“Syahda nyari-nyari kamu tadi malam,” lapor Mama. Kembaran mama kandungku itu berlipat tangan di d**a. ”Mama bilang tidur di sini, eh, malah pulang. Kamu bisa dengar Mama nggak sih? Mau ke mana?” tahan Mama pada tubuhku saat hendak melihat Syahda ke kamar. Ergi hanya menurunkanku sampai di depan gerbang. Dia terus ke kantor. Aku belum bertemu Syahda sejak kemarin siang. ”Mama belum selesai ngomong,” kata Mama lagi, memegang tanganku kuat-kuat. ”Ngomong aja. Sambil jalan juga bisa. Ay mau lihat keadaan Princess.” Mama menarik tanganku agar tak bisa pergi. ”Dia aman di tangan Bundanya. Sayla biasa merawat anak yang sakit. Setiap hari dia mengurusi anak-anak. Dia juga ibu yang melahirkan Syahda. Kamu tak perlu khawatir.” Mendengar itu, aku segera mengempaskan tangan Mama. ”Princess!

