"Kau yakin mau ajak Fellycia tinggal di sini? Kalau Mamamu marah bagaimana?"tanya Evans.
“Mama nggak akan marah, kasihan, kan, Vans..."
Evans mengangguk setuju, kasihan, seandainya wanita itu dibiarkan di sana, tidak menutup kemungkinan kandungannya akan digugurkan. Ia sendiri tidak akan menyangka kalau ide liburan mereka ini berakhir dengan kehamilan Fellycia. Salah mereka juga, tidak memakai pengaman, tapi, Fellycia sendiri sudah mengatakan kalau ia memakai kontrasepsi. Semua sudah terjadi, sebagai pria ia harus bertanggung jawab walaupun belum ada kepastian bayi itu anak siapa.
"Kau nyangka nggak, sih, liburan gila kita itu merugikan seorang gadis." Kevin tertawa lirih.
"Ya, kutahu...salah kita juga yang ikut setuju dengan itu. Padahal kita tahu itu bukanlah gaya hidup kita. Rayuan Adam dan Nathan nih!"kata Evans frustrasi, sayangnya saat ini ia belum bisa berbuat apa-apa untuk masalah ini karena jadwalmya sudah padat.
Kevin tertawa, ia setuju dengan Evans. Ia dan Evans memiliki jalan yang lurus,tidak seperti Nathan dan Adam. Kevin memang pernah beberapa kali berhubungan intim dengan kekasih-kekasihnya dulu, tapi, ia jarang sekali melakukan itu bersama wanita random, baru kali ini ia mencoba, ternyata wanita itu malah hamil.
"Tapi...kau menyadari tidak kalau ada yang berbeda dari Fellycia."
Evans menautkan kedua alisnya."Berbeda? Sejak awal aku memang tahu kalau dia itu berbeda."
“Bukan! Maksudku...dia sangat berbeda ketika dulu masih menjadi 'b***h' dengan sekarang. Saat ia berperan sebagai itu...dia itu kayak pemberani, liar, terus menggoda. Tapi, sekarang...di posisi yang berbeda ia ternyata kalem, pemalu, dan kelihatan kurang percaya diri."
“Dia begitu karena tuntutan pekerjaan, aku sudah tahu dari cara dia bicara. Sebenarnya dia juga nggak suka sama pekerjaannya, tapi, dia nggak bisa milih,"jelas Evans."Syukurlah kalau ternyata kau bawa dia ke sini, ia bebas dari apa yang nggak dia suka."
"Iya...aku sangat lega karena itu. Dan yang paling utama aku sangat mikirin janinnya sih...kau mau bantuin aku untuk Fellycia, kan?"
"Pastilah, jangan khawatir. Oh ya kayaknya aku nggak jadi pergi malam ini deh." Evans melihat jam tangannya, sudah terlalu sore untuk pergi."Aku nginap di sini ya?"
"Oke...silakan...temani Fellycia ya, karena aku yang harus pergi malam ini,"kata Kevin,"tapi ya...masih jam sebelasan malam kok perginya. Kita masih bisa minum-minum dulu."
"Oke." Evans dan Kevin melanjutkan obrolan mereka, membahas proyek-proyek dan juga rencana bisnis mereka yang baru. Fellycia menghabiskan sisa waktunya malam itu untuk menonton tv, lalu makan malam, dan kembali ke kamar untuk tidur.
Tengah malam, saat Kevin sudah pergi, Evans masuk ke kamar Fellycia. Gadis itu terbaring, ajahnya terlihat pucat. Perlahan Evans duduk di sisi tempat tidur, tersenyum melihat Fellycia."Ternyata kita ketemu lagi ya, Fell...." Usai bicara demikian, Evans pun berbaring di sebelah Fellycia dan tidur.
**
Pagi ini,Fellycia terbangun, perutnya terasa mual lagi. Dengan perlahan ia turun dari tempat tidur menuju toilet. Ia pun memulai ritual paginya seperti kemarin, muntah-muntah. Evans mengerjapkan mata saat mendengar suara Fellycia. Pria itu melangkah masuk ke dalam toilet yang pintunya terbuka begitu saja, kemudian memegang tengkuk Felly, memijitnya pelan.
Fellycia menoleh kaget, tapi, ia tidak bisa bertanya apa pun karena saat ini ia masih ingin muntah. Keringat dingin bercucuran, semua tenaganya habis terkuras karena muntah, perutnya terasa kosong, kemudian ia merasa lega setelah cairan kuning dan pahit keluar. Evans mengusap punggung Fellycia dengan sabar. Fellycia membasuk wajah dan mulutnya, kemudian ia merasa tubuhnya diangkat oleh Evans dan dibawa ke tempat tidur.
