Fellycia mendengarkan derap langkah menuju ke arahnya. Wanita itu sedang duduk di balkon untuk menghirup udara bebas."Ada apa, Madame?"tanyanya dengan lemah.
"Siapkan anggotamu, Hani, kita akan aborsi Felly,"kata Madame Rose pada Hani.
“Ba...baik!"kata Hani kaget.
“Nggak, Madame! Aku nggak mau aborsi!"kata Felly dengan keras.
“Apa maksudmu? Kau pikir...kau hamil anak dari orang-orang kaya itu? Kau pikir mereka akan bertanggung jawab? Mimpi kamu!" ucap Madame Rose dengan sinis.
"Aku tidak peduli siapa Ayah dari anakku, aku juga tidak perlu tanggung jawab mereka. Aku ingin membesarkan anakku!"balas Felly lantang yang kemudian disambut tamparan keras dari Madame Rose.
“Kau ini bicara apa hah? Memangnya kau tidak tahu berterima kasih...dua puluh dua tahun aku merawat dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang dan juga materi yang bergelimangan. Orangtua kandungmu saja tidak pernah melakukan itu dan bahkan membuangmu! Ingat, kau ini anak yanh dibuang, lalu aku ada untuk membuat hidupmu berlanjut. Jika tidak ada aku, kau sudah mati, Fellycia!"kata Madame Rose murka.
Fellycia memegang pipinya yang terasa sakit dan panas akibat tamparan madame Rose. Air matanya menetes, kata-kata Madame Rose sungguh menyayat hatinya."Aku hanya ingin hidup normal, aku lelah bekerja seperti ini."
"Lalu kau mau kerja apa? Kau sekolah pun tidak, sok mau hidup sendiri!" Madame Rose menatap Fellycia dengam begitu rendah. Sejak kecil Fellycia selalu berada di bawah pengawasannya. Ia tidak yakin Fellycia bisa bekerja selain menjadi wanita pemuas hasrat lelaki hidung belang.
"Aku tetap pada keputusanku, Madame, melanjutkan kehamilan ini, suka atau tidak suka, aku tidak perlu keputusan Madame akan hal ini,"kata Fellycia dengan lirih.
Madame Rose mengepalkan tangannya, ia melangkah mendekati Fellycia."Kau jangan mengulangi kesalahan Mamamu, Fellycia!"katanya dengan penekanan.
Fellycia mengangkat wajahnya, kaget, Madame Rose menyebut nama Mamanya, artinya wanota itu tahu mengenai orangtuanya."Mamaku?"
"Ya!" Lalu tawa Madame Rose menggelegar."Mamamu yang bodoh itu...dia juga hamil dengan pelanggannya. Lalu...si bodoh itu memilih melanjutkan kehamilannya, sama sepertimu. Ya, yang Kau lakukan adalah sama persis dengan yang Mamamu lakukan. Tapi, apa yang dia dapat?"
“Berarti aku tidak dibuang?" Air mata Fellycia."Selama ini kau membohongiku soal orangtuaku."
"Mamamu meninggal setelah melahirkanmu, dia tinggal di sebuah kamar yang disewanya. Saat melahirkan tidak ada satu pun yang menolongnya, sampai pada akhirnya dia menelponku meminta tolong. Akhirnya aku datang...dan nyawanya sudah tidak tertolong. Aki merawatmu sampai sekarang." Madame Rose mengakhiri ceritanya."Aku tidak mau nasibmu dengam Mamamu sama. Tapi, entahlah kalau kau masih keras kepala."
Madame Rose meninggalkan balkon, ia membiarkan Fellycia menyendiri agar bisa memikirkan ulang keputusannya untuk meneruskan kehamilan itu. Fellycia terduduk di lantai, menangis terisak-isak.
Hani mengusap punggung Fellycia."Jangan sedih, Fell, kasihan bayi kamu kalau kamu sedih. Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu membesarkan kandunganmu, aku akan memberimu vitamin agar kandunganmu kuat."
Fellycia mengusap perutnya yang masih datar,kemudian ia memikirkan semua kata-kata Madame Rose. Itu artinya Ia memiliki Ibu yang juga merupakan wanita pemuas hasrat laki-laki hidung helang. Fellycia tersenyum lirih, lingkaran kehidupan seperti ini dudah mengepung Ibu dan dirinya.
"Fell?"panggil Hani.
“Iya, Han?"
“Ayo kita masuk saja ke kamar, kamu harus istirahat."
Fellycia mengangguk, dibantu Hani, ia dipapah masuk ke dalam kamarnya.Di dalam kamar, Fellycia masih menangis, bahkan kali ini ia sampai senggugukan karena ingat Ibunya yang ternyata sudah meninggal dengan nasib yang begitu menyedihkan. Andai saja saat itu Ibunya selamat, Ia pasti masih bersamanya saat ini, hidup tanpa Madame Rose. Ibunya terbebas, tapi, dirinya yang terjerat. Tidak bisa disalahkan, Ibunya menghubungiMadame Rose pasti karena tidak ingin ia juga ikut mati. Ibunya sudah menyelamatkan nyawanya.
