"Coba kamu baring lagi, kuraba rahimmu."
Fellycia berbaring, kemudian menurunkan sedikit celana Fellycia, meraba rahim,menekannya sedikit."Iya, Fell, kamu hamil. Jadi, kamu hamil dengan pelangganmu."
"Aku ingin lanjutkan kehamilan ini, Han."
“Tapi, kamu tidak tahu siapa Ayahnya, Fellycia. Kasihan anakmu." Hani menatap Fellycia dengan iba.
"Nggak apa-apa, Han, aku berharap setelah ini Madame akan mengusirku, aku akan hidup sendiri, bebas dari pekerjaan ini,"ucap Fellycia dengan air mata yang menetes.
"Semoga saja yang kamu pikirkan itu benar, Fell, ada kemungkinan kamu akan disuruh aborsi kan? Karena kamu itu adalah salah satu anak Madame Rose yang menghasilkan uang banyak."
Fellycia membuang wajahnya, ia tidak mau aborsi, tidak peduli ini anak siapa, yang terpenting, jika anaknya lahir, ia tidak akan sendirian lagi. Ia akan hidup berdua bersama sang anak tercinta.
Sementara itu di tempat lain, Hans berjalan cepat dengan wajah yang sangat serius. Matanya menyalang seakan ia ingin memangsa semua orang yang berani menganggunya. Ia berjalan ke sebuah pintu di sudut gedung ini. Didorongnya pintu dengan keras, dilihatnya Nathan sedang duduk di hadapan laptop. Hans membanting surat kabar yang ia genggam dan membuatnya murka pada Nathan.
Nathan melirik surat kabar tersebut, kemudian mengabaikannya. Hal itu membuat emosi Hans semakin memuncak.
"Bisa tidak kalau kau tidak membuat kerusuhan di keluarga ini?"
Nathan menatap Hans dengan santai, ia tidak tahu apa yang menyebabkan Papanya marah-marah seperti ini. Seingatnya, ia tidak berbuat aneh belakangan ini. Ditariknya surat kabar tersebut, lalu mencari hal yang membuat Hans marah.
“Kau lihat halaman paling depan!"kata Hans dengan keras.
Nathan langsung membatu, fotonya begitu jelas terlihat di sana, sedang melakukan hubungan intim dengan seorang wanita, untunglah wajah wanita itu tidak terlihat. Yang menjadi masalah adalah Nathan melakukan hubungan intim di tempat terbuka. Pria itu mengerang, siapa yang sudah berani mengambil gambar, lalu menyebarkannya seperti ini. Ini sudah jelas perbuatan saingan mereka.
"Papa pasti tahu, kalau itu adalah perbuatan orang yang tidak suka dengan keluarga kita,"jawab Narhan santai.
"Papa tahu itu, Nathan. Tapi, bisa tidak kau melakukan itu...atau kau bersenang-senang dengan hati-hati? Bisa-bisa Kakekmu jantugan lalau lihat surat kabar ini!"kata Hans dengan stres.
"Kakek sudah tidak baca koran, Pa. Tidak akan terjadi."
“Begini ya, Nathan, kau boleh melakukan kesenangan apa pun di luar sana, asalkan pekerjaan dan semua tanggung jawabmu diselesaikan. Dan...kamu harus tetap bisa menjaga nama baik keluarga. Paham?"
“Ya, Pa, aku paham itu sejak dulu." Nathan kembali menatap layar laptpopnya, meski ia sudah biasa dengan hal-hal seperti ini, tapi, tetap saja ini menganggu moodnya.
“Baik, jika terjadi lagi ...kupastikan semua fasilitasmu akan dicabut!" Hans keluar dari ruangan Nathan dengan wajah kesal.
Hans membuka pintu, lalu ia berpapasan dengan Adam dan Kevin.
"Om,"sapa Kevin dan Adam.
Hans tersenyum, melambaikan tangan pada keduanya, lalu berjalan dengan cepat. Kevin dan Adam masuk.
"Nath!"
"Oi, ada apa?" Nathan menghempaskan punggung ke sandaran kursi.
Adam dan Kevin duduk di hadapan Nathan."Tadi, Madame Rose menghubungi aku."
Nathan menaikkan sebelah alisnya."Apa? Madame Rose? Lalu?"
"Fellycia hamil,"kata Kevin.
Nathan tertawa terbahak-bahak, kemudian menatap Adam dan Kevin bergantian."Jadi, kalian datang hanya karena b***h itu hamil? Hamil anak siapa? Anak kita?" Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mungkin saja anak kita, kan?"kata Kevin.
