Ergi benaran mengajak bulan madu karena setibanya kami di resort, dia menyodorkan kertas perjanjian pranikah. “Banyak poin yang sudah gugur. Jadi, kertas ini nggak perlu lagi,” katanya mengalihkan perhatianku dari keindahan alam di luar kamar. Ergi mengambil pena dari laci. “Kamu atau aku yang mencoret?” tanyanya minta pendapat. Saat itu baru kusadari apa yang dia maksud. “Kenapa dicoret? Kita masih perlu perjanjian ini.” Aku rebut kertas itu dan k****a lagi lima aturan main dalam pernikahan kami. Ergi merebutnya kembali. “Lima, pernikahan ini selamanya, sampai mati salah satu dari Ergi atau Ayla. Kita nggak butuh perjanjian seperti ini. Tanpa adanya tulisan ini, pernikahan kita tetap akan kekal sampai maut yang memisahkan kita. Coret aja.” Lantas dia menarik garis horizontal s

