Gairah yang berada di puncak begitu menuntut. Aku kehilangan kendali diri. Hormon s****n. Permainan s****n. Ide yang salah. Aku harusnya senang ada yang mengetuk—menggedor—pintu. Tapi sesuatu yang tak mampu dijelaskan secara logika tengah bermain di sini. Mungkin karena otakku sedang tak mampu bekerja dengan baik sehingga aku ingin marah dan teriak kepada si pengganggu. Dalam kasus ini, hanya aku yang membiarkan seluruh kain lenyap dari tubuhku. Karena itu, aku hanya bisa melihat dari tempat tidur saat Mama bicara dengan Ergi di pintu. Tanpa berucap apa-apa Ergi mengikuti Mama dengan buru-buru. Dapat kutangkap dari Mama yang bicara sambil menangis adalah Sayla jatuh. Jatuh dari mana sehingga Mama kelihatan sangat panik? Sehabis mandi, aku menerima pesan singkat dari Ergi. Dia mengabar

