Tiga tahun kemudian ... “Aku enggak setuju!” Otot-otot leherku menegang meneriakkan penolakan atas kengototan Ergi. Langsung kubekap bibir dengan telapak tangan ketika melihat putriku tengah bergelung di balik selimut. Jangan sampai terbangun, Princess. ”Alasan?” Kaki kuentak-entakkan. Tuhan, kalau saja mencekik suami enggak dosa. ”Aku nggak mau Sayla sering-sering ketemu Princess.” Volume suaraku semakin kecil. ”Itu bukan alasan.” ”Terus alasan yang seperti apa?” Nadaku mulai naik lagi. Aku berusaha sabar mengingat suaraku akan membangunkan tidur anak kami. Ergi seperti berpikir. Matanya jelalatan melihat tubuhku. ”Apaan?” Aku tak tahan dilihati. ”Misalnya begini, aku enggak suka lihat kamu pakaiannya seperti ini saat lagi datang bulan.” ”Kasih penjelasan yang jelas don

