatuh hati kepada seorang gadis, padahal biasanya dialah yang selalu dikejar-kejar oleh kaum hawa. “Luar biasa, ternyata Kak Alpha dan Kak Jhon masih ada di sini, aku kira sudah pulang,” kata gadis itu sambil menyematkan sebuah senyum manis di bibirnya. Jhon melirik ke sebelahnya untuk melihat apa yang akan dikatakan oleh Abang angkatnya itu, namun sepertinya pemuda tampan itu tidak berniat menjawab karena sedang terpana dengan sosok di depannya. “Tadinya memang kita mau pulang, tapi ... karena memang sedang enggak ada kegiatan jadi mendingan di sini saja, dari pada gabut nanti di rumah,” ujar Jhon menggantikan Alpha yang tak kunjung menanggapi kalimat yang diucapkan oleh Jingga. Jhon menyempatkan mencolek Alpha untuk mengembalikan kesadarannya yang terbius, anak tunggal Guzman Arkarna itu menoleh ke arah pengawal pribadinya. “Sorry, aku tiba-tiba ... “ Alpha berusaha menyadarkan dirinya sendiri, dia nampak gelagapan setelah menyadari apa yang telah dilakukannya. “Aku mau ke masjid dulu ya, Kak,” ujar Jingga. “Mau ke mana?” Alpha memastikan apa yang tadi dengarnya. “Masjid, Kak. aku mau sholat Ashar dulu.” Jingga menjelaskan dengan sebuah senyum kecil di bibirnya. “Sholat Ashar?” Alpha mengulang lagi frase yang diucapkan oleh Jingga karena itu adalah sebuah istilah asing di telinganya. “Iya, yuk sekalian kita ke sana,” ajak Jingga kepada Alpha. Pemuda itu menoleh kepada Jhon  yang mengangguk pelan kepadanya. Jingga melangkahkan kakinya setelah memastikan kedua pemuda itu berjalan mengikutinya. Alpha berjalan cepat supaya bisa berada di samping gadis berambut pendek itu, Jingga menoleh ke sebelah kanannya  dan memberikan senyum kepada anak tunggal Guzman itu.  Jhon mengikuti langkah mereka sambil terus waspada, dia tidak mau lengah walau sedikitpun apalagi berdasarkan apa yang dilaporkan Shireen musuh-musuh keluarga Arkarna sudah mengetahui Alpha yang kuliah di kampus ini. “Aku tidak menyangka kamu seorang Muslim yang taat, Jingga,” kata Alpha membuka pembicaraan saat mereka melangkah bersamaan menuju masjid yang berjarak sekitar 200 meter dari kantin. “Aku jauh dari kata taat, Kak.” Jingga menundukkan wajahnya menyusuri paving blok jalan kampus. “Ini buktinya kamu berangkat sholat Ashar.” Alpha menoleh ke arah sosok yang ada di sampingnya. Kedua matanya menyusuri wajah gadis yang telah membuatnya jatuh hati. “Sholat itu salah satu kewajiban jika kita berstatus sebagai seorang Muslim, Kak. Masih banyak lagi kewajiban selain melakukan ritual ini.” “Kewajiban? Kewajiban terhadap siapa?” Alpha mengernyitkan dahinya. “Kepada Allah, Tuhan semesta alam. Yang telah menciptakan manusia, alam beserta isinya,” ujar Jingga. “Maaf, jika aku lancang. Agama Kakak apa?” “Agama aku? Astaga ....” Alpha menghentikan langkahnya lalu berdiri mematung sambil menatap sosok di depannya. Jingga tersenyum sambil merambati sosok di depannya perlahan. Pemuda itu menelan ludah, dia tidak sanggup rasanya melihat binar mata gadis di depannya. Benak pemuda itu sejenak berkelana tanpa diminta, dia bertanya kepada dirinya sendiri, apa agamaku? Apakah aku punya agama? Jika punya agamaku apa? Mengapa tak pernah terpikirkan sedikitpun akan agama yang dianutnya atau setidaknya dianut oleh Papanya, Guzman Arkarna. “Aku belum pernah bertemu dengan manusia yang tak tahu agamanya apa, Kak? Masa Kakak enggak tahu agama Kakak apa,” ujar Jingga sambil menyematkan sebuah senyum. “By the way di KTP itu tercantum lho agama kita.” “KTP?” Alpha mengangkat alis kanannya sebelah. Mengapa dia tak pernah memperhatikan KTP yang dimilikinya itu? Apakah di sana ada kolom yang menunjukkan agama sang pemilik? “Iya, ID card. Kakak punya KTP ‘kan?” tanya Jingga masih dengan senyuman yang disukai Alpha itu. Anak tunggal Guzman Arkarna itu meraba bagian belakang bokongnya di mana dia biasa meletakkan dompetnya. Dari benda berwarna cokelat itu dia mengeluarkan Kartu Tanda Penduduk yang dimilikinya. Matanya mencari kolom agama yang ada di sana. “Well? Ada ‘kan?” Alpha mengangguk kecil menjawab pertanyaan itu. “ Apa agama Kakak?” “Di sini tertulis Islam,” ujar Alpha ragu. “Nah berarti agama kita sama, Kak. Sama-sama Islam.” Jingga tertawa kecil lalu melanjutkan langkahnya, Alpha menyejajari