#Author
.
.
.
From : Pak Alif
Mana alamat rumah kamu?
Prisil tersenyum setelah membaca pesan yang masuk ke dalam hpnya.
Y
Aku kepo deh. Untuk apa tanya alamat rumahku?
Terkirim. Dan Prisil lagi-lagi tersenyum sambil menggenggam hpnya dan meletakkannya di depan dadanya.
"Pak Alif...lo cakep banget sih...gue jadi klepek-klepek!" Ucap Prisil sambil menggenggam hpnya dan melekatkannya ke dadanya. Bayangan wajah Alif tiba-tiba muncul membuat senyum Prisil semakin merekah. Tanpa dia sadari sepasang mata mengamati gerak-geriknya.
"Kayaknya anak Papi lagi seneng ini!"
Suara Papi tiba-tiba terdengar. Prisil menoleh dan mendapati Rizal sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Papi...ngagetin aja sih!" Protes Prisil sambil meletakkan hpnya di meja sebelah tempat tidurnya. Rizal melangkah masuk dan mendekati putrinya yang kini tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Lagi mikirin siapa hayooo!"
Wajah Prisil langsung bersemu merah. "Aaaaa Papi seneng banget deh godain aku!"
Rizal terkekeh pelan melihat tingkah Putrinya yang tampak malu-malu.
"Apa Papimu ini nggak boleh tau?"
Prisil langsung mencembikkan bibirnya. "Emangnya soal apa Pi?"
"Siapa itu Pak Alif?" Tanya Papi langsung.
"Di-dia...temen aku Pi. Iya temen!" Prisil berusaha menetralkan detak jantungnya. Entah kenapa setiap mendengar namanya saja jantungnya sudah berdetak tak karuan.
"Temen apa pacar?"
Goda Rizal lagi. Senyum Prisil langsung mengembang tapi seketika sirna saat ia teringat sesuatu.
Pacar? Apa mungkin bisa di bilang pacar? Sementara status mereka hanya pacar pura-pura? Tanya Prisil dalam hati.
Melihat raut wajah Prisil berubah masam Rizal langsung duduk di sampingnya dan mengelus kepala anak kesayangannya.
"Kok sedih gitu mukanya? Cerita donk sama Papi!"
Prisil menatap ke arah Rizal yang kini tengah tersenyum sambil menatapnya. Ia menggeleng lalu memeluk Rizal. Tidak mungkin jika ia menceritakan soal hubungannya dengan Alif. Hubungan atas dasar hutang. Apa jadinya tanggapan Papinya nanti?
Suara hp Prisil yang berdering membuatnya melepas kaitan tangannya dari pinggang Rizal. Prisil melirik ke arah layar hpnya yang menyala.
Pak Alif calling..
Prisil terdiam dan terus menatap layar hpnya. Rizal tau, untuk saat ini anaknya membutuhkan privasi.
"Papa mau ke kamar dulu ya!" Tanpa pikir panjang Rizal melangkah keluar dan menutup pintu kamar Prisil dengan pelan.
Setelah Rizal keluar, tangan Prisil perlahan meraih hpnya yang masih berdering.
"Halo!" Sapanya ramah dan pelan.
"Assalamualaikum Sil...kok lama ngangkatnya? Kamu sibuk ya?"
"Ah tidak. Tadi...tadi aku masih di kamar mandi!" Jawab Prisil sambil menggaruk tengkuknya. Ia sebenarnya agak susah untuk berbohong. Bagaimanapun juga Papinya selalu mengajarkan ia untuk selalu berkata jujur. Apalagi dalam agama juga tidak di bebarkan untuk berbohong. Tapi berbohong untuk kebaikan apakah salah? Walaupun sebenarnya tidak ada yang membenarkan soal itu.
"Kenapa tadi smsku nggak di bales?"
"Loh bukannya kamu yang nggak bales sms aku? Aku kan tanya untuk apa kamu tanya alamat rumahku?"
Terdengar suara Alif tertawa kecil. "Oh iya ya...hahaha. Aku mau kasih kejutan!"
"Hah...kejutan? Aku nggak suka kejutan!"
Alif terdengar mendesah kecewa tapi sepertinya ia bersungguh-sungguh soal ucapannya. "Anggap aja sebagai tanda terima kasihku!"
