“Syahda, udah!” larangku pada anak kecil berambut hitam lurus dan kilatan mata jail. Dia ketawa mengikik. Bibir kecilnya mengulum semangka merah. Dia diamkan sebentar dalam mulut kemudian— Fiuuuhh Anakku dan Ergi itu tertawa lagi sampai seluruh tubuhnya berguncang. Aku mengusap muka yang disembur Syahda dengan biji semangka. Dosa nggak sih anak meludahi wajah emaknya? Iya? Tapi Princess gue cuma bercanda kok. Ampuni dia, Tuhan. ”Uh, ludah kamu bau, Princess!” kataku dengan ekspresi jijik. ”Lebih bau kentut Bunda.” Anakku itu tertawa lagi sambil memakan semangka yang kemudian membuang biji ke tanah. Ketika bagian merah telah habis, dia melempar kulit buah itu ke sembarang arah. ”Angkat tangan!” Aku berdiri di depan anak pintarku sambil bertegak pinggang. Dia pun diam dan mulai me

