“Kamu harus pura-pura hamil.” Jedar! Bagaikan petir di malam cerah. Perkataan Mama membuat aku nyaris jantungan. Aku tak punya pikiran bahwa Mama sedang bercanda. Dia tidak pernah melakukannya. Semua yang Mama ucapkan adalah serius. “Kenapa harus pura-pura kalau aku sanggup hamil beneran?” Kulirik Ergi yang tenang. Wajahnya datar. Tidak terusik oleh Mama maupun oleh ucapan ngawurku barusan. Lo ingat bahwa Mama melarang gue untuk hamil? Yang tadi kulakukan tujuannya agar Mama mengungkit hal itu di forum ini. “Kenapa harus pura-pura kalau itu ada suami yang bisa menghamili Ay?” Aku menunjuk Ergi. Kupancing Mama dengan sedikit melucu. Namun, tidak ada yang tertawa. “Kamu diberi dua pilihannya.” Kali ini Papa mulai bicara. Kenapa sih Tuan Hadi selalu memberi pilihan yang ujung-