"Terima kasih? Dalam rangka apa kok sampai ada ucapan terima kasih?"
"Em.. ya terima kasih karena kamu mau bantuin aku!"
Prisil malah mengernyitkan keningnya. Ia bingung maksud ucapan Alif. "Yang harusnya berterima kasih kan aku. Karena aku di kasih keringanan soal hutang itu!" Jelas Prisil setengah berbisik. Ia tak mau jika sampai Papinya mendengar pembicaraannya soal ini.
Alif kembali tertawa. "Jadi kamu anggap itu masih hutang?"
"Iya!"
"Sil...sil. Kan aku udah bilang. Hutang kamu bisa lunas kalo kamu mau bantuin aku...!"
Prisil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum ragu. "Em...sampai kapan kira-kira drama ini?" Tanyanya sedikit ragu. Dalam hati ia berharap drama ini tidak berakhir karena semenjak kejadian di kantor itu. Diam-diam Prisil menyimpan secuil rasa untuk Alif.
"Sampai aku menemukan orang yang tepat untuk jadi istriku!"
Hening. Raut wajah Prisil berubah datar. Kali ini ia merasa patah hati. Padahal ia belum berjuang. Sepertinya cintanya bertepuk sebelah tangan.
Mana mungkin sih Pak Alif yang notabene-nya orang kaya bisa mendadak suka sama gue. Kalo nggak karena utang mana mau dia nyewa gue buat jadi pacar pura-puranya? Yang lebih cantik dari gue pasti banyak.
Prisil mendesah pelan. Sedikit kecewa.
"Sil...masih di sana kan?"
Suara Alif membuat lamunan Prisil buyar. "I-iya Lif. Aku masih dengerin kamu kok!" Jawabnya sedikit tergagap. Bagaimanapun juga Alif tidak boleh tau mengenai perasaannya.
"Trus gimana ini ceritanya? Aku telpon kamu buat nanyain alamat rumah kamu loh!"
Wajah Prisil semakin masam. Jadi dia nelpon gue cuman buat nanyain soal itu? Kirain pengen denger suara gue.
"Sil...kamu dengerin aku kan?"
"Eh. I-iya denger kok. Oke deh nanti aku sms-in ya!"
"Beneran nih di sms?"
Prisil mengangguk berkali-kali. "Iya beneran!"
"Oke deh. Aku tunggu. Besok pasti ada kejutan buat kamu!"
"Iya. Tapi kejutannya yang biasa aja ya. Jangan sampe bikin aku jantungan!"
Alif tertawa mendengar pesan Prisil. "Iya iya sayaaang!"
Prisil seketika membulatkan matanya mendengar Alif memanggilnya dengan kata sayang. Prisil serasa terbang tapi dengan cepat ia menyadarkan dirinya sendiri. Satu hal yang ia tau. Alif tidak tertarik padanya.
"Oke!" Jawab Prisil singkat. Ia sudah kehabisan kata-katanya.
"Ya udah kamu istirahat ya. Aku juga mau istirahat. Besok ada meeting penting. Sampai ketemu besok!"
"Iya see you!" Balas Prisil setelah itu panggilan terputus. Prisil masih menempelkan hpnya di telinganya walaupun suara Alif sudah tak terdengar. Mendadak ia teringat sesuatu. Panggilan sayang yang Alif berikan.
"Sayang? Maksudnya apa dia manggil gue sayang?"
#Alifi
.
.
.
Aku menatap layar hpku yang sudah mati. Baru kali ini aku merasakan bahagia. Aku kembali teringat Prisil. Dia gadis biasa yang unik dan menarik. Entah kenapa aku menemukan ide konyol itu. Menyuruhnya untuk menjadi pacar pura-puraku.
Tanpa sepengetahuan dia sebenarnya aku mulai menyukainya. Dia benar-benar wanita yang bertanggung jawab. Aku tau uang 1juta baginya sangat besar tapi dia mengusahakan untuk melunasi kewajibannya.
Tak lama kemudian sebuah pesan masuk darinya. Berisikan alamat rumahnya. Aku tersenyum membacanya. Tunggu saja Prisilku. Besok kamu pasti senang dengan hadiah yang aku berikan..
Aku menelpon seseorang untuk memastikan pesananku.
"Ya halo..!"