“Dia ditiduri banyak orang, Kev, masa mau minta tanggung jawab kita? Lagi pula itu resikonya dia sebagai wanita panggilan, kenapa harus minta tanggung jawab kita?"kata Nathan dengan kesal, masih terbawa kesal dengan Hans tadi
“Terus...kita harus ngapain kalau Fellycia hamil? Suruh aja gugurin, gampang kan? Orang-orang seperti mereka juga pasti lebih tahu bagaimana caranya menghadapi masalah seperti ini. Terus maksud menghubungi kita apa? Minta duit?"kata Adam menimpali.
“Berdasarkan kronologisnya, ya...kemungkinan besar, dia hamil anak dari kita...salah satu dari kita, memangnya kalian nggak kasihan kalau darah daging kalian itu dibuang? Ingat, itu anak kandung loh!"
“Tapi, Kevin...itu belum pasti anakku, kan? Untuk pembuktian kita harus menunggu sembilan bulan lagi." Nathan menggelengkan kepalanya."Aku sudah terkena kasus saat berhubungan dengan Felly, Papaku barusan marah-marah. Aku nggak mau karena masalah kehamilan Felly aku jadi kena masalah lagi. Lihat ini!" Nathan menunjukkan suray kabar itu pada kedua temannya.
Adam terkekeh."Ini sih salahmu, kenapa makinglove di ruang terbuka. Sudah tahu banyak mata-mata."
“Ya sudah, itu sudah berlalu. Sekarang aku nggak mau kalau berita kehamilan ini bakalan sampai ke media. Sudah, kalau memang Madame Rose mau menuntut, beri saja uang, tutup mulutnya,"kata Nathan memberi keputusan.
“Aku setuju,"sahut Adam.
“Aku tidak. Aku bakalan ambil Felly,"kata Kevin.
"Kau gila! Bagaimana kalau itu bukan Anakmu?"kata Nathan heran.
“Jika bukan Anakku, ya, sudah...aku sudah cukup berbuat baik, dengan menolong Felly, menggagalkan praktik Aborsi, juga menyelamatkan wanita muda dari kehidupan kelamnya. Jika itu nantinya ternyata anakku, aku nggak akan menyesal karena sudah menelantarkan mereka,"kata Kevin lagi.
"Kita nggak ikut campur ya?"kata Adam dan Nathan."Kau bertanggung jawab sepenuhnya pada Felly, jangan libatkan kita!"
Kevin menarik napas panjang, memang ia yang paling mungkin membawa Felly pulang, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya karena sudah menelantarkan wanita yang mungkin saja mengandung anaknya."Baik. Akan kutanggung semuanya sendiri."
"Oke. Sepakat."
“Bagaimana dengan Evans?"tanya Adam.
"Dia pergi ke luar kota selama sebulan, kau bakalan bisa menghubungi dia setelah dia kembali,"kata Nathan.
Kevin mengangguk, ia tidak butuh pendapat Evans, mungkin jawabannya akan sama saja dengan Nathan dan Adam. Ia akan mengambil Felly dari Madame Rose sendirian dan menanggung semuanya sendiri.
Madame Rose membanting ponselnya usai menghubungi Kevin, ia kesal setengah mati karena mereka tidak langsung mengirimnya sejumlah uang sebagai pertanggung jawaban. Sebenarnya uang kemarin masih cukup untuk membiayai aborsi Felly, tapi, ia tetap berusaha meminta pertanggung jawaban dari Kevin dan teman-temannya, siapa tahu ia dapat biaya tambahan. Madame Rose melihat jadwal anak-anaknya malam ini, terpaksa ia mengubah beberapa jadwal karen Felly hamil. Ia juga harus rela kehilangan uang yang cukup besar karena beberapa membatalkan perjanjian, akibat Felly tidak bisa melayani mereka.
Madame bangkit dari kursinya, kemudian mondar-mandir di dwkat pintu masuk. Ia sedang menunggu Hani, ingin membicarakan mengenai tindakan lanjutan untuk Fellycia. Hani muncul dengan tergesa-gesa karena Madame Rose menghubunginya tiada henti.
"Ada apa, Madame? Aku sedang ada pasien tadi,"kata Hani.
"Kau masih menangani Pasien Barbara?"Madame Rose memutar bola matanya. Barbara adalah wanita seumurannya. Wanita itu juga memiliki Rumah Bordiri sepertinya, dan bisa dikatakan mereka bersaing dalam bisnis ini. Madame Rose dan Barbara tidak akur, bahkan terkadang mereka kerap merebut pelanggan. Beruntungnya, Madame Rose lebih lihai merayu orang supaya datang ke rumah bordirnya, hingga ia selalu menang dari Barbara.
"Tentu saja, Madame...aku butuh pemasukan yang banyak juga, kan, sama seperti Madame!" Hani terkekeh.
“Ah, sudah...sudah aku muak membicarakannya. Ayo kita temui Fellycia...anak itu benar-benar tidak tahu diri,"geramnya.