22.13 “Temenin gue masuk, Ar. Gue percaya lo bisa jaga gue.” Arya aku paksa menemani ke tempat ini. Kebetulan dia sedang duduk di ruang tamu bersama Nada, membicarakan pernikahan gadis itu beberapa hari lagi. Calon pengantin tidak mungkin kuajak keluar malam. Apalagi perginya ke kelab. Dewa takkan memaafkanku jika itu terjadi, meskipun aku menangis di hadapannya. “Ini nggak bagus. Kamu tidak boleh masuk ke tempat ini,” tolak Arya. Tanggung, Ar. Sudah sampai di depan gedungnya. Masih bilang enggak boleh. Arya awalnya tak setuju kuminta temani ke mari. Namun, aku mengancam akan pergi sendiri kalau dia menolak. Saat ini kepalaku sedang kusut. Hatiku berdenyut. Mataku perih akibat menangis sejak pulang dari rumah Bunda Mala. Aku bertemu Ergi di sana. Pukul satu pagi dia baru pulang. K