langkah gadis berleher jenjang itu. Pikirannya berkutat dengan apa yang dialaminya sejak dulu, Jika dia beragama Islam mengapa Papa sama sekali tidak pernah mengajarinya bagaimana beribadah dalam agama Islam? Sepuluh meter di depan mereka nampak sebuah masjid yang terbilang megah, banyak orang yang nampaknya akan menjalankan sholat Ashar di sana dan mereka terlihat kebanyakan dari kalangan mahasiswa terlihat dari almet yang mereka gunakan. Alpha melihat Jhon yang berjalan santai dua meter di belakangnya, nampaknya dia ingin menanyakan pendapat pengawal pribadi yang juga adik angkatnya itu tentang apa yang akan dia lakukan di masjid. “Aku duluan wudhu di sana ya, Kak.” Tanpa menunggu kata iya dari Alpha, Jingga sudah melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu perempuan, untuk kaum laki-laki tempat wudhunya berseberangan yang ada di sebelah kanan area masjid. Jhon menghampiri majikannya karena terlihat sekali Alpha nampak sedang butuh saran darinya karena walau bagaimanapun hal ini adalah hal yang baru untuk pewaris tunggal keluarga Arkarna itu. “What do you think, Jhon?” tanya Alpha sedetik pemuda berbadan kekar itu berada di sampingnya. “Sepertinya ini benar-benar hal baru untuk kita, Bang. Mungkin sebaiknya kita menunggu saja di sini. Jika memaksakan masuk juga kita tidak punya pengetahuan apa-apa tentang ibadah yang dilakukan di dalam,” saran jhon. Alpha nampak mencerna apa yang diucapkan oleh sosok yang ada di hadapannya itu. “Sepertinya itu yang cukup masuk akal, Jhon. Sepertinya juga kita harus memulai mencari tahu tentang agama Islam lebih jauh.” Jhon terdiam, nampaknya apa yang diucapkan oleh Alpha benar-benar merasuk ke benaknya. Sebenarnya hal itu sudah menyelusup sejak lama ke dalam pikirannya sejak secara tak sengaja dia melihat video seorang anak kecil sedang mengaji di Youtube. Pemuda berbadab kekar itu mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan oleh Alpha. Mereka kemudian memilih duduk di pojok teras masjid sambil menunggu Jingga selesai menunaikan ritual ibadahnya. “Jika Abang serius mendekati Jingga, nampaknya harus sedikit berusaha lebih keras karena gadis ini agak berbeda dengan gadis yang lain yang pernah hadir.” Tanpa sadar Alpha mengangguk mengiyakan apa yang diucapkan oleh Jhon, bagaimana tidak Jingga benar-benar membuatya telah jatuh hati sejak pandangan pertama. “No problem, Jhon. Kadang memang untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu.” “Tapi ... ini sesuatu yang lain, Bang. Ini tentang agama yang mungkin saja akan mengubah semuanya nanti.” “No problem, aku siap dengan segala konseksuensi yang akan kudapatkan untuk mendapatkannya, Jhon.” Tak terasa diskusi mereka sudah hampir lima belas menit, Jingga keluar dari dalam mesjid dengan menenteng sebuah tas selempang di tangan kanannya. Wajah gadis itu nampak bercahaya sekali, kulit putihnya nampak berkilat-kilat. Alpha kian terpana melihat pemandangan di depannya, gadis ini benar-benar berbeda dengan yang lainnya kata hatinya. Sebuah senyuman menjadi pelengkap yang membuat pemuda itu kian terpana. Jingga melangkah mendekati kedua pemuda yang dia tahu sedang menantikannya itu, betis-betis kulit putihnya sempat mencuri pandang mata para pemuda di hadapannya. “Aku kira Kakak masih ada di dalam, ternyata sudah keluar,” ujar Jingga dengan sebuah senyuman kecil. “Iya,” jawab Alpha pendek. “Memang sejak tadi juga belum masuk,” ujar Jhon dengan suara lirih yang membuat Alpha sedikit melirik ke arahnya. “Yuk, Kak. Kita ke kantin lagi,” ajak Jingga. “Jam kerjaku sudah selesai, jadi bisa pulang.” “Sudah selesai?” “Iya, belum sih sebenarnya, nanti jam empat tepat selesainya, tapi itu ‘kan sebentar lagi, kita jalan ke sana juga pasti sudah waktunya pulang.” Jingga melirik jam tangannya, dia melangkah perlahan meninggalkan kedua pemuda yang masih terduduk si atas keramik putih lantai masjid. Alpha tergopoh menyusul Jingga yang sudah sampai di batas suci, gadis itu sedang mengenakan sepatunya yang berwarna putih. Jhon tak mau ketinggalan, dia menyusul orang yang keselamatannya menjadi tanggung jawabnya itu. Anak tunggal Guzman Arkarna itu langsung mengenakan sepatu sneaker-nya dengan cepat, dia tidak mau tertinggal oleh