Bab 14

1027 Kata
“Kau harus makan banyak, sebentar lagi rumah ini akan ramai oleh anak-anak,"katanya dengan semangat. "Terima kasih, Bu, sudah mendukungku,"ucap Felly. “Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri, Felly, sama seperti Kevin dan Evans. Di dalam perut itu juga calon cucuku, tentu aku akan menjagamu dengan sebaik-baiknya." Fellycia pun makan dengan lahap ditemani Bu Nana, wanita itu pun ikut makan juga. Kevin masuk ke kamarnya, di sana Evans baru saja keluar dari toilet, baru selesai mandi. “Vans, kau mau kemana dulu?"tanya Kevin. "Aku mau menemui Nathan dan Adam dulu, apa mereka udah tahu soal Fellycia?" "Sudah." "Kenapa nggak ada ke sini?"Evans memakai pakaiannya. "Mereka nggak mau terlibat dalam urusan Fellycia, nggak mau bertanggung jawab, belum tentu juga itu anak kita, katanya,"balas Kevin. "Wah,wah..." "Kau kayak nggak tahu Nathan dan Adam aja deh. Sebaiknya kau nggak usah bahas Felly lagi di depan mereka deh, mereka bakalan merendahkan Felly." "Oke lah." “Ya udah, aku mandi dulu." Kevin masuk ke dalam toilet. Kening Evans berkerut, di depan cermin ia berkacak pinggang, kesal dengan tanggapan Nathan yang seperti itu, padahal jelas-jelas ini ide mereka, seharusnya mereka berdua yang paling bertanggung jawab. Evans segera merapikan penampilannya, kemudian pamit pergi.       Nathan duduk di kursi kebesarannya yang sesekali ia gerakan ke kanan dan ke kiri ketika ia mulai stres. Entah apa yang belakangan ini mengganggu pikirannya, mendadak ia menjadi gelisah dan tidak tenang. Pria itu menarik napas panjang, kemudian melirik ke arah frame yang bertengger manis di meja kerja. Pria itu tersenyum lirih, kemudian menyimpannya di dalam laci, mungkin itu lebih baik daripada ia memikirkannya selama bertahun-tahun, namun, ia tidak pernah kembali. Pintu ruangan terbuka, Hans masuk ke ruangan Nathan dengan wajah seriusnya seperti biasa."Kau belum pergi juga?" "Aku malas, Pa." "Kau tidak boleh malas, Nathan, bagaimana pun juga kau yang akan meneruskan semua kekayaanku!"katanya dengan tegas. “Aku sudah tahu itu, tapi, sekarang Papa masih ada di sini, masih mengurusi semuanya. Aku rasa aku belum mampu untuk itu, Pa,"jawab Nathan. “Mengurusi perusahaan tidak bisa, tapi, untuk bersenang-senang bersama wanita dan menghabiskan uang...kau ahlinya!"kata Hans. Nathan memutar bola matanya."Berhenti mengaturku, Pa...kau terlalu mencampuri urusanku." “Aku ini Papamu, Nathan!" "Tapi, kenapa Papa memisahkanku dari Mama? Kemana Mama sekarang...apa Papa peduli? Apa Papa tidak memikirkan perasaanku yang sedari kecil sudah kehilangan Mama?" Mata Nathan merah menahan tangis, dadanya terasa sesak bila harus mengingat kejadian yang sudah berlalu sekian tahun lamanya. Ia terbangun, tapi, Mamanya sudah tidak ada di sampingnya, ternyata itu untuk selama-lamanya. Sejak itu ia tidak pernah tahu dimana keberadaan sang Mama, Hans berusaha menutupinya. "Dia bukan Mamamu!" Hans membuang wajahnya. Tangan Nathan mengepal, hatinya terasa sakit, ia rindu Mamanya yang sekarang entah di mana, masih hidup atau tidak. Sampai ia dewasa seperti ini, ia masih belum bisa menemukan jawaban mengapa Hans masih menyembunyikan keberadaan Ibunya. Hans mengatakan kalau mereka sudah bercerai, tapi, entah, Nathan tidak pernah melihat akta cerai mereka."Dia tetap Mamaku, mungkin kau yang bukan Papaku!" Hans tertawa sinis."Hati-hati kalau bicara, Nathan, kau ini tidak tahu apa-apa. Kau harus tahu kalau dia bukan Mamamu!" Pria itu membuang wajahnya. Nathan berdiri lalu menggebrak meja."Jika dia bukan