"Terima kasih,"ucapnya lemah.
Evans mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu tidur di sebelahku semalaman?"tanya Fellycia.
"Iya. Kutunda kepergianku, pagi ini aku perginya." Evans mengusap kening Fellycia.
“Aku nggak tahu kalau kamu tidur di sebelahku, maaf." Fellycia tersenyum malu.
“Kamu nyenyak banget tidurnya, jadi, aku nggak kasih tahu kamu. Aku sudah izin Kevin..."
Keduanya pun terdiam setelah itu. Kemudian Evans bangkit untuk mencuci muka, setelah itu ia kembali sambil mengeringkan wajahnya.
“Aku dan Kevin sudah sepakat untuk memindahkanmu ke kamar bawah, Fell, kamarnya juga sudah disiapkan,"kata Evans.
Fellycia mengangguk,"iya,bagaimana baiknya saja."
“Ya udah, yuk kita pindah kamar sekarang,"ajak Evans sebelum ia bersiap-siap untuk pergi lagi.
Fellycia turun dari tempat tidur dengan perlahan, Evans menuntunnya dengan hati-hati terutama saat mereka menuruni anak tangga. Setelah itu mereka tiba di kamar baru Fellycia. Kamar itu tidak sebesar kamar sebelumnya, tapi, cukup nyaman. Jendelanya berhadapan langsung dengan taman bunga milik Mama Kevin.
“Nah, sudah sampai...sebentar lagi sarapanmu datang. Kamu ingin makan apa?"
“Apa saja yang disediakan Bu Nana, akan aku makan.
"Yakin? Nggak akan dimuntahkan lagi? Katanya bisa jadi seperti itu. Kalau kamu enak makan, makan yang banyak ya, di dalam sana ada lima jagoan yang akan berteriak minta makan terus,"kata Evans.
Fellycia tertawa, ia akan makan semampunya saja. Nafsu makannya juga tidak bisa ditebak, terkadang ia ingin banyak makan, terkadang pula tidak ingin makan sama sekali."Nggak apa-apa, nanti aku makan apa aja yang dikasih. Semoga mereka nggak rewel."
Evans tersenyum, diusapnya perut Fellycia."Hei, baik-baik di dalam sana ya."
“Mereka belum bisa dengar." Fellycia menjauhkan tangan Evans karena malu.
"Mereka pasti bisa merasakan. Ya udah kamu duduk di sini, jangan naik ke lantai dua kalau tidak orang. Sebentar lagi sarapan datang dan...aku sudah terlambat, harus mandi." Evans mengusap puncak kepala Fellycia, kemudian ia keluar.
Begitu Evans keluar dari kamar, Ia berpapasan dengan Kevin. Laki-laki itu baru saja pulang.
"Felly sudah pindah?"
"Sudah barusan. Aku mandi dulu!" Evans melangkah ke lantai dua untuk mandi.
Kevin masuk ke dalam kamar Fellycia, kemudian ia mendapati wanita itu sedang terbaring."Hai..."
"Hai!" Fellycia menatap wajah lelah Kevin."Kamu baru pulang?"
"Iya. Gimana keadaan kamu?"
"Baik."
"Sudah makan?"
"Belum. Tapi, kata Evans sebentar lagi makanan datang."
Kevin mengangguk, kemudian ia menguap lebar, kemudian terbaring di kasur masih memakai pakaian kerja lengkap. Pintu kamar diketuk, Bu Nana masuk membawa nampan.
"Felly, sarapannya,"ucapnya dengan ramah.
"Terima kasih, Bu,"balas Fellycia.
Wanita itu mengerutkan keningnya saat melihat Kevin terbaring di sana."Hei, kenapa nggak mandi dan ganti baju dulu, Kevin."
"Nanti, Bu. Aku capek."
“Mandi, nggak baik kau dari luar bawa virus-virus, lalu kau sebarkan ke kamar ini. Kamar ini harus steril!" Bu Nana menepuk paha Kevin dengan keras selayaknya sedang memarahi anaknya sendiri
Mendengar itu, Kevin langsung bangkit dengan wajah cemberut. Pria itu pun cepat-cepat keluar sebelum kena omelan lagi.
“Kevin memang suka begitu." Bu Nana tertawa."Fell, ayo makan!"
Fellycia duduk di dekat meja di mana Bu Nana meletakkan makanan. Tiba-tiba saja ia nafsu makan, aromanya sangat lezat dan menggoda. Bu Nana duduk di sebelah Fellycia.