Jingga. Dengan cepat dia menyusul gadis itu dan berjalan di sampingnya. “Kamu ada acara malam ini, Jingga?” Pertanyaan yang dilontarkan Alpha membuat gadis itu sejenak berpikir, nampaknya dia mengingat-ingat apa yang akan dia lakukan malam ini. “Sepertinya aku malam ini enggak ada acara, Kak. Sebenarnya sih memang aku itu semenjak pindah tidak pernah  ke mana-mana karena memang enggak ada teman yang menemaninya.” “Wow, mungkin hanya malam Minggu ya kamu keluarnya?” “Malam Minggu? Iya, aku malam Minggu kemarin keluar,” ujar Jingga dengan sebuah tertawa kecil. “ Aku malam Minggu kemarin keluar untuk beli bakso di depan toko photo kopi, Kak.” “Enggak ... maksudku ...” “Keluar malam Mingguan ‘kan? Aku mengerti arah pertanyaan Kak Alpha ke mana, hanya saja siapa yang mau mengajakku keluar, seorang gadis kantin sepertiku.” “Jujur aku tidak percaya jika belum ada laki-laki yang datang mendekati kamu, Jingga.” “Lho, Mengapa? Buktinya aku sekarang masih jomblo, Kak. Walaupun aku akui hari ini ada pemuda tampan yang datang mendekati aku, Kak.” Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Jingga, rasanya tenggorokan Alpha menjadi kering dan dadanya bergemuruh. Mengapa ada rasa cemburu yang datang mencabiknya tiba-tiba? Padahal jikapun memang ada pemuda yang mendekati Jingga apa hak dia untuk melarangnya? Dia bukan lah siapa-siapa atau apa di hidup gadis itu. Juga merupakan hal wajar jika memang ada yang mendekati Jingga, siapa yang tak tergoda dengan kecantikan gadis yang mempunyai senyum manis itu, secara fisik dia memang manusia yang Tuhan berikan karunia tersendiri. Tubuhnya yang tinggi dilengkapi dengan kulit putih yang bersinar di bawah mentari. “Siapa pemuda yang mendekati kamu hari ini, Jingga? Pemuda yang kamu sebut tampan itu?” Akhirnya Alpha memberanikan diri menanyakan identitas orang yang membuatnya terbakar cemburu. Jingga tersenyum mendengar pertanyaan itu, dia bisa merasakan tekanan bara cemburu di untaian kalimat Alpha. “Sebentar, Kak,” ujar gadis itu sambil membuka zipper tas kecil yang ada di tangan kananya. Dia berusaha mengeluarkan sesuatu dari tas yang juga berisi mukenanya. “Mungkin Kakak kenal dengan pemuda tampan ini.” Alpha menaikkan alis kanannya, apakah benar dia mengenal pemuda tampan yang sedang dibicarakan Jingga ini? Anak tunggal Guzman Arkarna itu menebak gadis di sampingnya ini akan mengeluarkan foto pemuda yang mendekatinya hari ini. Luar biasa, baru pedekate langsung diberikan fotonya saja. Ternyata dugaan Alpha salah, Jingga tidak mengeluarkan foto karena benda yang dikeluarkannya lebih mirip sebuah kotak cermin yang biasa digunakan untuk make up. Oh, pasti foto itu ada dalam kotak cermin. Hati pemuda itu kian terbakar dengan dugaannya sendiri. Jingga membuka kotak cerminnya dan menggeserkannya ke pemuda yang ada di sampingnya. Alpha tidak mengerti dengan apa yang dilakukan gadis itu,bagaimana mungkin dia bisa menjadi gadis yang tidak peka dan kejam seperti ini? Begitu teganya dia menunjukkan foto langsumg ke wajah Alpha. Apa yang akan aku lakukan untuk memendam bara cemburu ini? Pikiran Alpha berkecamuk sambil merayu dirinya sendiri supaya tidak bertingkah konyol di depan Jingga. Baru kali ini dia merasa tidak berdaya di depan gadis yang telah mencuri hatinya itu. “Kakak harus lihat sendiri siapa yang telah mendekatiku hari ini,” Jingga mendekatkan kotak cermin ke wajah Alpha. Ternyata dugaan pemuda itu salah, cermin itu hanya berisi cermin bukan foto. Sebenarnya dia malas sekali untuk melakukan apa yang diminta oleh Jingga itu, tapi apa boleh buat? Alpha melihat pantulan wajahnya di cermin milik Jingga, apa maksud gadis ini? “Inilah pemuda tampan yang mendekatiku hari ini, Kak,” ujar Jingga sambil tertawa kecil. “Jadi maksudmu yang mendekati itu aku?” Alpha memandang serius Jingga setelah mendapati ternyata adalah pantulan wajahnya yang ada di cermin. “Iya, siapa lagi? Aku hari ini di kantin dari pagi sampai sore dan hanya bertemu dengan dua orang pemuda, Kak Alpha dan Kak Jhon.” “Bukankah banyak mahasiswa-mahasiswa tampan di kampus ini, Jingga? Pasti salah satu dari mereka ada yang kamu temui tadi saat jaga di kantin.” “Iya ... tapi ...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN