Aku menggenggam sabuk pengaman dengan erat, Tony mengendarai mobil dengan sangat cepat. Aku sangat takut, dia tidak berbicara apapun. Rahangnya mengetat, buku-buku jarinya mengetat menunjukan kemarahan yang di luar batasnya.“Tony, aku mohon pelankan” aku gemetar, mataku tertutup rapat karena dia beberapa menyalip banyak kendraan dan semakin unggal-unggalan berkendara. Mengapa ini harus seperti ini?, aku tidak suka dengan pertengkaran yang di warnai kesalah pahaman seperti ini. Mataku terbuka ketika mobilnya berhenti dan mengerem dengan kasar, bunyi bantingan pintu tertutup terdengar sangat nyaring. Kami berada di depan rumah, Tony membukakan pintu untukku, dia menarikku dengan kasar membawaku masuk kedalam rumah. Keheningan terasa menakutkan ketika kita sudah berada di dalam rumah, ak

