“Bacot lu emang, ya? Lo pikir gue bakal percaya?” hardikku. Napasku terasa memburu, membuat dadaku naik turun. Sialan, Mondy. Enak saja menimpakan kesalahan kepadaku. Apa katanya? Aku yang membikin Sayla mendapatkan balasan? Bisa-bisanya si Mondy. Malam itu kami semua pergi ke kelab. Ingat ‘kan aku pernah cerita, dulu mereka merayakan selesainya sebuah mata kuliah dengan minum-minum? Waktu itu aku pertama kali coba menenggak alkohol. Yang pulangnya digeret Ergi, dimarahi habis-habisan. Nah, malam itu semuanya bermula. Aku cuma duduk saja pada awalnya, sampai akhirnya Teo dan teman-temannya mendorong tubuhku untuk turun ke dance floor. Aku kaku. Sambil melihat jam tangan, menunggu lima menit untuk cabut dari tempat itu. Ketika rombongan Teo berjoget, tak peduli dengan keberadaan

