Kami sudah terbiasa bertengkar dan saling mengejar seperti ini, namun untuk kali ini aku mulai kesal karena tingkat keposesifan Tony yang kian bertambah. Suara deringan telepon kembali tedengar di handponeku, kak Marcel mengabariku jika dia sudah sampai dan menunggu. Aku menyalip beberapa kendaraan karena macet, perlu waktu dua puluh menit untukku agar bisa sampai ke tempat yang di katakan kak Marcel. Kami bertemu di sebuah café, ketika aku masuk pengunjungnya sangat sedikit jadi terasa lebih membuatku nyaman. Dari kejauhan aku melihat kak Marcel yang melambaikan tangannya ke arahku. Dia terlihat tampan seperti biasa, kecuali kantung matanya yang mengatakan jika dia tidak terlalu baik. “Kak” Aku tersenyum canggung, sudah lama kita tidak bertemu dan saling bertukar kabar. Kak Marcel

