"Nanti kalau ada, aku telpon, Bu,"kata Kevin.
"Baiklah." Wanita itu melenggang pergi.
“Kamu nggak mandi,Fell? Kamu kedinginan nggak?"
"Iya, aku mandi air hangat aja."
"Ya udah, hati-hati ya jalannya. Aku tunggu di sini, kalau ada apa-apa panggil aja." Kevin berbaring di atas kasur lalu memejamkan matanya.
Fellycia menyiapkan air hangat di dalam bathup, ia tidak bisa mandi dengan air dingin karena ia akan pusing dan mual seperti kemarin. Wanita itu menikmati mandi paginya di dalam bathup selama lima menit saja, setelah itu ia segera naik karena tidak tahan berlama-lama.
Fellycia memakai baju, merapikan rambut kemudian ia mengantuk. Tapi, di atas kasur ada Kevin. Fellycia duduk di tepi tempat tidur, tapi, kelamaan ia tidak bisa menahan kantuknya. Ia menyerah,dengan cepat ia merebahkan tubuhnya di sevelah Kevin dan kemudian ia terlelap.
Dua jam kemudian, Kevin bangun karena merasa haus. Ia membuka mata, kemudian menatap ke sekelilingnya. Pria itu tersenyum saat melihat Fellycia tidur di sebelahnya. Ia mengurungkan niatnya untuk bangkit, ia berbaring ke arah Fellycia, mengusap pipi wanita itu dengan lembut.
Fellycia membuka matanya, wanita itu kaget, tapi, kemudian ia tersenyum.
"Kamu sudah bangun?" Kevin masih saja mengusap wajah Felly.
Wajah Fellycia merona. Pelan-pelan ia menutupi wajahnya dengan selimut."Iya. Maaf...aku ketiduran."
Kevin terkekeh, ia duduk di sisi tempat tidur, kemudian meneguk segelas air putih di atas nakas. Setelah itu ia menyerahkannya pada Fellycia."Minum dulu."
Fellycia tertegun, Kevin memberikan gelas bekasnya. Dengan ragu-ragu ia menerima gelas itu dan meminumnya sampai habis."Terima kasih."
"Gimana keadaan kamu? Pusing? Mual?"
“Nggak, aku baik-baik aja, Kevin."
"Kemarin...apa kata dokter, ceritakan apa saja yang boleh dan tidak boleh?"
“Aku harus banyak istirahat, tidak boleh capek dan stres, makan makanan bergizi, terus...vitamin yang diberikan dokter harus diminum, terus apa lagi ya...aku lupa."Fellycia tersenyum malu, apa lagi sekarang Kevin tengah menatapnya intens.
"Lalu apa lagi? Kenapa kamu lupa? Dokter nggak tulis di buku cek up ya?"
"Tulis, tapi, aku nggak bisa bacanya. Tulisannya ...membingungkan."
"Ah...kata Dokter aku juga nggak boleh berhubungan badan du...lu..." Fellycia baru menyadari apa yang ia ucapkan, itu aneh jika ia beritahukan pada Kevin mengingat pria itu bukan suaminya. Tentu saja mereka tidak akan bersetubuh, Kevin hanya menolongnya.
"Tidak boleh berhubungan badan ya?" Kevin menatap Fellycia dengan seringaian."Sayang sekali."
"Ah, iya." Fellycia hanya bisa tertawa kecil.
“Sampai berapa lama?"
"A...apanya?" Fellycia tergagap karena setelah keheningan beberapa detik, Kevin kembali bertanya dengan suara keras.
Kevin berdehem."Tidak boleh berhubungan badannya?"
“Sampai...trimester pertama, tapi, untuk selanjutnya dilihat dulu kondisinya bagaimana. Mungkin...nanti bisa dikonsultasikan lagi dengan Dokter."
Kevin tersenyum."Iya...nanti kutanyakan kalau cek selanjutnya ya."
"Iya." Fellycia tertunduk dengan wajahnya yang merah.
"Kamu sudah siap jika nantinya perut kamu akan sangat besar. Kamu harus membawa lima bayi sekaligus, pasti berat." Kevin menatap Fellycia dengan kasihan, itu adalah hasil perbuatannya dan juga ketiga temannya. Siapa pun Ayahnya, sangat kejam jika sampai tidak mau mengakuinya.
“Aku...." Air mata Fellycia menetes.
Kevin cepat-cepat menghampiri wanita itu dan memeluknya."Jangan dipikirkan. Aku cuma mengajakmu bicara soal kehamilanmu, supaya kamu nggak kaget. Apa pun ya g terjadi nanti, aku dan Evans akan selalu ada di samping kamu, Felly, Kami akan menggenggam tanganmu, memeluk, dan selalu menguatkanmu. Kami juga yang akan menjadi Ayah bagi anak-anakmu."