"Ya Pak selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?"
"Gimana pesanan saya ready kan?"
"Ooh sudah Pak. Siap kirim!" Sahut orang yang berada di seberang telpon.
"Ok besok tolong kirim ya. Nanti nama sama alamatnya saya kirim!"
"Oke Pak saya tunggu!"
"Oke!" Setelahnya aku langsung menutup telponku. Dan tak lupa aku mengirimkan sebuah nama dan alamat ke orang itu.
Terkirim dan selesai. Aku menarik nafas panjang. Semoga Prisil tidak menolaknya.
Sebelum tidur aku menyempatkan kewajibanku terlebih dahulu. Shalat isya. Kewajiban seorang muslim.
Paginya aku mendapat kabar bahwa barang pesananku sudah di antar dan sudah di terima. Aku kembali tersenyum dengan wajah sumringah. Dengan begini Prisil tidak perlu berjalan kaki kalau berangkat kerja.
"Alif...kenapa senyum-senyum terus sih dari tadi?" Tanya Bunda. Memang dari awal sarapan sampai selesai sarapan senyumku terus mengembang.
"Biasa aja Bun!" Sahutku sambil menahan senyumku.
"Bunda jadi khawatir deh sama kamu!"
"Khawatir kenapa Bun?" Seketika senyumku menghilang. Ku tatap wajah Bunda yang nampak cemas.
"Maafin Bunda ya. Bunda sering mendesak kamu untuk segera menikah. Pasti kamu tertekan sekali ya...?"
Tunggu tunggu. Maksudnya Bunda apa? Apa Bunda mengira kalau aku sudah stress?
"Bunda ngira aku stress?" Tanyaku langsung. Bunda meringis sambil mengangguk. Spontan aku langsung menepuk jidatku.
"Ya Allah Bun seneng banget kalo aku stress!". Ucapku lirih. Bunda hanya mengangkat kedua pundaknya. "Tenang aja Bun. Dalam waktu dekat Alif bakalan bawa calon mantu buat Bunda!"
Seketika senyum Bunda mengembang. "Beneran kamu Lif?".
Aku mengangguk. Bunda langsung memelukku sambil mengusap punggungku.
"Bunda udah nggak sabar liat calon mantu. Trus liat kamu nikah. Juga nggak sabar pengen punya cucu!"
Aku menggelengkan kepalaku mendengar semua impian Bunda. Tenang aja Bunda anakmu ini sudah mempersiapkan semunya.
Saat jam menunjukkan pukul 8 aku segera berpamitan sama Bunda. Hari ini ada jadwal meeting jam 10. Mang Jaja sudah siap mengantarku.
Sesampainya di kantor aku masih menebar senyumku yang kata orang penuh pesona.
"Bos...semua sudah gue siapin. Jam 10 nanti kita meeting!" Ucap Leo. Aku malah tidak konsen dengan perkataan Leo dan asik dengan duniaku sendiri.
Bersandar di kursi kebesaranku sambil memainkan pulpen di tanganku.
"Bos...!" Panggil Leo pelan. Ku lirik sebentar ke arahnya dan kembali pandanganku menerawang entah kemana. Yang aku tau hanya Prisil yang ada dalam benakku.
Tiiit
Tiiit
Bunyi telpon masuk. Aku tersadar dan menekannya.
"Ya ada apa Mel?" Tanyaku langsung begitu tau panggilan itu dari pesawatnya.
"Maaf Pak. Ada teman Pak Alif!"
"Siapa?" Tanyaku spontan. Keningku mengkerut seketika. Pagi-pagi gini ada yang ingin bertemu denganku?
"Mbak yang kemarin Pak!"
Kemarin? Mbak?
Oooh aku ingat. Wajahku langsung sumringah begitu mengetahui siapa tamuku hari ini.
"Suruh langsung masuk Mel!" Titahku sambil memutus sambungan dan bersiap menyambutnya. Kurapikan jasku dan aku berdiri dari kursiku. Leo hanya menatapku heran penuh tanda tanya.
"Siapa bos? Orang pentingkah? Calon istrikah?"
"Lebih tepatnya begitu!" Jawabku sambil tersenyum tipis ke arahnya. Perlahan pintu ruanganku terbuka dan sosok yang aku tunggu muncul. Prisil.