“Fell, aku kasih vitamin ya...biar kandungan kamu kuat,"kata Hani.
Fellycia mengangguk."Thanks, Han. Kamu beneran mau bantuin aku kan, Han?"
“Pasti, Fell."
“"Thanks, Han."
Sementara itu, usai bicara dengan Nathan dan juga Adams, juga setelah menyelesaikan beberapa urusan, Kevin segera menuju Rumah Bordir Madame Rose. Ia ingin membawa Fellycia pergi dari sana, mungkin ini tidak akan mudah. Tapi, ia akan berusaha.
Lampu kelap-kelip yang menghiasi depan rumah Bordir Madame Rose itu sudah menyala dengan begitu indah. Kevin melepas jas dan juga dasinya, kemudian ia masuk ke dalam. Baru beberapa meter, ia langsung disambut oleh gadis-gadis cantik dan seksi. Mereka segera mengantarkannya ke Madame Rose.
Madame Rose tersenyum ke arah Kevin, wanita itu belum sadar sepenuhnya siapa yang datang."Selamat datang, Tuan...ada yang bisa kubantu?"
"Aku ingin Fellycia,"balas Kevin.
"Hmmm...bagaimana kalau Tiffany." Madame Rose langsung menghampiri Tiffany, salah satu gadis andalannya setelah Fellycia."Dia cantik...,seksi, dan ...lihatlah badannya begitu aduhai."
Kevin menggeleng, tatapannya begitu dingin. "Bagaimana kalau kita bicara serius saja, Madame Rose?"
Madame Rose menyipitkan matanya, kemudian ia mulai mengenali Kevin."Ah...kau rupanya. Baik, kita bicara di tempat lain saja. Ikut aku."
Kevin mengikuti kemana Madame Rose pergi, ke sebuah ruang yang berisi sofa."Silahkan duduk."
Kevin duduk, melihat ke sekeliling."Aku ingin membicarakan tentang isi pembicaraan kita pagi tadi. Soal Fellycia...yang hamil."
Madame Rose mengembangkan kipasnya. "Ya ...itu benar. Kami berencana akan mengugurkannya."
“Apa katamu?" Rahang Kevin mengeras."Jadi, maksudmu Fellycia juga akan menggugurkannya?"
Madame Rose tertawa."Tentu saja...memangnya apa yang bisa kami lakukan selain mengugurkannya? Minta pertanggung jawaban? Pada siapa? Ayahnya juga nggak jelas."
“Aku akan mengambilnya, berikan padaku. Aku akan bertanggung jawab,"kata Kevin serius. Ia tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut, malam ini ia harus mendapatkan Fellycia dan membawanya pergi sebelum mereka mengugurkan kandungan Fellycia.
“Aku menghubungi kalian supaya kalian mengganti rugi, Felly jadi tidak bisa bekerja selama sembilan bulan atau lebih karen hamil. Kau sudah membuat pemasukan kami berkurang! Ini tidak bisa dibiarkan!"
“Aku akan bertanggung jawab dengan membawanya, Madame! Aku rasa ini setimpal."
Madame Rose menggeleng, tidak suka dengan apa yang dikatakan Kevin. Daripada ia memberikan Fellycia pada Kevin, lebih baik ia mengeluarkan dana untuk mengugurkan kandungan Fellycia dan juga obat untuk memulihkan kondisinya. Ia tidak mau kehilangan sumber mata pencaharian."Maaf...kami akan tetap mengugurkannya. Atau...kau mau membayar berkali-kali lipat dari harga yang kalian tawarkan kemarin?"
Kevin mendengus, ia tidak akan mengeluarkan uang untuk ini."Jadi , kau tidak bisa memenuhi keinginanku jika aku tidak memberikan uang?"
“Tentu saja...tidak ada yang gratis di dunia ini." Madame Rose terkekeh.
“Baik,besok aku akan mengirimkan surat pembongkaran rumah bordir ini,"kata Kevin sambil menyilangkan kakinya.
Gerakan Madame Rose yang sedang mengipas wajahnya terhenti, wanita itu menatap Kevin dengan kesal. Ancaman itu tidak main-main. Ia tahu kalau Kevin bukalnlah orang sembarangan di kota ini, hanya dengan hitungan jam, rumah bordirnya bisa rata dengan tanah. Itu juga pernah terjadi beberapa bulan lalu, saat Kevin bertikai dengan salah satu teman Madame Rose. Besoknya, tiada ampun, rumah bordirnya pun rata dengan tanah, tidak bersisa. Tentu Madame Rose tidak ingin hal itu terjadi.