Mamaku, lalu siapa Mamaku?" "Kau tidak perlu tahu." Pria itu berjalan keluar, tapi, di ambang pintu ia berhenti."Jika kau ingin tetap hidup dalam kemewahan ini, dan menjadi ahli warisku, kau harus mengerjakan tugas-tugasmu, atau semuanya kualihkan pada anak laki-lakiku yang lain!" Nathan terkejut, bagaikan kesambar petir di siang bolong, satu fakta tentang Papanya sekarang terkuak, ia punya anak laki-laki selain dirinya. Pria itu terduduk lemas, apa yang sudah dilakukan Hans sampai bisa memiliki anak dari perempuan lain. Mungkin saja itu yang membuat Mamanya meninggalkannya. Nathan meneteskan air mata, menangis terisak-isak karena sangat merindukan sang Mama yang entah dimana. Ia memang lelaki kasar dan tidak memiliki perasaan, tapi, jika membicarakan tentang Ibu, hatinya hancur berkeping-keping, tidak berdaya, bahkan seperti tidak lebih dari seorang anak kecil. Ia sudah pernah mencari informasi bahkan menyewa detektif, tapi, mereka tidak menemukan jejak apa pun. Nathan menghapus air matanya, kemudian menarik napas panjang. Ia berdiri, harus bergegas pergi sesuai dengan perintah Hans, ia harus ingat kalau sekarang ia punya saingan, ia punya saudara laki-laki yang memiliki hak yang sama perihal warisan. Ia tidak ingin harta yang juga merupakan perjuangan sang Ibu jatuh ke tangan anak dari wanita idaman lain sang Ayah. Nathan membuka pintu, lalu ia kaget di sana ada orang yang ternyata juga kaget. “Ah, kau ini, bikin kaget aja,"omel Nathan. Evans tertawa sambil menepuk lengan Nathan."Kenapa tegang begitu, santai saja. Kau mau kemana?" “Pergi, katanya kau bakalan pergi sebulan?" “Iya, aku balik sebentar karena ada urusan. Semalam aku menginap di rumah Kevin." “Oh..." Nathan mengangguk."Ya sudah, aku sangat buru-buru, nanti Papaku bisa marah kalau aku terlambat. Sorry...lain kali kita ngobrol!" Evans terkekeh saat mendengar Nathan takut jika Papanya marah. Yang ia tahu, laki-laki itu sangat tidak akur dengan sang Papa. Mungkin ia sudah berubah. Evans akhirnya kembali lagi karena Nathan pergi, sepertinya Adam juga sibuk, dan Kevin beristirahat. Di antara mereka berempat, dirinyalah yang paling beruntung karena memiliki orangtua yang lengkap. Ia dilahirkan dari keluarga kaya raya, hubungan kedua orangtuanya begitu harmonis, ia memiliki adik kembar, perempuan. Lalu ia juga memiliki adik laki-laki lainnya. Atas dasar itulah ia merasa yakin kalau anak yang dikandung Fellycia adalah anaknya, karena ia memiliki keturunan melahirkan anak kembar. Tapi, sampai saat ini ia belum bicara pada kedua orangtuanya. Ia akan mengatakan nanti setelah hasil DNA keluar, mungkin itu membutuhkan waktu setahun lamanya karena Fellycia masih baru mengandung. Karena tidak ada lagi yang harus ia temui, Evans pun pergi dan mungkin akan kembali beberapa minggu lagi. Sementara itu, usai Mandi, Kevin kembali ke kamar Fellycia. Wanita itu juga baru selesai sarapan, Bu Nana sedang merapikan piring dan nampan bekas mereka makan. "Terima kasih, Bu Nana,"kata Kevin. Bu Nana mengangguk diiringi dengan senyuman."Aku pamit mau belanja dengan suamiku ya, bahan makanan kita sudah habis." Kevin mengangguk."Uang belanjanya masih cukup, Bu?" "Lebih dari cukup, Kevin, jangan khawatir, jika sudah habis aku pasti langsung meminta." Wanita itu tertawa. "Bu Nana, terima kasih ya, sarapannya enak!"kata Fellycia. "Iya, Felly, istirahat ya. Sekarang sudah ada Kevin yang menemani. Aku mau ke pasar. Kamu mau nitip sesuatu? Buah atau makanan yang lain?" Fellycia menggeleng."Nggak, Bu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN