“Dia tidak akan semudah itu mengaku pernah memerkosa saudara sendiri. Itu aib. Kita perlu pilah-pilah ceritanya mana yang masuk akal, mana yang tidak.” Itu poinnya. Alasan dari Ergi kubenarkan tanpa keraguan. Ergi cara pikirnya lebih realistis daripada aku. “Dendamnya, itu bukan karena kamu. Dia hanya mencari alasan agar kamu merasa bersalah. Apa kamu merasa bertanggung jawab untuk adiknya, Ay?” Aku menggeleng dengan cepat. Itu sih memang si Pokemonnya yang b***t. Adik sendiri diterkam. Untung gue selamat. “Soal dia yang ayah anaknya Sayla gimana? Aku boleh percaya? Ini nggak mungkin dia juga ngaku-ngaku ‘kan? Untungnya buat dia apa?” Ergi diam sebentar. Opini-opini Ergi selalu menjadi bantuan buatku dalam berpikir. Tak salah aku selalu curhat kepadanya. “Itu pasti. Kamu tahu, A

