JALAN TERBAIK 6

1058 Kata
#Prisil . . . "Syaratnya cukup mudah. Kamu pura-pura jadi pacarku!" Apa telingaku sedikit bermasalah atau lidah Pak Alif yang keseleo. Aku hanya bisa mengerjapkan mataku berkali-kali saat mendapat tawaran itu. Tawaran yang menurutku sangat tidak masuk akal. "Mak-maksudnya gimana ya Pak? Apa saya serendah itu di mata Anda?" Tanyaku pelan. Pak Alif malah tertawa mendengar protesanku. "Bukan begitu Sil...aduh gimana ya jelasinnya!" Pak Alif terlihat bingung sambil menggaruk tengkuknya. "Maaf Pak kalau saya lancang. Saya bukannya menolak tawaran Anda. Tapi... apa kata orang-orang nanti? Seorang Boz Besar yang sudah beristri menjalin hubungan dengan wanita lain!" Sergahku cepat sebelum Pak Alif mengatakan sesuatu yang membuatku semakin bertambah bingung. "Bukan begitu maksud sa--... hah? Tadi kamu bilang apa? Boz besar yang beristri?" Pak Alif menatap bingung ke arahku. Aku menganggukan kepalaku berkali-kali. "Jadi...tunggu-tunggu. Kamu mengira saya sudah beristri?" Lagi-lagi aku mengangguk. Hening. Dan sedetik kemudian tawa Pak Alif pecah. Aku hanya bisa menatap Pak Alif dengan wajah cengoku. Apa ada yang lucu dengan perkataanku? "Kok malah tertawa Pak?" Pak Alif masih sibuk tertawa sambil memegangi perutnya. Ia mencoba menggelengkan kepalanya untuk meredakan tawanya. "Kamu aneh Sil. Bener-bener aneh!" Ucap Pak Alif di sela-sela tawanya. Aku mengernyitkan keningku. "Pak Alif yang aneh. Tadi Pak Alif bilang saya lucu..sekarang bilang saya aneh!" Bibirku seketika mencebik. Kesal juga. Belum genap 1 jam tapi dia sudah menjudge aku seperti itu. Laki-laki di depanku ini belum berhenti tertawa. "Apa masih lama tertawanya? Kalau masih lama mendingan saya pulang aja Pak!" Aku berniat berdiri tapi tanganku di tahan olehnya. Tawa Pak Alif seketika berhenti mendengar nada ancamanku. Aku memandang tangannya yang mencengkram lenganku. "Duduk dulu. Maaf tadi saya tidak sopan!" Pak Alif melepaskan tangannya dan menyilahkanku duduk di tempatku semula. "Jadi bagaimana Pak. Apa Anda menerima permohonan saya? Saya sangat berharap mendapat keringanan dari Anda!" Mataku menatap ke arahnya dengan mimik memelas. Aku sengaja melakukan ini hanya untuk mendapatkan keringanan darinya. "Tapi sebelumnya apa kamu setuju dengan tawaran saya?" "Soal itu ya...!" Tanyaku sedikit ragu. Pak Alif mengangguk cepat. "Tapi Pak...Anda kan sudah beristri? Kenapa Anda menyuruh saya menjadi pacar pura-pura Anda?" Pak Alif langsung menepuk jidatnya. Aku menatap cengo ke arahnya. "Gini loh Sil. Kamu jangan lihat orang itu dari covernya...!" "Maksud Anda apa? Saya nggak mau loh Pak kalau di jadikan istri kedua!" Lagi-lagi Pak Alif menepuk jidatnya. Ampuuun. Apa ada lagi kata-kataku yang salah? "Coba tebak saya umur berapa!" Pertanyaan Pak Alif membuatku berpikir keras. Ku amati wajahnya dengan seksama. Wajanya di penuhi dengan bulu. Kumis, jambang, jenggot dan rambut gondrong. "Pak Alif umurnya kepala 3. Beristri dan mempunyai 2 orang anak!" Jawabku yakin. Pak Alif kembali menghela nafas kasar lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Apa benar apa yang aku katakan tapi kenapa ia terlihat frustasi? Apa kehidupan rumah tangganya tidak bahagia sampai-sampai dia menyuruhku menjadi pacar pura-puranya? "Tidak perlu sedetail itu Prisil!" Pak Alif mulai geram. Oke. Sepertinya aku salah. Aku langsung menunduk sambil meminta maaf dengan sangat lirih. "Satu kata yang perlu kamu inget. Kamu catet dan kamu garis bawahi. Dan kalau perlu di tulis di memo hp kamu kalau saya belum menikah. Lajang. Single. You know single?" Aku mengangguk pelan. Lalu menampilkan cengiranku. "Ma-maaf Pak!" "Dan satu lagi!" Selanya cepat. "Berhenti memanggil saya dengan embel-embel