Fellycia membalas pelukan Kevin, air matanya tidak mau berhenti menetes. Jika Tuhan sebaik ini pada dirinya, kenapa selama ini ia malah bekerja tidak halal. Tapi, seandainya ia bisa memilih dirawat oleh siapa, tentu ia tidak ingin dirawat oleh Madame Rose yang sudah menjerumuskannya dalam lembah hitam.
Kevin mengecup puncak kepala Fellycia, mengusap punggung wanita itu."Fell..."
“Iya,"jawab Fellycia dengan suaranya yang serak.
"Kamu boleh anggap aku kekasihmu, jadi, kamu jangan sungkan."
Tubuh Fellycia membatu, ia tidam bisa mencerna apa yang diucapkan Kevin. Menganggap pria itu kekasihnya, apa mereka akan pacaran setelah ini."Pacaran?"
“Mungkin...tapi, jangan kamu pikirkan, aku nggak mau kamu stres."
"Aku nggak stres karena memikirian kalimatmu tadi, cuma aku heran, kenapa kamu bersedia menjadi kekasih dari wanita sepertiku?"tunjuk Fellycia pada dirinya sendiri.
“Kamu ini tidak perlu lagi menganggap dirimu rendah, kamu bukanlah Fellycia yang dulu. Sekarang kamu bagian dari keluarga ini, bagian dari hidupku. Sekarang kamu adalah wanita istimewa!"
“Apa nggak terlalu cepat mengambil kesimpulan? Kalau pun kita pacaran...apa nanti tidak apa-apa jika ternyata anak-anakku ini, bukan anakmu?"tatap Fellycia sedih
"Tidak apa-apa, jika itu anak Evans, aku bisa minta izin untuk menganggapnya anak-anakku juga kan, lagi pula anak ini ada lima. Seandainya ini anak Nathan atau Adam, abaikan saja, mereka tidak peduli padamu,"kata Kevin, kemudian ia menjadi malas mengingat kedua temannya itu.
“Mereka tidak peduli?" Ada rasa nyeri di hati Fellycia, tapi, mereka tidak salah juga karena ia bukanlah siapa-siapa. Mana mungkin ada laki-laki yang mau mengakui bahwa janin di dalam kandungan wanita yang ditiduri banyak pria adalah memang anaknya.
“Ah sudah, jangan dipikirkan lagi. Kamu harus memikirkan yang baik-baik saja ya."
"Baik,"balas Felly dengan senyuman manisnya.
Kevin menatap Fellycia dengan lembut, lalu perlahan ia melumat bibir wanita itu. Fellycia memejamkan mata, tubuhnya menyerah dalam pelukan erat lelaki itu sambil membalas ciumannya.
"Apa...aku boleh tidur denganmu setiap malam,Felly?"
"Boleh, tetapi, aku tidak bisa bertanggung jawab jika kamu menginginkan sesuatu karena dokter sudah melarang." Fellycia terkekeh.
“Ah iya, tapi, aku akan berusaha menahannya, demi menjaga anak-anak kita,"balas Kevin membuat hati Fellycia menghangat.
Pintu kamar diketuk, Kevin mendengus sebal karena momen manis ini harus terhenti. Pria itu melangkah, membukakan pintu. Wanita paruh baya berambut sebahu itu menatap Kevin dengan tajam.
“Mama..."
“Dimana dia?"tanyanya.
“Itu,Ma, namanya Fellycia."
Fellycia menelan ludahnya, ia mulai was-was, dari tatapan Mamanya Kevin, sepertinya sebentar lagi ia akan diusir dari sini. Wanita itu terlihat begitu dingin. Wanita itu duduk di sebelah Fellycia, menatap gadia itu dalam-dalam.
“Fell, ini Mamaku,"kata Kevin.
Fellycia tersenyum dengan tubuh yang tegang."Ha...halo, Ibu..."
Wanita itu mengembuskan napas berat,"hai, sayang...bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja?"
Fellycia mengangguk takut."Iya...aku baik-baik saja."
“Maaf, Kevin sudah membuatmu susah seperti ini,"ucapnya sambil melirik Kevin dengan tajam.
"Ti...tidak, aku yang sebenarnya membuat Kevin susah, dia banyak membantuku di sini, Bu."
"Panggil aku Mama saja. Biar bagaimana pun, kamu sudah tinggal di sini, Kevin bilang itu adalah anaknya."
Fellycia menatap Kevin, berharap supaya laki-laki itu menjelaskan semuanya dengan benar.
"Mama sudah tahu semuanya, Fell. Jangan khawatir!"
“Iya, Felly, jangan khawatirkan apa pun. Jika nanti Nathan dan Adam tiba-tiba datang mengaku-ngaku, Mama yang akan menghajar mereka." Wanita itu akhirnya tertawa.