Pak. Saya bukan bapak kamu dan umur saya masih terbilang muda!" Kali ini aku tak mengangguk. Aku hanya terdiam sambil terus menunduk. Sama sekali tak berani menatap sosok yang duduk di depanku. "Mulai sekarang dan seterusnya panggil saya Alif. Tanpa Pak. Dan saya berharap kamu menerima tawaran saya. Menjadi pacar pura-pura saya maka dengan begitu hutang kamu akan saya anggap lunas!" #Alifi . . . Akhirnya aku bisa terbebas dari ceramahan Bunda. Secepatnya aku akan memperkenalkan Prisil ke Bunda. Hah... plong rasanya. Dengan gini aku akan bisa sedikit bernafas lega. Bisa konsen dengan pekerjaanku. Siang ini aku sengaja mengantarkan Prisil ke tempat kerjanya. Jadwalnya hari ini masuk siang. Walaupun awalnya dia menolak tapi akhirnya mau juga. Siapa sih yang menolak pesona seorang Alifi? Setelah mobil terhenti di depan toko tempat kerjanya Prisil langsung buru-buru ingin keluar dari mobilku. Tapi aku sempat menahan tangannya. Dan sip..dia menoleh ke arahku. "Ya Pak ada apa?" Aku spontan mengangkat jari telunjukku dan menggoyangkan di depan wajahnya. "Naah kan...mulai sekarang panggil aku Alif. A-L-I-F!" Perintahku. Prisil hanya mengangguk sambil tersenyum. "Nanti pulang jam berapa?" "Em...jam 10 Pak-eh A..lif!" Jawabnya terbata. Aku tersenyum geli melihatnya. "Kok malem banget?" Tanyaku lagi. "Kan masuk siang Pak. Kalo masuk pagi pulangnya jam 5 sore!" "Pak lagi?" Prisil hanya meringis mendengar protesanku. "Trus besok masuk apa?" "Jadwal saya 3 hari pagi 3 hari siang Pak-eh Alif!" "Jadi kamu minggu besok libur?" Prisil menggeleng. "Minggu malah nggak boleh libur. Senin sampe rabu masuk pagi. Kamis libur trus jumat sampe minggu siang. Begitu seterusnya!" Aku mengangguk mendengar penjelasannya. Sebenarnya setiap belanja ke sini aku selalu melihatnya tapi aku tak pernah ngobrol dengannya. Kan tidak kenal? "Besok berangkat jam berapa?" "Biasanya berangkat jam 1 soalnya kan aku naik sepeda tapi kadang jalan kaki sih. Hehehe...!" Prisil mengaruk pelipisnya sambil tersenyum kecil. "Oooh gitu...!" Aku kembali mengangguk lagi. "Oh iya Sil. Nanti smsin alamat rumah kamu ya!" Seketika keningnya mengernyit dan menatapku. "Untuk apa? Rumahku jelek loh Lif!" "Pokoknya sms-in ya. Aku tunggu!" Sahutku cepat. Aku ingin memberinya kejutan. Prisil terlihat mengerucutkan bibirnya. Itu malah membuatku gemas. "Diiih gemessss!" Aku refleks mencubit sebelah pipinya sampai dia berteriak kesakitan. "Sakiiiit. Kok di cubit sih!" Protesnya sambil mengusap pipi kanannya yang terlihat memerah. Aku jadi merasa bersalah. "Maaf. Maaf. Habisnya aku gemes liat kamu kayak gitu!" Prisil hanya melirikku tanpa bersuara. Ia masih sibuk mengelus pipinya yang memerah. "Maaf ya. Sakit banget ya?" Tanyaku. Entah kenapa aku merasa khawatir melihat ekspresi wajahnya yang menahan sakit. Aku mencoba mendekatkan wajahku ke arahnya. Sekedar ingin melihat pipinya yang ia tutupi dengan telapak tangannya. Tiba-tiba saja... "Aaaaww!" Pekikku sambil mengusap pipi kiriku. Prisil menarik pipiku dengan sangat keras. Terasa ngilu. "Sakit enggak?" Tanyanya dengan memesang muka masam. "Sakitlah!" Sahutku sambil mengelus pipiku yang kata orang tembem. "Makanya jangan suka cubit pipi orang!" "Jadi kamu balas dendam nih ceritanya...awas ya!" Aku bersiap-siap melayangkan tanganku ingin menarik kedua pipi gembilnya. Tapi Prisil dengan gerakan cepat malah membuka pintu mobil dan kabur. Dasar cewek aneh. Ia membalikkan badannya sambil menjulurkan lidahnya ke arahku. Aku tertawa melihatnya. Aku merasakan kehangatan saat bersamanya. Aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa tertawa lepas. Hanya saat bersamanya. Apa aku menyukainya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN